Tuesday, 19 January 2016

Sianida: Beracun, Ada di Mana-mana

Oleh M ZAID WAHYUDI
Pusat Laboratorium Forensik Kepolisian Republik Indonesia, Senin (18/1), memastikan racun yang membunuh Wayan Mirna Salihin (27) sesudah menyeruput kopi di sebuah kafe di Mal Grand Indonesia, Jakarta, 6 Januari lalu, adalah sianida. Zat neurotoksik itu ada di barang bukti berupa kopi di dalam gelas dan di lambung korban.
Sianida adalah zat yang amat beracun, mudah ditemukan di alam ataupun bisa diproduksi manusia. Kerak bumi juga mengandung sianida sehingga air tanah, sejumlah buah serta umbi, seperti biji apel, aprikot, kacang kratok (Phaseolus lunatus), kedelai, sorgum, rebung, singkong, dan gadung, mengandung sianida dalam jumlah bervariasi. Sejumlah jamur, bakteri, dan alga pun menghasilkan sianida.
Dalam industri, sianida banyak digunakan pada pembuatan kertas, tekstil, dan plastik. Zat beracun itu pun dipakai untuk pembersihan logam atau di pertambangan untuk memisahkan emas dari bijihnya. Gas sianida dipakai untuk membasmi hama di kapal atau bangunan. Sianida ditemukan pada asap rokok dan hasil pembakaran produk sintetik, seperti plastik.
Namun, sianida juga bisa dijadikan senjata kimia. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebutkan, Jerman dalam Perang Dunia II menggunakan gas hidrogen sianida (HCN) yang dinamai Zyklon B untuk melakukan genosida. Indikasi penggunaan HCN ditemukan dalam Perang Iran-Irak pada 1980-an terhadap warga Halabja, Kurdistan, Irak Utara.
Di pasaran, sianida punya dua bentuk, kristal atau serbuk dan gas. Kristal sianida itu biasanya ditemui dalam senyawa natrium atau sodium sianida (NaCN) dan kalium atau potasium sianida (KCN). Selama ini, KCN populer di masyarakat dengan sebutan potas yang kerap dipakai untuk menangkap ikan.
Dalam bentuk kristal, sianida sangat stabil. Namun, ia akan amat reaktif saat bertemu dengan air hingga menghasilkan HCN. Bentuk lain dari gas sianida ialah sianogen klorida (CNCl). Sianida berbentuk gas itu berbahaya. Kadang sianida menebar aroma [almond] pahit. Namun, lebih kerap zat beracun itu tak mengeluarkan aroma dan tak semua orang [mampu] mendeteksinya [aromanya]. [Cyanide sometimes is described as having a “bitter almond” smell, but it does not always give off an odor, and not everyone can detect this odor - CDC Facts About Cyanide].
Ukuran molekul sianida sangat kecil. Karena itu, saat baru berada di mulut, zat beracun itu bisa menyerang saraf di mulut atau masuk ke pembuluh darah di mulut yang menuju jantung. "Sianida bisa mematikan saraf di jantung hingga memicu kematian," ucap ahli kimia pangan yang juga Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor Nuri Andarwulan.
Konsultan paru yang juga mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menambahkan, sianida memicu kematian karena zat itu mengikat bagian aktif dari enzim sitokrom oksidase di setiap sel tubuh. Dampaknya, metabolisme sel yang menggunakan oksigen pun terhenti dan pernapasan sel terganggu. Akibat selanjutnya, dalam beberapa menit, pengantaran sinyal di sistem saraf pun terganggu.
Seseorang bisa terpapar sianida melalui udara yang dihirup, air minum, makanan, atau menyentuh tanah yang mengandung sianida. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, asupan harian sianida yang bisa ditoleransi tubuh hanya 12 mikrogram atau 0,000012 gram per kilogram berat badan.
"Dalam jumlah sedikit, sianida yang masuk akan dikeluarkan lewat ginjal dalam bentuk urine," kata Guru Besar Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Zullies Ikawati.
Konsentrasi 300 miligram atau 0,3 gram sianida per meter kubik udara bisa membunuh dalam 10-60 menit. Sementara dalam konsentrasi 3.200 miligram atau 3,2 gram, kristal sianida yang larut dalam per meter kubik cairan bisa membunuh hanya dalam satu menit.
Direktur Eksekutif Disaster Victim Identification (DVI) Polri Komisaris Besar Anton Castilani menyatakan, perkiraan sementara Pusat Laboratorium Forensik Polri menyebutkan, ada 15 gram sodium sianida per liter di kopi Mirna. "Kadar mematikan sianida dosis 150-200 mg. Sianida di cangkir Mirna bisa menewaskan 20-25 orang," ujarnya.
Keracunan
Tjandra menyatakan, keracunan sianida berdampak buruk pada sistem kardiovaskular, termasuk kenaikan resistensi vaskular dan tekanan darah di otak, sistem pernapasan, serta sistem saraf pusat. Sistem endokrin biasanya terganggu pada keracunan kronis atau menahun sianida.
Tanda awal keracunan sianida atau paparan sianida dalam jumlah kecil melalui pernapasan, terserap kulit, dan lewat makanan-minuman ialah napas cepat, denyut jantung meningkat, nyeri kepala, sesak napas, mual, muntah, berkeringat, kulit kemerahan, hingga tubuh lemah. Keracunan sianida memicu perubahan perilaku, seperti cemas, agitasi, dan gelisah.
Tanda akhir keracunan atau paparan sianida berjumlah besar ialah tekanan di susunan saraf pusat hingga muncul tremor (gemetar tak terkontrol), gangguan irama jantung berupa denyut melambat, tekanan darah turun, kejang, koma, hingga hilangnya kesadaran, gagal napas, dan jantung berhenti.
Tingginya daya toksik sianida membuat pertolongan pertama keracunan sianida sulit dilakukan. Apalagi gejala keracunan zat kimia tak khas, mirip keracunan akibat bakteri. Karena itu, pertolongan terbaik yang bisa dilakukan ialah segera membawa korban keracunan ke rumah sakit dan menjelaskan apa yang terjadi secara rinci kepada petugas kesehatan.
Zullies mengatakan, antidot atau anti racun sianida sebenarnya ada, tetapi harus segera diberikan sesaat sesudah terpapar. Namun, itu amat bergantung pada besarnya paparan sianida.
Antidotum yang diberikan bisa berupa cyanokit (hidroksikobalamin) yang disuntikkan. Saat hidroksikobalamin bereaksi dengan sianida, itu akan membentuk sianokobalamin yang dibuang lewat ginjal. Antidotum lain adalah natrium tiosulfat.
"Jika diketahui paparan sianidanya sedikit dan belum terlalu lama, keracunan sianida bisa segera ditangani," ujarnya. Jika sianida masih di lambung, lambung korban dikuras dan ia dibuat muntah. Jika masuk ke organ tubuh lain, keracunan sianida sulit diatasi. (SAN)
Kompas, Rabu, 20 Januari 2016