Sunday, 21 February 2016

Dekapan yang Menyelamatkan Sang Buah Hati

Oleh ADHITYA RAMADHAN
Tiada yang lebih menenteramkan bayi dari dekapan hangat orangtua, terutama ibunda. Bahkan, bagi bayi yang lahir prematur dengan berat badan kurang dari normal, dekapan hangat tak hanya membuat nyaman, tetapi juga berperan dalam pertumbuhan dan menyelamatkan nyawa.
Ny Nia mempraktikkan perawatan metode kanguru pada salah satu bayi kembar limanya beberapa waktu lalu. Metode kanguru dapat membantu bayi prematur yang lahir di bawah normal mengatasi hipotermia atau suhu tubuh rendah serta membantu meningkatkan berat badan.
Ny Nia mempraktikkan perawatan metode kanguru pada salah satu bayi kembar limanya beberapa waktu lalu. Metode kanguru dapat membantu bayi prematur yang lahir di bawah normal mengatasi hipotermia atau suhu tubuh rendah serta membantu meningkatkan berat badan.(Arsip dr Eisa Etika)
Angka Kematian Bayi (AKI) di Indonesia, menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, mencapai 32 per 100.000 kelahiran hidup. Kematian bayi mayoritas terjadi pada tujuh hari pertama. Dari tujuh hari pertama itu, kematian bayi banyak terjadi di 24 jam pertama dengan gangguan napas dan prematur sebagai penyebab kematian yang dominan.
Bayi dikategorikan lahir prematur jika lahir kurang dari 37 minggu. Kelahiran prematur akan menyebabkan berat bayi lahir rendah (BBLR), yakni berat bayi saat dilahirkan kurang dari 2.500 gram. Bayi yang BBLR sangat berisiko mengalami hipotermia yang dapat mengancam nyawanya. Organ-organ tubuh bayi yang belum matur tidak mampu mengatasi suhu dingin sekitar.
Untuk menjaga bayi BBLR tetap hangat diperlukan inkubator. Di negara berkembang di mana kualitas layanan kesehatan belum merata hingga ke pelosok daerah, ketersediaan inkubator di pelayanan kesehatan primer sering kali tidak tersedia.
Masalah seperti itulah yang dihadapi Bogota, Kolombia, pada tahun 1978-1979. Kala itu, di daerah pegunungan banyak sekali bayi yang lahir prematur. Ketersediaan tempat tidur dan inkubator di daerah tersebut saat itu sangat terbatas sehingga banyak bayi prematur tak kebagian inkubator. Sementara jika satu inkubator digunakan dua bayi, itu akan berisiko terjadinya infeksi silang.
Akhirnya, salah seorang dokter di sana berinisiatif menyuruh ibu yang bayinya lahir prematur untuk mendekap bayinya di dada masing-masing agar seluas-luasnya permukaan kulit bayi menempel langsung di tubuh sang ibu. Ternyata terjadi konduksi, sinkronisasi suhu, antara tubuh bayi dan ibunya. Ketika bayi dalam dekapan ibunya, panas tubuh ibu mengalir ke tubuh bayi dan menjaganya tetap hangat.
Suhu tubuh normal manusia 36,5-37,5 derajat celsius. Saat suhu bayi ada di bawah itu, suhu tubuh ibu akan naik 2 derajat celsius dan merambat ke tubuh bayi sehingga bayi tak lagi kedinginan. Begitu juga sebaliknya, saat tubuh bayi tinggi, suhu tubuh ibu akan turun sehingga panas tubuh bayi merambat ke tubuh ibu.
Cara sederhana itu, menurut Yeni Rustina, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (UI), kemudian disebut sebagai Perawatan Metode Kanguru (PMK). Disebut sebagai metode kanguru karena posisi ibu mendekap anaknya seperti induk kanguru menyimpan anaknya dalam kantungnya.
Kunci dari metode kanguru ialah adanya kontak kulit ibu-bayi (skin to skin contact). Bisa saja bayi didekap orangtuanya dengan berpakaian lengkap, tetapi proses konduksi antara tubuh ibu dan tubuh bayi tak akan terjadi. "Bedanya antara kontak kulit dan tidak kontak kulit amat bermakna," ucap Yeni.
Status fisiologis
Bagi bayi, metode kanguru bisa membuat status fisiologis bayi lebih baik dan stabil, perkembangan motorik bagus, durasi tidur lebih lama, dan kenaikan berat badan lebih cepat.
Bayi prematur kerap kali lupa bernapas karena paru-parunya belum matang. Sambil mendekap bayinya, ibu bisa mengajak bayinya berbicara dan mengelusnya. Ini menjadi rangsangan tumbuh kembang saraf bagi bayi. Denyut jantung ibu yang selama dalam kandungan ia dengar juga membuat bayi jadi nyaman dan tidur lebih lama sehingga energinya disimpan untuk proses pertumbuhan.
Yeni menambahkan, metode kanguru memungkinkan suhu tubuh bayi terjaga sehingga bisa terhindar hipoglikemi dan gangguan fungsi organ. Jika tubuh bayi dingin, ia akan membakar lemak untuk mempertahankan panas tubuh. Proses itu membutuhkan oksigen banyak, padahal untuk bernapas normal saja bayi prematur kesulitan. Akibatnya, gula dalam tubuh akan dibakar menjadi energi dan menyebabkan hipoglikemi.
Sementara bagi ibu, metode kanguru bermanfaat memperkuat ikatan emosional (bonding) dengan bayi, membuat ibu lebih percaya diri dalam menyusui dan merawat bayi. Metode kanguru juga bisa meningkatkan produksi air susu ibu (ASI) dan lama menyusui sehingga bayi bisa mendapat ASI eksklusif lebih lama.
Menurut Yeni, bukan hanya ibu, anggota keluarga lain pun bisa melaksanakan metode kanguru kepada bayi seperti ayah dari bayi, kakek, nenek, paman, atau bibi dari bayi.
Sederhana dan ekonomis
Dibandingkan dengan memakai inkubator, metode kanguru lebih sederhana dan ekonomis. Adapun penggunaan inkubator memiliki kelemahan, antara lain bising dan risiko terjadi infeksi.
Idealnya, inkubator ditekan tingkat kebisingannya hingga aman bagi bayi. Namun, kebanyakan inkubator tidak secara rutin ditera sehingga memiliki tingkat kebisingan di atas 60 desibel. Padahal, tingkat kebisingan yang aman bagi bayi dalam inkubator ialah di bawah 50 desibel. Inkubator yang bising dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan gangguan pendengaran pada bayi.
Kepala Divisi Neonatologi, Departemen Ilmu Kedokteran Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/Rumah Sakit Umum dr Soetomo Surabaya Risa Etika mengatakan, di Indonesia, efektivitas penerapan PMK untuk menyelamatkan bayi BBLR telah banyak terbukti, tak hanya berdasarkan laporan satu-dua kasus semata. Misalnya, pertengahan tahun 2015, tim tenaga kesehatan RSU Soetomo menerapkan PMK kepada bayi kembar lima.
Saat itu, pasien RSU Soetomo, Ny Nia, mengandung bayi kembar lima. Lima bayi lahir prematur dengan selamat melalui operasi. Bayi yang satu berjenis kelamin laki-laki dan empat perempuan itu memiliki berat bervariasi, 900 gram hingga 1.300 gram. Semua bayi sempat mengalami gawat napas dan dirawat di ruang perawatan intensif neonatus (NICU).
Saat itu, untuk menghindari bayi mengalami hipotermia dan membantu pertambahan berat badannya, PMK dilakukan pada lima bayi itu hingga berat badan mereka mencapai 2.500 gram.
Lima bayi itu juga mendapat ASI eksklusif dari ibunya. Meski sempat disiapkan donor ASI, produksi ASI Ny Nia ternyata banyak dan mencukupi bagi lima anaknya.
Yeni mengatakan, tahun 2009, Kelompok Kerja Nasional Perawatan Metode Kanguru telah dibentuk pemerintah. PMK juga dijadikan program nasional. Sebanyak 10 perwakilan rumah sakit daerah dan empat rumah sakit besar telah dilatih PMK di Cape Town, Afrika Selatan.
Persoalannya, hingga kini belum ada kebijakan tata laksana PMK di rumah sakit. Fasilitas kesehatan belum memiliki prosedur operasional standar PMK. Padahal, penerapan metode kanguru bisa menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi.
Kompas, Senin, 22 Februari 2016