Monday, 15 February 2016

Menengok "Rafflesia Arnoldii" di Bukit Barisan Selatan

Oleh ANGGER PUTRANTO
Indonesia memiliki tiga jenis bunga yang menjadi identitas nasional. Salah satu bunga adalah bunga raksasa Rafflesia arnoldii. Flora yang berstatus terancam punah itu tak mudah ditemukan di sembarang tempat. Pal 50 Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan salah satu lokasi tumbuhnya flora endemik Indonesia itu.
Kepala Bidang Teknis dan Konservasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Muniful Hamid memeriksa kondisi bunga padma atau yang  dikenal dengan sebutan Rafflesia arnoldii, Minggu (31/1).
Kepala Bidang Teknis dan Konservasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Muniful Hamid memeriksa kondisi bunga padma atau yang dikenal dengan sebutan Rafflesia arnoldii, Minggu (31/1/2016). (Kompas/Angger Putranto)
Pal 50 Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) terletak di jalan lintas Tanggamus-Pesisir Barat. Lokasinya di sebelah kanan jalan dari arah Tanggamus. Sekitar 100 meter dari jalan terdapat pondok jaga Rhino Camp sekaligus lokasi Plot Sample Permanen Bunga Padma Raksasa.
Kendati pada Minggu (31/1) siang itu matahari sangat terik, pepohonan yang rapat dan rimbun di TNBBS mampu menahan sengatan panas matahari. Suara kumbang mendominasi ruang pendengaran. Di salah satu sudut hutan di antara rimbunnya pohon terdapat tunas bunga Rafflesia berwarna coklat kekuningan. Tunas bunga berukuran cukup besar berdimeter sekitar 30 sentimeter.
Tak jauh dari tunas itu tumbuh terdapat sejumlah tunas lain dengan ukuran lebih kecil menyerupai buah manggis.
Sekitar 15 meter dari lokasi kedua tunas itu terdapat bunga Rafflesia yang baru saja melewati fase mekar. Sisa-sisa bentuk utuh Rafflesia masih terlihat jelas. Kelima daun bunganya masih terlihat jelas meski mulai menghitam.
Sejumlah serangga kecil tampak terbang di dalam mulut bunga raksasa itu. Meski banyak serangga mengerubungi bunga Rafflesia, tak ada bau bangkai yang tercium. "Bau bangkai hanya keluar saat bunga Rafflesia sedang mekar sempurna. Ia hanya punya waktu 5-7 hari untuk mekar sempurna," ujar Kepala Bidang Teknis dan Konservasi TNBBS Muniful Hamid.
Muniful menjelaskan, bunga Rafflesia biasanya menempel di tanaman inang yang disebut liana. Liana berbentuk batang yang menyerupai akar pohon. Terkadang liana merambat di pohon. Namun, tak jarang liana juga merambat di tanah.
Fase pertumbuhan bunga, lanjut Muniful, membutuhkan waktu sembilan bulan. Namun, masa mekarnya hanya 5-7 hari. Lalu, padma layu dan mati.
"Saat mekar sempurna, bunga Rafflesia terlihat sangat menawan. Ukurannya yang besar menyerupai mahkota lengkap dengan lima daun bunga berwarna merah mencolok, membuat bunga tersebut terlihat garang," kata Muniful.
Rafflesia adalah tanaman yang tidak mengenal musim. Di Pal 50, bunga itu biasa muncul silih berganti, berpindah-pindah tempat. Khusus Juni hingga Juli, biasanya ada empat hingga lima bunga Rafflesia yang mekar secara bersamaan.
Bunga Rafflesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah penemuannya. Bunga itu pertama kali ditemukan tahun 1818 di hutan tropis di sekitar Bengkulu. Saat itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda Thomas Stamford Raffles memimpin ekspedisi dengan dipandu Joseph Arnold. Keduanya menemukan bunga itu di sekitar Sungai Manna, Lubuk Tapi, Bengkulu Selatan.
Gabungan kedua nama mereka Rafflesia Arnoldi menjadi sebutan untuk bunga itu. Dari sanalah Bengkulu mendapat julukan The Land of Rafflesia atau Bumi Rafflesia. Hingga kini, Provinsi Bengkulu menggunakan bunga padma sebagai ikon daerah.
1007494620X310.jpg
Bunga Rafflesia arnoldii (Kompas/Aditya Ramadhan)
raflles-arnold.jpg
Kiri: potret diri Joseph Arnold (1782-1819) (Beccles and District Museum); kanan: Thomas Stamford Raffles (1781-1826)

Kompas, Selasa, 16 Februari 2016