Monday, 29 February 2016

Habitat Satwa Semakin Hancur


152 Gajah Sumatera Mati

JAMBI, KOMPAS — Sedikitnya 152 gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) mati sejak 2012 dan ancaman kematian gajah terus berlangsung. Kepunahan sudah terjadi di 13 kantong karena habitat gajah secara masif beralih menjadi kebun dan hutan monokultur.

Seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) tewas di perkebunan karet masyarakat di Desa Semambu, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi, Jumat (12/2). Konflik antara satwa dan manusia di wilayah itu diduga sengaja dimanfaatkan pemburu liar untuk membunuh gajah dan mencuri gadingnya.
Seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) tewas di perkebunan karet masyarakat di Desa Semambu, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi, Jumat (12/2). Konflik antara satwa dan manusia di wilayah itu diduga sengaja dimanfaatkan pemburu liar untuk membunuh gajah dan mencuri gadingnya. (Kompas/Irma Tambunan)
Awal tahun ini saja lima gajah ditemukan mati. Terakhir, Kamis (25/2), seekor gajah ditemukan mati di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, oleh tim gabungan dari anggota Balai TNTN, polisi, dan anggota World Wildlife Fund (WWF) Riau.
Juru bicara WWF Riau, Syamsidar, Jumat (26/2), mengatakan, Kamis sore pihaknya mendapat pesan singkat dari anggota WWF yang ikut patroli di TNTN bahwa ada gajah mati. "Tidak ada keterangan lain. Sampai sekarang, kami belum tahu jenis kelamin gajah yang mati itu, apakah betina atau jantan, berapa usianya, kapan waktu kematiannya, dan informasi lain. Kami tidak dapat menghubungi tim patroli karena sinyal telepon di lokasi itu sangat buruk," katanya.
Kepala Balai TNTN Tandya Tjahjana juga belum dapat memberikan informasi tentang kematian gajah tersebut. Dia mengatakan belum menerima informasi utuh tentang kematian gajah di wilayah TNTN.
Pada hari yang sama, gajah jantan berusia 10 tahun ditemukan mati dengan kepala terpenggal di Resor Rawa Bundar, sekitar 2 kilometer dari batas kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung. Gigi gajah ditemukan berserakan di sekitar bangkai gajah.
Kepala Balai TNWK Dulhadi mengatakan, gajah itu diperkirakan mati sejak 6-7 hari lalu karena saat ditemukan kondisinya telah membusuk. Dari hasil otopsi tim dokter TNWK, tak ditemukan penyakit tertentu pada tubuh gajah. "Gajah liar yang mati itu diduga jadi korban perburuan liar karena ditemukan dalam keadaan gading dicabut," ujarnya.
Kasus ini ditangani Kepolisian Resor Lampung Timur. "Belum diketahui bagaimana cara pemburu itu membunuh gajah. Informasi sementara, tidak ditemukan bekas jeratan atau tembakan pada tubuh gajah," kata Dulhadi.
Dia mengatakan, kematian gajah liar karena pemburuan di kawasan TNWK bukan kali pertama terjadi. Selama 2015, ada empat gajah liar di TNWK yang mati karena diburu.
Beberapa waktu lalu, gajah jantan, Dadang (30), ditembak pemburu gading di hutan karet warga Desa Semambu, Kecamatan Sumay, Tebo, Jambi. Di Aceh Tengah, gajah mati karena keracunan pupuk. Awal Februari lalu, seekor gajah betina yang diperkirakan berumur 30 tahun tersengat pagar listrik dari pagar ladang warga perambah Suaka Margasatwa Balai Raja di Bengkalis, Riau.
Darurat
Data Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) menunjukkan, kematian gajah sumatera sejak 2012 terjadi mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, hingga Lampung. Jumlah gajah mati pada 2012 sebanyak 28 ekor, sedangkan pada 2013 sebanyak 33 gajah. Puncaknya, pada 2014 sebanyak 46 gajah ditemukan mati. Pada 2015 ditemukan 42 gajah mati, tetapi diduga jumlahnya lebih banyak lagi karena belum semuanya terpantau.
content
Ketua FKGI Krismanko Padang menilai, kondisi itu darurat sehingga seharusnya ditangani cepat dan terpadu oleh pemerintah dan para pihak yang berkepentingan. Pengungkapan kasus selama ini berjalan lambat dan hampir tanpa hasil. Penegakan hukum juga tidak cukup menjerakan pelaku.
Ironisnya, upaya pencegahan di lapangan masih minim. Pengabaian negara atas ruang hidup serta lemahnya penegakan hukum mempercepat laju satwa kunci Sumatera tersebut menuju kepunahan.
Populasi gajah di Sumatera saat ini diperkirakan tinggal 1.300 ekor, atau menyusut 50 persen dibandingkan 10 tahun lalu. "Patroli atau pengamanan jalur-jalur strategis jelajah gajah hampir tidak pernah dilakukan. Padahal, jalur-jalur itu kerap menjadi target perburuan gading," ujarnya.
Penelusuran pada 56 habitat gajah di Sumatera menunjukkan, kepunahan sudah terjadi pada 13 kantong habitat di Riau, Sumsel, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Barat. Kepunahan gajah disebabkan habitatnya beralih menjadi kebun dan hutan monokultur. Tekanan masyarakat pendatang juga terus meningkat.
Kelompok-kelompok gajah di Kabupaten Tebo, misalnya, terdesak akibat pembukaan hutan besar-besaran. Ekosistem gajah seluas 350.000 hektar (ha) itu kini tinggal 60.000 ha, itu pun terancam perambahan. Sebagian besar areal sudah dikuasai swasta untuk penanaman akasia.
Dua lokasi yang menjadi kantong gajah di Riau, yaitu di Duri, eks Suaka Margasatwa Balai Raja dan TNTN, sudah porak poranda. Suaka Margasatwa Balai Raja dikatakan punah karena dari total areal 18.000 ha yang disediakan pemerintah, kini tinggal 200 ha. Adapun TNTN seluas 83.000 ha, diperkirakan kini hanya tinggal 15.000-18.000 ha. Nyaris seluruh areal yang dirambah itu sudah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.
Adapun kawasan TNKW, kata Kepala Bagian Humas Balai TNWK Sukatmoko, rawan perburuan liar karena akses masuk kawasan konservasi terlalu terbuka. Paling tidak ada 100 titik masuk ke kawasan TNWK yang dapat ditembus dari luar. Akses itu rawan digunakan pemburu.
Sukatmoko mengatakan, batas kawasan terdiri dari batas buatan berupa kanal serta sungai dan laut. Di beberapa titik, kawasan TNWK juga berbatasan langsung dengan perkampungan warga. Paling tidak ada 37 desa yang berbatasan dengan TNWK.
Populasi gajah sumatera pada 11 kantong lainnya dalam kondisi kritis, antara lain populasi hanya satu atau dua ekor per kantong habitat. Adapun kelompok kecil yang tersisa biasanya tidak lagi ditemui gajah jantan. Itu berarti kepunahan segera menghadang kawanan tersebut.
Kepala Seksi I Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi Amenson Girsang mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan koridor satwa untuk mengantisipasi konflik antara gajah dan manusia. "Koridor konservasi gajah akan dibangun pada lima konsesi perusahaan, dan seluruhnya saling terhubung," ujarnya. (SAH/ITA/GER/VIO)
Kompas, Sabtu, 27 Februari 2016
Sebentar lagi, kita hanya bisa menunjukkan foto gajah sumatera, harimau sumatera, badak jawa pada generasi mendatang… menyusul kepunahan seperti harimau jawa dan harimau bali.
800px-Panthera_tigris_sondaica_01.jpg
Foto harimau jawa (Panthera tigris sondaica) di Ujungkulon, yang diambil oleh Andries Hoogerweft pada tahun 1938
Harimau-Jawa-di-Maliping-Banten 1941.jpg
Penangkapan harimau jawa (Panthera tigris sondaica) di Malingping, Banten, tahun 1941
rampok macan 1.jpg
rampok macan 2.jpg
Acara rampok macan di Kediri, sekitar tahun 1900an. Kegiatan ini mirip dengan pertunjukan gladiator antara macan tutul atau harimau melawan lingkaran pria bersenjata tombak. Dalam gambar atas tampak seekor harimau di tengah alun-alun, sedangkan binatang buas lainnya masih di dalam kotak kayu menanti giliran. Gambar bawah menunjukkan hanya satu dari hewan buas yang digunakan dalam acara adalah harimau, yang menandakan pada masa itu harimau sudah mulai jarang ditemukan.
BaronOscarVojnich3Nov1911Ti.jpg
Harimau bali yang ditembak mati bangsawan Hungaria, Oszkár Vojnich di Gunung Gondol, pada 3 November 1911 (Buzás dan Farkas, 1997)
bali tiger cecil crop.jpg
Harimau bali (Panthera tigris balica) yang ditembak mati Cecil Heaps pada tahun 1916.
bali tiger.jpg
Harimau bali (Panthera tigris balica) yang ditembak mati Zandveld pada tahun 1930an.
harimau bali.jpg

Harimau bali (Panthera tigris balica) yang tertangkap pada tahun 1925. Dibandingkan subspesies lain, harimau bali memiliki ukuran terkecil, beratnya tidak melebihi 100 kg. Harimau bali terakhir terdokumentasi mati ditembak di Sumbar Kima, Bali Barat, pada 27 September 1937. Kulit dan kerangka hewan berjenis kelamin betina tersebut disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense, Bogor (Mazák et al, 1978).