Monday, 18 January 2016

Gempa Merusak di Luar Zona Sesar Utama Terus Melanda

JAKARTA, KOMPAS — Tren gempa di luar zona sesar utama yang telah dipetakan terus terjadi. Sekalipun kekuatan gempa rata-rata relatif kecil, kerusakan bangunan mencapai ratusan unit. Fenomena itu mendorong pentingnya pemetaan gempa lebih rinci, terutama di kawasan Indonesia timur dan sosialisasi bangunan tahan gempa.
Setelah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, diguncang gempa berkekuatan 4,9 skala Richter (SR) pada Sabtu (16/1) pukul 12.35 Wita, pada Minggu (17/1) gempa berkekuatan 5,5 SR melanda Pulau Ambalau di Kabupaten Buru Selatan, Maluku.
"Gempa di Kupang dan Pulau Ambalau itu berpusat di zona kegempaan yang belum tercatat dalam peta gempa nasional," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, Senin, di Jakarta.
Dua gempa terbaru di kawasan timur Indonesia itu menguatkan tren gempa 2015 yang mencapai 4.394 kejadian dengan tujuh gempa merusak. Mayoritas gempa merusak itu di kawasan timur Indonesia dan bersumber di zona sesar yang belum dipetakan (Kompas, 26/12/2015).
Menurut Daryono, pusat gempa bumi di Pulau Timor ada di darat dengan koordinat 10,29 Lintang Selatan dan 123,65 Bujur Timur, 56 kilometer barat daya Kota Kupang. Guncangan gempa itu dirasakan di Kupang dan sekitarnya dalam skala intensitas III-IV Modified Mercalli Intensity (MMI). Namun, tidak ada laporan kerusakan bangunan.
"Gempa terjadi di kerak dangkal jenis intraplate akibat aktivitas sesar aktif di daratan yang sejauh ini belum diberi nama. Sesar ini memanjang arah barat daya-timur laut dari Oematnunu hingga Kupang," katanya.
Kerusakan bangunan
Pusat gempa yang melanda Pulau Ambalau berada di Laut Banda pada koordinat 3,80 Lintang Selatan dan 127,28 Bujur Timur atau berjarak 63 kilometer selatan Namlea, Pulau Buru. Adapun kedalaman hiposenternya 44 kilometer. Guncangan gempa itu paling kuat dirasakan di Pulau Ambalau, Kabupaten Buru Selatan, dengan kekuatan IV-V MMI. Di Namlea, kekuatannya dirasakan dalam skala III MMI dan di Ambon II MMI.
Gempa itu jenis gempa tektonik hiposenter dangkal akibat aktivitas sesar aktif di Laut Banda. "Analisis mekanisme sumber menggunakan perangkat lunak JisView menunjukkan bahwa gempa bumi ini dibangkitkan kombinasi antara sesar mendatar dan naik yang berarah barat daya-timur laut," kata Daryono.
Sekalipun kekuatannya relatif kecil, menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho, 239 rumah dan 1 bangunan ibadah rusak. Sebanyak 68 rumah rusak berat, 118 rumah rusak sedang, dan 53 rumah rusak ringan. Satu orang meninggal dunia, 3 luka berat, dan 19 orang luka ringan.
Terkait banyaknya bangunan yang rusak, ahli konstruksi bangunan dari Universitas Islam Indonesia, Sarwidi, mengatakan, itu karena kualitas rumah rakyat yang kebanyakan tak memenuhi standar bangunan tahan gempa. Dengan skala intensitas gempa paling kuat IV-V MMI, seharusnya tak menimbulkan kerusakan bangunan jika konstruksi baik.
"Ini memang tantangan berat mengubah paradigma tentang risiko bencana dan kebutuhan membangun rumah yang lebih tahan gempa. Upaya penyadaran ini perlu terobosan. Setiap gempa, tetap saja banyak rumah rusak," ujarnya. (AIK)

Kompas, Selasa, 19 Januari 2016