Saturday, 27 May 2017

Pastor Greg Soetomo Raih Gelar Doktor di UIN Syarif Hidayatullah

Oleh ALOYSIUS B KURNIAWAN
Tahun 2013, Prof Azyumardi Azra mendengar kabar mengejutkan. Seorang pastor Gereja Katolik meminta izin untuk kuliah di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Kala itu, Azyumardi menjabat Direktur Pascasarjana.
pastur-gregorius-soetomo-sj-menerima-ucapan-selamat-dari-harry-tjan-silalahi_20170526_233111.jpg
Pastor Gregorius Soetomo SJ menerima ucapan selamat dari Harry Tjan Silalahi, salah satu Pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS) setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul Bahasa, Kekuasaan, Sejarah, Historiografi Islam Marshall GS Hodgson dalam Perspektif Kajian Poststrukturalisme Michel Foucault, di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (24/5/2017). Setelah mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji, Soetomo dinyatakan lulus dengan predikat cum laude dan merupakan satu-satunya imam yang pernah meraih gelar doktor di UIN Jakarta. (Kompas/Aloysius Budi Kurniawan)
“Saya paling bahagia ketika mendengar kabar itu. Saya percaya bahwa saling menghormati dan menghargai akan terbanngun kalau perasaan saling curiga dihilangkan,” ujarnya, Rabu (24/5), di sela ujian promosi doktor Gregorius Soetomo SJ di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Soetomo tercatat sebagai pastor pertama yang meraih gelar doktor dari UIN Syarif Hidayatullah.
Peristiwa ini mengingatkan Azyumardi saat dirinya belajar di Columbia (Presbyterian) University, New York, sebuah perguruan tinggi Kristen tempat ia mendapatkan gelar PhD di bidang sejarah. “Dulu di Columbia (Presbyterian) University saya boleh belajar hingga mendapatkan gelar PhD. Demikian pula di sini, mahasiswa Kristen juga boleh studi di universitas Islam,” kata Azyumardi.
Kultur berelasi dengan penganut agama lain sudah lama dijalankan Soetomo. Ia berkali-kali merasakan secara langsung hidup bersama santri di sejumlah pondok pesantren, seperti Ponpen Edi Mancoro, Salatiga (2009), Ponpes Tebu Ireng, Jombang (2010, 2011, 2012), Ponpes Ciganjur (2013), serta Ponpes Ath-thaariq, Garut (2016). Sejak 2008, Pastor Ordo Serikat Yesus ini juga aktif dalam pertemuan-pertemuan internasional kajian dialog antaragama, seperti di Jordania, Austria, India, Senegal, Kuala Lumpur, dan Malaysia.
Menurut Azyumardi, praktik dialog “meja bundar” lintas agama seperti yang dilakukan Soetomo perlu digelar terus-menerus, seperti di gereja, wihara, masjid, dan pura. “Dialog-dialog seperti ini penting dalam rangka menjaga NKRI dan bineka tunggal ika,” paparnya.
Predikat “cum laude”
Soetomo yang pernah mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara mulai kuliah S-2 di UIN Jakarta tahun 2013. Setelah lulus S-2 tahun 2015, ia langsung lanjut S-3 di universitas yang sama. Dalam waktu empat semester, ia berhasil merampungkan disertasinya dengan predikat cum laude (dengan pujian).
“Dulu, awal masuk kuliah, saya langsung meminta Pastor Gregorius Soetomo belajar bahasa Arab,” kata Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Prof Masykuri Abdillah.
Pria kelahiran Purwokerto 27 Oktober 1964 ini pun langsung belajar bahasa Arab. Ia mengawali dengan belajar dasar-dasar bahasa Arab, percakapan sehari-hari, hingga bahasa Arab huruf gundul atau pegon.
Ketekunannya menimba ilmu berbuah manis pada Rabu (24/5), saat ia mempertahankan disertasi berjudul Bahasa, Kekuasaan, Sejarah, Historiografi Islam Marshall GS Hodgson dalam Perspektif Kajian Poststrukturalisme Michel Foucault. Gelar “doktor” pun resmi melekat di depan namanya setelah sukses mempertahankan disertasi di hadapan para penguji, meliputi Prof Masykuri Abdillah, Prof Azyumardi Azra, Prof Iik Arifin Mansurnoor, Prof Sukron Kamil, Prof Didin Saepudin, dan Prof M Sastrapratedja.
Dalam disertasinya, Soetomo menyimpulkan bahwa sejarah tak pernah obyektif karena penulisnya tidak pernah terbebaskan dari psiko-kultural pada masanya. Pernyataan ini menarik apabila dihadapkan pada penulisan sejarah Islam dari perspektif mereka yang tidak diperhitungkan, yang hidup di pinggiran, dan kalah dalam perebutan kekuasaan.
Richard Bulliet dalam bukunya berjudul Islam: The View from The Edge, 1994, secara khusus mengamati dinamika kehidupan Islam di pinggiran yang memperlihatkan bagaimana para sarjana dan ulama waktu itu tanpa struktur religius yang sentralistik mendalami ajaran Nabi dan hadis lewat budaya lisan. Pengamatan Bulliet ini menjelaskan fenomena komunitas marjinal di zaman modern ini seperti para kaum migran, yang cenderung berpaling pada ulama, bukan pemerintah atau ajaran Islam yang “beku” untuk menjawab tantangan zaman.
“Siapa pun memiliki hak untuk menuliskan sejarahnya. Mereka yang tidak memiliki kekuasaan (juga) berjuang menuliskan sejarahnya secara berbeda. Sejarah seperti ini mengafirmasi apa yang dipikirkan Foucaoult,” tutur Soetomo.
Hodgson dalam bukunya Venture of Islam juga memperlihatkan ideologi yang mengoreksi kekeliruan yang sudah umum diterima, yaitu bahwa peradaban global didefinisikan oleh pemikiran Barat sebagai pusat. Menurut Soetomo, Hodgson sejalan dengan cara berpikir Foucault yang melihat sejarah Islam beserta kekuasaan bahasa di dalamnya menyimpan kekuatan strategis untuk mengkritik diskursus peradaban Barat.
Sumbangan gagasan Hodgson yang sangat penting, yang juga mengafirmasi pemikiran Foucault adalah ia telah membongkar “kekuasaan” dalam diskursus Eropa dengan menyampaikan diskursus berbeda. Foucault sendiri mengatakan, “kekuasaan adalah pengetahuan” untuk menunjuk bahwa mereka yang punya kekuasaan selalu mengambil keputusan yang diperhitungkan sebagai pengetahuan.
Soetomo hendak mengklarifikasi dan mengoreksi penulisan sejarah konvensional. Penulisan sejarah konvensional-empirisme yang mengalir begitu saja, beraturan, kontinu, satu dan utuh, perlu dikritik, ditinjau ulang, dan diperbaiki metodologinya.

Kompas, Jumat, 26 Mei 2017