Sunday, 4 June 2017

Cerita Arab-Yahudi dalam Perang 1967

Oleh MUSTHAFA ABD RAHMAN
Hari Senin besok, 5 Juni 2017, bangsa Arab memperingati 50 tahun sejarah paling kelam dalam catatan sejarah modern Arab. Sebaliknya, bangsa Yahudi memperingati hari itu sebagai peristiwa yang menjadi titik balik sejarah kejayaan mereka di Timur Tengah.
free-419459999800657480.jpg
Foto dokumentasi tertanggal 10 Juni 1967 memperlihatkan kegembiraan tentara Israel di Sinai, Mesir, selama Perang Enam Hari. Peristiwa 50 tahun silam itu meninggalkan dampak dan konflik di Timur Tengah hingga hari ini, termasuk berandil bagi tumbuhnya gerakan radikalisme di Arab.
Pada 5 Juni 1967, meletus perang antara Israel di satu pihak melawan Mesir, Suriah, dan Jordania di pihak lain. Perang ini berlangsung sangat singkat, yakni kurang dari satu pekan, dari 5 hingga 10 Juni 1967. Dalam berbagai buku sejarah, perang itu juga populer dengan nama Perang Enam Hari.
Namun, dampak perang tersebut sangat luar biasa bagi kedua bangsa, Arab dan Yahudi, yang dirasakan sampai hari ini. Bahkan, muncul gerakan radikalisasi di dunia Arab dan Islam selama 50 tahun terakhir ini juga akibat perang 5 Juni 1967 itu.
Betapa tidak, hanya dalam kurun waktu enam hari saja, bangsa Arab kehilangan wilayah paling luas dalam sejarah modern Arab, yaitu Semenanjung Gurun Sinai, Dataran Tinggi Golan, Tepi Barat, dan kota Jerusalem Timur.
Kota Jerusalem Timur merupakan kota suci ketiga bagi umat Muslim setelah Mekkah dan Medinah serta merupakan kiblat pertama bagi umat Muslim sebelum kiblat itu dipindah ke Mekkah.
sebaliknya bagi bangsa Yahudi, perang 5 Juni 1967 meningkatkan kepercayaan diri mereka setinggi langit. Hanya dalam Perang Enam Hari, bangsa Yahudi sudah memiliki tiga kali wilayah lebih luas dari wilayah negeri Israel yang asli, setelah mereka menduduki Semenanjung Gurun Sinai, Dataran Tinggi Golan, Tepi Barat, dan Jerusalem Timur.
Sejak perang tersebut, bangsa Yahudi merasa sangat unggul atas bangsa Arab dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari sosial, budaya, ekonomi, politik hingga militer. Bahkan, bangsa Yahudi mulai cenderung melihat bangsa Arab sebagai bangsa yang bodoh dan terbelakang dalam semua sektor kehidupan. Bangsa Yahudi juga melihat bangsa Arab sebagai bangsa besar, tetapi rapuh dan ompong.
Versi Barat-Yahudi
Banyak cerita tentang perang 5 Juni 1967 itu. Buku-buku sejarah yang ditulis para cendekiawan Barat dan Yahudi menyebutkan, perang dimulai dengan serangan udara kilat oleh Israel pada pagi hari 5 Juni 1967 atas semua pangkalan udara militer Mesir untuk melumpuhkan pesawat-pesawat tempur negara itu.
Serangan udara Israel itu sebagai reaksi atas keputusan Mesir mengusir pasukan perdamaian PBB dari Jalur Gaza dan Semenanjung Gurun Sinai, serta menutup Selat Tiran bagi kapal-kapal dagang Israel.
Serangan udara Israel itu sukses besar. Hanya dalam hitungan jam, semua pesawat tempur Mesir hancur total. Semua pangkalan udara Mesir lumpuh.
Posisi pasukan darat Mesir yang berada di Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai menjadi terbuka tanpa perlindungan udara. Pada saat itu pula, pesawat tempur Israel membombardir pasukan darat Mesir di Jalur Gaza dan Semenanjung Gurun Sinai.
Suriah dan Jordania segera bergerak membantu Mesir. Perang pun meluas. Israel lalu menghadapi tiga front sekaligus, yakni Mesir, Suriah, dan Jordania. Dalam waktu enam hari saja, Israel sudah mampu melumpuhkan semua kekuatan militer Mesir, Suriah, dan Jordania.
Versi Arab
Di sini sejarawan berbeda pendapat tentang cerita perang 5 Juni 1967. Bagi sebagian besar sejarawan Barat dan Yahudi, serangan udara Israel atas semua pangkalan udara militer Mesir sebagai aksi bela diri yang dibenarkan hukum internasional untuk menghadapi serangan militer Mesir ke Israel yang sudah dekat saat itu.
800.jpeg
Tentara Israel menggeledah para tahanan Jordania dalam operasi di kota tua Jerusalem, yang ditunjukkan foto bertanggal 8 Juni 1967.
Namun, bagi sejarawan Arab, serangan udara Israel itu adalah sebuah invasi militer yang tidak dibenarkan hukum internasional karena Mesir saat itu belum mulai melancarkan serangan ke wilayah Israel.
Serangan udara pertama Israel, yang merupakan faktor terbesar kemenangan Israel dalam Perang Enam Hari itu, tetap menjadi polemik para sejarawan politik bangsa Arab dan Yahudi sampai saat ini. Terlepas siapa yang lebih benar dalam polemik tersebut, perang 5 Juni 1967 telah mengubah cara berpikir secara fundamental bangsa Arab dalam melihat konflik Arab-Israel.
Bangsa Arab sejak itu tidak lagi menuntut pemusnahan negara Israel dari muka bumi, tetapi hanya menyerukan Israel mundur dari tanah yang diduduki pada perang 5 Juni 1967. Bangsa Arab mulai menyadari, mustahil memusnahkan negara Israel yang jauh lebih unggul dalam semua sektor dari mereka.
Bukan itu saja, bangsa Arab mulai menyadari pula, bukan Israel yang akan punah, melainkan justru rakyat Palestina yang terancam hak-hak mereka bakal hilang untuk selamanya.
Akan tetapi, bangsa Arab dalam waktu yang sama juga berpikir bahwa tidak mungkin dapat mengembalikan kehormatan mereka akibat kekalahan dalam perang 5 Juni 1967 tanpa mereka memiliki daya tawar dalam menghadapi Israel.
Daya tawar tersebut adalah membangun kembali kekuatan militer dan membuka perang terbatas melawan Israel untuk tujuan mewujudkan perdamaian yang adil dengan Israel.
Itulah yang melatarbelakangi Mesir melancarkan perang gerilya melawan Israel di sepanjang Terusan Suez antara tahun 1967 dan 1970. Perang gerilya itu baru berhenti setelah Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser menerima inisiatif damai Menteri Luar Negeri AS William P Rogers pada tahun 1970.
Pergantian kekuasaan di Kairo dengan naiknya Anwar Sadat sebagai Presiden Mesir menyusul wafatnya Presiden Abdel Nasser pada 28 September 1970, membuat adanya perubahan kebijakan politik di Kairo.
Sadat mulai menyusun rencana melancarkan perang terbatas melawan Israel untuk menggerakkan perdamaian di Timur Tengah. Itulah yang kemudian menyebabkan meletusnya perang 6 Oktober 1973, yang juga dikenal dengan Perang Yom Kippur.
Perundingan
Perang Yom Kippur itu mengantarkan Israel dan Mesir membuka perundingan langsung pada tahun 1974 di Geneva, Swiss. Puncaknya, tercapai kesepakatan damai Israel-Mesir di Camp David, Amerika Serikat, pada 1979.
Belakangan Palestina juga mencapai kesepakatan damai dengan Israel lewat Kesepakatan Oslo tahun 1993. Selain itu, ada juga kesepakatan damai Jordania dengan Israel tahun 1994.
Meski demikian, setelah perang 5 Juni 1967 yang disusul Perang Yom Kippur tahun 1973, sampai saat ini upaya mewujudkan negara Palestina di atas tanah tahun 1967 dengan ibu kota Jerusalem Timur–yang saat ini dikenal dengan solusi dua negara, Israel dan Palestina–masih gagal.
Butuh inovasi dan kreasi baru dalam mencari solusi politik dalam konflik Israel-Palestina menyusul terjadinya perubahan yang luar biasa di dunia Arab dan internasional setelah 50 tahun perang 5 Juni 1967.
6sLEHDR.jpg
Tentara Israel di Dinding Barat, Jerusalem, untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, setelah memasuki kota saat Israel merebut kota Jerusalem Timur dalam Perang Enam Hari 1967. (David Rubinger)

Kompas, Minggu, 4 Juni 2017

Saturday, 3 June 2017

Saat TNI Kembali Meraih Prestasi

Oleh EDNA C PATTISINA
Di atas kertas, persenjataan tentara Australian Defense Force lebih canggih dibandingkan dengan Tentara Nasional Indonesia. Namun, dalam pertempuran, kemenangan tidak hanya ditentukan kecanggihan senjata. Kemenangan prajurit TNI Angkatan Darat saat duel memperebutkan posisi petembak terbaik dalam Australian Army Skill at Arms Meeting 2017 menjadi pelajaran terbaik.
serda-woli-hamsan-petembak-terbaik-di-aasam-2017-poskota.jpg
Sersan Dua Woli Hamsan meraih predikat petembak terbaik dalam lomba keterampilan militer Australian Army of Skill at Arms Meeting (AASAM) 2017 di Victoria, Australia, akhir Mei. Ia berhasil mengalahkan tentara Australia dalam duel menembak sasaran enam pelat. (Arsip/TNI AD)
Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2017 merupakan acara persahabatan antar-angkatan darat yang diadakan di Puckapunyal Military Area, Victoria, Australia, 5-26 Mei. Peserta terdiri atas 18 negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan Malaysia. Acara tersebut melibatkan lebih dari 200 prajurit AD.
Di acara yang memperebutkan 68 medali emas itu dibangun semangat kompetisi yang sehat, yaitu kemampuan menembak menjadi parameter. Sebuah parameter yang sederhana, tetapi esensial, terutama untuk mencerminkan profesionalisme prajurit.
Nomor terakhir adalah memperebutkan posisi petembak terbaik. Nomor ini paling bergengsi karena bagi AD, senapan adalah senjata utama. Ibaratnya, palu bagi tukang dan kuas bagi pelukis. Di AASAM, tahap awal, 20 petembak terbaik selama lomba diadu. Babak terakhir diisi dengan duel dua petembak. Pemenang biasanya diarak dengan kursi di atas tandu, diiringi musik pipa tradisional Australia.
Di AASAM 2017, dua petembak pada babak terakhir berasal dari Australia dan Indonesia. Nomor duel ini digelar dengan menggunakan sasaran berupa enam keping pelat bulat kecil yang menempel dari atas ke bawah di sebuah tiang. Pelat tersebut diwarnai biru di sisi kanan dan hijau di sisi kiri. Engsel digunakan untuk menempel ke tiang, membuat masing-masing pelat bisa berayun bebas ke kiri-kanan. Ketika sisi biru ditembak dari depan, ia akan berayun sehingga sisi hijau yang akan menghadap ke depan. Setiap petembak dibekali 40 peluru di dua magasin.
Tak kurang akal
Mekanisme duel adalah saat kedua petembak menyerang sekaligus bertahan. Petembak di sisi biru menyerang dengan menembak setepat mungkin sisi pelat-pelat berwarna biru sehingga berayun ke sisi lawan. Sisi yang pelat yang terlihat kini adalah sisi hijaunya. Pada saat sama, petembak di sisi hijau akan melakukan hal sama sehingga petembak di sisi biru akan ketambahan pelat berwarna biru. Upaya petembak sisi biru menyerang dengan menambah ayunan pelat yang memunculkan sisi hijau harus disertai upaya bertahan mencegah berayunnya pelat-pelat lain dari sisi hijau ke sisi biru. Pemenangnya adalah pihak yang paling lebih dahulu mengayunkan semua pelat yang terlihat menjadi sisi pelat dengan warna lawan.
Letkol Yosep Tanada Sidabutar, Komandan Tim TNI AD Indonesia, berhasil membuat strategi. Menurut dia, Australia sebagai tuan rumah punya keunggulan karena model pelat yang tidak sama dengan yang biasa dipakai TNI AD. “Namun, kami tak boleh kurang akal,” cerita Yosep yang juga Kepala Staf Brigade Lintas Udara 17/Kujang Divisi I Kostrad.
Daripada menembak sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya, Yosep pun atur strategi sebaliknya. Strategi ini yang diperintahkan ke Sersan Dua Woli Hamsan, petembak Indonesia yang masuk ke babak duel, untuk dilaksanakan. “Saya bilang ke Woli, biar tentara Australia tembak-tembak dulu. Yang penting, dua dari pelat yang paling atas harus kamu pertahankan. Untuk bisa menang, dia harus ubah semua pelat,” cerita Yosep.
Saat pertandingan, prajurit Australia berusaha dengan cepat menembak semua pelat untuk mengayunkan sisi hijau berubah jadi sisi biru. Woli tetap tenang. Dia hanya fokus mempertahankan dua pelat teratas sambil sesekali menembak pelat lain. Tak berapa lama, 20 peluru prajurit Australia di magasinnya habis. Ia harus mengisi ulang. Detik-detik inilah yang dimanfaatkan Woli. dengan tenang, ia menembak pelat-pelat yang tersisa. “Dor-dor-dor-dor,” empat pelat lalu berayun menampakkan sisi hijaunya.
Setelah itu bisa diduga, sorak-sorai bergembira di kubu Indonesia. Woli yang di senapan SS-2-nya masih ada 3 butir peluru dibopong prajurit TNI AD. Sehari-hari, Woli yang bertugas di Divisi 1 Kostrad ini akhirnya berhasil mendapatkan the best of the best. Namun, predikat juara umum adalah hasil kerja sama tim sehingga dengan 28 emas, 6 perak, dan 5 perunggu, Indonesia jauh di atas peringkat kedua, Australia dengan 14 emas, 16 perak, dan 16 perunggu.
Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Mulyono mengapresiasi tim anggota. Tahun ini ke-10 kalinya pertandingan digelar sejak 2008. TNI AD pernah menjuarai AASAM 2017 (maksudnya 2016?). “Saya memaknai keberhasilan ini momen masyarakat Indonesia lebih mencintai TNI AD,” kata Mulyono.
Bagi TNI AD, kemenangan ini juga menunjukkan profesionalisme prajurit TNI. Menurut Mulyono, setiap prajurit TNI AD harus bisa menembak tepat 80 persen. Kemenangan ini juga menunjukkan senapan produksi PT Pindad, yaitu SS-2, unggul di kelasnya. Secara domestik, kemenangan ini penting bagi hubungan TNI AD dengan rakyat.
Kemenangan Woli ini menjadi pelajaran berharga. Tentara profesional adalah hasil dari kerja keras dan cerdas, juga tidak hanya individual, tetapi juga tim dan sistem. Salah satu pelajaran adalah cerita Panglima Kostrad Letjen Edy Rahmayadi. Menurut dia, Indonesia belum mampu menggelar kompetisi seperti AASAM. Alasannya juga karena tidak punya infrastruktur penunjang. Peralatan di AASAM bisa dikatakan cukup canggih karena menciptakan skenario tempur realistis. ADF Australia juga memakai robot yang bisa bergerak meski diacak.
Namun, kepiawaian tentara Indonesia mengundang decak kagum. TNI mengukur kecepatan angin secara tepat dengan melempar rumput ke atas, sementara prajurit negara lain memakai wind meter. Keunggulan itu dibangun dengan menggunakan karakteristik lokal, bukan meniru negara lain. Namun, hal itu tetap harus dikombinasi dengan sisi lainnya, yaitu sistem di TNI AD yang juga harus semakin dibuat canggih dengan teknologi.
aasam2.jpg
Kontingen TNI AD yang dipimpin Letkol Inf Josep T. Sibabutar saat tiba di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Minggu (28/5/2017). Rombongan berjumlah 14 orang yang terdiri dari 4 orang official dan 10 orang petembak. (Arsip/TNI AD)
IMG-20170530-WA0014.jpg
Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono menerima laporan kembalinya Kontingen TNI AD yang telah selesai mengikuti Lomba Tembak Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 17 Tahun 2017 di Puckapunyal, Australia, Selasa (30/5/2017) di Aula Serba Guna Markas Besar Angkatan Darat, Jakarta. (Arsip/TNI AD)
Kompas, Minggu, 4 Juni 2017 

Saturday, 27 May 2017

STOVIA yang Melahirkan Kebangsaan

Oleh IWAN SANTOSA
STOVIA atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia merupakan lembaga pendidikan dokter yang tumbuh di awal 1900-an yang mampu melahirkan gagasan kebangsaan Indonesia. STOVIA lahir pada zaman politik etis, yakni utang budi bangsa Belanda kepada bangsa Indonesia. Politik etis ini mengangkat tiga tema, yaitu irigasi, migrasi, dan pendidikan.
55c7844724a9d56c0f8b4567.jpeg
Tampak depan bekas Gedung STOVIA, sekarang Museum Kebangkitan Nasional di Jakarta (Hari Akbar Muharam Syah)
Wujud balas budi bidang pendidikan di STOVIA adalah kebebasan berpikir dan bergaul dalam lintas komunitas. Kondisi ini akhirnya melahirkan kesadaran memperbaiki nasib bersama para mahasiswa STOVIA. Tahap awal gagasan kebangsaan tersebut diusung para mahasiswa STOVIA melalui perkumpulan Boedi Oetomo yang berdiri pada 20 Mei 1908.
Sejarawan Universitas Gadjah Mada, Ravando, dalam buku Dokter Oen: Pejuang dan Pengayom Rakyat Kecil terbitan Penerbit Buku Kompas menceritakan, STOVIA didirikan karena kebutuhan tenaga medis akibat terjadinya berbagai wabah penyakit di Hindia Belanda, seperti pes, cacar, kolera, dan malaria.
Wabah penyakit ketika itu menjalar begitu cepat dari satu daerah ke daerah lain. Tio Tek Hong dalam Memoir Orang Tionghoa Pasar Baroe mencatat betapa dirinya menghindari wabah kolera dengan berpindah-pindah dari Batavia ke sejumlah kota hingga daerah pedalaman Jawa Barat.
Dalam kondisi tersebut, dokter sangat dibutuhkan masyarakat. Pekerja medis waktu itu bersifat mengabdi kepada masyarakat, gajinya jauh di bawah pamong praja. Akhirnya orang-orang idealis berpendidikan tinggilah yang masuk di STOVIA.
Sadha, seorang edukator di Museum Kebangkitan Nasional, di Gedung STOVIA , Kamis (18/5), mengatakan, sebagian besar siswa STOVIA angkatan tahun 1902 hingga 1920 adalah anak-anak bangsawan. Selain itu, ada siswa Eropa, Indo-Eropa, Tionghoa, dan kelompok lain. “Ada tokoh-tokoh yang tidak menyelesaikan kuliah, tetapi menjadi tokoh nasional, seperti tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan tokoh pers RM Tirto Adhisoerjo,” kata Sadha.
Sejarawan Bonnie Triyana mengatakan, para siswa STOVIA memiliki akses informasi terhadap perkembangan zaman waktu itu, seperti kekalahan Belanda dalam Perang Boer di Afrika Selatan, Perang Spanyol-Amerika yang diikuti revolusi Filipina, dan era liberal yang memberi ruang bagi masuknya pemikiran dan pendidikan di negara-negara jajahan, termasuk Hindia Belanda.
“Para mahasiswa STOVIA yang didirikan tahun 1902 itu bergaul lintas komunitas dan terinspirasi dengan gagasan kemanusiaan. Mereka bebas dari sekat agama dan suku. Revolusi Perancis yang mengusung kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan menjadi inspirasi STOVIA,” kata Bonnie.
Pada masa angkatan awal siswa STOVIA tahun 1905, Jepang mengalahkan Rusia dalam pertempuran laut Tsushima. Kemenangan bangsa Asia untuk pertama kalinya terhadap bangsa Eropa ini turut membangkitkan kesadaran bagi siswa STOVIA.
Para siswa generasi pertama STOVIA pun mendirikan Boedi Oetomo (BO), 20 Mei 1908. Pendirian BO diikuti kongres pertama pada 3-5 Oktober 1908 di Yogyakarta yang menghasilkan ketua RAA Tirtokoesoemo, wakil ketua dokter Wahidin Soedirohoesodo, dan dokter Tjipto Mangoenkoesoemo sebagai komisaris.
Pendirian Boedi Oetomo mendapat dukungan awal dari bupati Jepara, Demak, Temanggung, Karanganyar, dan Kutoarjo. Bupati Jepara dan Demak adalah keluarga besar dari tokoh pembaru pendidikan perempuan, RA Kartini.
BO pada masa awalnya mendorong beasiswa bagi siswa tidak mampu di Jawa. Namun, hal itu lalu bergulir dalam keterlibatan anggota BP di Volksraad, Parlemen Hindia Belanda, hingga pendirian Indische Partij atau Partai Hindia.
Bola salju
Aktivitas para tokoh dan alumnus STOVIA dari periode 1910 menjadi bola salju politik yang bergulir dengan Sumpah Pemuda yang dilakukan pada 28 Oktober 1928. Lagu “Indonesia Raya” pertama kali diperdengarkan dalam acara yang berlangsung di bawah pengawasan interlijen Hindia Belanda itu.
Alumnus STOVIA, Mas Soetardjo Kertohadikusumo, bersama IJ Kasimo, GSSJ Ratulangi, Datuk Tumenggung, dan Ko Kwat Tiong mengajukan Petisi Soetardjo tahun 1936 menuntut pemberian otonomi kepada Indonesia dalam waktu 10 tahun. “Soetardjo adalah kerabat Mangkunegaran yang juga pernah bersekolah di STOVIA,” kata Daradjadi Gondosuputro, penulis buku Mr Sartono: Pejuang Demokrasi dan Bapak Parlemen Indonesia.
Para alumnus STOVIA pun aktif bergaul lintas komunitas memperjuangkan kebangsaan. Mereka, misalnya, adalah dokter Tjipto Mangoenkoesoemo, yang bergaul dengan Liem Koen Hian, pendiri Partai Tionghoa Indonesia (1932). Partai ini mendorong warga Tionghoa mendukung Indonesia merdeka.
Liem Koen Hian adalah senior AR Baswedan di media massa Sin Tit Po. AR Baswedan mendirikan Partai Arab Indonesia (1934) yang juga mendorong Indonesia merdeka.
Pandangan kemanusiaan lintas suku bangsa dan agama khas STOVIA ini yang membuat dokter Tjipto Mangoenkoesoemo berkata “Met of zonder pitji, Liem Koen Hian adalah Indonesier…” yang berarti ‘... dengan atau tanpa peci, Liem Koen Hian adalah seorang putra Indonesia’.
Puncak bola salju politik para alumnus STOVIA adalah kemerdekaan 17 Agustus 1945. Radjiman Wedyodiningrat, mantan dokter Keraton Surakarta, menjadi pemimpin Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Semangat STOVIA adalah gagasan kemanusiaan yang mampu melahirkan dan mempersatukan kebangsaan dengan sangat relevan. Kampus-kampus Indonesia harus mampu melahirkan cendekiawan dengan gagasan kemanusiaan lintas komunitas yang memperkuat kebangsaan Indonesia.

Kompas, Minggu, 28 Mei 2017

Pastor Greg Soetomo Raih Gelar Doktor di UIN Syarif Hidayatullah

Oleh ALOYSIUS B KURNIAWAN
Tahun 2013, Prof Azyumardi Azra mendengar kabar mengejutkan. Seorang pastor Gereja Katolik meminta izin untuk kuliah di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Kala itu, Azyumardi menjabat Direktur Pascasarjana.
pastur-gregorius-soetomo-sj-menerima-ucapan-selamat-dari-harry-tjan-silalahi_20170526_233111.jpg
Pastor Gregorius Soetomo SJ menerima ucapan selamat dari Harry Tjan Silalahi, salah satu Pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS) setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul Bahasa, Kekuasaan, Sejarah, Historiografi Islam Marshall GS Hodgson dalam Perspektif Kajian Poststrukturalisme Michel Foucault, di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (24/5/2017). Setelah mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji, Soetomo dinyatakan lulus dengan predikat cum laude dan merupakan satu-satunya imam yang pernah meraih gelar doktor di UIN Jakarta. (Kompas/Aloysius Budi Kurniawan)
“Saya paling bahagia ketika mendengar kabar itu. Saya percaya bahwa saling menghormati dan menghargai akan terbanngun kalau perasaan saling curiga dihilangkan,” ujarnya, Rabu (24/5), di sela ujian promosi doktor Gregorius Soetomo SJ di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Soetomo tercatat sebagai pastor pertama yang meraih gelar doktor dari UIN Syarif Hidayatullah.
Peristiwa ini mengingatkan Azyumardi saat dirinya belajar di Columbia (Presbyterian) University, New York, sebuah perguruan tinggi Kristen tempat ia mendapatkan gelar PhD di bidang sejarah. “Dulu di Columbia (Presbyterian) University saya boleh belajar hingga mendapatkan gelar PhD. Demikian pula di sini, mahasiswa Kristen juga boleh studi di universitas Islam,” kata Azyumardi.
Kultur berelasi dengan penganut agama lain sudah lama dijalankan Soetomo. Ia berkali-kali merasakan secara langsung hidup bersama santri di sejumlah pondok pesantren, seperti Ponpen Edi Mancoro, Salatiga (2009), Ponpes Tebu Ireng, Jombang (2010, 2011, 2012), Ponpes Ciganjur (2013), serta Ponpes Ath-thaariq, Garut (2016). Sejak 2008, Pastor Ordo Serikat Yesus ini juga aktif dalam pertemuan-pertemuan internasional kajian dialog antaragama, seperti di Jordania, Austria, India, Senegal, Kuala Lumpur, dan Malaysia.
Menurut Azyumardi, praktik dialog “meja bundar” lintas agama seperti yang dilakukan Soetomo perlu digelar terus-menerus, seperti di gereja, wihara, masjid, dan pura. “Dialog-dialog seperti ini penting dalam rangka menjaga NKRI dan bineka tunggal ika,” paparnya.
Predikat “cum laude”
Soetomo yang pernah mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara mulai kuliah S-2 di UIN Jakarta tahun 2013. Setelah lulus S-2 tahun 2015, ia langsung lanjut S-3 di universitas yang sama. Dalam waktu empat semester, ia berhasil merampungkan disertasinya dengan predikat cum laude (dengan pujian).
“Dulu, awal masuk kuliah, saya langsung meminta Pastor Gregorius Soetomo belajar bahasa Arab,” kata Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Prof Masykuri Abdillah.
Pria kelahiran Purwokerto 27 Oktober 1964 ini pun langsung belajar bahasa Arab. Ia mengawali dengan belajar dasar-dasar bahasa Arab, percakapan sehari-hari, hingga bahasa Arab huruf gundul atau pegon.
Ketekunannya menimba ilmu berbuah manis pada Rabu (24/5), saat ia mempertahankan disertasi berjudul Bahasa, Kekuasaan, Sejarah, Historiografi Islam Marshall GS Hodgson dalam Perspektif Kajian Poststrukturalisme Michel Foucault. Gelar “doktor” pun resmi melekat di depan namanya setelah sukses mempertahankan disertasi di hadapan para penguji, meliputi Prof Masykuri Abdillah, Prof Azyumardi Azra, Prof Iik Arifin Mansurnoor, Prof Sukron Kamil, Prof Didin Saepudin, dan Prof M Sastrapratedja.
Dalam disertasinya, Soetomo menyimpulkan bahwa sejarah tak pernah obyektif karena penulisnya tidak pernah terbebaskan dari psiko-kultural pada masanya. Pernyataan ini menarik apabila dihadapkan pada penulisan sejarah Islam dari perspektif mereka yang tidak diperhitungkan, yang hidup di pinggiran, dan kalah dalam perebutan kekuasaan.
Richard Bulliet dalam bukunya berjudul Islam: The View from The Edge, 1994, secara khusus mengamati dinamika kehidupan Islam di pinggiran yang memperlihatkan bagaimana para sarjana dan ulama waktu itu tanpa struktur religius yang sentralistik mendalami ajaran Nabi dan hadis lewat budaya lisan. Pengamatan Bulliet ini menjelaskan fenomena komunitas marjinal di zaman modern ini seperti para kaum migran, yang cenderung berpaling pada ulama, bukan pemerintah atau ajaran Islam yang “beku” untuk menjawab tantangan zaman.
“Siapa pun memiliki hak untuk menuliskan sejarahnya. Mereka yang tidak memiliki kekuasaan (juga) berjuang menuliskan sejarahnya secara berbeda. Sejarah seperti ini mengafirmasi apa yang dipikirkan Foucaoult,” tutur Soetomo.
Hodgson dalam bukunya Venture of Islam juga memperlihatkan ideologi yang mengoreksi kekeliruan yang sudah umum diterima, yaitu bahwa peradaban global didefinisikan oleh pemikiran Barat sebagai pusat. Menurut Soetomo, Hodgson sejalan dengan cara berpikir Foucault yang melihat sejarah Islam beserta kekuasaan bahasa di dalamnya menyimpan kekuatan strategis untuk mengkritik diskursus peradaban Barat.
Sumbangan gagasan Hodgson yang sangat penting, yang juga mengafirmasi pemikiran Foucault adalah ia telah membongkar “kekuasaan” dalam diskursus Eropa dengan menyampaikan diskursus berbeda. Foucault sendiri mengatakan, “kekuasaan adalah pengetahuan” untuk menunjuk bahwa mereka yang punya kekuasaan selalu mengambil keputusan yang diperhitungkan sebagai pengetahuan.
Soetomo hendak mengklarifikasi dan mengoreksi penulisan sejarah konvensional. Penulisan sejarah konvensional-empirisme yang mengalir begitu saja, beraturan, kontinu, satu dan utuh, perlu dikritik, ditinjau ulang, dan diperbaiki metodologinya.

Kompas, Jumat, 26 Mei 2017

Friday, 26 May 2017

Menolak Ide Khilafah

Oleh MOH MAHFUD MD
Buktikan bahwa sistem politik dan ketatanegaraan Islam itu tidak ada. Islam itu lengkap dan sempurna, semua diatur di dalamnya, termasuk khilafah sebagai sistem pemerintahan”. Pernyataan dengan nada agak marah itu diberondongkan kepada saya oleh seorang aktivis ormas Islam asal Blitar saat saya mengisi halaqah di dalam pertemuan Muhammadiyah se-Jawa Timur ketika saya masih menjadi ketua Mahkamah Konstitusi.
Saat itu, teman saya, Prof Zainuri yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, mengundang saya untuk menjadi narasumber dalam forum tersebut dan saya diminta berbicara seputar ”Konstitusi bagi Umat Islam Indonesia”.
Pada saat itu saya mengatakan, umat Islam Indonesia harus menerima sistem politik dan ketatanegaraan Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Sistem negara Pancasila yang berbasis pluralisme, Bhinneka Tunggal Ika, sudah kompatibel dengan realitas keberagaman dari bangsa Indonesia.
Saya mengatakan pula, di dalam sumber primer ajaran Islam, Al Quran dan Sunah Nabi Muhammad SAW, tidak ada ajaran sistem politik, ketatanegaraan, dan pemerintahan yang baku. Di dalam Islam memang ada ajaran hidup bernegara dan istilah khilafah, tetapi sistem dan strukturisasinya tidak diatur di dalam Al Quran dan Sunah, melainkan diserahkan kepada kaum Muslimin sesuai dengan tuntutan tempat dan zaman.
Sistem negara Pancasila
Khilafah sebagai sistem pemerintahan adalah ciptaan manusia yang isinya bisa bermacam-macam dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Di dalam Islam tidak ada sistem ketatanegaraan dan pemerintahan yang baku.
Umat Islam Indonesia boleh mempunyai sistem pemerintahan sesuai dengan kebutuhan dan realitas masyarakat Indonesia sendiri. Para ulama yang ikut mendirikan dan membangun Indonesia menyatakan, negara Pancasila merupakan pilihan final dan tidak bertentangan dengan syariah sehingga harus diterima sebagai mietsaaqon ghaliedzaa atau kesepakatan luhur bangsa.
Penjelasan saya yang seperti itulah yang memicu pernyataan aktivis ormas Islam dari Blitar itu dengan meminta saya untuk bertanggung jawab dan membuktikan bahwa di dalam sumber primer Islam tidak ada sistem politik dan ketatanegaraan. Atas pernyataannya itu, saya mengajukan pernyataan balik. Saya tak perlu membuktikan apa-apa bahwa sistem pemerintahan Islam seperti khilafah itu tidak ada yang baku karena memang tidak ada.
Justru yang harus membuktikan adalah orang yang mengatakan, ada sistem ketatanegaraan atau sistem politik yang baku dalam Islam. ”Kalau Saudara mengatakan bahwa ada sistem baku di dalam Islam, coba sekarang Saudara buktikan, bagaimana sistemnya dan di mana itu adanya,” kata saya.
Ternyata dia tidak bisa menunjuk bagaimana sistem khilafah yang baku itu. Kepadanya saya tegaskan lagi, tidak ada dalam sumber primer Islam sistem yang baku. Semua terserah pada umatnya sesuai dengan keadaan masyarakat dan perkembangan zaman.
Buktinya, di dunia Islam sendiri sistem pemerintahannya berbeda-beda. Ada yang memakai sistem mamlakah (kerajaan), ada yang memakai sistem emirat (keamiran), ada yang memakai sistem sulthaniyyah (kesultanan), ada yang memakai jumhuriyyah (republik), dan sebagainya.
Bahwa di kalangan kaum Muslimin sendiri implementasi sistem pemerintahan itu berbeda-beda sudahlah menjadi bukti nyata bahwa di dalam Islam tidak ada ajaran baku tentang khilafah. Istilah fikihnya, sudah ada ijma’ sukuti (persetujuan tanpa diumumkan) di kalangan para ulama bahwa sistem pemerintahan itu bisa dibuat sendiri-sendiri asal sesuai dengan maksud syar’i (maqaashid al sya’iy).
Kalaulah yang dimaksud sistem khilafah itu adalah sistem kekhalifahan yang banyak tumbuh setelah Nabi wafat, maka itu pun tidak ada sistemnya yang baku.
Di antara empat khalifah rasyidah atau Khulafa’ al-Rasyidin saja sistemnya juga berbeda-beda. Tampilnya Abu Bakar sebagai khalifah memakai cara pemilihan, Umar ibn Khaththab ditunjuk oleh Abu Bakar, Utsman ibn Affan dipilih oleh formatur beranggotakan enam orang yang dibentuk oleh Umar.
Begitu juga Ali ibn Abi Thalib yang keterpilihannya disusul dengan perpecahan yang melahirkan khilafah Bani Umayyah. Setelah Bani Umayyah lahir pula khilafah Bani Abbasiyah, khilafah Turki Utsmany (Ottoman) dan lain-lain yang juga berbeda-beda.
Yang mana sistem khilafah yang baku? Tidak ada, kan? Yang ada hanyalah produk ijtihad yang berbeda-beda dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Ini berbeda dengan sistem negara Pancasila yang sudah baku sampai pada pelembagaannya. Ia merupakan produk ijtihad yang dibangun berdasar realitas masyarakat Indonesia yang majemuk, sama dengan ketika Nabi membangun Negara Madinah.
Berbahaya
Para pendukung sistem khilafah sering mengatakan, sistem negara Pancasila telah gagal membangun kesejahteraan dan keadilan. Kalau itu masalahnya, maka dari sejarah khilafah yang panjang dan beragam (sehingga tak jelas yang mana yang benar) itu banyak juga yang gagal dan malah kejam dan sewenang-wenang terhadap warganya sendiri.
Semua sistem khilafah, selain pernah melahirkan penguasa yang bagus, sering pula melahirkan pemerintah yang korup dan sewenang-wenang.Kalaulah dikatakan bahwa di dalam sistem khilafah ada substansi ajaran moral dan etika pemerintahan yang tinggi, maka di dalam sistem Pancasila pun ada nilai-nilai moral dan etika yang luhur. Masalahnya, kan, soal implementasi saja. Yang penting sebenarnya adalah bagaimana kita mengimplementasikannya
Maaf, sejak Konferensi Internasional Hizbut Tahrir tanggal 12 Agustus 2007 di Jakarta yang menyatakan ”demokrasi haram” dan Hizbut Tahrir akan memperjuangkan berdirinya negara khilafah transnasional dari Asia Tenggara sampai Australia, saya mengatakan bahwa gerakan itu berbahaya bagi Indonesia. Kalau ide itu, misalnya, diterus-teruskan, yang terancam perpecahan bukan hanya bangsa Indonesia, melainkan juga di internal umat Islam sendiri.
Mengapa? Kalau ide khilafah diterima, di internal umat Islam sendiri akan muncul banyak alternatif yang tidak jelas karena tidak ada sistemnya yang baku berdasar Al Quran dan Sunah. Situasinya bisa saling klaim kebenaran dari ide khilafah yang berbeda-beda itu. Potensi kaos sangat besar di dalamnya.
Oleh karena itu, bersatu dalam keberagaman di dalam negara Pancasila yang sistemnya sudah jelas dituangkan di dalam konstitusi menjadi suatu keniscayaan bagi bangsa Indonesia. Ini yang harus diperkokoh sebagai mietsaaqon ghaliedzaa (kesepakatan luhur) seluruh bangsa Indonesia. Para ulama dan intelektual Muslim Indonesia sudah lama menyimpulkan demikian.
Moh Mahfud MD
Ketua Umum Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN); Ketua Mahkamah Konstitusi RI Periode 2008-2013
Kompas, Jumat, 26 Mei 2017 

Thursday, 25 May 2017

Kota-kota Besar Dilintasi Sesar

Kajian Terbaru, Risiko Bencana Gempa Bumi di Indonesia Lebih Tinggi
JAKARTA, KOMPAS — Kota-kota besar di sepanjang pantai utara Jawa, mulai dari Surabaya, Semarang, hingga Cirebon, ternyata berada di jalur sesar gempa aktif. Sumber gempa yang melintasi kota-kota ini berada di dekat dengan pusat permukiman penduduk sehingga dikhawatirkan bisa menimbulkan kerusakan masif jika tak diantisipasi.
sesar.jpg
Jalur sesar aktif di Jawa. Sumber: Masyhur Irsyam, Tim Revisi Peta Gempa Bumi Nasional, PusGeN, 2017. Infografik: Ismawadi
Jalur sesar darat yang baru diidentifikasi itu disebut sebagai zona Kendeng, memanjang dari Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Sesar ini merupakan kelanjutan jalur busur belakang (back arch) dari utara Pulau Flores dan menerus hingga utara Pulau Bali, dan masuk daratan di Jatim.
“Sesar Kendeng ini kemungkinan besar menyambung dengan sesar Baribis di Jawa Barat,” kata Irwan Meilano, ahli gempa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Geodesi Tim Revisi Peta Gempa Bumi Nasional, Kamis (25/5).
Sesar Kendeng ini merupakan satu dari ratusan sumber gempa baru yang ditambahkan dalam revisi peta gempa bumi nasional. Pada peta gempa nasional tahun 2010, jumlah sesar di Jawa hanya 4, kini jadi 34. Jumlah sesar baru yang ditemukan kini menjadi 295 zona, pada peta gempa bumi nasional 2010 hanya 81 zona.
“Data baru ini menunjukkan bahwa risiko bencana gempa bumi di Indonesia ternyata lebih tinggi dari perhitungan kita selama ini,” kata Irwan.
Implikasi penting
Danny Hilman Natawidjaja, ahli gempa bumi dari Lembaga Ilmi Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang juga Ketua Pokja Geologi Tim Revisi Peta Gempa Bumi Nasional mengatakan, penemuan sesar darat di sepanjang pantai utara Jawa ini memiliki implikasi penting bagi mitigasi bencana. Hal ini karena jalur gempa ini melintasi banyak kota besar dengan kepadatan tinggi.
“Beberapa kota besar yang dilintasi sesar ini adalah Surabaya, Semarang, dan Cirebon,” ujar Danny. Bahkan, menurut Danny, sesar aktif yang bergerak dengan kecepatan 5 milimeter per tahun ini kemungkinan menerus ke Jakarta.
Sesar Kendeng ini, kata Danny, bisa memicu gempa bumi hingga kekuatan Magnitude 7 di sekitar Kota Surabaya. Sekalipun sudah diidentifikasi bahwa zona Kendeng merupakan sesar naik yang aktif, periode keberulangannya belum diketahui.
“Beberapa gempa kecil sebenarnya terekam di zona ini, misalnya kejadian gempa bumi di Salatiga beberapa waktu lalu. Namun, kami belum bisa memastikan kapan gempa besarnya akan muncul,” kata Danny.
Satu hal yang penting, sesar darat yang berada di dekat kota tersebut harus diantisipasi. “Kita tentu ingat dengan gempa M 6 yang menyebabkan ribuan korban jiwa di Yogyakarta pada tahun 2006,” katanya.
Guru Besar Teknik Sipil ITB Masyhur Irsyam, yang juga Ketua Tim Revisi Peta Gempa Bumi Nasional, mengatakan, penambahan data baru kegempaan ini menuntut konsekuensi perubahan standar bangunan tahan gempa. Selama ini, sebagian besar korban dan kerugian akibat gempa disebabkan oleh kerusakan dan kegagalan struktur bangunan dan infrastruktur.
“Minimal, untuk bangunan baru yang akan dibangun harusnya mengikuti peta gempa nasional yang baru ini, yang otomatis standar kekuatannya akan naik, dan berarti juga menaikkan biaya konstruksi,” katanya.
Selain penambahan data sesar di Jawa, kata Irwan, ada sumber gempa baru di busur belakang Sumatera. Sumber gempa ini berada di antara zona subduksi dan sesar Sumatera. “Sebelumnya, kita hanya mengenal sumber ancaman gempa di Sumatera hanya dari zona subduksi dan sesar darat,” katanya. Perubahan ini meningkatkan ancaman bencana di Sumatera. (AIK)
Kompas, Jumat, 26 Mei 2017