Sunday, 10 January 2016

Kaji Ulang Pengeboran Sumur Baru Lapindo

Warga Sekitar Selama Ini Tidak Mendapat Manfaat
SIDOARJO, KOMPAS — Rencana pengeboran sumur gas baru Lapindo Brantas Inc di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, harus dikaji ulang karena sarat persoalan. Sementara itu, warga menyambut gembira rencana penghentian sementara persiapan pengeboran.
Penjabat Bupati Sidoarjo Jonathan Judianto, Minggu (10/1), mengatakan, peninjauan ulang itu meliputi masalah keamanan pengeboran dari aspek geologi dan sosial masyarakat. Di samping itu, manfaat ekonomi bagi pemerintah daerah dan warga setempat, bahkan warga Sidoarjo umumnya harus diperjelas.
"Hingga kini belum tahu nilai bagi hasil dari pengeboran sumur gas Lapindo yang akan diperoleh Pemkab Sidoarjo sebagai sumber baru pendapatan asli daerah. Belum ada kesepakatan lanjut mengenai nilainya," ujarnya.
Dalam minggu ini, pihaknya akan mengevaluasi kembali seluruh izin yang sudah dikeluarkan Pemkab Sidoarjo, seperti izin lingkungan dan izin lokasi yang ditandatangani Bupati Saiful Ilah pada Oktober 2015. Izin gangguan (HO) serta upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL). Peninjauan itu untuk mengetahui apakah prosesnya sudah sesuai perundangan atau tidak.
Pihaknya segera mengirim surat ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral supaya tidak gegabah mengeluarkan izin eksplorasi untuk sumur gas baru. Pemerintah harus mampu menjamin kepastian keamanan pengeboran karena lokasinya di tengah perkampungan padat.
Sebagai gambaran, jarak titik sumur baru dengan rumah warga 105 meter. Kegiatan itu secara perundangan tidak menyalahi, tetapi harus dipertimbangkan lokasi sumur baru. Lokasi itu dekat dengan titik semburan lumpur panas yang masih aktif mengeluarkan 30-50 meter kubik lumpur per hari.
Seperti diberitakan, Lapindo berencana mengebor dua sumur baru pada Maret mendatang untuk memproduksi gas 10 juta standar kaki kubik (MMSCFD). Rencana pengeboran dilakukan di Sumur Tanggulangin (TGA)-6 diwell pad TGA-1 dan Tanggulangin (TGA)-10 di well pad TGA-2. Pada lokasi sumur baru itu terdapat sumur gas lama yang sudah tidak beroperasi karena tidak produktif sekitar 20 meter.
Untuk keperluan pengeboran, Lapindo melakukan persiapan mulai Rabu (6/1). Persiapan itu berupa pengurukan dan pemadatan tanah seluas 4.000 meter persegi dari total lahan yang dibebaskan 1 hektar. Pada Sabtu (9/1) dan Minggu (10/1), pekerjaan pengurukan dihentikan karena pekerja libur. Rencana pekerjaan dilanjutkan hari Senin.
Namun, menurut Jonathan, pekerjaan persiapan pengeboran akan dihentikan sementara mulai Senin (11/1). Kelanjutan kegiatan ditentukan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM selaku pemilik kewenangan pemberi izin eksplorasi.
Sementara itu, Kepala Polres Sidoarjo Komisaris Besar Anwar Nashir mengatakan, Lapindo berencana memindahkan alat beratnya dari lokasi pengeboran sumur baru di Desa Kedungbanteng. Untuk keperluan itu, perusahaan meminta pengamanan dari polisi.
Tidak menikmati
Kepala Desa Kedungbanteng Tohirin mengatakan, Lapindo memiliki tiga sumur lama di desanya yang umurnya sudah lebih dari 10 tahun. Namun, selama itu, masyarakat tak mendapat manfaat banyak dan mereka tetap saja bekerja sebagai petani dan petambak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Untuk pengeboran dua sumur baru yang direncanakan Maret itu, warga Kedungbanteng dijanjikan mendapatkan aliran gas di rumah mereka. Total 800 rumah sudah dipasang pipa jaringan dan gas mulai mengalir tiga bulan kemudian setelah sumur baru berproduksi.
Warga menyambut gembira penghentian kegiatan persiapan pengeboran. Mereka berharap penghentian pengeboran itu bersifat permanen. "Enak seperti ini, kampung jadi tenang. Warga juga tenang," ujar Hadi, warga Desa Banjarasri yang rumahnya sejak Rabu dilewati puluhan truk tanah dari Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. (NIK)

Kompas, Senin, 11 Januari 2016