Sunday, 10 January 2016

Persiapan Pengeboran (oleh Lapindo) Dihentikan

Pengeboran oleh Lapindo Ditentukan Pemerintah Pusat
SIDOARJO, KOMPAS — Kegiatan persiapan pengeboran sumur baru Lapindo Brantas Inc di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, mulai Senin (11/1) dihentikan. Kelanjutan pengeboran yang dijadwalkan Maret ini akan ditentukan oleh pemerintah pusat.
Penjabat Bupati Sidoarjo Jonathan Judianto, Sabtu (9/1), mengatakan, kegiatan yang dihentikan meliputi seluruh aktivitas persiapan pengeboran yang tengah berlangsung saat ini, yakni pengurukan dan pemadatan lahan. Lapindo akan membahas pengeboran sumur baru ini dengan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral.
Di lokasi Sumur Tanggulangin 1, Desa Kedungbanteng, Sabtu, terlihat sepi. Di area seluas 1 hektar itu hanya terlihat penjaga, truk tronton, dan dua alat berat yang diparkir.
Bersamaan dengan liburnya aktivitas pekerjaan pengurukan tanah, kegiatan pengamanan juga dihentikan. Semua polisi dan tentara berseragam ditarik dari lokasi dan dari titik-titik strategis mulai Jalan Raya Tanggulangin hingga Kedungbanteng.
Kondisi itu berbeda dengan satu hari sebelumnya, yakni aktivitas persiapan pengeboran, berupa pengurukan dan pemadatan tanah seluas 4.000 meter persegi yang dilakukan sejak Rabu lalu. Tidak ada hilir mudik truk pengangkut material tanah uruk yang biasanya melintasi jalan Desa Banjarasri untuk mencapai Desa Kedungbanteng.
Lapindo Brantas Inc berencana mengebor sumur baru untuk produksi gas sebesar 10 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Produksi gas itu dihasilkan dari dua sumur baru yang semuanya berada di Desa Kedungbanteng.
Rencana pengeboran dilakukan di Sumur Tanggulangin (TGA)-6 di well padTGA-1 dan Tanggulangin (TGA)-10 di well pad TGA-2. Di lokasi sumur baru itu terdapat sumur gas lama yang sudah tidak beroperasi karena tidak produktif. Jarak antara kedua lokasi sekitar 20 meter.
Petugas jaga lokasi sumur, Gozali, mengatakan, Sabtu dan Minggu memang waktu pekerja libur. Rencana pekerjaan pengurukan tanah akan berlangsung normal kembali Senin besok.
Sehari sebelumnya, Jumat (8/1), terjadi insiden di lokasi. Warga Desa Banjarasri berseteru dengan para sopir truk pembawa material karena mereka beraktivitas hingga pukul 17.00. Hilir-mudik truk itu mengganggu ketenteraman warga yang ingin beristirahat setelah mereka pulang dari tempat kerja dan ingin beribadah. Sebanyak 12 truk membawa material tanah uruk dari Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.
"Perjanjiannya, lalu lintas truk material hanya sampai pukul 16.00. Tetapi, ternyata hingga hampir Magrib, truk material ini masih berlalu lalang," ujar Hadi, warga Desa Banjarasri.
Izin
Jonathan mengatakan, izin eksplorasi Lapindo di Sidoarjo dikeluarkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Pemerintah Kabupaten Sidoarjo hanya mengeluarkan izin lokasi, izin lingkungan, upaya pengelolaan lingkungan (UKL), dan upaya pemantauan lingkungan (UPL).
Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sidoarjo, Siswojo, mengatakan, izin lingkungan dikeluarkan Oktober 2015 dan ditandatangani Saiful Ilah, Bupati Sidoarjo saat itu. Izin diajukan Lapindo sejak 2011, lalu diterbitkan UKL dan UPL sebagai rekomendasi penerbitan izin lingkungan pada Juli 2013. "Kami sempat mendapat teguran dari SKK Migas karena tidak segera mengeluarkan izin lingkungan. Bahkan, surat teguran dikirim dua kali," kata Siswojo.
Kepala Bidang ESDM Dinas Koperasi, UMKM, dan Perindag Sidoarjo Agus Darsono mengatakan, lokasi pengeboran sangat potensial karena menyimpan cadangan gas dalam jumlah besar. Di wilayah Tanggulangin, cadangan gas mencapai 8 triliun standar kaki kubik. Sidoarjo yang menjadi penyangga Kota Surabaya kaya akan potensi minyak dan gas.
Sehari sebelumnya, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM IGN Wiratmaja memberikan pernyataan bahwa aktivitas pengeboran Lapindo agar dihentikan sementara. Penghentian itu untuk kepentingan reevaluasi keamanan, baik dari sisi aspek geologi maupun sosial. Alasan lain, karena Direktorat Jenderal Migas belum memberikan persetujuan keselamatan kerja pengeboran.
Rencana pengeboran sumur baru juga tak melibatkan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). Humas BPLS Hengki Listriadi Adi mengatakan, pihaknya tidak diajak bicara atau dilibatkan dalam pembahasan.
Lokasi pengeboran baru itu hanya berjarak 2,5 kilometer dari pusat semburan dan kurang dari 1 kilometer dari tanggul penahan penampungan lumpur panas di Desa Gempolsari. (NIK)

Kompas, Minggu, 10 Januari 2016