Monday, 25 January 2016

Sistem Pelet Multi-Unit (MUPS)

mups tablet.jpg
Konsep bentuk sediaan multi-unit pertama kali diperkenalkan di awal 1950an. Bentuk sediaan padat ini terdiri dari banyak partikel kecil atau pelet, yang masing-masing pelet memiliki karakteristik pelepasan yang diinginkan, dan semua pelet dalam unit sediaan secara bersama-sama membentuk profil pelepasan obat secara keseluruhan (Young et al, 2005). Kelebihan sistem multipartikulat ini dibandingkan sistem unit tunggal bentuk sediaan lepas terkendali antara lain:
  1. Jaminan pelepasan obat lebih tinggi secara statistik dan kadar obat setelah pemberian oral lebih reprodusibel dan konstan. Dengan demikian, variabilitas antar- dan intra-pasien dapat diturunkan.  Probabilitas untuk mendapatkan total obat yang dilepas juga lebih besar dari sistem multipartikulat dibandingkan bentuk unit tunggal, sehingga bioavailabilitas sistem multipartikulat bisa lebih baik (Bodmeier, 1997).
  2. Sistem unit tunggal dapat tertahan di tempat tertentu dalam saluran cerna, sehingga kadar obat sempat terkonsentrasi lokal dan meningkatkan resiko toksisitas (Bodmeier, 1997; Debunne et al, 2004). Selain itu, bentuk unit tunggal yang tidak mengalami disintegrasi dalam lambung, misalnya tablet salut enterik), dapat mengalami pemanjangan waktu keluarnya dari lambung. Waktu ini bisa sangat bervariasi, sehingga sebagai konsekuensinya dapat diperoleh profil kadar yang menyimpang (EMA, 2014). Sebaliknya, sistem multipartikulat terdistribusi lebih merata dalam saluran cerna. Karena itu, efek makanan terhadap absorbsi obat menjadi kurang kritis dalam sistem multipartikulat dibandingkan sediaan unit tunggal.
  3. Kegagalan produk, karena kegagalan pelepasan obat atau justru pelepasan yang terlalu dini (dose dumping) lebih besar kemungkinannya terjadi pada sistem unit tunggal. Sedangkan pada sistem multipartikulat, kemungkinan kegagalan sangat kecil pada semua partikulat (Béchard dan Leroux, 1992).
  4. Kombinasi obat yang tidak inkompatibel dalam satu unit sediaan memungkinkan dilakukan dengan sistem multipartikulat. Obat tersebut dapat dibuat dalam pelet tersalut yang terpisah, yang kemudian disatukan dalam satu unit sediaan.
  5. Sistem multipartikulat juga memungkinkan kombinasi partikel dengan karakteristik pelepasan yang berbeda.
  6. Masa mula kerja (onset of action) obat lebih mudah tercapai dengan pelet dibandingkan dengan tablet (Bodmeier, 1997).
  7. Untuk pasien yang mengalami kesulitan  menelan, bentuk multipartikulat memungkinkan untuk dibuat tablet dispersibel, yang bisa didispersikan dalam air minum atau pun  dalam mulut (orodispersibel). Dalam hal ini, selain pelet dengan karakteristik pelepasan termodifikasi, bentuk multiunit ini juga bisa digunakan untuk pelet yang tersalut penutupan rasa pahit (Ishikawa et al, 1999).
Umumnya, pelet dengan modifikasi pelepasan ini dibuat sediaan kapsul. Namun, perkembangan saat ini terjadi peningkatan penerapan pelet yang digabungkan menjadi sediaan tablet kempa. Bentuk sediaan padat farmasi yang diproduksi dengan pengempaan campuran pelet yang mengandung bahan aktif obat dengan bahan tambahan ini disebut MUPS (Multi-Unit Pellet System). Kelebihan bentuk tablet dibandingkan kapsul dalam sistem multiunit ini antara lain:
  1. Biaya produksi tablet lebih rendah, dengan kecepatan produksi yang lebih tinggi dibandingkan kapsul.
  2. Tablet lebih tahan kerusakan dibandingkan kapsul.
  3. Tablet lebih mudah diberikan pada pasien dengan kesulitan menelan. Tablet lebih kompak, sehingga volumenya lebih kecil dibandingkan kapsul.
  4. Tablet lebih mudah dibagi menjadi dosis yang lebih rendah dibandingkan kapsul. (Çelik dan Maganti, 1994; Bodmeier, 1997; Young et al, 2005; Torrado dan Augsburger, 2008)
Permasalahan utama yang dihadapi dalam proses produksi MUPS adalah segregasi selama penyimpanan, pemindahan, dan pengaliran campuran formulasi ke mesin kempa tablet, hingga campuran tersebut sampai pada dies untuk siap dikempa. Sebagai akibatnya, ada kecenderungan diperoleh hasil di luar spesifikasi kadar bahan aktif karena konsentrasi pelet yang tidak seragam, terutama pada bagian awal dan akhir proses. Masalah segregasi timbul karena perbedaan ukuran partikel dan densitas antara pelet dan bahan tambahan yang digunakan. Pelet dalam MUPS bisa berada dalam rentang 20-70% dari total massa formulasi dan memiliki rentang ukuran antara 300 μm hingga 2000 μm, dengan densitas umumnya lebih besar dari 0,7 g/cm3. Sedangkan eksipien biasanya berukuran kurang dari 200 μm, dengan densitas 0,4-0,6 g/cm3 (Vogeleer, 2014).
Pelepasan obat dipengaruhi oleh metode pembuatan pelet, jenis dan jumlah bahan penyalut, ukuran pelet, pemilihan bahan tambahan eksternal, serta lama dan besar tekanan kompresi yang diberikan (Çelik dan Maganti, 1994).
Pelet harus cukup kuat mengatasi tekanan, tanpa mengalami kerusakan berarti. Dari segi formulasi, umumnya selulosa mikrokristalin (MCC) digunakan sebagai pengisi karena kemampuannya meredam tekanan. MCC menunjukkan deformasi plastik yang kuat dan kemampuan menjaga keutuhan pelet di dalam tablet tanpa perubahan signifikan pada permukaan pelet (Türkoğlu et al, 2004). Namun, fraktur dapat tetap teramati pada permukaan pelet meskipun bahan tersebut telah digunakan (Torrado dan Augsburger, 2008).
Gambar SEM pelet yang tidak dikompresi (A: perbesaran 50x); pelet yang dikompresi (B, C: perbesaran 15x; D: perbesaran 20x) (Torrado dan Augsburger, 2008)
Gambar di atas menunjukkan fraktur yang timbul setelah pelet mengalami pengempaan. Kerusakan ini dapat mengubah karakteristik pelepasan obat. Gambar di bawah ini menunjukkan contoh perubahan setelah kompresi tersebut. Namun, karakteristik pelepasan terkendali tidak sepenuhnya rusak.
mups ibuprofen.jpg
Profil pelepasan in vitro ibuprofen dari pelet yang tidak dikempa (kotak hitam), dikempa dengan tekanan 2,8 kN (kotak putih), dan tekanan 4,7 kN (wajik putih) (Torrado dan Augsburger, 2008).
Karena area permukaan pelet yang bulat lebih kecil dibandingkan bentuk lain, formulasi MUPS menjadi sangat sensitif terhadap lubrikasi. Formulasi memerlukan hanya sejumlah kecil lubrikan. Pemilihan waktu pencampuran saat lubrikasi juga harus diperhatikan karena ada resiko terjadinya penurunan kompaktibilitas (Çelik dan Maganti, 1994).
Referensi
Béchard SR, Leroux JC (1992) Coated pelletized dosage form: effect of compaction on drug release. Drug Dev. Ind. Pharm. 18(18): 1927-1944
Bodmeier R (1997) Tableting of coated pellets. Eur. J. Pharm. Biopharm. 43: 1-8
Çelik M, Maganti L (1994) Formulation and compaction of microspheres. Drug Dev. Ind. Pharm. 20(20): 3151-3173
Debunne A, Vervaet C, Mangelings D, Remon JR (2004) Compaction of enteric-coated pellets: influence of formulation and process parameters on tablet properties and in vivo evaluation. Eur. J. Pharm. Sci. 22: 305-314
EMA (2014) Guideline on the pharmacokinetic and clinical evaluation of modified release dosage forms. EMA/CPMP/EWP/280/96 Corr 1 http://www.ema.europa.eu/docs/en_GB/document_library/Scientific_guideline/2014/11/WC500177884.pdf
Ishikawa T, Watanabe Y, Utoguchi N, Matsumoto M (1999) Preparation dan evaluation of tablets rapidly disintegrating in saliva containing bitter-taste-masked granules by the compression method. Chem. Pharm. Bull. 47(10): 1451-1454
Torrado JJ, Augsburger LL (2008) Tableting of Multiparticulate Modified Release Systems. Dalam: Augsburger LL, Hoag SW (Editor) Pharmaceutical Dosage Forms: Tablets, 3rd Edition, Volume 2: Rational Design and Formulation. New York: Informa, pp. 509-532
Türkoğlu M, Varol H, Çelikok M (2004) Tableting and stability evaluation of enteric-coated omeprazole pellets. Eur. J. Pharm. Biopharm. 57: 279-286
Vogeleer J (2014) Making the Grade. Innovations in Pharmaceutical Technology 49: 31-33
Young RC, Dietzch C, McGinity JW (2005) Compression of controlled-release pellets produced by a hot-melt extrusion and spheronization process. Pharm. Dev. Tech. 1: 133-139
Terima kasih untuk Dea Alicia atas bantuan pencarian jurnal…

Sunday, 24 January 2016

Pahlawan Muslim Kenya Meninggal Dunia

Salah Farah adalah pahlawan sekaligus syuhada sejati. Desember lalu, dengan gagah berani, dia bersama sejumlah orang lainnya melawan ancaman todongan senjata gerombolan teroris Al-Shabab.
salah farah.jpg
Salah Farah (VOA/Jill Craig)
Saat itu, bus yang ditumpanginya dibajak di tengah perjalanan dari Mandera menuju Nairobi, Kenya. Provinsi Mandera berada dekat perbatasan Kenya dengan Somalia dan Etiopia.
"Bunuh kami atau jika tidak pergi saja kalian," tantang Farah. Bersama beberapa orang lainnya, sesama penumpang bus, Farah yang bekerja sebagai guru di kota pantai, Malindi, menolak kemauan para pembajak bersenjata.
Para milisi Al-Shabab itu memaksa penumpang bus untuk memisahkan diri berdasarkan agama yang dianut, Islam dan Kristen. Hal ini dilakukan untuk memuluskan rencana kelompok itu mengeksekusi warga Kristen.
Namun, dengan gagah berani Farah berdiri menjadi tameng hidup. Bersama beberapa penumpang Muslim lainnya, Farah nekat melindungi penumpang beragama Kristen dari pembantaian.
Para teroris marah. Mereka lalu menembak Farah di bagian pinggang. Dia terluka parah akibat keberaniannya itu.
Pada Minggu (17/1), Farah meninggal dunia ketika tengah menjalani pembedahan di Rumah Sakit Nairobi. Tim dokter tidak mampu untuk menyelamatkan nyawanya.
Dua hari kemudian, Selasa (19/1), Farah dimakamkan di kota Mandera, timur laut Kenya. Dia meninggalkan seorang istri dan empat anak.
Semangat hidup
Selama beberapa pekan setelah insiden berdarah itu, Farah sempat dirawat dan menunjukkan semangat hidup yang sangat tinggi. Dia bahkan beberapa kali diwawancarai oleh sejumlah media massa internasional. Aksi kepahlawanan yang dilakukannya mendapat perhatian dunia.
Kepada stasiun televisi BBC dari Inggris, Farah menceritakan saat-saat mencekam berada di bawah ancaman moncong senapan. "Mereka bilang kalau engkau seorang Muslim, maka kalian akan selamat," ujar Farah mengenang pernyataan para milisi ketika itu.
Dalam wawancara, Farah juga menyampaikan keyakinan dan prinsip hidupnya yang mulia. Menurut dia, semua orang harus bisa hidup damai bersama-sama, tak peduli apa agama yang dianutnya. "Kita semua bersaudara. Hanya masalah agama yang membedakan kita," ujarnya.
"Dengan begitu, saya meminta semua saudara saya sesama Muslim untuk menjaga saudara Kristen kita sehingga mereka juga bisa melakukan hal yang sama kepada kita. Dengan demikian, kita bisa saling bantu dan hidup dalam kedamaian," ujarnya kepada stasiun radio Voice of America, awal bulan ini.
Kematian Farah membuat banyak pihak di Kenya berduka. Para pelayat datang berkumpul di pemakamannya. Mereka bersedih dan datang untuk mendoakan Farah.
Pahlawan sejati
Sebagai bentuk belasungkawa sekaligus penghormatan, jenazah Farah diterbangkan menuju lokasi peristirahatannya yang terakhir dengan helikopter kepolisian Kenya. "Dia adalah seorang pahlawan sejati. Dia tewas karena melindungi warga tak berdosa Kenya dari serangan teroris," ujar Kepala Kepolisian Kenya Joseph Boinnet.
Tampak pula hadir di pemakaman, istri Farah, Dunia Mohamed, yang tengah hamil sembilan bulan. Pasangan itu sebelumnya telah dianugerahi empat anak.
Farah menjadi tulang punggung keluarga. Selain dengan anak dan istri, bersama Farah juga tinggal kedua orangtuanya yang berusia lanjut. Ibu Farah, Amina Sabdow, tak sanggup berkata-kata ketika mengetahui putranya meninggal dunia.
Mengingat tindakan berani Farah untuk melindungi sesama manusia, sejumlah pihak berkomitmen menanggung keluarga yang ditinggalkan Farah secara finansial. Komitmen itu disampaikan Komisi Guru Kenya dan juga Gubernur Mandera Ali Ibrahim Roba. Mereka berjanji menanggung biaya hidup keluarga Farah dan biaya pendidikan anak-anaknya. "Farah adalah tokoh panutan kita semua," ujar Roba.
Upaya menggalang bantuan bagi keluarga Farah juga dilakukan di jagat maya. Salah satunya, upaya penggalangan dana melalui Twitter dengan tagar #HeroSalah.
Desainer terkenal kelas dunia asal Skotlandia, yang kini menetap di Kenya, Ann McCreath, memberikan pernyataan dukungan lewat #HeroSalah. "Sangat penting untuk mendukung #HeroSalah sebagai simbol Kenya seperti yang kita inginkan bersama," kicau McCreath.
Ancaman Al-Shabab
Gerombolan milisi Al-Shabab sejak lama menjadi ancaman serius bagi sejumlah negara di kawasan Afrika timur, terutama Kenya dan Somalia. Kelompok teroris asal Somalia itu kerap melakukan serangan ke wilayah negara tetangga, Kenya, terutama di wilayah perbatasan.
Pekan lalu, Al-Shabab menyerang kamp pasukan penjaga perdamaian Kenya di barat daya Somalia. Mereka mengklaim berhasil menewaskan sedikitnya 100 tentara Kenya.
Akan tetapi, Pemerintah Kenya menolak menyebut jumlah korban tewas sebenarnya. Sejak 2011, Pemerintah Kenya mengerahkan pasukannya ke Somalia untuk mencegah masuknya milisi Al-Shabab ke Kenya. Namun, hal itu memicu kemarahan kelompok Al-Shabab. Kelompok ini mengancam akan meningkatkan serangannya. (AP/DWA)
Kompas, Minggu, 24 Januari 2016

Thursday, 21 January 2016

Ketika Lumpur Menyembur

Oleh YUNI IKAWATI
Dalam perut bumi terkandung beragam bahan tambang bernilai tinggi, di antaranya minyak dan gas alam. Pengambilan sumber energi mudah terbakar ini sulit karena terimpit berlapis formasi batuan di kedalaman ribuan meter. Bencana bisa terjadi dan tak teratasi jika rencana operasi serta langkah kontingensi tidak cermat dan cepat.
(Kompas/Ferganata Indra Riatmoko)
Di sumur minyak, kesalahan pengeboran bisa mengakibatkan ledakan gas, kebakaran, serta semburan lumpur dan minyak. Bencana teknologi itu bisa menimbulkan kerugian material, memakan korban jiwa, dan kerusakan lingkungan hidup.
Dalam 10 tahun terakhir, setidaknya ada dua musibah besar di sumur minyak, yakni semburan lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur, pada 2006 dan tumpahan minyak akibat ledakan sumur minyak di Celah Timor pada 2009.
Ledakan di sumur minyak lepas pantai di Montara, Australia, 21 Agustus 2009, mencemari Laut Timor dan menimbulkan kerugian Rp 247 miliar bagi Indonesia. Semburan itu bisa diredam 80 hari setelah kejadian. Sementara semburan lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur, sejak 29 Mei 2006 berlanjut hingga kini.
Awal semburan lumpur panas itu di Desa Renokenongo, Porong, berjarak 150 meter dari sumur milik Lapindo Brantas Inc, Banjar Panji-1 (BJP-1). Lokasi semburan di permukiman, dekat kawasan industri, serta akses utama jalan raya, jalan tol, dan jalur kereta api.
Kasus lumpur panas itu memunculkan tiga versi pendapat para ahli geologi, geofisika, dan pengeboran migas. Menurut mereka, lumpur di Sidoarjo akibat salah pengeboran, gempa tektonik, dan kombinasi keduanya. Namun, sebagian besar mengarah ke faktor kesalahan pengeboran.
Para pakar di Geological Society of America menyimpulkan, erupsi lumpur dipicu kegagalan mengatasi tekanan tinggi fluida saat pengeboran di lapisan batuan yang banyak pori. Dalam konferensi internasional yang diadakan American Association of Petroleum Geologists (AAPG) di Cape Town, Afrika Selatan, Oktober 2008, sebanyak 42 dari 74 ahli geologi berpendapat faktor penyebabnya adalah kesalahan pengeboran. Ada 16 peserta lain menyatakan pemicunya kombinasi kesalahan pengeboran dan gempa tektonik.
Pendapat ahli, luapan lumpur Lapindo karena keliru menetapkan lokasi pengeboran dan tak memasang casing (selubung lubang bor dari pipa baja) di semua lubang. Menurut RP Koesoemadinata, Guru Besar Geologi Institut Teknologi Bandung, casing terpasang seperempat dari lubang yang dibor. Padahal, casing untuk meredam kick, yakni masuknya fluida dari formasi batuan ke dalam sumur.
Saat terjadi kick, meski dipasang sistem mekanik penutup dan memompa semen penyumbat lubang, fluida bertekanan, dan bersuhu tinggi, menerobos celah batuan di lubang tak berselubung hingga naik permukaan lewat rekahan alami. Akibatnya, semburan lumpur panas terjadi di sekitar area sumur.
Tom Casadevall, pakar vulkanologi dari Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), memperkirakan, semburan baru berhenti setelah 30 tahun karena kandungan lumpur dari kubah vulkanik purba bervolume hingga 1,5 miliar meter kubik.
Penanggulangan
Menurut Richard Davies dari Universitas Durham, Inggris, kasus semburan lumpur sama dengan yang terjadi di lepas pantai Brunei pada 1979. Erupsinya baru berhenti hampir 30 tahun kemudian setelah dipasang 20 relief well, pengeboran menyamping untuk injeksi semen berdensitas tinggi agar menghambat laju semburan fluida. Teknik itu lama dipakai di Indonesia, di antaranya oleh Pertamina untuk mengatasi ledakan di Subang pada 1982.
"Penanggulangan lumpur di Sidoarjo dengan relief well jadi cara paling pas jika segera dilakukan setelah kejadian. Kalau kini sulit karena banyak retakan di bawah," ucap Rovicky Dwi Putrohari, praktisi migas yang kini di Dewan Penasihat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI).
Sementara lumpur Lapindo hanya ditangani dengan membuat tanggul penahan luapan dan membuangnya ke Kali Porong hingga laut. Itu mengakibatkan 600 hektar lahan di 19 desa di 3 kecamatan (Tanggulangin, Jabon, dan Porong) tergenang lumpur, sekitar 13.300 orang tergusur, kehilangan harta dan mata pencarian. Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, kerugian Rp 28 triliun, terutama akibat infrastruktur yang rusak.
Ancaman baru
Semburan lumpur menimbulkan penderitaan warga setempat 10 tahun terakhir. Maka, saat Lapindo Brantas Inc akan kembali mengebor di Sidoarjo, awal Januari lalu, ditolak keras warga setempat. "Kepercayaan warga untuk memberikan ruang bagi eksplorasi pengeboran migas hilang," kata Rovicky.
Perusahaan migas itu akan mengebor sumur baru di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Maret 2016. Jaraknya 2,5 kilometer dari pusat semburan lumpur yang aktif.
Lokasi sumur itu rawan bencana, berpotensi ambles, dan semburan gas mudah terbakar. "Lokasi itu dekat sesar hingga ke Pulau Madura," ucap Kepala Pusat Studi Bencana Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Amin Widodo.
Ada sejumlah sesar mikro, di antaranya Sesar Watukosek melewati Sidoarjo. Ada 15 gunung lumpur, yang terbesar di bawah lokasi lumpur Lapindo. Itu dipaparkan Sergey V Kadurin, Ketua Tim Riset Geologi Universitas Nasional Odessa Ukraina, yang meneliti pada 2010.
Sergey yakin, gempa tektonik di zona subduksi Samudra Hindia mengganggu kestabilan Sesar Watukosek dan mengusik gunung lumpur yang tidur, kedalaman 3 kilometer di bawah permukaan tanah. Menurut analisis model 3 dimensi, ada 2 kanal lumpur lain dekat Sidoarjo yang berpotensi besar meletus sewaktu-waktu.
Karena itu, rencana pengeboran lagi di Sidoarjo tak bisa mengabaikan hasil survei geologi tersebut. Rovicky menekankan, perlu akuisisi data bawah permukaan untuk melihat dampak setelah semburan lumpur dan potensi bencana lain.
Selama ini semburan liar, ledakan, dan kebakaran bisa terjadi akibat gas dangkal, zona bertekanan tinggi, dan rembesan air ke reservoir hidrokarbon. Gas dangkal berupa metana dan etana kedalaman hingga 20 meter bisa terkonsentrasi, dan bermigrasi, serta memicu ledakan karena pengeboran. Kegempaan bisa jadi pemicu.
Ancaman itu bisa diatasi dengan sarana berteknologi mutakhir. "Itu tergantung keahlian pakar, teknisi, dan kerja sama multidisiplin, merancang sistem bor dan casing, memantau operasi, dan antisipasi bencana," kata Anggoro Dradjat, anggota IAGI. Pengeboran migas, menurut Rovicky, jika sesuai prosedur, aman di lokasi mana pun.
Kompas, Jumat, 22 Januari 2016

Lapindo Diminta Tetap Mengebor

Saiful Ilah Minta Warga Dukung Lapindo
SIDOARJO, KOMPAS — Bupati Sidoarjo terpilih Saiful Ilah meminta Lapindo Brantas Inc tetap melakukan eksplorasi minyak dan gas di Sidoarjo. Bahkan, apabila warga menolak rencana pengeboran tersebut, dia mempersilakan Lapindo mengebor di tanahnya.
"Sidoarjo punya harta alam yang luar biasa. Harta alam ini harus kita ambil. Kalau tidak kapan majunya Sidoarjo," kata Saiful kepada Kompas.
Saiful mengatakan, potensi migas Sidoarjo tersebar hingga di tepi pantai atau kawasan tambak rakyat, termasuk tambak miliknya yang sudah dilakukan survei seismik.
"Kalau memang masyarakat tidak menghendaki pengeboran itu. Daripada sulit-sulit, lebih baik mengebor dari tambak saya saja. Daripada nanti dibor dari Pasuruan, hilang kita punya harta karun," ujar Saiful.
Saiful meminta semua pihak termasuk media mendukung pengeboran yang dilakukan Lapindo. Menurutnya, pengeboran itu sangat bermanfaat bagi masyarakat bahkan negara.
Saiful juga meminta warga Desa Kedungbanteng, Banjarasri, dan Kalidawir mendukung. Menurutnya, kalau masyarakat terus beralasan dengan trauma lumpur Lapindo, tak akan maju.
Namun, Saiful tak pernah membaca hasil kajian dari aspek sosial, ekonomi, dan teknis yang ada di dokumen upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL). Sebagaimana diberitakan, Saiful mengaku menandatangani izin lingkungan untuk pengembangan sumur migas Lapindo karena rekomendasi bawahannya, Badan Lingkungan Hidup dan Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Sidoarjo (Kompas, 21/1).
"Saya tanda tangan (dokumen UKL dan UPL) itu sudah saya serahkan ke perizinan supaya dipelajari. Kalau semua pihak sudah teken (tanda tangan), kenapa saya tidak teken," katanya.
Padahal, dalam dokumen itu, mayoritas warga tidak setuju dengan pengeboran. Mereka minta supaya rencana pengeboran di kawasan permukiman itu dipindahkan ke tempat lain.
Sebagai gambaran, potensi migas di Kecamatan Tanggulangin saja hampir 8 triliun kaki kubik per hari. Selain Tanggulangin, potensi migas juga ada di Kecamatan Porong dan Wunut.
Tanggung jawab
Namun, Saiful berpendapat lain. Menurutnya, apabila ada pengeboran, pihak yang mengebor harus bertanggungjawab. Saiful menilai Lapindo sangat bertanggung jawab. Bahkan dia menjamin perusahaan akan bertanggung jawab 100 persen apabila ada masalah.
"Saya menjadi Bupati Sidoarjo selama lima tahun dan menjadi Wakil Bupati selama 10 tahun. Saya paham betul permasalahan di wilayah ini termasuk titik-titik pengeboran migas Lapindo hingga kasus semburan lumpur panas di Kecamatan Porong," katanya.
Saiful mengatakan, pada 2002, saat dirinya menjabat Wakil Bupati, Lapindo sudah mengantongi izin HO (gangguan) dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk pengeboran. Saat dirinya menjadi Bupati, pada 2011 Lapindo mengajukan izin lingkungan untuk pengembangan tiga sumur di lapangan Tanggulangin, yakni TA1, TA2, dan TA 4.
Saat itu izin belum dikeluarkan karena masalah ganti rugi korban lumpur belum terselesaikan. Izin lingkungan baru ditandatangani pada 2015 karena masalah ganti rugi sudah selesai. Tinggal 84 berkas warga korban lumpur yang belum terbayar karena masih bermasalah.
"Saya tandatangani izin lingkungan Oktober 2015. Karena perizinan sudah rekomendasi, ya, saya tandatangani. Selama lima tahun jadi Bupati, saya tidak pernah memeriksa lagi karena sudah saya percayakan kepada bawahan," kata Saiful.
Saiful menilai, pengeboran migas sangat bermanfaat. Bahkan semburan lumpur panas yang masih aktif mengeluarkan 30-50 meter kubik lumpur per hari itu bukan bencana, melainkan berkah. "Saya sudah meneliti kandungan lumpur itu dan bisa digunakan sebagai bahan baku keramik. Kalau orang lain tahu, bisa jadi rebutan lumpur itu," katanya.
Kepala Dinas Pengelolaan Pendapatan dan Kekayaan Aset Sidoarjo Joko Sartono mengatakan, bagi hasil migas yang diterima tahun 2015 mencapai Rp 2,4 miliar. Selain bagi hasil, keberadaan industri migas memberi manfaat bagi perusahaan yang memerlukan gas sebagai bahan bakar untuk produksi.
Presiden Direktur Lapindo Brantas Inc Tri Setia mengatakan, pihaknya mengelola 30 sumur migas di Sidoarjo dengan produksi pernah mencapai 80 juta kaki kubik per hari dan kini tinggal 6-8 juta kaki kubik per hari. Penurunan produksi 20-30 persen per tahun disebabkan kurang maksimalnya perawatan sumur dan bukan oleh pengaruh munculnya semburan lumpur panas Lapindo di Porong.
Namun, apabila dicermati nilai itu, sebenarnya tidak terlalu besar dibandingkan potensi industri di Sidoarjo. Ada 2.800 perusahaan yang beroperasi dan menyerap ratusan ribu tenaga kerja. Selain itu Sidoarjo memiliki 23.000 UMKM yang berkontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi.(NIK)

Kompas, Jumat, 22 Januari 2016

Wednesday, 20 January 2016

Olok-olok Lapindo

Oleh HERI ANDREAS
Ingatan kita pasti belum tumpul atas bencana semburan lumpur panas Lapindo pada Mei 2006. Saat itu luapan lumpur panas menenggelamkan kawasan permukiman, sekolah, sawah, kebun, dan pabrik, sampai 7 kilometer persegi.
Semburan lumpur panas terjadi tak jauh dari lokasi PT Lapindo Brantas melakukan pengeboran minyak dan gas bumi.Kini, di awal 2016, kita mendengar PT Lapindo Brantas akan kembali melakukan pengeboran migas di Desa Kedungbanteng, Tanggulangin, yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari pusat semburan lumpur panas Lapindo.
Sebagian dari kita tentu masih ingat manakala PT Lapindo Brantasmencoba lepas tanggung jawab dengan dalih bahwa semburan diakibatkan oleh sesar (Watukosek) yang tereaktivasi gempa Yogya, bukan karena kelalaian mereka. Alamlah, kata mereka, yang harus disalahkan.
Sekitar Rp 9 triliun kerugian materiil akibat bencana ini akhirnya ditanggung pemerintah. Lalu, yang kemudian terasa janggal, mengapa kini mereka seolah-olah tak takut bahwa alam akan membuat hal sama ketika mereka ingin mengebor kembali? Mengapa mereka tidak takut akan bencana Lapindo jilid II?
Sekarang kita coba pakai logika sederhana. Ketika PT Lapindo Brantas berniat melakukan pengeboran kembali, bisa jadi mereka yakin pengeboran akan aman; bahwa di sekitar wilayah Porong tak terdapat sesar (Watukosek); bahwa tak ada kaitan gempa (Yogya) dengan potensi semburan lumpur; bahwa dalam melakukan pengeboran hingga 1.000 meter, tidak akan menyentuh sumber geotermal; bahwa menggunakan casing akan mengamankan pengeboran dari potensi-potensi sumber lumpur. Dipastikan bahwa mereka tidak sedang berjudi dengan alam.
Hasil penelitian yang kami lakukan bersama kolega di Institut Teknologi Bandung (ITB) selama hampir 10 tahun (2006-2016) menyimpulkan, memang tak ada fakta kuat mengenai keberadaan sesar Watukosek. Pun tak ada fakta kuat yang menunjukkan gempa Yogya sebagai penyebab semburan lumpur panas Lapindo.Berarti, apabila gempa Yogya bukan penyebab semburan lumpur, maka pengeboranlah yang menjadi penyebabnya (sebab tersangka hanya dua untuk hal ini).
Kesimpulan yang sama
PT Lapindo Brantas sebenarnya memiliki kesimpulan yang sama dengan kami. Itulah yang menjelaskan mengapa mereka tidak takut melakukan pengeboran kembali dengan teknik yang benar dan menghindari sumber geotermal dengan tidak mengebor lebih dari 1.000 meter.
Bisa dikatakan, dengan melakukan pengeboran kembali, PT Lapindo Brantas saat ini secara tak sadar sedang membuka borok sendiri dan telah mengolok-olok masyarakat dan pemerintah. Mereka berhasil memperdayai masyarakat dan pemerintah.Mereka senang melihat bagaimana ulah mereka ditanggung orang lain karena teperdayanya masyarakat dan pemerintah.Mereka tentu senang DPR dan pemerintah menyatakan semburan lumpur panas Lapindo adalah bencana alam. Juga senang karena lagi-lagi pemerintah (sembilan tahun pasca bencana) kembali menggelontorkan uang sekitar Rp 700 miliar untuk menalangi kewajiban mereka.
Saya ingin berbagi tentang bagaimana PT Lapindo Brantas memperdayai kita dengan data yang mereka sampaikan dahulu. Pertama, mereka bilang ada sesar Watukosek yang memanjang dari ujung Gunung Penanggungan sampai Pulau Madura. Kedua, mereka bilang gempa Yogya telah mereaktivasi sesar Watukosek sehingga terjadi semburan lumpur panas. Ketiga, mereka bilang rekahan-rekahan yang terjadi di sekitar semburan dan bengkoknya rel kereta api merupakan bukti reaktivasi sesar. Mereka menggunakan teori perulangan gempa, reaktivasi sesar, dan teori gempa memicu gempa lainnya.
Nyatanya, rekahan-rekahan yang katanya terjadi searah dengan sesar Watukosek di lapangan polanya konsentris terhadap pusat semburan, yang lebih tepatnya berasosiasi dengan pembentukan kaldera gunung lumpur, bukan aktivitas sesar. Rekahan ada jauh setelah semburan lumpur terjadi, bahkan bengkoknya rel kereta api terjadi setelah enam bulan semburan. Hal ini jelas bertentangan dengan fakta reaktivasi sesar di mana seharusnya ketika terjadi reaktivasi sesar, maka harus serta-merta terjadi rekahan-rekahan, termasuk bengkoknya rel kereta api, dan diiringi dengan getaran atau gempa bumi.
Nah, yang terjadi di Lapindo itu pertama terjadi semburan dulu, disertai gas-gas, kemudian lama kita menunggu, berhari-hari, berbulan-bulan baru dapat dilihat rekahan-rekahannya, sudah itu tidak pernah terjadi getaran (gempa). Apa tidak aneh kalau kejadiannya seperti itu? Seharusnya dengan sesar Watukosek yang memanjang sampai Madura (kurang lebih 100 kilometer), tidak mungkin ketika terjadi reaktivasi, tetapi tidak terekam gempa sama sekali!
Dengan adanya peristiwa terkini, 2016, di mana PT Lapindo Brantas akan melakukan pengeboran kembali di sekitar semburan lumpur panas Lapindo, saya sangat mendukung untuk PT Lapindo Brantas membuka borok mereka oleh mereka sendiri, oleh ketidaksadaran mereka. Selanjutnya, sudah saatnya fakta- fakta yang terabaikan dibuka kembali, untuk menunjukkan siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas semburan lumpur panas Lapindo tahun 2006.
Keberanian pemerintah sekarang diuji, termasuk keberanian Presiden. Saya yakin Presiden kita sekarang ini berani, cuma beliau belum tahu saja duduk perkara sebenarnya itu seperti apa.
Hal lain yang menarik disimak, ada kemungkinan pengeboran Lapindo pada 2006 salah posisi koordinat, juga salah model permukaan bawah tanahnya. Hasil penelitian atas data eksplorasi migas, ditemukan 8 dari 10 data bermasalah di posisi koordinat. Jadi, bukan tak mungkin ini juga terjadi di data eksplorasi Lapindo tahun 2006.Akibat dari posisi koordinat ini, apabila dihitung secara sederhana saja, kita punya potensi kerugian puluhan triliun rupiah dari proses eksplorasi dan eksploitasi migas di negara kita tercinta ini, yang tentunya pemerintah serta rakyat yang harus menanggung kerugian ini.Ironisnya, hingga saat ini SKK Migas dan Kementerian ESDM belum mengetahui informasi ini.
HERI ANDREAS
Pengajar dan Peneliti di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, ITB
Kompas, Kamis, 21 Januari 2016

Tuesday, 19 January 2016

Sianida: Beracun, Ada di Mana-mana

Oleh M ZAID WAHYUDI
Pusat Laboratorium Forensik Kepolisian Republik Indonesia, Senin (18/1), memastikan racun yang membunuh Wayan Mirna Salihin (27) sesudah menyeruput kopi di sebuah kafe di Mal Grand Indonesia, Jakarta, 6 Januari lalu, adalah sianida. Zat neurotoksik itu ada di barang bukti berupa kopi di dalam gelas dan di lambung korban.
Sianida adalah zat yang amat beracun, mudah ditemukan di alam ataupun bisa diproduksi manusia. Kerak bumi juga mengandung sianida sehingga air tanah, sejumlah buah serta umbi, seperti biji apel, aprikot, kacang kratok (Phaseolus lunatus), kedelai, sorgum, rebung, singkong, dan gadung, mengandung sianida dalam jumlah bervariasi. Sejumlah jamur, bakteri, dan alga pun menghasilkan sianida.
Dalam industri, sianida banyak digunakan pada pembuatan kertas, tekstil, dan plastik. Zat beracun itu pun dipakai untuk pembersihan logam atau di pertambangan untuk memisahkan emas dari bijihnya. Gas sianida dipakai untuk membasmi hama di kapal atau bangunan. Sianida ditemukan pada asap rokok dan hasil pembakaran produk sintetik, seperti plastik.
Namun, sianida juga bisa dijadikan senjata kimia. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebutkan, Jerman dalam Perang Dunia II menggunakan gas hidrogen sianida (HCN) yang dinamai Zyklon B untuk melakukan genosida. Indikasi penggunaan HCN ditemukan dalam Perang Iran-Irak pada 1980-an terhadap warga Halabja, Kurdistan, Irak Utara.
Di pasaran, sianida punya dua bentuk, kristal atau serbuk dan gas. Kristal sianida itu biasanya ditemui dalam senyawa natrium atau sodium sianida (NaCN) dan kalium atau potasium sianida (KCN). Selama ini, KCN populer di masyarakat dengan sebutan potas yang kerap dipakai untuk menangkap ikan.
Dalam bentuk kristal, sianida sangat stabil. Namun, ia akan amat reaktif saat bertemu dengan air hingga menghasilkan HCN. Bentuk lain dari gas sianida ialah sianogen klorida (CNCl). Sianida berbentuk gas itu berbahaya. Kadang sianida menebar aroma [almond] pahit. Namun, lebih kerap zat beracun itu tak mengeluarkan aroma dan tak semua orang [mampu] mendeteksinya [aromanya]. [Cyanide sometimes is described as having a “bitter almond” smell, but it does not always give off an odor, and not everyone can detect this odor - CDC Facts About Cyanide].
Ukuran molekul sianida sangat kecil. Karena itu, saat baru berada di mulut, zat beracun itu bisa menyerang saraf di mulut atau masuk ke pembuluh darah di mulut yang menuju jantung. "Sianida bisa mematikan saraf di jantung hingga memicu kematian," ucap ahli kimia pangan yang juga Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor Nuri Andarwulan.
Konsultan paru yang juga mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menambahkan, sianida memicu kematian karena zat itu mengikat bagian aktif dari enzim sitokrom oksidase di setiap sel tubuh. Dampaknya, metabolisme sel yang menggunakan oksigen pun terhenti dan pernapasan sel terganggu. Akibat selanjutnya, dalam beberapa menit, pengantaran sinyal di sistem saraf pun terganggu.
Seseorang bisa terpapar sianida melalui udara yang dihirup, air minum, makanan, atau menyentuh tanah yang mengandung sianida. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, asupan harian sianida yang bisa ditoleransi tubuh hanya 12 mikrogram atau 0,000012 gram per kilogram berat badan.
"Dalam jumlah sedikit, sianida yang masuk akan dikeluarkan lewat ginjal dalam bentuk urine," kata Guru Besar Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Zullies Ikawati.
Konsentrasi 300 miligram atau 0,3 gram sianida per meter kubik udara bisa membunuh dalam 10-60 menit. Sementara dalam konsentrasi 3.200 miligram atau 3,2 gram, kristal sianida yang larut dalam per meter kubik cairan bisa membunuh hanya dalam satu menit.
Direktur Eksekutif Disaster Victim Identification (DVI) Polri Komisaris Besar Anton Castilani menyatakan, perkiraan sementara Pusat Laboratorium Forensik Polri menyebutkan, ada 15 gram sodium sianida per liter di kopi Mirna. "Kadar mematikan sianida dosis 150-200 mg. Sianida di cangkir Mirna bisa menewaskan 20-25 orang," ujarnya.
Keracunan
Tjandra menyatakan, keracunan sianida berdampak buruk pada sistem kardiovaskular, termasuk kenaikan resistensi vaskular dan tekanan darah di otak, sistem pernapasan, serta sistem saraf pusat. Sistem endokrin biasanya terganggu pada keracunan kronis atau menahun sianida.
Tanda awal keracunan sianida atau paparan sianida dalam jumlah kecil melalui pernapasan, terserap kulit, dan lewat makanan-minuman ialah napas cepat, denyut jantung meningkat, nyeri kepala, sesak napas, mual, muntah, berkeringat, kulit kemerahan, hingga tubuh lemah. Keracunan sianida memicu perubahan perilaku, seperti cemas, agitasi, dan gelisah.
Tanda akhir keracunan atau paparan sianida berjumlah besar ialah tekanan di susunan saraf pusat hingga muncul tremor (gemetar tak terkontrol), gangguan irama jantung berupa denyut melambat, tekanan darah turun, kejang, koma, hingga hilangnya kesadaran, gagal napas, dan jantung berhenti.
Tingginya daya toksik sianida membuat pertolongan pertama keracunan sianida sulit dilakukan. Apalagi gejala keracunan zat kimia tak khas, mirip keracunan akibat bakteri. Karena itu, pertolongan terbaik yang bisa dilakukan ialah segera membawa korban keracunan ke rumah sakit dan menjelaskan apa yang terjadi secara rinci kepada petugas kesehatan.
Zullies mengatakan, antidot atau anti racun sianida sebenarnya ada, tetapi harus segera diberikan sesaat sesudah terpapar. Namun, itu amat bergantung pada besarnya paparan sianida.
Antidotum yang diberikan bisa berupa cyanokit (hidroksikobalamin) yang disuntikkan. Saat hidroksikobalamin bereaksi dengan sianida, itu akan membentuk sianokobalamin yang dibuang lewat ginjal. Antidotum lain adalah natrium tiosulfat.
"Jika diketahui paparan sianidanya sedikit dan belum terlalu lama, keracunan sianida bisa segera ditangani," ujarnya. Jika sianida masih di lambung, lambung korban dikuras dan ia dibuat muntah. Jika masuk ke organ tubuh lain, keracunan sianida sulit diatasi. (SAN)
Kompas, Rabu, 20 Januari 2016