Monday, 8 February 2016

Penanggulangan DBD Semakin Sulit

Genetika Nyamuk Aedes aegypti Bermutasi
SALATIGA, KOMPAS — Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penularan demam berdarah dengue kian sulit diberantas. Sebab, nyamuk itu tidak hanya menularkan penyakit itu setelah menggigit manusia yang terinfeksi virus dengue, tetapi juga dapat menurunkan virus dengue hingga lima generasi.
Petugas Surveilans Kesehatan Kota Semarang memeriksa jentik nyamuk di rumah warga, Kelurahan Bongsari, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (5/2). Sosialisasi terus dilakukan untuk membangun kesadaran warga terhadap bahaya demam berdarah dengue (DBD).
Petugas Surveilans Kesehatan Kota Semarang memeriksa jentik nyamuk di rumah warga, Kelurahan Bongsari, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (5/2). Sosialisasi terus dilakukan untuk membangun kesadaran warga terhadap bahaya demam berdarah dengue (DBD). (Kompas/P Raditya Mahendra Yasa)
Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoar Penyakit (B2P2VR) Salatiga Vivi Lisdawati, Jumat (5/2), di Salatiga, Jawa Tengah, menjelaskan, genetika nyamuk Aedes aegypti bermutasi sehingga virus menurun melalui transovarial. Virus dengue bisa diturunkan pada telurnya. Penyebab mutasi kompleks, antara lain kondisi lingkungan, seperti iklim, bahan kimia, dan perubahan pola hidup masyarakat.
Riset mekanisme transovarial pada nyamuk Aedes aegypti dilakukan sejak 2012 di Kota Salatiga. Ditemukan nyamuk yang terkandung virus dengue meski belum menggigit manusia yang terinfeksi virus. Hal itu juga terjadi di sejumlah daerah di Indonesia dan menyebabkan kasus DBD meningkat pesat.
Dengan kian banyak kemungkinan nyamuk terinfeksi virus dengue, kasus DBD akan meningkat jika tak dicegah secara efektif. Karena itu, cara paling efektif ialah mencegah perkembangbiakannya, yakni memberantas sarang nyamuk dengan menutup tempat penampungan air, mengubur barang bekas yang bisa menampung air, menguras bak penampungan air, dan menyikat tempat penampungan air.
Vivi menjelaskan, menyikat bak mandi atau tempat penampungan air diperlukan untuk menghilangkan telur nyamuk yang tidak terlihat. Telur nyamuk menempel di dinding penampung air dan bisa bertahan lama dalam kondisi kering.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo mengungkapkan, satu nyamuk Aedes aegypti bisa bertelur hingga 200 butir. "Satu-satunya cara menghindarinya ialah mencegah perkembangbiakan nyamuk dan melindungi diri dari gigitan nyamuk. Daerah-daerah endemis yang kasusnya tinggi biasanya di dataran rendah," kata Yulianto.
Langkah pengasapan juga dinilai tak efektif karena hanya membunuh nyamuk dewasa. Telur nyamuk yang mengandung virus dengue tak ikut mati. Pengasapan juga membuat nyamuk kelamaan jadi kebal insektisida.
Virus tak bermutasi
Kepala Unit Dengue Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Tedjo Sasmono, di Jakarta, kemarin, mengatakan, dari aspek virologi, tak ada perubahan ataupun mutasi virus dengue di Indonesia. Jadi, merebaknya kasus DBD tak terkait perubahan atau mutasi virusnya, tetapi lebih soal perubahan cuaca dan manajemen penanganan penyakit yang harus dibenahi.
Hingga kini, virus dengue yang ada di Indonesia terdiri dari empat jenis serotipe, yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Tiap tipe memiliki subtipe atau strain hingga ratusan. "Dari virusnya, tak ada perbedaan klinis meski DEN-2 lebih kerap menyebabkan keparahan penyakit," ucapnya.
Banyaknya variasi strain itu mempersulit upaya menemukan vaksin dengue terbaik. Orang yang kebal satu jenis virus dengue belum tentu kebal tipe lain. Kini, vaksin dengue dalam tahap izin di Kementerian Kesehatan. Meski nantinya vaksin bisa beredar, itu tak menjamin penyebaran dengue bisa diatasi karena rantai virus dan vektornya tak putus.
Mayoritas orang dewasa yang tinggal di daerah endemik DBD bisa kebal penyakit itu karena pernah digigit nyamuk yang terinfeksi empat tipe virus itu. Namun, begitu nyamuk Aedes aegypti menggigit orang yang terinfeksi virus itu lalu menggigit orang lain yang belum terinfeksi, terutama anak-anak, penularan ke orang baru terjadi.
Dengan melihat karakter virus dengue itu, Tedjo menyarankan, cara mengatasinya harus terintegrasi dari aspek manusia, nyamuk, dan lingkungan. Dari aspek manusia, begitu ada gejala demam, terutama di daerah endemik, sebaiknya langsung diperiksa darahnya di laboratorium.
Hal itu karena dampak serangan virus itu ke setiap orang berbeda. Ada yang menyebabkan demam tinggi, ada yang tak terlalu panas sehingga dianggap flu biasa. Kini, mayoritas laboratorium punya kemampuan mendeteksi virus dengue. Jika dikenali sejak awal, pasien bisa diselamatkan.
Dari aspek nyamuknya, perlu ada upaya agar tak digigit nyamuk, terutama anak-anak dan ibu hamil, yang daya tahan tubuhnya rendah. Dari aspek lingkungan, perlu pengasapan atau pembersihan tempat perkembangbiakan nyamuk untuk memutus siklus hidupnya.
(UTI/AIK/ADH)

Kompas, Sabtu, 6 Februari 2016