Tuesday, 2 February 2016

Dari Hutan Zika ke Benua Amerika

Pada bulan kelima usia kehamilannya, Daniele Ferreira dos Santos, warga Recife, Pernambuco, Brasil, jatuh sakit dengan kondisi demam tinggi. Bercak-bercak merah padam muncul di kulit tubuhnya. Ia kemudian pulih.
Namun, beberapa minggu setelah itu, saat memeriksakan kehamilannya, ia mendapat berita yang mengerikan dari dokter. Bayi yang dikandungnya itu diperkirakan menderita kerusakan parah pada otak.
Benar, ketika bayi Juan Pedro Campos dos Santos lahir pada Desember lalu, lingkaran kepalanya hanya 26 cm. Ukuran itu hanya 20 persen dari ukuran normal.
Recife menjadi pusat penyebaran virus Zika sejak kemunculan pertama pada April 2015 di Brasil. Santos tidak pernah didiagnosis terjangkit virus Zika. Namun, ia menduga, virus Zika telah menyerangnya pada bulan kelima kehamilan.
Pedro termasuk di antara 3.700 bayi yang telah dikonfirmasi menderita mikrosefalus atau radang otak yang membuat ukuran kepalanya kecil. Meski belum teruji secara ilmiah, bayi penderita mikrosefalus itu diduga disebabkan virus Zika.
Hutan tepi danau
Virus Zika, yang kini menjangkiti puluhan ribu orang di 23 negara di Amerika dan Karibia, pertama kali ditemukan di hutan Zika, Uganda, pada 1947. Seperti dilaporkan BBC, hutan Zika tidak banyak dikenal di negara itu. Mayoritas warganya tidak tahu letak hutan itu.
Hutan Zika adalah jenis hutan tropis yang terbentang tak jauh dari kota Entebbe, di tepi Danau Victoria, Uganda tengah. Kota itu berjarak 23 km dari ibu kota Kampala. Di Entebbe terdapat juga kantor dan kediaman resmi Presiden Uganda.
Sekalipun virus Zika ditemukan di Uganda, belum pernah ada laporan tentang wabah virus Zika di negara itu. Menurut BBC, dalam 68 tahun atau hampir tujuh dekade sejak virus ditemukan, baru dua kasus virus Zika yang dikonfirmasi di sana.
Institut Penelitian Virus Uganda (UVRI) yang berbasis di Entebbe adalah lembaga pengelola hutan Zika. Melalui situsnya www.uvri.go.ug, UVRI mengatakan, hutan seluas 12 hektar itu amat dilindungi dan dibatasi hanya untuk penelitian ilmiah.
Menurut UVRI, hutan Zika cocok untuk mempelajari beragam jenis nyamuk. Di hutan yang berada di ruas jalan Entebbe-Kampala itu ada 40 jenis nyamuk. UVRI telah mendirikan insektarium untuk penangkaran, pengamatan, dan penelitian nyamuk.
Sementara lema "zika" berasal dari bahasa lokal Luganda yang berarti "tumbuh lebat". Di hutan Zika itu memang beragam vegetasi tumbuh dengan lebat. Juga ada banyak hewan kecil, termasuk rayap dan tentu saja nyamuk atau serangga.
Hutan Zika telah menjadi simpul penelitian ilmiah di Afrika Timur sejak 1946. Virus yang dinamai Zika itu ditemukan dengan tidak sengaja oleh ilmuwan Uganda, AS, dan Eropa ketika mereka sedang meneliti virus penyebab demam kuning pada 1947.
Bermula dari kera
Kala itu ilmuwan sedang menguji vaksin pada kera-kera jenis Regus di hutan Zika terkait wabah demam kuning. Penelitian selama satu dekade ketika itu didanai Rockefeller Foundation. Mereka menemukan mikroorganisme baru yang dinamai Zika.
Baik demam kuning, demam berdarah dengue, maupun zika sama-sama disebar melalui gigitan nyamuk yang sama, yakni Aedes aegypti. Ketika Zika mewabah di Amerika dan Karibia, dunia pun cemas. Apalagi belum ada vaksinnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seperti dirilis Reuters, mendesak perusahaan dan ilmuwan segera membuat vaksin Zika. Namun, para ilmuwan mengatakan, butuh waktu lama untuk mendapatkan vaksin yang telah teruji secara klinis.
Penyebaran Zika ke seluruh Amerika dan Karibia, oleh WHO disebut sebagai ledakan. Dalam kurun setahun ini bisa menjangkiti 4 juta orang. Asia pun kini dalam status waspada meski kasus virus Zika belum ditemukan.
Cara tradisional mengatasi penyebaran adalah membersihkan tempat-tempat yang menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti, serangga yang diduga penyebar virus. Tidak boleh ada genangan air di pot bunga, talang air, dan kaleng bekas, serta menguras bak penampung air. Kita mengenalnya dengan istilah 3M, yakni menguras, menutup, dan menguburkannya. (PASCAL S BIN SAJU)
Masa inkubasi
Sejauh ini, masa inkubasi Zika belum jelas. Gejala yang muncul mirip dengan penyakit arbovirus lain seperti demam berdarah dengue, yakni demam, ruam kulit, peradangan selaput mata, nyeri otot dan sendi, badan terasa tak nyaman, dan sakit kepala. Gejala itu biasanya ringan dan berlangsung 2-7 hari.
Selama KLB di French Polinesia pada 2013 dan Brasil pada 2015 dilaporkan bahwa ZIKV berpotensi menyebabkan komplikasi neurologis dan autoimun. Investigasi lebih lanjut diperlukan untuk memahami virus Zika. Dampak lain Zika masih diteliti.
Peneliti dari Balai Besar penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga, Kementerian Kesehatan, Tri Wibowo, dalam paparan tertulisnya menyatakan, virus Zika (ZIKV) adalah virus asam ribonukleat (RNA) dari famili Flaviviridae.
Virus itu diisolasi pertama kali dari monyet Macaca mulatta pada 1947 dan nyamuk Aedes africanus pada 1948 yang berasal dari Hutan Zika, dekat Kampala, Uganda. Pada 1952, virus yang dideskripsikan sebagai virus Zika teridentifikasi pada manusia di Uganda dan Tanzania. Wabah ZIKV tercatat pernah terjadi di Afrika, Amerika, dan Asia Pasifik. Penyakit akibat virus itu juga dilaporkan pernah terjadi di Uganda, Tanzania, Mesir, Republik Afrika Tengah, Sierra Leone, dan Gabon.
Secara alami, penularan ZIKV terjadi pada primata nonmanusia yang ditularkan melalui gigitan nyamuk genus Aedes sebagai vektor, sama seperti demam berdarah dengue (DBD) chikungunya, dan yellow fever. Manusia diduga jadi inang utama di wilayah yang tak ada primata nonmanusia.
Dalam sejumlah studi, ZIKV telah diisolasi dari nyamuk Aedes aegypti, Aedes africanus, Aedes luteocephalus, Aedes (fredwardsius) vittatus, Aedes(Stegomyia) apicoargenteus, Aedes (Diceromyia) furcifer di Senegal dan Aedes albopictus di Gabon.
Aedes aegypti dan Aedes albopictus diduga kuat jadi vektor utama ZIKV di banyak negara karena peran keduanya sebagai vektor arbovirus lain dan kemampuan adaptasinya tinggi di berbagai wilayah di dunia. Aedes aegypti umumnya ada di daerah tropis dan subtropis, sedangkan Aedes albopictus bisa berhibernasi dan bertahan di daerah dingin. Di luar genus Aedes, ZIKV berhasil diisolasi pada nyamuk Mansonia uniformis, Culex perfuscus, dan Anopheles coustani.
Daya terbang Aedes temasuk rendah. Nyamuk itu tak bisa terbang lebih dari radius 400 meter. Namun, ZIKV bisa menyebar lintas negara karena dibawa manusia yang terinfeksi.
Perempuan hamil
Menurut WHO, negara yang mengalami wabah ZIKV menginvestigasi apakah ada kaitan ZIKV terhadap perempuan hamil dan bayi yang lahir dengan kepala kecil. Sambil menanti hasil investigasi, WHO menyarankan agar perempuan hamil atau perempuan yang berencana punya anak menghindari gigitan nyamuk. Perempuan hamil yang diduga terinfeksi ZIKV dianjurkan berkonsultasi ke dokter.
Virus Zika diduga menyebabkan bayi dilahirkan dengan kepala kecil (BBC)
Chan menyatakan, WHO amat menaruh perhatian pada meluasnya ZIKV. Sebab, ada kemungkinan terkait kelainan bentuk dan sindrom neurologis pada bayi lahir, penyebaran lintas negara, dan rendahnya imunitas masyarakat. Padahal, belum ada vaksin, pengobatan spesifik, dan diagnosis cepat penyakit itu.
Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Kemenkes Vivi Lisdawati, Jumat (29/1), di Jakarta, menambahkan, umumnya virus ada dalam darah sekitar 3 hari, tetapi masa inkubasi (sejak nyamuk menggigit sampai timbul gejala) 5-15 hari. Lama gejala bertahan pada tubuh tergantung kondisi setiap individu, termasuk daya tahan tubuh.
Kehamilan diperbolehkan asal virus itu tak ditemukan lagi dalam darah dan selama kehamilan didampingi serta dipantau dokter. Jika penularan saat hamil dari ibu ke janin terjadi, kelanjutan kehamilan harus didiskusikan dengan dokter.
Sejauh ini belum ada publikasi riset sifat virus setelah pasien sembuh apakah virus tak ada lagi atau bertahan di tubuh sehingga bisa terjangkit lagi. (Ramadhan A, Bimantara G)
Melalui hubungan seksual
Sementara itu, kasus pertama penularan virus Zika yang diketahui di Amerika Serikat dilaporkan di Texas, Rabu (3/2). Pejabat kesehatan setempat mengatakan, virus itu ditularkan lewat hubungan seksual, bukan gigitan nyamuk. Itu menimbulkan kekhawatiran penyebaran virus yang dianggap menyebabkan lonjakan kelahiran bayi dengan cacat otak bisa lebih cepat. "Pasien terinfeksi virus setelah kontak seksual dengan seseorang yang sakit dan kembali dari negara tempat mewabahnya virus Zika tahun ini," kata otoritas Dallas County.
Dr Tom Frieden, Direktur Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) AS, pun mengonfirmasikan kasus infeksi Zika secara seksual yang dilaporkan sebelumnya di Texas. Seseorang berkunjung ke Venezuela dan terinfeksi Zika. Pasangannya juga tertular, padahal tak pernah meninggalkan AS.
Namun, Organisasi Kesehatan Pan American (PAHO) mengatakan, perlu lebih banyak bukti untuk mengonfirmasikan kontak seksual sebagai cara penularan Zika. Virus itu dilaporkan di lebih dari 30 negara dan dihubungkan dengan mikrosefalus, bayi lahir dengan kepala kecil abnormal dan otak tidak berkembang.
"Kebanyakan penularan Zika lewat gigitan nyamuk (Aedes), tetapi ada kemungkinan penularannya lewat cara lain," kata Frilasita Yudhaputri, peneliti Emerging Virus Research Unit Lembaga Eijkman.
Sementara Herawati menyatakan, laporan penyebaran Zika melalui hubungan seksual bisa mengubah cara meresponsnya. Bagi negara-negara nontropis yang tak punya populasi nyamuk Aedes aegypti, penularan virus Zika itu amat mengkhawatirkan. (SON/NDY/AIK/MAM/REUTERS/AFP/DI)

Temuan di Indonesia

Virus Zika diperkirakan telah menyebar di banyak daerah, bukan hanya di Jambi, seperti dilaporkan Lembaga Eijkman sejak 2015. Tahun lalu juga muncul laporan warga Australia positif terinfeksi virus Zika setelah digigit monyet di Bali. Pada 2013, ada kasus serupa.

"Temuan virus Zika pada pasien dari Australia sepulang dari Bali ini perlu dipelajari untuk memetakan sebaran virus Zika di Indonesia," kata Kepala Unit Malaria Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Tedjo Sasmono, di Jakarta, Senin (1/2).

Menurut dia, virus Zika pertama kali ditemukan pada monyet di Hutan Zika, Uganda, pada 1947 sehingga jika benar monyet di Bali yang menularkan virus Zika, maka harus dikaji mendalam. "Virusnya diisolasi dengan metode PCR (polymerase chain reaction) di Australia. Kami belum tahu detailnya" kata Tedjo.
Ditemukannya virus Zika yang menginfeksi warga Australia sepulang dari Bali dilaporkan para peneliti Australia pada jurnal Southeast Asian J Trop Med Public Health edisi Mei 2015. Disebutkan, pelancong dari Australia mengalami gejala demam, ruam, dan radang pada mata lima hari setelah digigit monyet di Bali. Seusai diperiksa, positif ditemukan infeksi virus Zika. Dalam jurnal disebutkan, gigitan monyet itu tidak bisa dipastikan sebagai penyebab penularan virus Zika. Bisa jadi pelancong itu digigit nyamuk selama di Bali.
Laporan ini menambah panjang dugaan penyebaran virus Zika di Indonesia. Pada 2013, perempuan Australia yang baru pulang setelah sembilan hari di Jakarta dilaporkan terinfeksi virus Zika. Seperti kasus warga Australia yang terinfeksi Zika di Bali, proses isolasi virus ini juga dilakukan di Australia serta dilaporkan Jason C Kwong dan timnya dalam American Journal Tropical Medicine and Hygiene tahun 2013. [Kwong et al melaporkan kasus terduga Zika dari seorang warga Australia yang baru pulang setelah berlibur selama 9 hari di Jakarta]
Bahkan, tahun 1981, tim peneliti yang terdiri dari JG Olson, Ksiazek, Suhandiman, dan Triwibowo melaporkan dalam jurnal Transactions of the Royal Society of Tropical Medicine and Hygiene tentang adanya satu pasien di Rumah Sakit Tegalyoso, Klaten, yang terinfeksi virus Zika. Saat itu memang yang ditemukan hanya serulogi atau netralisasi antibodi terhadap virus Zika, bukan virusnya sendiri karena metode PCR yang bisa mengisolasi virus belum ditemukan.
Pada 1983, JG Olson dan timnya juga melaporkan keberadaan Zika di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Mereka menemukan 6 dari 71 sampel yang diperiksa memiliki antibodi terhadap virus Zika. "Antibodi adalah respons tubuh untuk mengeliminasi virus yang menginfeksi tubuh. Jadi, kalau ada antibodi Zika, kemungkinan besar memang ada. Hanya saja teknologinya saat itu belum mampu melakukan isolasi terhadap virus," kata Deputi Direktur Eijkman Herawati Sudoyo.
Menurut dia, isolasi terhadap virus Zika ataupun virus-virus lain memang tidak mudah. "Untuk menemukan virus dibutuhkan teknologi, selain juga anti virus atau kontrol untuk mengetesnya. Setiap virus beda-beda kontrolnya dan untuk virus yang tidak umum atau prevalensinya kecil ini harus diimpor. Proses impor ini yang sering kali tidak mudah dilakukan," katanya. (AIK)
Sindrom GB
Para ilmuwan Perancis akhirnya membuktikan adanya kaitan antara virus Zika dan sindrom saraf Guillain-Barre. Hal ini terbukti dari tes darah dan meningkatnya jumlah kasus sindrom GB di negara-negara yang mengalami epidemi Zika,
Sindrom Guillain-Barre (GB) adalah kondisi langka di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sistem saraf yang mengontrol kekuatan otot seseorang. Menurut WHO, 3-5 persen penderita sindrom GB meninggal karena komplikasi, di antaranya infeksi darah, bekuan darah dalam paru-paru, gagal jantung, dan kelumpuhan otot yang mengontrol pernapasan.
Dalam artikel yang dipublikasikan jurnal kesehatan The Lancet, para ilmuwan Perancis yang dipimpin oleh Arnaud Fontanet dari Institut Pasteur melakukan penelitian saat epidemi Zika terjadi di Polinesia pada tahun 2013-2014. Mereka kemudian menyimpulkan, dari setiap 10.000 orang yang terinfeksi Zika, ada risiko sekitar 2,4 untuk berkembang menjadi sindrom GB.
Hasil itu diperkuat oleh tes darah para penderita sindrom GB yang menunjukkan penyebabnya adalah virus yang ditularkan oleh nyamuk. Menurut jurnal itu, ini merupakan bukti pertama bahwa sindrom GB disebabkan oleh virus Zika,
"Hasil penelitian ini signifikan karena mengonfirmasi peran virus Zika dalam sejumlah komplikasi saraf yang hebat yang merupakan sindrom GB," kata Fontanet.
Faktor-faktor yang mendukung pembuktian itu adalah meningkatnya kasus sindrom GB sampai 20 kali lipat di saat epidemi Zika terjadi. Selain itu, 90 persen pasien yang mengalami sindrom yang melumpuhkan itu sepekan sebelumnya digigit nyamuk pembawa virus.
"100 persen pasien sindrom GB memiliki jejak virus Zika," papar Fontanet.


Kompas, Rabu, 3 Februari 2016
Dengan tambahan:
Serangan Zika yang Penuh Misteri. Kompas, Sabtu, 30 Januari 2016
Zika Tidak Hanya di Jambi: Dibutuhkan Kerja Sama untuk Pendataan dan Pemetaan Sebaran. Kompas, Selasa, 2 Februari 2016
Deteksi Penyebara Zika: Bisa Ditularkan Melalui Hubungan Seksual. Kompas, Kamis, 4 Februari 2016

Zika Mengakibatkan Sindrom GB. Kompas, Rabu, 2 Maret 2016