Monday, 11 January 2016

Konflik Iran-Arab Saudi

Oleh MOHAMMAD BAKIR
Iran Versus Arab Saudi, Sejarah yang Terulang
Ketegangan yang masih menyelimuti kawasan Timur Tengah, menyusul hukuman mati terhadap aktivis Syiah Arab Saudi, Nimr Baqir al Nimr, mengingatkan kita akan sejarah hubungan Sunni-Syiah yang nyaris tak pernah akur. Pertentangan antara keduanya muncul tak lama setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir menghadiri pertemuan darurat Liga Arab di Kairo, Mesir, Minggu (10/1), membahas krisis hubungan Iran dan Arab Saudi. Ketegangan Iran-Arab Saudi menyusul hukuman mati terhadap aktivis Syiah Arab Saudi, Nimr Baqir al Nimr, mengingatkan kita akan sejarah hubungan Sunni-Syiah yang nyaris tak pernah akur.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir menghadiri pertemuan darurat Liga Arab di Kairo, Mesir, Minggu (10/1), membahas krisis hubungan Iran dan Arab Saudi. Ketegangan Iran-Arab Saudi menyusul hukuman mati terhadap aktivis Syiah Arab Saudi, Nimr Baqir al Nimr, mengingatkan kita akan sejarah hubungan Sunni-Syiah yang nyaris tak pernah akur. (AP/Ahmed Omar)
Para pengikut Syiah beranggapan bahwa yang layak menggantikan Nabi Muhammad SAW tak lain adalah Ali bin Abu Thalib. Selain menjadi menantu Rasulullah dengan mempersunting Fatimah, Ali juga sepupu Muhammad SAW dan pemuda pertama yang mengakui kenabiannya. Sejarah juga mencatat Ali dan Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi SAW, melaksanakan shalat berjemaah pertama di dunia di dekat Kakbah dengan imam Rasulullah Muhammad SAW.
Kelompok Syiah yang ekstrem bahkan tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar al Faruq, dan Utsman bin Affan, tiga khalifah sebelum Ali diangkat menggantikan Utsman. Kesetiaan pengikut Ali makin mengental setelah Ali RA dibunuh oleh Abdur-Rahman bin Muljam, konon orang yang hafal Al Quran, puasa di siang hari, dan shalat tahajud di malam hari.
Inilah sedikit latar belakang munculnya pengelompokan dalam tubuh Islam, yang terus bertahan hingga sekarang. Tiap-tiap kelompok itu mengaku paling benar sehingga memunculkan ketegangan di antara pengikutnya.
Ketegangan tersebut makin menjadi karena persoalan politik ikut mewarnai di dalamnya. Ketika Ali menjadi khalifah dan kemudian terbunuh, Gubernur Damaskus Muawiyah bin Sufyan mengambil keuntungan atas peristiwa itu. Di benak Muawiyah, Ali-lah yang selama ini dianggap menjadi penghalang baginya untuk mendirikan kerajaan.
Berbeda dengan pengangkatan khalifah sejak masa Abu Bakar Ash-Shiddiq yang tidak turun ke anak atau keluarga, Muawiyah yang mengangkat diri sebagai raja memberikan takhta kepada anaknya, Yazid. Sejak itu berdirilah Dinasti Umayyah. Para tentara Yazid inilah yang dalam sejarah tercatat melakukan pembantaian terhadap pengikut Ali, termasuk anaknya, Husain bin Ali RA, yang berarti masih cucu Rasul Muhammad.
Muawiyah yang beraliran Sunni terus berkuasa hingga digantikan Dinasti Abbasiyah di Baghdad. Namun, antara abad ke-10 dan ke-11 terjadi perpecahan di tubuh Dinasti Abbasiyah, yang kemudian muncullah Dinasti Mamluk Turki, yang juga beraliran Sunni.
Di sisi lain, kaum Syiah terus berkonsolidasi hingga berhasil mendirikan Dinasti Fatimiyah yang menguasai Afrika Utara hingga akhirnya berkedudukan di Mesir antara 910 M dan 1171 M. Dinasti inilah yang membangun Universitas Al-Azhar yang sampai sekarang masih ada di Kairo.
Antara Fatimiyah, Abbasiyah, dan Mamluk terus terjadi ketegangan. Hingga akhir abad ke-10 masuklah pasukan Frank ke kawasan Timur Tengah. Tentara Salib ini menyerbu kawasan Timur Tengah dan menimbulkan apa yang disebut Perang Salib atau di dunia Islam disebut Perang Sabil. Baik Abbasiyah maupun Fatimiyah tidak siap menghadapi kehadiran tentara Salib. Dan, kekalahan pasukan Islam di perang ini karena dua kerajaan besar Islam tersebut tidak fokus dan terus di antara mereka terlibat perang.
content
Penguasa Syiah di Mesir, Dinasti Fatimiyah, terusir dari negaranya menjelang abad ke-12, antara lain karena terus terlibat perang dengan Abbasiyah. Pemberontakan di dalam negeri juga terus berlangsung, hingga muncul Salahuddin Al-Ayyubi yang menggantikan Dinasti Fatimiyah. Dialah yang kemudian berhasil mengusir tentara Frank dari Jerusalem tahun 1187 M. Salahuddin kemudian mendirikan Dinasti Ayyubiyah, yang juga berpaham Sunni.
Akan tetapi, keberhasilan Salahuddin mengusir tentara Salib tidak mengurangi perseteruan di dalam tubuh Islam, khususnya hubungan Sunni-Syiah. Konflik kecil di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya terus-menerus terjadi hingga Dinasti Utsmaniyah yang juga beraliran Sunni menguasai kawasan ini akhir abad ke-13.
Turki, tempat kedudukan Dinasti Utsmaniyah, menjadi kerajaan besar dan lintas benua. Kerajaan ini berkuasa hingga abad ke-20 dan terlibat dalam Perang Dunia Kedua melawan Sekutu. Akibat kekalahan Turki, kawasan Timur Tengah tercerai-berai dan Sekutu sebagai pihak pemenang membagi-bagi wilayah itu menjadi beberapa negara.
Namun, tidak berarti pengikut Syiah menyurut. Mereka terus bergerak dan menyebar hingga terjadi Revolusi Iran di tahun 1979 yang secara resmi menyatakan Iran yang awalnya kerajaan menjadi negara republik agama dengan Syiah Imamiyah sebagai mazhab resmi negara.
Sebenarnya, penganut Syiah tersebar di seantero kawasan Timur Tengah, mulai dari Mesir hingga Indonesia. Bahkan, di beberapa negara Timur Tengah, kaum Syiah cukup dominan dari segi jumlah, seperti di Irak, Oman, dan Lebanon.
Setelah menjadi mazhab resmi negara, para pejabat Iran di mana pun ditempatkan ikut menyebarkan paham Syiah. Di sisi lain, Arab Saudi yang secara resmi menganut mazhab Wahabi juga mulai gencar menyebarkan pahamnya.
Berawal dari titik inilah, kedua negara, Iran dan Arab Saudi, terlibat persaingan dalam mengembangkan mazhab masing-masing. Pengikut Syiah yang tinggal di Arab Saudi, seperti Nimr al Nimr, mencoba menggoyang dominasi Wahabi dari dalam. Tidak heran jika pemerintah kerajaan Arab Saudi menjatuhkan hukuman mati dan mengeksekusinya akhir Desember lalu.
Arab Saudi pun Mulai Gerah
Kondisi di kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir ini, mirip dengan kondisi di akhir abad ke-10 Masehi. Ketika itu, pasukan Frank atau yang lebih dikenal dengan tentara Salib mulai memasuki kawasan itu lewat pantai Mediterania.
Bahkan, tentara Salib sempat menguasai beberapa pelabuhan di wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Dinasti Abbasiyah yang digantikan Dinasti Seljuk di Irak atau Dinasti Fatimiyah di Mesir.
Kedua kerajaan itu kehilangan wilayah akibat selalu terlibat konflik bahkan perang, kurang memperhatikan ancaman dari Eropa, dalam hal ini tentara Salib. Bahkan, karena terlalu mementingkan kelanjutan dinastinya, beberapa raja Dinasti Fatimiyah mengikat perjanjian dengan tentara Salib.
Ringkasnya, kedua kekhalifahan itu tidak memperhatikan kepentingan umat Islam secara umum. Kondisi ini mirip dengan kondisi kawasan Timur Tengah sekarang. Tiap negara sibuk mengikat perjanjian dengan negara luar kawasan, sekadar untuk melindungi kepentingan masing-masing.
Melihat kasus hukuman mati terhadap Nimr Baqir al Nimr, seorang aktivis Syiah Arab Saudi, dari sisi kepentingan dalam negeri, menurut klaim, hal itu harus dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi. Tetapi, persoalannya mengapa baru sekarang dilakukan ketika Barat (baca AS dan sekutunya) mulai bermesraan dengan Iran.
Tidak seperti lazimnya, Iran yang biasa tampil garang dan seringkali enggan memenuhi tuntutan Barat, menjelang akhir tahun 2015 justru mulai melaksanakan kesepakatan nuklir dengan mengirimkan uranium yang sudah diperkaya ke Rusia. Langkah Iran itu mendapat pujian dari PBB, dan saat itu pun Iran hanya tinggal menunggu pencabutan sanksi terhadap negaranya mulai dilaksanakan.
Mengapa dalam soal nuklir, Iran mengambil langkah kompromis? Negara Syiah ini sadar bahwa sanksi ekonomi telah membuat negaranya terkucil dan tertinggal. Disadari atau tidak, sanksi itu telah membuat negaranya sulit beranjak. Apalagi, dalam setahun terakhir harga minyak dunia, penopang utama ekspor Iran, turun sekitar 70 persen.
Di sisi lain, sebagian pengamat menduga Iran yang sudah memiliki sedikit kemampuan teknologi nuklir, dapat dengan cepat mengalihkan kemampuannya untuk kepentingan pembangunan ekonomi. Artinya, Iran mulai berpikir untuk mengalihkan ketergantungan ekonomi negaranya dari minyak, dengan memanfaatkan kemampuannya di bidang teknologi.
Hal ini berbeda dengan kondisi Arab Saudi, yang dalam beberapa dekade perekonomiannya berkembang pesat karena harga minyak yang tinggi. Meski selama 2015 harga minyak terus turun hingga mencapai sekitar 40 dollar AS per barel, Saudi tidak mau menurunkan produksi.
Penurunan produksi minyak di Arab Saudi, dapat kembali meningkatkan harga minyak dunia. Dan, kenaikan minyak akan membuat Iran punya kesempatan untuk terus mengembangkan kemampuan nuklirnya dan membantu kelompok Syiah yang tersebar di banyak negara di kawasan Timur Tengah ini.
Dengan kata lain, langkah kompromistis Iran sedikit atau banyak didorong oleh terus turunnya harga minyak dunia. Di sisi lain, Saudi mulai merasa kurang diperhatikan oleh Barat akibat langkah Iran ini. Kondisi ini telah memunculkan situasi dan kondisi baru di kawasan.
Apakah langkah Saudi menghukum mati Nimr Baqir al Nimr terkait dengan melemahnya dukungan Barat terhadap negaranya? Atau, protes keras dilancarkan Iran karena mau mengambil keuntungan politik dari kedekatannya dengan Barat? Pertanyaan itu muncul karena Nimr al Nimr sudah sejak lama berada di tahanan Saudi, dan kapan pun pemerintah Saudi dapat menghukum mati dia.
Barat kecewa atas pelaksanaan hukuman mati terhadap Nimr oleh pemerintah Arab Saudi, namun mengecam keras tindakan pemuda Iran merusak kedubes Arab Saudi di Teheran dan Konsulat di Masyhad. Apakah konflik ini akan terus berlanjut dan sampai kapan, tidak seorang pun yang tahu pasti.
Barat bisa saja mengupayakan masalah ini dengan cara damai, tetapi mereka akan menghadapi tantangan cukup keras. Pasalnya, dukungan terhadap Arab Saudi terutama dari negara-negara tetangga kawasan, sudah cukup solid. Apalagi, Saudi sudah memutus hubungan diplomatik dengan Iran.
Sebaliknya, Iran seperti dikucilkan karena propaganda anti-Syiah yang cukup gencar dilakukan oleh Saudi Arabia, lewat kelompok garis keras di Wahabi, yang biasa disebut Salafi. Hanya Irak dan kelompok Syiah di beberapa negara kawasan, yang masih menoleh ke Iran.
Memilih penyelesaian lewat perang, tentu tidak diinginkan oleh Iran atau pun Arab Saudi. Jika harus terjadi perang, berdasarkan pengalaman, rasanya Iran lebih siap dibanding Saudi. Kalau pun Saudi memiliki persenjataan lebih lengkap dan canggih, tidak berarti Iran yang sejak tahun 1979 terlibat konflik, akan mudah ditaklukkan.
Bagi Iran, kekacauan di kawasan, di satu sisi menguntungkan karena harga minyak akan kembali merangkak naik. Pun juga hubungan cukup erat antara Iran dan penguasa Irak dan Suriah, yang juga menganut Syiah, akan dipertimbangkan Saudi jika harus melakukan perang terbuka.
Begitu juga dengan Teluk Persia yang menjadi jalur utama pengiriman minyak ke berbagai kawasan dunia, selama ini didominasi Iran. Apapun alasannya, kedua negara ini harus aktif di meja perundingan dan harus melupakan, apa pun alasannya, untuk mengangkat senjata. Sejarah buruk politik perebutan kekuasaan harus diakhiri demi kemaslahatan ummat.
Kompas Siang, Senin, 11 Januari 2016 (Bagian 1: Iran Versus Arab Saudi, Sejarah yang Terulang)
Kompas Siang, Selasa, 12 Januari 2016 (Bagian 2: Arab Saudi pun Mulai Gerah)