Tuesday, 9 February 2016

Tambora Sebelum dan Sesudah 1815

Oleh AHMAD ARIF
Hingga sebelum meletus pada April 1815, Gunung Tambora di Semenanjung Sanggar, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, itu tertidur panjang. Selain catatan John Crawfurd pada tahun 1812, nyaris tak ada sumber lain yang menyebut mengenai aktivitas gunung ini sebelum letusan.
80b16fc7bf5c45b58e118a21b4cdf833.jpg
Doro Api Toi merupakan kubah lava baru di dasar kaldera Gunung Tambora di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, Agustus 2014.(Kompas/Ahmad Arif)
John Crawfurd, dokter dari Skotlandia yang berlayar melewati pantai Sumbawa pada tahun itu, melihat asap yang membubung tinggi dari puncak Tambora. Bahkan, abu tipis jatuh di geladak kapalnya.
Namun, 10.000 penduduk di tiga kerajaan yang berada di lereng gunung yakni Tambora, Pekat, dan Sanggar, tidak menyadari bahwa gunung itu telah terbangun. Periode letusan Tambora yang sangat panjang membuat aktivitas gunung tak terekam oleh masyarakat lokal.
Dari analisis geologi yang dilakukan belakangan, Tambora diduga pernah meletus tahun 740 dan 3050 sebelum Masehi. Letusan pada 1815 dianggap yang terkuat. Terkuat yang tercatat dalam sejarah manusia, tapi bisa jadi letusan-letusan sebelumnya juga sangat kuat, hanya tak tercatat.
Deskripsi tentang Gunung Tambora sebelum 1815 sangat minim, termasuk tentang keberadaan kerajaan-kerajaan di kaki gunung ini. Namun, dengan menghitung material vulkanik yang dilontarkan Tambora dalam letusan kolosal 1815, para peneliti menyimpulkan bahwa ketinggian gunung ini sebelum letusan itu 4.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Bandingkan dengan Gunung Kerinci, gunung api tertinggi di Indonesia saat ini yang 3.805 mdpl.
content
Volume material vulkanik yang dilontarkan ke udara mencapai 100-150 kilometer persegi. Tinggi payung letusan diperkirakan mencapai 30-40 kilometer (km) di atas gunung, sedangkan energi letusan mencapai 1,44 x 1027 Erg atau setara dengan 171.428,60 kekuatan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada 1945.
Dalam waktu cepat, material vulkanik itu memenuhi langit Bumi, hingga menciptakan tahun tanpa musim panas di Eropa setahun kemudian. Di masa lalu, transportasi utama antarpulau masih dilakukan dengan kapal. Transportasi udara baru ditemukan 88 tahun kemudian, saat Wright bersaudara menemukan pesawat terbang pada Desember 1903. Bayangkan kekacauannya jika letusan Tambora ini terjadi saat ini. Lalu-lintas udara di dunia bakalan lumpuh.
Letusan itu memangkas tubuh Tambora hingga nyaris separuhnya menjadi 2.730 mdpl. Tubuh gunung yang kosong menciptakan lubang menganga dengan kedalaman hingga 1.100 meter dan lebar 6,2 km. Kaldera ini salah satu yang terbesar di Indonesia, setelah Rinjani di Lombok dan Toba di Sumatera Utara.
Setelah 1815, di dasar kawah Tambora muncul anak gunung api. Warga setempat menyebutnya Doro Api Toi, bahasa Bima yang artinya gunung api kecil. Terakhir, Tambora meletus 1967, tetapi sangat kecil, tak sampai skala 1 dalam VEI, dibandingkan letusan Tambora pada 1815 yang mencapai 7 skala VEI. Walaupun tak ada lagi aktivitas seismik yang berarti sejak letusan 1815, PVMBG terus memantau gunung ini. Pusat pemantauannya berada di Doro Peti.
Awal Agustus 2011, aktivitas Doro Api Toi meninggi, ditandai gempa vulkanik terus-menerus dan asap putih tebal membubung hingga 20 meter dari puncak. Pada 29 Agustus 2011, tercatat 14 gempa vulkanik dalam dari Tambora, dan sehari kemudian PVMBG menaikkan status menjadi Waspada level II. Pada 8 September status dinaikkan menjadi Waspada level III. Namun, aktivitas anak gunung ini kembali menurun.
Agustus 2014 lalu, kami menuruni kaldera Tambora dan melihat anak gunung telah tumbuh hingga setinggi sekitar 30 meter. Asap putih tebal menguar dari Doro Api Toi tanpa henti, menandakan dapur magma di perut Tambora masih menyala.
Namun, bagi PVMBG, Tambora memang bukan prioritas.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono, dalam berbagai kesempatan mengatakan, setelah menemukan keseimbangan dengan letusan besar 1815, Tambora membutuhkan waktu panjang untuk kembali mengumpulkan daya.
Menurut Surono, PVMBG juga telah membuat peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Tambora. Dalam peta, Tambora dibagi dua zona, kawasan bahaya dan waspada. Kawasan bahaya berpotensi terdampak langsung aliran awan panas dan lava meliputi wilayah 58,7 kilometer persegi. Adapun daerah waspada berpotensi terkena aliran lahar dan hujan batu apung, seluas 185 kilometer persegi.
Sekalipun diyakini tidak akan meletus dalam waktu dekat, letusan Tambora harusnya menjadi penanda sejarah tentang begitu labilnya kondisi geologi Nusantara. Sayang, hingga dua abad letusan Tambora, gunung ini sepertinya lebih banyak dikenal di luar negeri daripada di Indonesia. Literasi tentang Tambora dalam khazanah Nusantara sangat minim.
Bahkan, di Tambora sendiri, baru hari-hari ini saja gunung ini dibicarakan. Itu pun kebanyakan bukan dari aspek kegunungapian ataupun jejak peradaban yang terkubur karena letusannya. Barangkali, gagasan Ketua Tim Penelitian Situs Tambora, Sony Wibisono, dari Pusat Arkeologi Nasional (Pusarnas), untuk membuat Situs Tambora sebagai ekomuseum penting untuk diwujudkan.
Ekomuseum ini dapat mengangkat kembali Tambora sebagai tempat wisata, tempat pembelajaran sejarah, tempat konservasi sumber daya alam, dan sarana pemberdayaan masyarakat.
Jika Pompeii bisa direkonstruksi dan menjadi tempat belajar warga dunia, kenapa Tambora dilupakan? Padahal, dampaknya jauh lebih hebat dibandingkan Vesuvius yang mengubur Pompeii, dan peristiwanya ratusan tahun lebih muda.
Kompas, Rabu, 8 April 2015