Monday, 29 February 2016

Habitat Satwa Semakin Hancur


152 Gajah Sumatera Mati

JAMBI, KOMPAS — Sedikitnya 152 gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) mati sejak 2012 dan ancaman kematian gajah terus berlangsung. Kepunahan sudah terjadi di 13 kantong karena habitat gajah secara masif beralih menjadi kebun dan hutan monokultur.

Seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) tewas di perkebunan karet masyarakat di Desa Semambu, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi, Jumat (12/2). Konflik antara satwa dan manusia di wilayah itu diduga sengaja dimanfaatkan pemburu liar untuk membunuh gajah dan mencuri gadingnya.
Seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) tewas di perkebunan karet masyarakat di Desa Semambu, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi, Jumat (12/2). Konflik antara satwa dan manusia di wilayah itu diduga sengaja dimanfaatkan pemburu liar untuk membunuh gajah dan mencuri gadingnya. (Kompas/Irma Tambunan)
Awal tahun ini saja lima gajah ditemukan mati. Terakhir, Kamis (25/2), seekor gajah ditemukan mati di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, oleh tim gabungan dari anggota Balai TNTN, polisi, dan anggota World Wildlife Fund (WWF) Riau.
Juru bicara WWF Riau, Syamsidar, Jumat (26/2), mengatakan, Kamis sore pihaknya mendapat pesan singkat dari anggota WWF yang ikut patroli di TNTN bahwa ada gajah mati. "Tidak ada keterangan lain. Sampai sekarang, kami belum tahu jenis kelamin gajah yang mati itu, apakah betina atau jantan, berapa usianya, kapan waktu kematiannya, dan informasi lain. Kami tidak dapat menghubungi tim patroli karena sinyal telepon di lokasi itu sangat buruk," katanya.
Kepala Balai TNTN Tandya Tjahjana juga belum dapat memberikan informasi tentang kematian gajah tersebut. Dia mengatakan belum menerima informasi utuh tentang kematian gajah di wilayah TNTN.
Pada hari yang sama, gajah jantan berusia 10 tahun ditemukan mati dengan kepala terpenggal di Resor Rawa Bundar, sekitar 2 kilometer dari batas kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung. Gigi gajah ditemukan berserakan di sekitar bangkai gajah.
Kepala Balai TNWK Dulhadi mengatakan, gajah itu diperkirakan mati sejak 6-7 hari lalu karena saat ditemukan kondisinya telah membusuk. Dari hasil otopsi tim dokter TNWK, tak ditemukan penyakit tertentu pada tubuh gajah. "Gajah liar yang mati itu diduga jadi korban perburuan liar karena ditemukan dalam keadaan gading dicabut," ujarnya.
Kasus ini ditangani Kepolisian Resor Lampung Timur. "Belum diketahui bagaimana cara pemburu itu membunuh gajah. Informasi sementara, tidak ditemukan bekas jeratan atau tembakan pada tubuh gajah," kata Dulhadi.
Dia mengatakan, kematian gajah liar karena pemburuan di kawasan TNWK bukan kali pertama terjadi. Selama 2015, ada empat gajah liar di TNWK yang mati karena diburu.
Beberapa waktu lalu, gajah jantan, Dadang (30), ditembak pemburu gading di hutan karet warga Desa Semambu, Kecamatan Sumay, Tebo, Jambi. Di Aceh Tengah, gajah mati karena keracunan pupuk. Awal Februari lalu, seekor gajah betina yang diperkirakan berumur 30 tahun tersengat pagar listrik dari pagar ladang warga perambah Suaka Margasatwa Balai Raja di Bengkalis, Riau.
Darurat
Data Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) menunjukkan, kematian gajah sumatera sejak 2012 terjadi mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, hingga Lampung. Jumlah gajah mati pada 2012 sebanyak 28 ekor, sedangkan pada 2013 sebanyak 33 gajah. Puncaknya, pada 2014 sebanyak 46 gajah ditemukan mati. Pada 2015 ditemukan 42 gajah mati, tetapi diduga jumlahnya lebih banyak lagi karena belum semuanya terpantau.
content
Ketua FKGI Krismanko Padang menilai, kondisi itu darurat sehingga seharusnya ditangani cepat dan terpadu oleh pemerintah dan para pihak yang berkepentingan. Pengungkapan kasus selama ini berjalan lambat dan hampir tanpa hasil. Penegakan hukum juga tidak cukup menjerakan pelaku.
Ironisnya, upaya pencegahan di lapangan masih minim. Pengabaian negara atas ruang hidup serta lemahnya penegakan hukum mempercepat laju satwa kunci Sumatera tersebut menuju kepunahan.
Populasi gajah di Sumatera saat ini diperkirakan tinggal 1.300 ekor, atau menyusut 50 persen dibandingkan 10 tahun lalu. "Patroli atau pengamanan jalur-jalur strategis jelajah gajah hampir tidak pernah dilakukan. Padahal, jalur-jalur itu kerap menjadi target perburuan gading," ujarnya.
Penelusuran pada 56 habitat gajah di Sumatera menunjukkan, kepunahan sudah terjadi pada 13 kantong habitat di Riau, Sumsel, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Barat. Kepunahan gajah disebabkan habitatnya beralih menjadi kebun dan hutan monokultur. Tekanan masyarakat pendatang juga terus meningkat.
Kelompok-kelompok gajah di Kabupaten Tebo, misalnya, terdesak akibat pembukaan hutan besar-besaran. Ekosistem gajah seluas 350.000 hektar (ha) itu kini tinggal 60.000 ha, itu pun terancam perambahan. Sebagian besar areal sudah dikuasai swasta untuk penanaman akasia.
Dua lokasi yang menjadi kantong gajah di Riau, yaitu di Duri, eks Suaka Margasatwa Balai Raja dan TNTN, sudah porak poranda. Suaka Margasatwa Balai Raja dikatakan punah karena dari total areal 18.000 ha yang disediakan pemerintah, kini tinggal 200 ha. Adapun TNTN seluas 83.000 ha, diperkirakan kini hanya tinggal 15.000-18.000 ha. Nyaris seluruh areal yang dirambah itu sudah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.
Adapun kawasan TNKW, kata Kepala Bagian Humas Balai TNWK Sukatmoko, rawan perburuan liar karena akses masuk kawasan konservasi terlalu terbuka. Paling tidak ada 100 titik masuk ke kawasan TNWK yang dapat ditembus dari luar. Akses itu rawan digunakan pemburu.
Sukatmoko mengatakan, batas kawasan terdiri dari batas buatan berupa kanal serta sungai dan laut. Di beberapa titik, kawasan TNWK juga berbatasan langsung dengan perkampungan warga. Paling tidak ada 37 desa yang berbatasan dengan TNWK.
Populasi gajah sumatera pada 11 kantong lainnya dalam kondisi kritis, antara lain populasi hanya satu atau dua ekor per kantong habitat. Adapun kelompok kecil yang tersisa biasanya tidak lagi ditemui gajah jantan. Itu berarti kepunahan segera menghadang kawanan tersebut.
Kepala Seksi I Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi Amenson Girsang mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan koridor satwa untuk mengantisipasi konflik antara gajah dan manusia. "Koridor konservasi gajah akan dibangun pada lima konsesi perusahaan, dan seluruhnya saling terhubung," ujarnya. (SAH/ITA/GER/VIO)
Kompas, Sabtu, 27 Februari 2016
Sebentar lagi, kita hanya bisa menunjukkan foto gajah sumatera, harimau sumatera, badak jawa pada generasi mendatang… menyusul kepunahan seperti harimau jawa dan harimau bali.
800px-Panthera_tigris_sondaica_01.jpg
Foto harimau jawa (Panthera tigris sondaica) di Ujungkulon, yang diambil oleh Andries Hoogerweft pada tahun 1938
Harimau-Jawa-di-Maliping-Banten 1941.jpg
Penangkapan harimau jawa (Panthera tigris sondaica) di Malingping, Banten, tahun 1941
rampok macan 1.jpg
rampok macan 2.jpg
Acara rampok macan di Kediri, sekitar tahun 1900an. Kegiatan ini mirip dengan pertunjukan gladiator antara macan tutul atau harimau melawan lingkaran pria bersenjata tombak. Dalam gambar atas tampak seekor harimau di tengah alun-alun, sedangkan binatang buas lainnya masih di dalam kotak kayu menanti giliran. Gambar bawah menunjukkan hanya satu dari hewan buas yang digunakan dalam acara adalah harimau, yang menandakan pada masa itu harimau sudah mulai jarang ditemukan.
BaronOscarVojnich3Nov1911Ti.jpg
Harimau bali yang ditembak mati bangsawan Hungaria, Oszkár Vojnich di Gunung Gondol, pada 3 November 1911 (Buzás dan Farkas, 1997)
bali tiger cecil crop.jpg
Harimau bali (Panthera tigris balica) yang ditembak mati Cecil Heaps pada tahun 1916.
bali tiger.jpg
Harimau bali (Panthera tigris balica) yang ditembak mati Zandveld pada tahun 1930an.
harimau bali.jpg

Harimau bali (Panthera tigris balica) yang tertangkap pada tahun 1925. Dibandingkan subspesies lain, harimau bali memiliki ukuran terkecil, beratnya tidak melebihi 100 kg. Harimau bali terakhir terdokumentasi mati ditembak di Sumbar Kima, Bali Barat, pada 27 September 1937. Kulit dan kerangka hewan berjenis kelamin betina tersebut disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense, Bogor (Mazák et al, 1978).

Tuesday, 23 February 2016

Nyamuk "Aedes" Siap "Tempur"

Oleh AMANDA PUTRI dan ADHITYA RAMADHAN
Demam berdarah dengue bisa cepat menyebar karena meningkatnya populasi nyamuk sebagai vektor, tingginya mobilitas manusia, dan berubahnya lingkungan. Namun, kini penyebaran bisa lebih cepat. Nyamuk tak butuh lagi darah manusia yang mengandung virus dengue karena sejak lahir mereka sudah membawa virus dengue.
Umum diketahui, penularan virus dengue terjadi saat nyamuk Aedes aegypti menggigit orang yang terinfeksi virus dengue. Kemudian, nyamuk yang sama menggigit orang lain dan menularkan virus melalui liurnya.
Dalam Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Dengue dan Demam Berdarah Dengue Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO (2011) dijelaskan, saat nyamuk Aedes aegypti menelan darah yang terinfeksi, virus bereplikasi di lapisan sel epitel usus tengah, lolos ke hemocoel (rongga berisi darah pada artropoda), dan menginfeksi kelenjar ludah. Virus lalu masuk air liur dan ditularkan saat nyamuk menggigit manusia.
Ternyata tak hanya itu. Sebagian populasi nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagai vektor DBD mengalami transovarial, yakni penularan virus dengue dari induk nyamuk ke nyamuk generasi berikutnya melalui telur yang dihasilkan.
Dalam kondisi tertentu, virus memasuki organ reproduksi dan ikut masuk saat pembentukan telur. Akibatnya, telur-telur yang dihasilkan nyamuk terinfeksi virus dengue. Jumlahnya mencapai 150 butir.
Entomolog dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Widiarti, Senin (22/2), di Kota Salatiga, Jawa Tengah, menjelaskan, tak ada yang berubah pada tubuh nyamuk. Transovarial dimungkinkan terjadi. Kini, kasusnya kian banyak ditemukan karena populasi nyamuk makin banyak.
Pada 2006, Widiarti dan timnya meneliti transovarial pada ribuan larva Aedes aegypti dan Aedes albopictus di lima daerah di Jateng, yaitu Tegal, Kendal, Grobogan, Sukoharjo, dan Kota Semarang. Larva yang tumbuh jadi nyamuk berusia satu minggu ditemukan tak mengandung virus. Namun, saat usia nyamuk 12 hari, mulai ditemukan 0,48 persen hingga 8,77 persen nyamuk positif mengandung antigen virus dengue.
albopictus.jpg
Aedes albopictus
berita_118392_800x600_nyamuk_DBD.jpg
Aedes aegypti
"Saat masih usia satu minggu, mungkin virusnya belum aktif. Virus baru terdeteksi saat usia nyamuk 12 hari. Karakteristik transovarial ini bisa diturunkan hingga generasi kelima, bahkan dalam beberapa riset disebutkan bisa diturunkan hingga generasi ketujuh," ucap Widiarti.
Di sejumlah negara, transovarial pada nyamuk Aedes aegypti juga ditemukan dalam banyak riset. Di Singapura, misalnya, Vincent TK Chow dkk (1998) di Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran National University of Singapore, melaporkan, 20 persen nyamuk yang ditangkap dari alam positif mengandung virus dengue.
Riset itu juga mendeteksi virus dengue pada nyamuk Aedes aegypti jantan. Itu menunjukkan, nyamuk Aedes aegypti jantan menerima virus dari induknya karena nyamuk jantan tak menggigit manusia.
Perkembangbiakan nyamuk juga dipengaruhi perubahan iklim, curah hujan, dan perubahan lingkungan. Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Siswanto, itu disebut bionomik nyamuk. Awalnya, nyamuk bersifat zoofilik (menggigit hewan), lalu berubah jadi antropofilik (menggigit manusia) karena ada komunitas manusia di dekat tempatnya berkembang biak.
Tekan populasi
Populasi nyamuk yang kian banyak akibat perubahan lingkungan dan kemungkinan terjadi transovarial yang kian tinggi memicu meningkatnya peluang penyebaran virus dengue pada manusia. Cara mengatasinya ialah menekan populasi nyamuk.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Vensya Sitohang menduga, transovarial ialah bentuk adaptasi virus dengue pada perubahan lingkungan.
Fakta transovarial itu memperkuat pentingnya pemberantasan sarang nyamuk yang dilakukan serentak dan terus-menerus. Widiarti menjelaskan, langkah 3M, yakni menguras penampungan air, menutup penampungan air, dan mengubur barang bekas, harus ditambah langkah menyikat tempat penampungan air untuk menghilangkan telur nyamuk. Jika itu tidak dilakukan, telur nyamuk yang bisa bertahan enam bulan pada kondisi kering bisa sewaktu-waktu menetas saat kena air.
Maka dari itu, setelah menyikat, penampungan air mesti disiram dengan air panas agar telur-telur itu mati. Pemberantasan sarang nyamuk itu efektif jika serentak dan rutin sebelum masa puncak penularan. Sebab, populasi nyamuk belum sebanyak saat puncak musim hujan. Pertumbuhan populasi nyamuk bisa ditekan.
Pengasapan (fogging) yang selama ini dilakukan, menurut Widiarti, rawan menyebabkan nyamuk jadi kebal jenis insektisida tertentu. Karena kerap terpapar insektisida sama, terjadi mutasi struktur genetika nyamuk Aedes aegypti yang menyebabkan insektisida tak lagi ampuh membunuh nyamuk.
Untuk itu, pengasapan harus dirotasi agar tak terus memakai insektisida jenis sama di satu lokasi. Pengasapan juga seharusnya dilakukan setidaknya tiga bulan sebelum puncak penularan (Januari-Maret) dan minimal pada dua kali siklus hidup nyamuk dengan jeda satu minggu. Jika hanya dilakukan satu kali, telur atau larva masih akan tumbuh jadi nyamuk dewasa yang membawa virus.
comparisondenguevectors.jpg
Perbandingan antara Aedes aegypti dan Aedes albopictus (CDC)

Kompas, Rabu, 24 Februari 2016

Monday, 22 February 2016

Nyamuk, Spesies Paling Mematikan

Oleh AHMAD ARIF
Perang panjang manusia melawan nyamuk telah dilakukan sejak awal peradaban, tetapi belum ada tanda-tanda kita bisa memenanginya. Hingga kini, nyamuk menjadi spesies yang menimbulkan kematian tertinggi bagi manusia. Mengalahkan aneka jenis binatang buas, bahkan mengalahkan kekejian manusia sendiri.
Petugas fogging Dinas Kesehatan Kota Malang melakukan fogging di Gedung DPRD Kota  Malang, Sabtu (6/2). Di tengah wabah demam berdarah yang sedang menjangkit warga dihimbau tidak hanya melakukan fogging melainkan melakukan gerakan 3M (menguras, menutup, dan mengubur )tempat yang menjadi potensi sarang nyamuk Aedes Sp.
Petugas fogging Dinas Kesehatan Kota Malang melakukan fogging di Gedung DPRD Kota Malang, Sabtu (6/2). Di tengah wabah demam berdarah yang sedang menjangkit warga dihimbau tidak hanya melakukan fogging melainkan melakukan gerakan 3M (menguras, menutup, dan mengubur )tempat yang menjadi potensi sarang nyamuk Aedes sp.(Kompas/Bahana Patria Gupta)
Bill Gates, miliuner pemilik Microsoft dan belakangan gencar mendanai riset tentang nyamuk, dalam blog pribadinya membuat tulisan yang menggelitik: Spesies apa paling mematikan di dunia? Apakah hiu, ular, atau harimau? Jika mengacu pada jumlah kematian yang diakibatkannya tiap tahun, jawabannya tak ada di antara binatang-binatang itu. Hal yang benar ialah nyamuk.
Gates melengkapi argumennya dengan data dan grafis menarik. Ular disebut membunuh 50.000 manusia tiap tahun serta anjing (kebanyakan karena rabies) menewaskan 25.000 orang. Beberapa binatang yang dianggap paling mengerikan, seperti hiu dan serigala, hanya menewaskan kurang dari 10 orang per tahun. Sementara harimau dan gajah masing-masing menewaskan 100 orang per tahun, dan badak 500 orang per tahun.
Kematian disebabkan perang atau pembunuhan oleh sesama manusia sekitar 475.000 orang per tahun. Adapun nyamuk, menurut data, membunuh lebih dari 725.000 orang tiap tahun. Bahkan, data yang diajukan Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat menyebutkan, nyamuk telah menyebabkan kematian lebih dari satu juta orang setiap tahun.
Vektor mematikan
"Nyamuk amat berbahaya karena menjadi vektor berbagai jenis penyakit. Dia bisa menyebarkan virus, parasit protozoa, hingga cacing," kata Syafruddin, ahli nyamuk dan malaria dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.
nyamuk.jpg
Karakteristik utama pembeda antara nyamuk Anopheles, Aedes, dan Culex (WHO)
Dari sekitar 3.500 spesies nyamuk yang ada di muka Bumi, tiga di antaranya merupakan jenis paling mematikan, yaitu Aedes, Anopheles, dan Culex.
Infeksi virus zika, yang mengundang kepanikan pada awal tahun ini, hanya satu jenis penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk jenis Aedes aegypti. Meski serangan virus tak mematikan, diduga kuat penyakit itu memicu lonjakan kasus kelahiran bayi dengan mikrosefalus atau gangguan perkembangan otak di Brasil.
Sebelumnya, nyamuk Aedes lebih dulu dikenal sebagai penular virus demam berdarah dengue (DBD), salah satu penyakit paling mematikan yang disebarkan nyamuk. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, sedikitnya 20 juta orang di lebih dari 100 negara di dunia terinfeksi DBD tiap tahun. Di Indonesia, angka kematian akibat penyakit itu per tahun sekitar 907 jiwa (tahun 2014) hingga 1.599 jiwa (tahun 2007). Selain DBD dan zika, Aedes menularkan chikungunya dan demam kuning.
Sementara nyamuk Anopheles adalah penyebar plasmodium malaria, penyebab penyakit paling mematikan dalam sejarah manusia. Menurut data WHO, sekitar 4,2 miliar orang-hampir separuh populasi dunia-rentan terserang malaria. Pada 2015, ditemukan 214 juta orang terinfeksi malaria dan 438.000 di antaranya meninggal.
"Bandingkan dengan ebola yang memicu kematian 4.000 orang di Afrika tahun lalu. Angka kematian karena malaria jauh lebih tinggi," kata Syafruddin. Di Indonesia, kematian karena malaria dilaporkan 30 orang per tahun, dari 400.000 pasien malaria. Angka itu kemungkinan lebih kecil daripada kenyataannya.
Adapun nyamuk Culex dikenal menularkan demam West Nile, Japanese encephalitis, dan Lymphatic filariasis. Hingga kini, sebaran West Nile dan Japanese encephalitis di Indonesia belum diketahui pasti, sebagaimana sebaran virus zika meski sejumlah riset menunjukkan virus itu masuk dan menyebar di Indonesia. "Banyak kematian akibat demam tak terdiagnosis dengan baik. Kemungkinan itu karena infeksi yang ditularkan nyamuk, terutama oleh virus Japanese encephalitis," kata Herawati Sudoyo, Deputi Direktur Eijkman.
Mutasi dan adaptasi
Superioritas nyamuk terhadap spesies lain di muka Bumi terbukti dengan kemampuannya bertahan dari perubahan alam. Nyamuk telah menghuni Bumi, jauh sebelum kemunculan manusia modern (Homo sapiens). Bahkan, mereka telah ada pada era dinosaurus. Saat dinosaurus punah, nyamuk tetap ada dan terus berkembang.
Salah satu kunci daya tahan nyamuk ialah kemampuannya bermutasi untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, ketersediaan pakan, bahkan terhadap aneka obat serangga. Contoh nyata adaptasi nyamuk yang luar biasa itu bisa dilihat dalam sejarah evolusi Aedes aegypti. Nenek moyang spesies nyamuk itu asalnya di hutan Sahara, Afrika, dan hanya menggigit hewan liar, seperti masih dilakukan subspesies Aedes aegypti formosus. Namun, mayoritas Aedes kini bermukim di kota dan memilih darah manusia.

Kompas, Selasa, 23 Februari 2016

Sunday, 21 February 2016

Dekapan yang Menyelamatkan Sang Buah Hati

Oleh ADHITYA RAMADHAN
Tiada yang lebih menenteramkan bayi dari dekapan hangat orangtua, terutama ibunda. Bahkan, bagi bayi yang lahir prematur dengan berat badan kurang dari normal, dekapan hangat tak hanya membuat nyaman, tetapi juga berperan dalam pertumbuhan dan menyelamatkan nyawa.
Ny Nia mempraktikkan perawatan metode kanguru pada salah satu bayi kembar limanya beberapa waktu lalu. Metode kanguru dapat membantu bayi prematur yang lahir di bawah normal mengatasi hipotermia atau suhu tubuh rendah serta membantu meningkatkan berat badan.
Ny Nia mempraktikkan perawatan metode kanguru pada salah satu bayi kembar limanya beberapa waktu lalu. Metode kanguru dapat membantu bayi prematur yang lahir di bawah normal mengatasi hipotermia atau suhu tubuh rendah serta membantu meningkatkan berat badan.(Arsip dr Eisa Etika)
Angka Kematian Bayi (AKI) di Indonesia, menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, mencapai 32 per 100.000 kelahiran hidup. Kematian bayi mayoritas terjadi pada tujuh hari pertama. Dari tujuh hari pertama itu, kematian bayi banyak terjadi di 24 jam pertama dengan gangguan napas dan prematur sebagai penyebab kematian yang dominan.
Bayi dikategorikan lahir prematur jika lahir kurang dari 37 minggu. Kelahiran prematur akan menyebabkan berat bayi lahir rendah (BBLR), yakni berat bayi saat dilahirkan kurang dari 2.500 gram. Bayi yang BBLR sangat berisiko mengalami hipotermia yang dapat mengancam nyawanya. Organ-organ tubuh bayi yang belum matur tidak mampu mengatasi suhu dingin sekitar.
Untuk menjaga bayi BBLR tetap hangat diperlukan inkubator. Di negara berkembang di mana kualitas layanan kesehatan belum merata hingga ke pelosok daerah, ketersediaan inkubator di pelayanan kesehatan primer sering kali tidak tersedia.
Masalah seperti itulah yang dihadapi Bogota, Kolombia, pada tahun 1978-1979. Kala itu, di daerah pegunungan banyak sekali bayi yang lahir prematur. Ketersediaan tempat tidur dan inkubator di daerah tersebut saat itu sangat terbatas sehingga banyak bayi prematur tak kebagian inkubator. Sementara jika satu inkubator digunakan dua bayi, itu akan berisiko terjadinya infeksi silang.
Akhirnya, salah seorang dokter di sana berinisiatif menyuruh ibu yang bayinya lahir prematur untuk mendekap bayinya di dada masing-masing agar seluas-luasnya permukaan kulit bayi menempel langsung di tubuh sang ibu. Ternyata terjadi konduksi, sinkronisasi suhu, antara tubuh bayi dan ibunya. Ketika bayi dalam dekapan ibunya, panas tubuh ibu mengalir ke tubuh bayi dan menjaganya tetap hangat.
Suhu tubuh normal manusia 36,5-37,5 derajat celsius. Saat suhu bayi ada di bawah itu, suhu tubuh ibu akan naik 2 derajat celsius dan merambat ke tubuh bayi sehingga bayi tak lagi kedinginan. Begitu juga sebaliknya, saat tubuh bayi tinggi, suhu tubuh ibu akan turun sehingga panas tubuh bayi merambat ke tubuh ibu.
Cara sederhana itu, menurut Yeni Rustina, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (UI), kemudian disebut sebagai Perawatan Metode Kanguru (PMK). Disebut sebagai metode kanguru karena posisi ibu mendekap anaknya seperti induk kanguru menyimpan anaknya dalam kantungnya.
Kunci dari metode kanguru ialah adanya kontak kulit ibu-bayi (skin to skin contact). Bisa saja bayi didekap orangtuanya dengan berpakaian lengkap, tetapi proses konduksi antara tubuh ibu dan tubuh bayi tak akan terjadi. "Bedanya antara kontak kulit dan tidak kontak kulit amat bermakna," ucap Yeni.
Status fisiologis
Bagi bayi, metode kanguru bisa membuat status fisiologis bayi lebih baik dan stabil, perkembangan motorik bagus, durasi tidur lebih lama, dan kenaikan berat badan lebih cepat.
Bayi prematur kerap kali lupa bernapas karena paru-parunya belum matang. Sambil mendekap bayinya, ibu bisa mengajak bayinya berbicara dan mengelusnya. Ini menjadi rangsangan tumbuh kembang saraf bagi bayi. Denyut jantung ibu yang selama dalam kandungan ia dengar juga membuat bayi jadi nyaman dan tidur lebih lama sehingga energinya disimpan untuk proses pertumbuhan.
Yeni menambahkan, metode kanguru memungkinkan suhu tubuh bayi terjaga sehingga bisa terhindar hipoglikemi dan gangguan fungsi organ. Jika tubuh bayi dingin, ia akan membakar lemak untuk mempertahankan panas tubuh. Proses itu membutuhkan oksigen banyak, padahal untuk bernapas normal saja bayi prematur kesulitan. Akibatnya, gula dalam tubuh akan dibakar menjadi energi dan menyebabkan hipoglikemi.
Sementara bagi ibu, metode kanguru bermanfaat memperkuat ikatan emosional (bonding) dengan bayi, membuat ibu lebih percaya diri dalam menyusui dan merawat bayi. Metode kanguru juga bisa meningkatkan produksi air susu ibu (ASI) dan lama menyusui sehingga bayi bisa mendapat ASI eksklusif lebih lama.
Menurut Yeni, bukan hanya ibu, anggota keluarga lain pun bisa melaksanakan metode kanguru kepada bayi seperti ayah dari bayi, kakek, nenek, paman, atau bibi dari bayi.
Sederhana dan ekonomis
Dibandingkan dengan memakai inkubator, metode kanguru lebih sederhana dan ekonomis. Adapun penggunaan inkubator memiliki kelemahan, antara lain bising dan risiko terjadi infeksi.
Idealnya, inkubator ditekan tingkat kebisingannya hingga aman bagi bayi. Namun, kebanyakan inkubator tidak secara rutin ditera sehingga memiliki tingkat kebisingan di atas 60 desibel. Padahal, tingkat kebisingan yang aman bagi bayi dalam inkubator ialah di bawah 50 desibel. Inkubator yang bising dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan gangguan pendengaran pada bayi.
Kepala Divisi Neonatologi, Departemen Ilmu Kedokteran Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/Rumah Sakit Umum dr Soetomo Surabaya Risa Etika mengatakan, di Indonesia, efektivitas penerapan PMK untuk menyelamatkan bayi BBLR telah banyak terbukti, tak hanya berdasarkan laporan satu-dua kasus semata. Misalnya, pertengahan tahun 2015, tim tenaga kesehatan RSU Soetomo menerapkan PMK kepada bayi kembar lima.
Saat itu, pasien RSU Soetomo, Ny Nia, mengandung bayi kembar lima. Lima bayi lahir prematur dengan selamat melalui operasi. Bayi yang satu berjenis kelamin laki-laki dan empat perempuan itu memiliki berat bervariasi, 900 gram hingga 1.300 gram. Semua bayi sempat mengalami gawat napas dan dirawat di ruang perawatan intensif neonatus (NICU).
Saat itu, untuk menghindari bayi mengalami hipotermia dan membantu pertambahan berat badannya, PMK dilakukan pada lima bayi itu hingga berat badan mereka mencapai 2.500 gram.
Lima bayi itu juga mendapat ASI eksklusif dari ibunya. Meski sempat disiapkan donor ASI, produksi ASI Ny Nia ternyata banyak dan mencukupi bagi lima anaknya.
Yeni mengatakan, tahun 2009, Kelompok Kerja Nasional Perawatan Metode Kanguru telah dibentuk pemerintah. PMK juga dijadikan program nasional. Sebanyak 10 perwakilan rumah sakit daerah dan empat rumah sakit besar telah dilatih PMK di Cape Town, Afrika Selatan.
Persoalannya, hingga kini belum ada kebijakan tata laksana PMK di rumah sakit. Fasilitas kesehatan belum memiliki prosedur operasional standar PMK. Padahal, penerapan metode kanguru bisa menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi.
Kompas, Senin, 22 Februari 2016

Sampah Plastik: Soal Terdegradasi atau Terurai

Oleh ICHWAN SUSANTO
Sejumlah pihak menilai program kantong plastik atau keresek berbayar di ritel modern tak perlu. Alasan program itu untuk mengurangi timbulan sampah juga dinilai mengada-ada. Toh, lebih dari 95 persen peritel di Indonesia telah menggunakan plastik yang bisa terdegradasi. Jadi, apa yang harus dikhawatirkan bagi lingkungan?
 Petugas TPS Jalan Tamansari, Bandung, Jawa Barat, menata tumpukan sampah sebelum diangkut ke tempat pembuangan akhir, Sabtu (23/1). Dalam sehari, di Bandung diperkirakan dihasilkan sekitar 200 ton sampah plastik.
Petugas TPS Jalan Tamansari, Bandung, Jawa Barat, menata tumpukan sampah sebelum diangkut ke tempat pembuangan akhir, Sabtu (23/1). Dalam sehari, di Bandung diperkirakan dihasilkan sekitar 200 ton sampah plastik.(Kompas/Rony Ariyanto Nugroho)
Menurut peneliti polimer pada Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono, plastik dengan klaim degradable yang umumnya disediakan peritel-peritel itu hanya pecah di alam, bukan terurai secara biologis. Contohnya, jenis oxodegradable yang merupakan plastik yang terpecah-pecah karena teroksidasi.
"Oxo itu plastik biasa yang ditambahkan zat aditif atau logam berat sehingga ketika berada di lingkungan panas dan sinar matahari, lapisan akan luruh. Katalis akan memecah plastik," urainya.
Plastik yang merupakan senyawa polimer berantai sangat panjang dipengaruhi zat aditif dan katalis logam berat itu akhirnya pecah kecil-kecil. Bahkan, bisa berukuran mikro atau biasa disebut mikroplastik.
Masyarakat bisa terjebak pada klaim "ramah lingkungan" atas produk oxodegradable. Seolah, dengan memakai plastik jenis itu, maka sudah go green. Padahal, plastik itu hanya terpecah dari bentuk besar menjadi bentuk mikro.
Kekhawatiran "menggampangkan" persoalan plastik itu muncul dalam laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) berjudul "Biodegradable Plastics and Marine Litter: Misconception, Concerns, and Impacts on Marine Environments" pada akhir 2015. Penggunaan plastik degradable pun seakan membuat siapa saja lepas tanggung jawab karena berpikir materi itu akan terurai sendiri di alam.
Untuk benar-benar terurai habis membutuhkan proses dan kondisi tertentu serta waktu lama. Di perairan, persyaratan utama terdegradasi, seperti suhu tinggi (di atas 50 derajat celsius) dan radiasi sinar ultraviolet dari matahari, tak mungkin memapar kantong plastik degradable di lautan dingin dan gelap.
Kondisi dingin ekstrem di kutub utara, misalnya, es akan memerangkap plastik sehingga hampir tak mungkin terurai. Itu membuat kelimpahan mikroplastik di sana, setidaknya tiga kali lebih banyak daripada di daerah lain di lautan, termasuk Great Pacific Garbage Patch, pusat konsentrasi plastik di laut (Kompas, 10 Desember 2015).
Di lautan, plastik yang pecah menjadi mikroplastik menimbulkan berbagai masalah. Ketika mikroplastik berada di lautan, fauna setempat salah mengidentifikasinya sebagai plankton sehingga memakan dan menelannya. Perjalanan rantai makanan pun berlanjut hingga membahayakan manusia.
Bagi kesehatan, kata Agus, zat aditif yang ditaruh sebagai campuran plastik bisa terlepas dan terserap tubuh. "Aditif plastik bermacam-macam sesuai tujuan dan fungsi plastik itu," ujarnya.
Zat aditif pada plastik PVC merupakan senyawa phthalate yang di Uni Eropa mulai dilarang. Pelepasan senyawa aromatik itu bisa memengaruhi hormon pada tubuh. Keberadaan senyawa itu di sungai diduga penyebab ikan-ikan pejantan berubah jadi betina.
Di dunia, kata Agus, mikroplastik itu masih diperdebatkan apakah akan terurai di alam atau masih membutuhkan waktu ratusan hingga ribuan tahun untuk terurai. "Molekul polimer ini tersisa dan tertinggal di alam," ujarnya.
Beda lagi dengan plastik biodegradable. Plastik jenis ini dibuat dari bahan tepung nabati, seperti sagu, jagung, dan tapioka. Di tengah risiko pengembangannya akan berkonflik dengan kebutuhan pangan, plastik jenis ini bisa terurai secara biologi di alam.
Plastik jenis ini terurai jadi senyawa organik berbeda yang rantai polimernya telah terpecah. Agus mengatakan, plastik biodegradable bisa diatur formulasi pembuatannya agar sifat dan waktu terurainya sesuai keinginan manusia.
Namun, plastik biodegradable masih sangat mahal. Seperti sumber energi dari tanaman yang belum bisa bersaing dengan energi fosil, demikian nasib plastik mudah terurai di alam itu. Harga plastik biodegradable bisa 10 kali lipat dari harga plastik biasa yang terbuat dari minyak bumi.
Untuk bisa bersaing dengan plastik biasa atau degradable, kantong plastik biodegradable itu membutuhkan keberpihakan. Salah satunya, pengenaan cukai bagi plastik jenis lain agar harga bisa bersaing. Jadi, pembatasan penggunaan kantong keresek tetaplah perlu.
Kompas, Sabtu, 20 Februari 2016