Sunday, 4 June 2017

Cerita Arab-Yahudi dalam Perang 1967

Oleh MUSTHAFA ABD RAHMAN
Hari Senin besok, 5 Juni 2017, bangsa Arab memperingati 50 tahun sejarah paling kelam dalam catatan sejarah modern Arab. Sebaliknya, bangsa Yahudi memperingati hari itu sebagai peristiwa yang menjadi titik balik sejarah kejayaan mereka di Timur Tengah.
free-419459999800657480.jpg
Foto dokumentasi tertanggal 10 Juni 1967 memperlihatkan kegembiraan tentara Israel di Sinai, Mesir, selama Perang Enam Hari. Peristiwa 50 tahun silam itu meninggalkan dampak dan konflik di Timur Tengah hingga hari ini, termasuk berandil bagi tumbuhnya gerakan radikalisme di Arab.
Pada 5 Juni 1967, meletus perang antara Israel di satu pihak melawan Mesir, Suriah, dan Jordania di pihak lain. Perang ini berlangsung sangat singkat, yakni kurang dari satu pekan, dari 5 hingga 10 Juni 1967. Dalam berbagai buku sejarah, perang itu juga populer dengan nama Perang Enam Hari.
Namun, dampak perang tersebut sangat luar biasa bagi kedua bangsa, Arab dan Yahudi, yang dirasakan sampai hari ini. Bahkan, muncul gerakan radikalisasi di dunia Arab dan Islam selama 50 tahun terakhir ini juga akibat perang 5 Juni 1967 itu.
Betapa tidak, hanya dalam kurun waktu enam hari saja, bangsa Arab kehilangan wilayah paling luas dalam sejarah modern Arab, yaitu Semenanjung Gurun Sinai, Dataran Tinggi Golan, Tepi Barat, dan kota Jerusalem Timur.
Kota Jerusalem Timur merupakan kota suci ketiga bagi umat Muslim setelah Mekkah dan Medinah serta merupakan kiblat pertama bagi umat Muslim sebelum kiblat itu dipindah ke Mekkah.
sebaliknya bagi bangsa Yahudi, perang 5 Juni 1967 meningkatkan kepercayaan diri mereka setinggi langit. Hanya dalam Perang Enam Hari, bangsa Yahudi sudah memiliki tiga kali wilayah lebih luas dari wilayah negeri Israel yang asli, setelah mereka menduduki Semenanjung Gurun Sinai, Dataran Tinggi Golan, Tepi Barat, dan Jerusalem Timur.
Sejak perang tersebut, bangsa Yahudi merasa sangat unggul atas bangsa Arab dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari sosial, budaya, ekonomi, politik hingga militer. Bahkan, bangsa Yahudi mulai cenderung melihat bangsa Arab sebagai bangsa yang bodoh dan terbelakang dalam semua sektor kehidupan. Bangsa Yahudi juga melihat bangsa Arab sebagai bangsa besar, tetapi rapuh dan ompong.
Versi Barat-Yahudi
Banyak cerita tentang perang 5 Juni 1967 itu. Buku-buku sejarah yang ditulis para cendekiawan Barat dan Yahudi menyebutkan, perang dimulai dengan serangan udara kilat oleh Israel pada pagi hari 5 Juni 1967 atas semua pangkalan udara militer Mesir untuk melumpuhkan pesawat-pesawat tempur negara itu.
Serangan udara Israel itu sebagai reaksi atas keputusan Mesir mengusir pasukan perdamaian PBB dari Jalur Gaza dan Semenanjung Gurun Sinai, serta menutup Selat Tiran bagi kapal-kapal dagang Israel.
Serangan udara Israel itu sukses besar. Hanya dalam hitungan jam, semua pesawat tempur Mesir hancur total. Semua pangkalan udara Mesir lumpuh.
Posisi pasukan darat Mesir yang berada di Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai menjadi terbuka tanpa perlindungan udara. Pada saat itu pula, pesawat tempur Israel membombardir pasukan darat Mesir di Jalur Gaza dan Semenanjung Gurun Sinai.
Suriah dan Jordania segera bergerak membantu Mesir. Perang pun meluas. Israel lalu menghadapi tiga front sekaligus, yakni Mesir, Suriah, dan Jordania. Dalam waktu enam hari saja, Israel sudah mampu melumpuhkan semua kekuatan militer Mesir, Suriah, dan Jordania.
Versi Arab
Di sini sejarawan berbeda pendapat tentang cerita perang 5 Juni 1967. Bagi sebagian besar sejarawan Barat dan Yahudi, serangan udara Israel atas semua pangkalan udara militer Mesir sebagai aksi bela diri yang dibenarkan hukum internasional untuk menghadapi serangan militer Mesir ke Israel yang sudah dekat saat itu.
800.jpeg
Tentara Israel menggeledah para tahanan Jordania dalam operasi di kota tua Jerusalem, yang ditunjukkan foto bertanggal 8 Juni 1967.
Namun, bagi sejarawan Arab, serangan udara Israel itu adalah sebuah invasi militer yang tidak dibenarkan hukum internasional karena Mesir saat itu belum mulai melancarkan serangan ke wilayah Israel.
Serangan udara pertama Israel, yang merupakan faktor terbesar kemenangan Israel dalam Perang Enam Hari itu, tetap menjadi polemik para sejarawan politik bangsa Arab dan Yahudi sampai saat ini. Terlepas siapa yang lebih benar dalam polemik tersebut, perang 5 Juni 1967 telah mengubah cara berpikir secara fundamental bangsa Arab dalam melihat konflik Arab-Israel.
Bangsa Arab sejak itu tidak lagi menuntut pemusnahan negara Israel dari muka bumi, tetapi hanya menyerukan Israel mundur dari tanah yang diduduki pada perang 5 Juni 1967. Bangsa Arab mulai menyadari, mustahil memusnahkan negara Israel yang jauh lebih unggul dalam semua sektor dari mereka.
Bukan itu saja, bangsa Arab mulai menyadari pula, bukan Israel yang akan punah, melainkan justru rakyat Palestina yang terancam hak-hak mereka bakal hilang untuk selamanya.
Akan tetapi, bangsa Arab dalam waktu yang sama juga berpikir bahwa tidak mungkin dapat mengembalikan kehormatan mereka akibat kekalahan dalam perang 5 Juni 1967 tanpa mereka memiliki daya tawar dalam menghadapi Israel.
Daya tawar tersebut adalah membangun kembali kekuatan militer dan membuka perang terbatas melawan Israel untuk tujuan mewujudkan perdamaian yang adil dengan Israel.
Itulah yang melatarbelakangi Mesir melancarkan perang gerilya melawan Israel di sepanjang Terusan Suez antara tahun 1967 dan 1970. Perang gerilya itu baru berhenti setelah Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser menerima inisiatif damai Menteri Luar Negeri AS William P Rogers pada tahun 1970.
Pergantian kekuasaan di Kairo dengan naiknya Anwar Sadat sebagai Presiden Mesir menyusul wafatnya Presiden Abdel Nasser pada 28 September 1970, membuat adanya perubahan kebijakan politik di Kairo.
Sadat mulai menyusun rencana melancarkan perang terbatas melawan Israel untuk menggerakkan perdamaian di Timur Tengah. Itulah yang kemudian menyebabkan meletusnya perang 6 Oktober 1973, yang juga dikenal dengan Perang Yom Kippur.
Perundingan
Perang Yom Kippur itu mengantarkan Israel dan Mesir membuka perundingan langsung pada tahun 1974 di Geneva, Swiss. Puncaknya, tercapai kesepakatan damai Israel-Mesir di Camp David, Amerika Serikat, pada 1979.
Belakangan Palestina juga mencapai kesepakatan damai dengan Israel lewat Kesepakatan Oslo tahun 1993. Selain itu, ada juga kesepakatan damai Jordania dengan Israel tahun 1994.
Meski demikian, setelah perang 5 Juni 1967 yang disusul Perang Yom Kippur tahun 1973, sampai saat ini upaya mewujudkan negara Palestina di atas tanah tahun 1967 dengan ibu kota Jerusalem Timur–yang saat ini dikenal dengan solusi dua negara, Israel dan Palestina–masih gagal.
Butuh inovasi dan kreasi baru dalam mencari solusi politik dalam konflik Israel-Palestina menyusul terjadinya perubahan yang luar biasa di dunia Arab dan internasional setelah 50 tahun perang 5 Juni 1967.
6sLEHDR.jpg
Tentara Israel di Dinding Barat, Jerusalem, untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, setelah memasuki kota saat Israel merebut kota Jerusalem Timur dalam Perang Enam Hari 1967. (David Rubinger)

Kompas, Minggu, 4 Juni 2017

Saturday, 3 June 2017

Saat TNI Kembali Meraih Prestasi

Oleh EDNA C PATTISINA
Di atas kertas, persenjataan tentara Australian Defense Force lebih canggih dibandingkan dengan Tentara Nasional Indonesia. Namun, dalam pertempuran, kemenangan tidak hanya ditentukan kecanggihan senjata. Kemenangan prajurit TNI Angkatan Darat saat duel memperebutkan posisi petembak terbaik dalam Australian Army Skill at Arms Meeting 2017 menjadi pelajaran terbaik.
serda-woli-hamsan-petembak-terbaik-di-aasam-2017-poskota.jpg
Sersan Dua Woli Hamsan meraih predikat petembak terbaik dalam lomba keterampilan militer Australian Army of Skill at Arms Meeting (AASAM) 2017 di Victoria, Australia, akhir Mei. Ia berhasil mengalahkan tentara Australia dalam duel menembak sasaran enam pelat. (Arsip/TNI AD)
Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2017 merupakan acara persahabatan antar-angkatan darat yang diadakan di Puckapunyal Military Area, Victoria, Australia, 5-26 Mei. Peserta terdiri atas 18 negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan Malaysia. Acara tersebut melibatkan lebih dari 200 prajurit AD.
Di acara yang memperebutkan 68 medali emas itu dibangun semangat kompetisi yang sehat, yaitu kemampuan menembak menjadi parameter. Sebuah parameter yang sederhana, tetapi esensial, terutama untuk mencerminkan profesionalisme prajurit.
Nomor terakhir adalah memperebutkan posisi petembak terbaik. Nomor ini paling bergengsi karena bagi AD, senapan adalah senjata utama. Ibaratnya, palu bagi tukang dan kuas bagi pelukis. Di AASAM, tahap awal, 20 petembak terbaik selama lomba diadu. Babak terakhir diisi dengan duel dua petembak. Pemenang biasanya diarak dengan kursi di atas tandu, diiringi musik pipa tradisional Australia.
Di AASAM 2017, dua petembak pada babak terakhir berasal dari Australia dan Indonesia. Nomor duel ini digelar dengan menggunakan sasaran berupa enam keping pelat bulat kecil yang menempel dari atas ke bawah di sebuah tiang. Pelat tersebut diwarnai biru di sisi kanan dan hijau di sisi kiri. Engsel digunakan untuk menempel ke tiang, membuat masing-masing pelat bisa berayun bebas ke kiri-kanan. Ketika sisi biru ditembak dari depan, ia akan berayun sehingga sisi hijau yang akan menghadap ke depan. Setiap petembak dibekali 40 peluru di dua magasin.
Tak kurang akal
Mekanisme duel adalah saat kedua petembak menyerang sekaligus bertahan. Petembak di sisi biru menyerang dengan menembak setepat mungkin sisi pelat-pelat berwarna biru sehingga berayun ke sisi lawan. Sisi yang pelat yang terlihat kini adalah sisi hijaunya. Pada saat sama, petembak di sisi hijau akan melakukan hal sama sehingga petembak di sisi biru akan ketambahan pelat berwarna biru. Upaya petembak sisi biru menyerang dengan menambah ayunan pelat yang memunculkan sisi hijau harus disertai upaya bertahan mencegah berayunnya pelat-pelat lain dari sisi hijau ke sisi biru. Pemenangnya adalah pihak yang paling lebih dahulu mengayunkan semua pelat yang terlihat menjadi sisi pelat dengan warna lawan.
Letkol Yosep Tanada Sidabutar, Komandan Tim TNI AD Indonesia, berhasil membuat strategi. Menurut dia, Australia sebagai tuan rumah punya keunggulan karena model pelat yang tidak sama dengan yang biasa dipakai TNI AD. “Namun, kami tak boleh kurang akal,” cerita Yosep yang juga Kepala Staf Brigade Lintas Udara 17/Kujang Divisi I Kostrad.
Daripada menembak sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya, Yosep pun atur strategi sebaliknya. Strategi ini yang diperintahkan ke Sersan Dua Woli Hamsan, petembak Indonesia yang masuk ke babak duel, untuk dilaksanakan. “Saya bilang ke Woli, biar tentara Australia tembak-tembak dulu. Yang penting, dua dari pelat yang paling atas harus kamu pertahankan. Untuk bisa menang, dia harus ubah semua pelat,” cerita Yosep.
Saat pertandingan, prajurit Australia berusaha dengan cepat menembak semua pelat untuk mengayunkan sisi hijau berubah jadi sisi biru. Woli tetap tenang. Dia hanya fokus mempertahankan dua pelat teratas sambil sesekali menembak pelat lain. Tak berapa lama, 20 peluru prajurit Australia di magasinnya habis. Ia harus mengisi ulang. Detik-detik inilah yang dimanfaatkan Woli. dengan tenang, ia menembak pelat-pelat yang tersisa. “Dor-dor-dor-dor,” empat pelat lalu berayun menampakkan sisi hijaunya.
Setelah itu bisa diduga, sorak-sorai bergembira di kubu Indonesia. Woli yang di senapan SS-2-nya masih ada 3 butir peluru dibopong prajurit TNI AD. Sehari-hari, Woli yang bertugas di Divisi 1 Kostrad ini akhirnya berhasil mendapatkan the best of the best. Namun, predikat juara umum adalah hasil kerja sama tim sehingga dengan 28 emas, 6 perak, dan 5 perunggu, Indonesia jauh di atas peringkat kedua, Australia dengan 14 emas, 16 perak, dan 16 perunggu.
Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Mulyono mengapresiasi tim anggota. Tahun ini ke-10 kalinya pertandingan digelar sejak 2008. TNI AD pernah menjuarai AASAM 2017 (maksudnya 2016?). “Saya memaknai keberhasilan ini momen masyarakat Indonesia lebih mencintai TNI AD,” kata Mulyono.
Bagi TNI AD, kemenangan ini juga menunjukkan profesionalisme prajurit TNI. Menurut Mulyono, setiap prajurit TNI AD harus bisa menembak tepat 80 persen. Kemenangan ini juga menunjukkan senapan produksi PT Pindad, yaitu SS-2, unggul di kelasnya. Secara domestik, kemenangan ini penting bagi hubungan TNI AD dengan rakyat.
Kemenangan Woli ini menjadi pelajaran berharga. Tentara profesional adalah hasil dari kerja keras dan cerdas, juga tidak hanya individual, tetapi juga tim dan sistem. Salah satu pelajaran adalah cerita Panglima Kostrad Letjen Edy Rahmayadi. Menurut dia, Indonesia belum mampu menggelar kompetisi seperti AASAM. Alasannya juga karena tidak punya infrastruktur penunjang. Peralatan di AASAM bisa dikatakan cukup canggih karena menciptakan skenario tempur realistis. ADF Australia juga memakai robot yang bisa bergerak meski diacak.
Namun, kepiawaian tentara Indonesia mengundang decak kagum. TNI mengukur kecepatan angin secara tepat dengan melempar rumput ke atas, sementara prajurit negara lain memakai wind meter. Keunggulan itu dibangun dengan menggunakan karakteristik lokal, bukan meniru negara lain. Namun, hal itu tetap harus dikombinasi dengan sisi lainnya, yaitu sistem di TNI AD yang juga harus semakin dibuat canggih dengan teknologi.
aasam2.jpg
Kontingen TNI AD yang dipimpin Letkol Inf Josep T. Sibabutar saat tiba di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Minggu (28/5/2017). Rombongan berjumlah 14 orang yang terdiri dari 4 orang official dan 10 orang petembak. (Arsip/TNI AD)
IMG-20170530-WA0014.jpg
Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono menerima laporan kembalinya Kontingen TNI AD yang telah selesai mengikuti Lomba Tembak Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 17 Tahun 2017 di Puckapunyal, Australia, Selasa (30/5/2017) di Aula Serba Guna Markas Besar Angkatan Darat, Jakarta. (Arsip/TNI AD)
Kompas, Minggu, 4 Juni 2017