Wednesday, 17 February 2016

Kegalauan Makhluk di Bawah Matahari

Saat piringan Bulan beringsut menutupi Matahari, sinar surya yang gagah perlahan meredup. Langit biru memudar, berganti remang cahaya abu-abu hingga kegelapan penuh, bak malam pekat mahaluas. Turunnya temperatur udara mendadak di siang bolong itu menambah syahdu suasana, saat gerhana matahari total tiba.
Alam pun bereaksi. Datangnya kegelapan akibat hilangnya sinar matahari, untuk sesaat memunculkan kembali kerlip bintang di langit. Di ufuk, cahaya kemerahan terbentang di sepanjang horizon bak fajar maupun senja yang terjadi bersamaan.
Hewan-hewan siang atau diurnal yang semula riuh mencari makan terkejut. Waktu makan dipangkas tiba-tiba. Mereka harus balik ke sarang untuk beristirahat meski perut belum kenyang, kantuk belum datang, sedangkan jam biologis tubuh mengisyaratkan belum waktunya tidur.
Adapun binatang malam (nokturnal) yang lelap tertidur mendadak dibangunkan "alarm" yang menandakan waktu kerja telah tiba. "Gerhana matahari total mengubah perilaku binatang," kata ahli ekologi dan taksonomi mamalia yang juga profesor riset pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ibnu Maryanto, Senin (15/2).
Meski demikian, Stephan G Reebs dari Universitas de Moncton, Kanada, dalam "How do Fishes React to Total Solar Eclipse?" di www.howfishbehave.ca yang mengutip sejumlah penelitian-menunjukkan sejumlah mamalia seperti zebra, singa, tupai, dan binatang ternak tetap beraktivitas normal meski suasana lingkungan mendorongnya tidur.
Beberapa binatang lain, seperti simpanse dan kuda, memang menunjukkan tanda-tanda resah atau khawatir saat gerhana, tetapi tidak bersiap-siap tidur. Kondisi itu menunjukkan jam biologis tubuh hewan memiliki peran lebih dominan dalam menentukan waktu tidur.
Perilaku berbeda ditunjukkan burung. Saat gerhana, umumnya burung ribut sesaat, lalu tenang kembali. Beberapa jenis burung bahkan kembali ke sarang, bersiap tidur. Adapun burung hantu yang adalah binatang malam akan mulai berdendang.
Sementara itu, penelitian Reebs menunjukkan, ikan akan berenang di dekat permukaan air saat gerhana terjadi, seperti biasa dilakukan menjelang senja. Adapun sejumlah ikan yang gemar melompat ke udara menunjukkan perilaku saat malam hari, yaitu memilih berhenti melompat. Diam di dasar perairan.
Walau perilaku hewan saat gerhana bervariasi, terlihat jelas perilaku itu dibentuk energi matahari. Saat sumber energi itu tiba-tiba hilang, kata Ibnu, aktivitas satwa-satwa juga dipaksa berubah, menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan. Namun, kondisi itu tak akan sampai memengaruhi organ ataupun proses reproduksi binatang karena perubahan singkat dan tidak terus-menerus.
Hal itu sejalan dengan penelitian Daryanto dalam "Pengaruh Gangguan Circadian terhadap Struktur Histologik Testis dan Ovarium Tikus Putih" di Berkala Ilmu Kedokteran Jilid XX, September 1988. Gangguan pola waktu 24 jam atau sirkadian selama beberapa menit saat gerhana matahari total yang menimbulkan pola gelap-terang tidak berpengaruh pada organ reproduksi tikus putih.
Dampak tumbuhan
Perubahan perilaku juga ditunjukkan tumbuhan. Saat gelap, kumis kucing Orthosiphon aristatus dan trembesi Albizia saman akan menutup daunnya. Ketika gerhana, kondisi yang sama akan terjadi pada kedua tanaman yang sangat sensitif terhadap perubahan cahaya itu.
Matahari yang tiba-tiba tertutup akan membuat proses fotosintesis atau pembuatan makanan pada tumbuhan hijau terganggu. Turunnya suhu udara-hingga memicu peningkatan kelembaban udara-juga memengaruhi daya fotosintesis tumbuhan.
"Terganggunya fotosintesis itu tidak akan sampai memengaruhi produksi sayur maupun padi karena gangguan yang terjadi tidak terlalu berarti," kata ahli pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang juga Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI Witjaksono. Gangguan proses fotosintesis itu lebih bermakna saat mendung berkepanjangan atau selama musim hujan.
Perubahan pencahayaan dari matahari itu juga akan mengganggu fotofisiologi tumbuhan atau sistem kerja tumbuhan sebagai respons terhadap cahaya. Pada sejumlah tanaman, khususnya di kawasan subtropika, pendeknya hari atau lama matahari bersinar sangat memengaruhi tinggi dan kecepatannya berbunga. Karena itu, saat gerhana, bisa memengaruhi pertumbuhan tumbuhan itu meski tidak signifikan karena terjadi singkat.
"Matahari adalah energi utama bagi semua makhluk hidup, bukan hanya tumbuhan," kata Witjaksono.
Tumbuhan mengonversi energi matahari menjadi makanan yang menjadi sumber energi bagi makhluk lain. Proses saling memakan itulah yang akhirnya membentuk rantai makanan ataupun jaring makanan. Proses itu membuat energi matahari mengalir hingga menjangkau makhluk hidup di puncak piramida makanan dan menjaga keberlangsungan hidup semua makhluk di Bumi.
Tak hanya menjadi sumber energi bagi makhluk Bumi, Matahari pula yang membuat Bumi berevolusi menjadi planet layak huni seperti sekarang. Tanpa panas dan sinar matahari, Bumi hanyalah sebongkah batu berselimut es. Matahari yang menghangatkan laut Bumi hingga membentuk atmosfer seperti sekarang.
Jauh pada awal pembentukan Bumi 4,5 miliar tahun silam hingga beberapa miliar tahun berikutnya, atmosfer Bumi didominasi karbondioksida yang dihasilkan melalui aktivitas vulkanik Bumi. Uap air, amonia, dan metana ada dalam jumlah sedikit. "Atmosfer Bumi primitif mirip atmosfer Venus dan Mars saat ini," kata Guru Besar Astronomi Institut Teknologi Bandung, Taufiq Hidayat.
"Tanpa Matahari, Bumi tidak akan dapat dihuni," katanya. (MZW)
Kompas, Rabu, 17 Februari 2016