Saturday, 29 July 2017

Publilius Syrus

Oleh TRIAS KUNCAHYONO
Ada sepotong kalimat bijak yang menarik untuk direnungkan: “Contideam natur qui semper timet”, yang secara bebas bisa diterjemahkan, “Yang setiap hari menuduh adalah yang selalu takut”.
Kalimat bijak itu, menurut cerita, diucapkan dan kemudian ditulis oleh Publilius Syrus (85-43 SM). Syrus bukanlah seorang filsuf, katakanlah para filsuf seperti Cicero (106-43 SM), Lucretius (94-55 SM), Seneca (4 SM-65 M), Musonius Rufus (30-100), Plutarch (45-120), Epictetus (55-135), Marcus Aurelius (121-180), Clement dari Aleksandria (150-215), Augustinus dari Hippo (354-430), dan masih banyak filsuf yang sangat tersohor.

Meski tidak dikenal sebagai seorang filsuf, Syrus kondang sebagai penulis. Syrus sangat dikenal karena amsal-amsalnya. Amsal-amsalnya itu ada yang berupa peribahasa, pepatah, dan aforisme (contoh aforisme: Tak pernah ada peperangan yang baik atau perdamaian yang buruk), yang diambil dari sumber-sumber kuno atau populer.
Syrus, memang, orang pilihan. Catatan sejarah menyebutkan, Syrus bukanlah orang Romawi, melainkan dari Suriah. Bahkan, Syrus pada mulanya seorang budak. Seorang budak! Ia orang Suriah yang dijual sebagai budak ke Italia. Akan tetapi, karena talentanya, karena kepandaiannya, majikannya sangat senang kepadanya. Dan, akhirnya ia dibebaskan. Menjadi manusia bebas, Syrus tidak hanya dibebaskan, bahkan ia disekolahkan.
Di zaman Syrus, penguasa Romawi adalah Julius Caesar yang nama lengkapnya adalah Gaius Julius Caesar. Menurut catatan sejarah, Caesar lahir pada tanggal 12/13 Juli 100 SM dan meninggal pada 15 Maret 44 SM. karena itu, kedua tokoh ini sempat hidup pada zaman yang sama. Dan, Caesar–yang dikenal sebagai jenderal, negarawan, dan melancarkan serangkaian reformasi politik dan sosial Kekaisaran Romawi meski pada akhirnya dibunuh di Senat oleh sekelompok orang, antara lain Brutus, dengan cara menusuk pisau–sangat kagum pada Syrus.
Dikisahkan, pada tahun 46 SM Syrus memenangi sebuah lomba membuat kalimat-kalimat bijak di Roma. Dan, Caesar sendiri yang menyerahkan hadial kepada Syrus. Dan, kemenangan Syrus itu dirayakan atas usulan Caesar.
***
Apa yang dikatakan oleh Syrus–yang setiap hari menuduh adalah yang selalu takut–sangat mudah ditemukan pada saat ini. Di zaman kini, orang sangat mudah menuduh, sangat gampang menuduh, menuding, menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam pihak lain. Ada kecenderungan di negeri ini karena tidak puas, karena kecewa, karena tidak kesampaian maksud dan tujuannya, lantas mencari kambing hitam sambil menyalahkan banyak pihak yang berbeda. Bahkan, perbedaan yang sebenarnya adalah rahmat tak lagi menjadi modal untuk membangun harmoni. Tetapi, justru sebaliknya yang terjadi dipakai untuk menyerang pihak lain, untuk menjadi dasar menuduh pihak lain yang tidak sewarna, yang tidak senapas, yang tidak sehaluan.
Ada kebiasaan di negeri ini orang cenderung memaki-maki kegelapan dan menuding orang lain sebagai sumber kegelapan, bukannya berusaha mencari terang. Sama seperti yang dikatakan oleh Syrus, “Orang yang selalu curiga akan senantiasa melihat kekurangan pada orang lain.” yang ada di matanya hanya hal-hal yang negatif, hal-hal yang tidak baik, hal-hal yang serba hitam dan kelam. Tidak sedikit pun melihat ada seberkas cahaya yang bisa diberikan orang lain.
Di tingkat internasional pun tak jauh berbeda. Apa yang dicuitkan oleh Presiden AS Donald Trump adalah sama saja. Setiap kali mendapat masalah, orang nomor satu di negeri adidaya itu buru-buru menulis di Twitter-nya dan menuding orang lain sebagai penyebab persoalan. Saat ini pun demikian. Ketika investigasi terkait skandal intervensi Rusia dalam pemilu lalu makin memepetkan dirinya, Trump buru-buru berteriak lewat Twitter-nya agar Departemen Kehakiman menginvestigasi Hillary Clinton, lawannya dalam pemilu. Lho?
Di Venezuela, Presiden Nicolás Maduro menuding pihak oposisi sebagai penyebab krisis yang sekarang mendera negeri itu. Padahal, krisis terjadi lantaran Maduro–mantan supir bus kota yang menjadi presiden Venezuela sejak 14 April 2013 dengan margin kemenangan 1,5 persen dari kandidat dari oposisi, Henrique Capriles–salah mengurus negerinya.
Maduro juga menuding sektor swasta sebagai penyebab bangkrutnya perekonomian negeri kaya minyak itu. Sektor swasta dituding sebagai penyebab tingginya inflasi, kurangnya obat-obatan dan bahan pangan, macetnya produksi minyak, dan lambannya pertumbuhan ekonomi. Ia selalu memerintahkan militer untuk mengawal dan mengawasi peredaran dan harga barang kebutuhan pokok yang makin lama makin langka.
Orang-orang yang menentang, mengkritiknya pun ditangkap dan dipenjara. Wali Kota Kota Metropolitan Caracas Leopoldo López ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan menggerakkan demonstrasi anti-Maduro. Leopoldo López hanyalah satu dari banyak orang lain yang ditangkap dan dipenjara. Kisah yang tidak jauh berbeda terjadi pula di Turki, setelah muncul berita kudeta tahun lalu, demikian banyak orang dari berbagai kalangan dan profesi, termasuk wartawan, ditangkap dan dipenjara.
Tidak berlebihan kalau kemudian rakyat pendukung oposisi di Venezuela menuding Maduro telah menjadi  seorang pemimpin otoriter. Tudingan yang sama juga dialamatkan kepada pemimpin Turki Recept Tayyib Erdogan. Begitulah, kekuasaan selalu membuat ketakutan pemegangnya–ketakutan kehilangan kekuasaan. Karena takut kehilangan kekuasaan yang ada di tangannya, mulailah menuding, menuduh, mengambinghitamkan orang-orang lain, pihak lain sebagai pembuat onar, sebagai pengancam negara. Kekuasaan juga membuat pemegang kekuasaan lupa diri bahwa kekuasaan yang dipegangnya itu tidak abadi. Sama halnya orang yang sudah kehilangan kekuasaan pun–dan berusaha untuk meraih lagi–cenderung, seperti kata Syrus, hanya melihat kekurangan orang lain, padahal dirinya sendiri yang salah; menuduh orang lain tidak becus.
Padahal, menuduh bukanlah penyelesaian masalah, tetapi justru sebaliknya menunjukkan kualitas dirinya sendiri. Benar yang dikatakan oleh Publilius Syrus, alangkah tidak bahagianya orang jika tidak dapat memaafkan dirinya sendiri.

Kompas, Minggu, 30 Juli 2017