Sunday, 3 January 2016

Bergelimang Sampah dari Hulu hingga Hilir...

Oleh AMBROSIUS HARTO
Minggu (20/12) pagi di aliran sungai yang melintasi Kampung Neglasari, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Dalam cuaca berkabut nan gerimis, sekitar 100 peserta ecocamp telah siap mengikuti acara berikutnya.
Anggota Mat Peci (Komunitas Masyarakat Peduli Ciliwung dan Lingkungan Hidup) sedang membersihkan sampah di Sungai Ciliwung di wilayah RW 001 Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (24/12). Komunitas itu melakukan kegiatan bersih-bersih Sungai Ciliwung dari Senin hingga Minggu atau setiap hari dengan waktu kerja pukul 08.00-15.00. (Kompas/Adrian Fajriansyah)
Mereka dibekali karung untuk sampah yang dipulung atau dipungut dari antara bebatuan dan semak belukar aliran anak Sungai Ciliwung itu. Inilah aktivitas yang merespons kecenderungan gelimang sampah di sungai dari hulu ke hilir.
Ecocamp sejak Sabtu (19/12) yang diakhiri dengan memulung sampah di hulu Ciliwung itu merupakan inisiatif Konsorsium Penyelamat Puncak. Acara digagas akademisi, praktisi, pegiat pelestarian lingkungan, dan komunitas warga, antara lain Paguyuban Ketua RW dan RT (Pakar) Tugu Utara.
Memulung sampah di aliran-aliran hulu Ciliwung di Desa Tugu Utara dan Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, merupakan kegiatan rutin pada Minggu ketiga setiap bulan.
Memulung sampah di hulu amat mungkin terinspirasi oleh kegiatan serupa yang telah dilaksanakan oleh Komunitas Peduli Ciliwung. Di Kota Bogor, memulung sampah berlangsung setiap Sabtu dan telah terlaksana lima tahun terakhir.
Berbagai komunitas di sepanjang Ciliwung di Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, dan Jakarta Timur juga punya berbagai kegiatan rutin yang tujuannya sama: pelestarian lingkungan! Ada memulung sampah, lomba memancing dan mendata ikan, survei kondisi terkini, serta pembuatan film dan dokumentasi.
Memulung sampah merupakan inspirasi dari seluruh kegiatan komunitas. Mengapa? Ini karena Ciliwung selalu saja bergelimang sampah.
Aneka jenis sampah
Di Tugu Utara, Minggu itu, sampah yang berhasil dipulung mencapai 75 karung. Panitia menyediakan 200 karung. Andaikata aliran tidak terlalu deras, medan tidak ekstrem, dan cuaca bersahabat, sampah yang dikumpulkan pasti lebih banyak.
Sutisna, pegiat komunitas dan konsorsium, mengatakan, di antara sampah yang dipungut ada popok dan diapers bekas, plastik dan kardus kemasan minuman dan makanan, bahkan pakaian. "Itu, kan, susah banget terurai," katanya.
Padahal, sungai yang menjadi lokasi pemulungan berada di hulu atau kawasan teratas Ciliwung. Jika "sumber" saja sudah dikotori sampah, tidak heran jika sungai yang membentang 120 kilometer itu menjadi "bak sampah" warga yang tinggal di daerah aliran.
Konsorsium pernah mendata, di Cisarua ada hampir 50 bukit sampah. Kekuatan komunitas untuk memungut sebagai cara yang paling bisa ditempuh untuk mengurai bukit sampah memang tidak besar. Satu bukit sampah yang kira-kira 20 ton bisa habis dipunguti, tetapi selama dua bulan.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, beberapa waktu lalu, tidak mampu menyembunyikan kejengkelannya saat mengetahui sampah menyumbat Pintu Air Manggarai. Semua sampah itu tentu berasal dari hulu di Bogor, Depok, dan Ibu Kota sendiri.
Yang mencengangkan, sampah di Ciliwung banyak jenis. Rumpun bambu, batang pohon, pakaian, kasur, perkakas, perabot, dan peralatan rumah. Tak jarang, di Ciliwung ditemukan jenazah, bangkai, dan kotoran manusia. Ada jenazah korban bunuh diri, karena terseret arus, atau korban kejahatan.
Sampai sekarang memang tidak ada catatan resmi berapa banyak sampah yang dibuang ke Ciliwung setiap hari. Namun, suatu hari, Pemerintah Provinsi DKI pernah mengangkut sampah di Pintu Air Manggarai hampir 100 ton.
Setiap Sabtu, komunitas yang memulung sampah di aliran Ciliwung wilayah Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, mendapatkan minimal 10 karung penuh sampah. Setiap karung berukuran 25 kilogram. "Yang kami pungut tidak seberapa dibandingkan yang belum bisa diambil," kata Koordinator Komunitas Peduli Ciliwung Kota Bogor Een Irawan Putra.
Ironisnya, saat para pegiat memulung sampah, tidak sedikit warga yang cuek saja membuang sampah ke sungai. Imbauan dan teguran belum menyentuh hati mereka yang bebal.
Ketua Ciliwung Institute Sudirman Asun mengatakan, keberadaan bukit sampah membuktikan ancaman perusakan dan pencemaran sungai sudah ada sejak di hulu. "Masalahnya dari hulu ke hilir," katanya.
Jika sampah di hulu tidak ada yang mau mengurusi, adalah kemustahilan kawasan hilir akan bersih. Untuk itu, perlu diperkuat dan diperluas kesadaran bahwa sungai bukan tempat sampah. Mencemari membuat sungai sakit. Ujungnya manusia pun sakit karena hilang kendali dan pegangan terhadap sungai.
Mengurusi sampah tidak mudah. Di masyarakat sudah membudaya bahwa sungai itu halaman belakang dan tempat buangan. Mengubah pola pikir warga bahwa sungai adalah halaman depan tidak seperti membalik telapak tangan.
Di Ciliwung tumbuh lebih dari 20 komunitas yang menyatakan diri peduli dan ingin menyelamatkan sungai ini. Dengan cara sederhana, mereka memulung sampah dengan harapan tinggi menyadarkan masyarakat tidak lagi buang sampah ke kali.
Di kawasan hulu, kegiatan memulung sampah digelar setiap minggu ketiga. Hulu menjadi perhatian. Ada keyakinan, jika di hulu bisa dibereskan, masalah di hilir pasti juga bisa teratasi.
Koordinator Konsorsium Penyelamat Puncak Ernan Rustiandi mengatakan, gerakan komunitas walau skala mikro tetap penting dan vital dalam pelestarian.
Yang mengagumkan adalah semangat mereka menyalakan dan menjaga api janji untuk selalu kembali ke sungai secara rutin demi memulung sampah. Tidak peduli sedikit atau banyak orang yang terlibat, masih ada atau tiada orang yang buang sampah ke sungai. Selama di sungai masih ada sampah, mereka akan berusaha turun dan terus memulung.
Perlu
Mengapa masyarakat masih membuang sampah ke sungai? Ada beberapa jawaban, antara lain tidak ada tempat pengolahan sampah skala komunitas RT, RW, dusun, atau desa. Tentang perilaku membuang sampah ke sungai, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menekankan pentingnya peran pemerintah. Pemerintah daerah di Bogor, Depok, dan Jakarta perlu membuat dan memenuhi berbagai sarana pengolahan sampah bagi masyarakat di sempadan sungai.
Dari penilaian itu, memang tampak bahwa urusan sampah adalah tanggung jawab bersama. Jika satu pihak lengah, masalah tidak akan terselesaikan. Mungkin ini yang dimaksud oleh Ernan, dosen Fakultas Pertanian IPB, bahwa gerakan di setiap komunitas skala mikro berperan amat penting mengusahakan keseimbangan dan kelestarian lingkungan.
Kompas, Sabtu, 26 Desember 2015