Monday, 15 February 2016

Sarapan Bisa Meningkatkan Konsentrasi pada Anak

JAKARTA, KOMPAS — Kebiasaan menunda dan melewatkan sarapan masih dilakukan sebagian anak di Indonesia. Itu bisa menyebabkan kecukupan gizi tak terpenuhi sehingga anak menjadi tak bersemangat dan mengalami gangguan konsentrasi.
Dokter spesialis anak, Yoga Devaera, mengatakan, melewatkan sarapan paling berdampak pada kurangnya konsentrasi anak di kelas. Mereka juga cenderung kurang bertenaga saat beraktivitas di dalam dan luar kelas.
"Saat sulit konsentrasi, anak tak maksimal dalam kegiatan belajar-mengajar. Apalagi saat pelajaran olahraga, anak akan mudah lelah karena melewatkan sarapan," kata Yoga pada jumpa pers di Jakarta, Sabtu (13/2). Sarapan berkontribusi 15-35 persen dari kebutuhan energi per hari. Anak berusia 6-12 tahun butuh 1.800-2.200 kilokalori.
Riset yang dilakukan dokter spesialis anak, I Gusti Lanang dan Putu Ayu Widyanti, dalam artikel Breakfast Habit and Academic Performance Among Suburban Elementary School Children pada 2013, menunjukkan, sebanyak 51,7 persen siswa SD usia 6-12 tahun yang biasa sarapan sebelum berangkat sekolah punya nilai rapor 4,5 kali lebih tinggi ketimbang anak-anak yang tak biasa sarapan.
"Jika kebiasaan mengabaikan sarapan hampir setiap hari, apalagi hanya asal kenyang dan tidak bergizi lengkap, itu amat berpengaruh pada prestasi akademik anak," kata Yoga. Di Indonesia, banyak anak terbiasa sarapan pada waktu istirahat. Batas waktu sarapan ideal ialah pukul 09.00.
Jika kebiasaan mengabaikan sarapan berlanjut hingga dewasa, sistem pencernaan bisa terganggu, bahkan kena diabetes melitus dan gangguan jantung. Jadi, kebiasaan sarapan dengan gizi seimbang perlu diperhatikan.
Menurut Regional Nutrition and External Manager Cereal Partners Worldwide (CPW) Asia-Middle East-Africa Ece Durukan, orangtua harus memperhatikan gizi pada menu sarapan. Misalnya, sayur, buah, makanan berserat, dan mengandung protein, baik dari hewani maupun nabati. (C07)
Kompas, Selasa, 16 Februari 2016