Wednesday, 6 January 2016

Lapindo Mengebor Sumur Baru (di Sidoarjo)

Sebanyak 500 Polisi dan Tentara Dikerahkan untuk Menjaga
SURABAYA, KOMPAS — Lapindo Brantas Inc menargetkan pengeboran sumur gas baru di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Maret 2016. Persiapan pengeboran mulai dilakukan pada Rabu (6/1) dengan penjagaan 500 polisi dan tentara.
Warga menanam padi tidak jauh dari sumur gas Lapindo Brantas di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (6/1). Lapindo Brantas akan kembali melakukan pengeboran gas di sumur itu. Kapasitas pengeboran gas mencapai 10 MMSCFD. (Kompas/Bahana Patria Gupta)
Pengamanan ketat tersebut untuk mengantisipasi penolakan warga. Masyarakat dari Desa Kedungbanteng ataupun desa di sekitarnya, seperti Desa Banjarasri, sebagian masih menolak rencana pengeboran baru itu. Mereka khawatir bencana semburan lumpur Lapindo akibat kesalahan teknis pengeboran di Sumur Banjar Panji, Kecamatan Porong, pada 2006 akan terulang.
Warga takut kehilangan rumah tinggal, sawah, dan bahkan kampung halaman yang menjadi pusat kegiatan sosial dan kegiatan ekonomi warga. Ketakutan itu menguat karena jarak sumur baru dengan tanggul penahan semburan lumpur dari Sumur Banjar Panji hanya 1 kilometer.
Tanggul terdekat di Desa Kalidawir, Kecamatan Tanggulangin, atau di sisi utara pusat semburan. Kekhawatiran warga juga disebabkan masalah sosial semburan lumpur Lapindo di Porong belum selesai secara tuntas.
Pantauan di lapangan, sekitar 500 aparat keamanan berjaga di lokasi titik rencana pengeboran di Sumur Tanggulangin 1. Pasukan pengamanan ini merupakan gabungan dari anggota Polres Sidoarjo, Brigade Mobil Polda Jatim, dan TNI Angkatan Darat.
Aparat keamanan juga terlihat berjaga di sejumlah titik di sepanjang jalan, dari Jalan Raya Tanggulangin hingga Desa Kedungbanteng. Jalan ini menjadi akses lalu lintas kendaraan pengangkut material untuk keperluan pengurukan lokasi dan akses bagi alat berat untuk keperluan pengeboran sumur migas.
"Penjagaan ini sesuai ketentuan perundangan sebab kegiatan pengeboran gas yang dilakukan Lapindo untuk kepentingan negara," kata Kepala Bagian Operasional Polres Sidoarjo Komisaris Edy Santosa.
Manajer Area Lapindo Brantas Harzah Harjana mengatakan, pada tahun ini, Lapindo Brantas berencana mengebor gas di Sumur Tanggulangin 1 dan Sumur Tanggulangin 2, Desa Kedungbanteng.
Saat ini, kegiatan yang dilakukan Lapindo berupa persiapan pengeboran. Persiapan pengeboran meliputi pengurukan lahan seluas 4.000 meter persegi dari total luas area sumur yang mencapai 1 hektar. Selain itu juga pembangunan jalan menuju sumur, baik melalui Desa Banjarasri dan Desa Kedungbanteng.
Persiapan pengeboran termasuk penyiapan alat, seperti rig atau pengaman sumur, dijadwalkan berlangsung hingga akhir Februari. Setelah itu dilanjutkan pengeboran mulai awal Maret. Targetnya, dua sumur baru tersebut menghasilkan gas masing- masing 5 MMSCFD (million standard cubic feet per day) atau juta standar kaki kubik per hari.
Produksi gas dari dua sumur baru akan menambah produksi gas Lapindo Brantas di Sidoarjo sebanyak 10 MMSCFD untuk jangka waktu 10 tahun ke depan. Saat ini, Lapindo mengelola 30 sumur gas yang tersebar di Kecamatan Tanggulangin, Krembung, dan Porong. Namun, dari 30 sumur itu, hanya 14 sumur yang masih produktif.
Dari 14 sumur produktif, sebanyak 11 sumur berada di lapangan Wunut, Kecamatan Porong, dengan produksi gas total 3 MMSCFD. Adapun tiga sumur lagi berada di Kecamatan Tanggulangin dengan produksi gas mencapai 5 MMSCFD. Produksi gas PT Lapindo Brantas tinggal 8 MMSCFD. Sebelumnya, produksi gas dari seluruh lapangan di Sidoarjo 80 MMSCFD.
Hingga sore kemarin, persiapan pengeboran berlangsung lancar. Truk-truk pengangkut material tanah uruk dan alat berat lalu lalang tanpa hambatan. Tidak tampak warga di sekitar lokasi.
Manajer Humas Lapindo Brantas Arief Setyo Widodo mengatakan, pengeboran sudah direncanakan sejak empat tahun lalu, tetapi tertunda karena penolakan warga. Pihaknya berhasil melakukan pendekatan persuasif kepada warga dengan bantuan Polres Sidoarjo dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.
Keberatan
Sholik (58), warga RT 003 RW 002, Desa Kedungbanteng mengatakan, masyarakat sejatinya tetap keberatan dengan pengeboran tersebut. Alasannya, jarak antara lokasi pengeboran baru dan tanggul penahan semburan lumpur Lapindo hanya 1 kilometer.
"Kami tidak tahu jadi tidaknya pengeboran sebab pertemuan sebelumnya belum mencapai kata sepakat. Warga mengizinkan Lapindo ngebor dengan syarat tanah dan rumah warga di sini dibeli lebih dulu," kata Sholik.
Warga lain, Anikmah, mengatakan, sehari sebelum persiapan pengeboran, warga diberi tahu ketua RT untuk mengambil paket sembako. Isinya berupa 10 kilogram beras dan 1 kilogram gula pasir. Namun, maksud pemberian paket itu tidak dijelaskan secara detail.
Sementara itu, penyelesaian pembayaran ganti rugi warga korban lumpur di Sidoarjo tidak kunjung tuntas. Dari dana talangan pembayaran ganti rugi yang disiapkan pemerintah Rp 781 miliar, tersisa Rp 8,3 miliar.
Sisa dana itu berasal dari sisa berkas korban lumpur yang belum terbayar sebanyak 83 berkas dari total 3.313 berkas sesuai hasil audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan. Selain pembayaran tunai, pembayaran ganti rugi melalui program resettlement atau penggantian rumah tinggal di Perumahan Kahuripan Nirvana Village juga belum terealisasi. (NIK)
Kompas, Kamis, 7 Januari 2016