Monday, 28 September 2015

Sedna

Sedna.jpg
Citra artis permukaan Sedna yang merah dan menjadikannya obyek termerah kedua di tata surya setelah Mars. Sedna ditemukan Mike Brown, astronom Institut Teknologi California, dan rekan pada 2003 menggunakan teleskop Samuel Oschin di Observatorium Palomar, San Diego, Amerika Serikat. (Sumber: space.com)

Penemuan Sedna pada 2003 membelalakan mata manusia. Banyak hal yang manusia tak tahu tentang rumahnya, tata surya.

Sedna adalah planet katai. Bedanya dengan teman sejenisnya, Pluto, jarak Sedna terhadap Matahari sangat jauh. Jarak terjauh Pluto ke Matahari masih kalah jauh dari jarak terdekat Sedna ke Matahari.

Bentuk lintasan Sedna pun sangat elips. Akibatnya, rentang jarak terdekat dan terjauh Sedna ke Matahari berkisar 76-990 unit astronomi (UA) atau jarak rata-rata Bumi-Matahari. Bandingkan dengan Pluto yang hanya 29-49 UA.

Pluto dan planet katai lain umumnya terletak di daerah Sabuk Kuiper. Namun, Sedna ada di bagian dalam Awan Oort, bagian yang lebih luar dari tata surya. Jika Pluto butuh 248 tahun untuk satu kali mengelilingi Matahari, Sedna butuh 11.400 tahun.

Benda langit yang biasanya terletak di Awan Oort adalah gumpalan batu berselimut es yang jadi cikal bakal komet. Namun, Sedna bukan komet karena diameternya lebih dari 1.000 kilometer dan bentuknya cukup bulat.

Kejanggalan karakter orbit dan ukuran Sedna membuat sejumlah astronom bertanya-tanya dari mana sejatinya Sedna berasal?

Orbit Sedna dan sejumlah benda lain di bagian dalam Awan Oort, seperti 2012 VP113, yang janggal terjadi karena ada gangguan obyek bermassa besar di tepian tata surya atau dari sistem bintang lain. Itu menarik benda-benda tersebut menjauh dari Matahari. Wujud obyek pengganggu itu bisa berupa planet besar di Awan Oort yang belum diketahui, bintang tetangga Matahari, atau kumpulan bintang lain yang lahir bersama Matahari sebagai gugus bintang.

Dugaan lain, justru Mataharilah yang menyambar Sedna dari bintang lain saat kedua bintang itu berdekatan. Perkiraan lain, Sedna semula berada  di Sabuk Kuiper, tetapi kemudian terdorong ke Awan Oort saat sebuah planet besar pada masa lalu yang ada di dekat Matahari tertendang ke tepi tata surya. Saat ini, planet itu mungkin sudah keluar dari tata surya atau di pinggiran ekstrem tata surya.

Apa pun prediksi manusia, tantangan terbesarnya adalah membuktikan dugaan itu. Menguak tabir misteri tata surya. (MZW)

Seputar Sedna
1. Dewi Laut Arktik
Sedna adalah nama dewi laut di kawasan Arktik atau Kutub Utara. Ia diyakini penjaga keberadaan anjing laut, walrus, kan, paus, dan sejumlah binatang laut lain yang diburu masyarakat Inuit. Mitologi dewi berkepala manusia dan berkaki ikan itu cocok menggambarkan keberadaan Sedna yang ada di lingkungan berselimut es di Awan Oort.

sedna2.jpg

2. Awan Oort
Tata surya dibagi jadi empat wilayah, yaitu daerah planet dalam yang berupa planet kebumian (Merkurius, Venus, Bumi, Mars), planet luar berupa planet gas (Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus), Sabuk Kuiper yang berisi banyak planet katai (Pluto, Eris, dll) dan Awan Oort yang merupakan daerah asal komet. Awan Oort yang berbentuk bola merupakan lintasan terluar tata surya yang berbatasan dengan daerah bintang lain.

oort-cloud-nasa.jpg
(Sumber: Universe Today)

3. Siang nan redup
Jarak yang jauh membuat Matahari terlihat sebagai bintik kecil dari permukaan Sedna. Saat ini, Sedna berjarak 12,8 miliar kilometer, bandingkan dengan Pluto yang hanya 5,9 miliar kilometer. Jarak jauh membuat detail permukaan Sedna sulit diidentifikasi.

4. Orbit yang pipih
Tak hanya jauh, orbit Sedna dan 2012 VP113 sangat elips dibandingkan dengan planet katai lain. Kedua obyek itu bisa diamati karena sedang berada pada jarak yang dekat dengan Matahari. Titik terdekat Sedna ke Matahari sejauh 76 kali jarak Bumi-Matahari akan tercapai tahun 2076.

5. Ukuran dan bentuk
Selain jauh, diameter Sedna sangat kecil. Perhitungan pasti belum diketahui. Namun, diameter Sedna diperkirakan 1.000-2.250 kilometer. Bentuknya pun cukup bulat yang menunjukkan gaya gravitasinya cukup besar. Ukuran dan bentuknya itulah yang membuat Sedna diyakini bukan termasuk komet meski berada di Awan Oort.


Kompas, Minggu, 27 September 2015

Sunday, 27 September 2015

Indonesia, Sudan, dan Somalia

Oleh HASBULLAH THABRANY

Ada apa dengan tiga negara tersebut? Menurut data Bank Dunia, Indonesia memiliki pendapatan per kapita di atas 3.650 dollar AS per tahun (2014), sebuah negara kelas menengah bawah (low middle income country).

Angka kemiskinan “hanya” 11,3 persen dari penduduk dan 100 persen anak usia sekolah sudah duduk di bangku sekolah dasar (SD). Sudan juga merupakan negara kelas menengah bawah dengan pendapatan per kapita separuh dari Indonesia (1.740 dollar AS), tetapi 46,5 persen penduduknya tergolong miskin dan baru 70 persen anak usia sekolah yang duduk di bangku SD. Somalia adalah negara miskin di Afrika yang berpendapatan per kapita hanya 150 dollar AS. Hanya 29 persen penduduk usia sekolah yang duduk di bangku SD dan angka kemiskinan lebih dari separuh penduduknya.

Atlas tembakau 2015 WHO - FCTC (Sumber: GTTS WHO)

Jelas sekali perbedaan di antara ketiga negara tersebut. Apa yang menarik? Menurut Atlas Tembakau yang baru dirilis Organisasi Kesehatan Dunia, ketiga negara itu mempunyai warna yang sama. Hanya ada satu negara di Asia yang mempunya warna abu-abu, yaitu Indonesia. Di Benua Eropa dan benua Amerika (Utara dan Selatan) tidak ada negara yang berwarna abu-abu. Di Benua Afrika, ada empat negara berwarna abu-abu, sama dengan Indonesia, yaitu Afrika Barat, Eritrea, Sudan, dan Somali.

Seluruh negara maju dan berbudaya tinggi sudah berwarna merah, kecuali Amerika Serikat. Namun, Amerika Serikat tidak berwarna abu-abu, sudah berwarna oranye, sudah ikut tanda tangan.

Apa artinya? Sebanyak 180 negara di dunia telah menandatangani/aksesi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control, suatu kesepakatan negara untuk melindungi rakyatnya dari risiko konsumsi tembakau. Seluruh negara maju, negara menengah, dan negara berbudaya tinggi telah berkomitmen melindungi rakyatnya dari risiko penyakit dan pemborosan konsumsi rokok, kecuali Indonesia. Padahal, rakyat Indonesia paling berisiko.

Fakta tembakau Indonesia
Pergelutan tentang tembakau di Indonesia seperti perang gerilya yang tiada henti. Perebutan uang bisnis bahan adiktif rokok  menafikan risiko masa dan produktivitas bangsa. Tahun lalu, rakyat Indonesia membakar uang secara mubazir dengan mengonsumsi rokok sekitar Rp 300 triliun. Jika uang itu digunakan untuk mengirim putra terbaik bangsa bersekolah master di Eropa dan Amerika, 800.000 orang dapat dibiayai.

Jika uang itu dipakai untuk mengirim mahasiswa guna mengikuti program doktor, uang sebesar itu cukup untuk beasiswa 250.000 calon doktor setahun. Bisa dibayangkan dampak masa depan bangsa akan luar biasa hebat jika begitu banyak yang bergelar doktor. Namun, uang sebanyak itu digunakan untuk membakar sekitar 340 miliar batang rokok setahun.

Tertinggi di dunia
Indonesia memang juara I di dunia dalam konsumsi rokok. Sebanyak 67 persen pria dewasa merokok, frekuensi tertinggi di dunia. Juara selanjutnya adalah Rusia (61 persen), Banglades (58 persen), dan Tiongkok (53 persen). Kecuali Banglades, Rusia dan Tiongkok juga juara dalam banyak persaingan kualitas pemudanya, seperti lewat Olimpiade. Indonesia yang merupakan negara terbesar ketiga di Asia dan terbesar di ASEAN hanya menempati urutan ke-17 ASEAN ASIAN Games dan urutan kelima SEA Games. Jelas, tidak sebagus prestasi Rusia dan Tiongkok.

Data survey tembakau Indonesia (2011) menunjukkan bahwa 62 persen mahasiswa dan hampir 50 persen pelajar sekolah menengah atas merokok. Mereka akan berkontribusi besar terhadap penghasilan industri rokok pada masa depan. Apakah uang konsumsi rokok tersebut mengalir kepada petani dan buruh industri rokok? Data menunjukkan bahwa tahun 2000 Indonesia memproduksi 217 miliar batang rokok dan tahun 2013 produksi rokok naik hampir dua kali lipat menjadi 341 miliar batang.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa tahun 2000 kita mengimpor 16,6 persen tembakau yang dikonsumsi. Tahun 2011, impor tembakau naik hampir lima kali lipat menjadi 72,5 persen konsumsi. Rata-rata upah buruh rokok tidak mengalami perbaikan dalam 15 tahun terakhir. Dibandingkan dengan rata-rata upah buruh di seluruh industri, upah buruh rokok tetap saja rendah, yaitu sekitar 25 persen upah industri lain. Jadi, kenaikan konsumsi dan belanja rokok tidak menaikkan kesejahteraan buruh rokok dan petani tembakau. Industri yang menikmati. Sebagian industri besar rokok kini juga dimiliki perusahaan asing.

Cukai dan harga rokok di Indonesia juga masih sangat rendah yang memungkinkan anak-anak sekolah membeli rokok. Sekali mereka kecanduan, untuk 40-50 tahun mereka akan terjerat terus membeli rokok. Bukan main hebatnya bisnis barang adiktif ini. Anehnya, anggota DPR kita kini sedang mempersiapkan RUU Tembakau yang akan mempermudah peningkatan konsumsi rokok. Para pejabat eksekutif juga banyak yang menolak FCTC dengan alasan akan membebani buruh rokok dan petani tembakau. Pemerintah juga belum menarik cukai maksimum dan mematok harga rokok tinggi sesuai dengan filosofi UU cukai.

Balita perokok (Sumber: abcnews.go.com)

Keliru paham
Mengapa negara yang begitu kontras bisa bersikap sama? Sudan dan Somalia masih bergelut dengan perang saudara akibat kemiskinan dan kebodohan. Pantaslah jika mereka belum peduli dengan komitmen dunia dan citra bangsa di dunia. Mengapa pemimpin bangsa ini “buta warna”, tidak mampu melihat beda Indonesia dengan warna negara menengah, negara maju, dan negara berbudaya tinggi di dunia?

Bisa jadi para pemimpin dan penentu negeri ini tidak tahu fakta konsumsi rokok dan FCTC. Bisa jadi para pembisik pejabat tersebut tidak tahu tentang fakta rokok dan FCTC. Bisa jadi mereka tidak sempat membaca, mendalami, dan bertanya tentang fakta konsumsi rokok dan FCTC. Bisa jadi mereka tidak sempat melihat fakta di Thailand yang menandatangani FCTC 10 tahun lalu, tetapi jumlah konsumsi rokok tetap, penerimaan cukai rokok naik empat kali lipat, dan semakin sedikit pemuda yang memulai merokok.

Bisa jadi juga pembisik atau yang punya otoritas pengaturan takut (tidak beralasan) kehilangan bisnisnya dalam industri rokok dan tembakau. Bisa jadi sebagian pejabat, termasuk anggota DPR, memiliki bisnis atau memiliki saham dalam bisnis tembakau dan rokok. Bisa jadi sebagian mereka juga mengambil untung besar dari impor tembakau. Bisa jadi sebagian mereka dalam “mabuk” rokok. Bisa jadi, dan banyak lagi yang bisa jadi. Yang jelas, posisi Indonesia yang sejajar dengan Sudan dan Somalia sangat memalukan bagi penulis.

HASBULLAH THABRANY
Chair, Center for Health Economics and Policy Studies UI

Kompas, Sabtu, 26 September 2015

TIONGKOK – JUTAAN LAKI-LAKI MENINGGAL AKIBAT ROKOK

PARIS, JUMAT – Kebiasaan merokok diperkirakan membunuh sekitar 2 juta warna Tiongkok pada 2030. Jumlah ini dua kali lipat daripada jumlah orang yang meninggal akibat rokok pada 2010. Hal ini disampaikan para peneliti, Jumat (9/10).

Tim peneliti dalam jurnal kesehatan The Lancet menyatakan, kecenderungan saat ini, satu dari tiga pemuda Tiongkok tewas karena merokok. Sementara di kalangan perempuan Tiongkok, hanya ada sedikit perokok dan jumlah kematian juga lebih sedikit.

Dalam artikel milik Zhengming Chen dari Universitas Oxford itu disebutkan bahwa sekitar dua pertiga pemuda Tiongkok menjadi perokok dan dimulai sebelum mereka berusia 20 tahun. Kecuali berhenti merokok, separuh dari mereka akan meninggal karena kebiasaan merokok.

Tiongkok merupakan konsumen rokok terbesar ketiga di dunia (Ingat, Indonesia nomor satu!). Angka kematian di negara itu akibat merokok berada di urutan keenam di dunia.

“Angka kematian tahunan di Tiongkok yang disebabkan tembakau diperkirakan meningkat dari 1 juta orang pada 2010 menjadi 2 juta orang pada 2030, bahkan menjadi 3 juta orang pada 2050, kecuali ada upaya menghentikan kebiasaan merokok secara luas,” tulis para peneliti.

Jumlah kematian akibat merokok pada 2010 terdiri dari 840.000 pria dan 130.000 perempuan. Saat itu, populasi Tiongkok adalah 1,4 miliar jiwa.

Berhenti merokok
Upaya berhenti merokok secara luas merupakan salah satu cara paling efektif bagi warga Tiongkok untuk menghemat biaya. Dengan cara itu, mereka bisa menghindari penyakit dan kematian dini pada beberapa dekade mendatang.

Perokok memiliki tingkat risiko kematian dua kali lipat dibandingkan dengan mereka yang tak pernah merokok. Mereka berisiko lebih tinggi terkena penyakit kanker paru-karu paru, stroke, dan serangan jantung.

Proporsi kematian pria Tiongkok berusia 40-79 tahun akibat merokok meningkat dua kali lipat, dari sekitar 10 persen pada awal 1990-an menjadi mencapai 20 persen pada masa sekarang. Laporan The Lancet menyebutkan, berbeda dengan kaum pria, perempuan usia kerja di Tiongkok yang merokok saat ini justru berkurang daripada generasi sebelumnya.

“Sekitar 10 persen dari perempuan yang lahir pada 1930-an merokok, tetapi hanya satu 1 perempuan yang lahir pada 1960-an yang merokok,” demikian The Lancet.

Peneliti memberikan kesimpulan tersebut berdasarkan data hasil dua penelitian berskala nasional yang respondennya meliputi 730.000 warga Tiongkok. Studi pertama digelar pada 1990-an, sedangkan studi kedua dimulai pada 2006 dan masih berlangsung sampai sekarang (AFP/LOK)

Kompas, Sabtu, 10 Oktober 2015

TUNDA KENAIKAN CUKAI ROKOK – PRODUKSI DAN DAYA BELI TURUN

SURABAYA, KOMPAS – Gubernur Jawa Timur Soekarwo meminta pemerintah menunda kenaikan cukai rokok. Alasannya, kenaikan cukai akan berdampak pada pengurangan pekerja di industri rokok karena produksi dan penjualan semakin merosot.

Soekarwo di Surabaya, Jumat (9/10), menyebutkan, jika cukai rokok tetap dinaikkan sesuai dengan usulan dari Kementerian Keuangan, produsen akan menaikkan harga rokok. Kenaikan harga itu tidak dapat tidak bisa dihindari karena tarif cukai naik. Biaya produksi pun meningkat.

Padahal, hingga Agustus, inflasi Jatim mencapai 2,11 persen, dan situasi ekonomi sedang melambat sehingga daya beli turun. “Jika cukai dipaksakan naik, pasti banyak pabrik rokok gulung tikar dan tembakau petani pun tidak terserap,” ujar Soekarwo.

Ketika cukai rokok naik pada 2014, setiap industri rokok langsung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) buruh berkisar 8-10 orang. PHK di sector industri berbahan baku tembakau tersebut bergulir karena pergantian sigaret keretek tangan ke sigaret keretek mesin. Dua pabrik rokok besar di provinsi ini, hingga September, sudah mengurangi pekerja hingga 18.000 orang.

Oleh karena itu, kata Soekarwo, pemerintah pusat hendaknya mengeluarkan kebijakan sekaligus solusi agar tidak ada pihak atau kelompok yang merasa dirugikan. Apalagi, kontribusi Jatim pada penerimaan cukai secara nasional sejak 2010 hingga 2014 rata-rata di atas 50 persen.

Kementerian Keuangan mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20 Tahun 2015 yang mengatur kenaikan tarif cukai hasil tembakau dari Rp 120,1 triliun menjadi Rp 139,7 triliun. Pada 2014, dari target penerimaan cukai nasional Rp 112,75 triliun, Jatim dengan beberapa pabrik rokok besar dan ratusan industri kecil dapat menyumbang Rp 67,6 triliun, atau 60 persen dari total nasional. Daerah ini merupakan penghasil tembakau terbesar secara nasional.

Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Roko (Gapero) Jatim Sulami Bahar, pihaknya dalam posisi mendukung upaya pemerintah meningkatkan penerimaan negara melalui cukai. Hanya, dalam kasus tahun ini, dengan peningkatan target cukai sebesar Rp 139 triliun itu, akan berisiko meningkatkan peredaran rokok tanpa cukai atau rokok ilegal.

Jual rugi
Apabila kenaikan cukai rokok tidak mampu dipikul pengusaha yang harus menerjemahkan besaran cukai  itu terhadap harga eceran rokok, pengusaha terpaksa jual rugi. Konsumen tidak dengan mudah menerima kenaikan harga rokok eceran. Sementara komponen harga rokok dalam bentuk nilai cukai naik. Peredaran rokok ilegal akan terjadi jika produsen tidak mampu membeli pita cukai yang harganya naik.

“Pada akhirnya yang menanggung kerugian tetap konsumen. Sebab, konsumen tidak akan mendapt jaminan atas kualitas bahan baku rokok, termasuk besaran kandungan nikotin, besaran tar. Konsumen asal membeli rokok murah karena rokok bercukai harganya naik akibat kenaikan harga pita cukai,” kata Sulami.

Ia menambahkan, peredaran rokok ilegal juga akan memukul pengusaha rokok legal, karena di pasar akan terjadi persaingan antara rokok bercukai dan tidak.

Berdasarkan data dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, industri hasil tembakau di provinsi itu dalam periode 2009-2013 turun, setiap tahun sekitar 27,3. Pada 2008, masih ada 4.900 industri rokok. Namun, pada 2013 tinggal sebanyak 790 industri.

Menurut Sulami, rencana pemerintah menaikkan tarif cukai rokok di atas 10 persen pada tahun depan benar-benar menambah beban industri rokok. Pemerintah dianggap terlalu cepat membuat kebijakan yang justru mematikan pelaku usaha di sector rokok, termasuk petani tembakau.

“Pelaku usaha berusaha menolak rencana kenaikan tarif cukai rokok melalui pendekatan musyawarah, dialog dengan pemerintah, hingga mengirim surat. Intinya, pelaku usaha ingin pemerintah benar-benar mau mengerti kondisi industri rokok saat ini,” ucap Sulasmi.

Apalagi, lanjutnya, saat ini, industri rokok sedang terpuruk karena daya beli turun, kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan adanya Peraturan Menteri Keuangan yang mewajibkan untuk membayar dua bulan di depan untuk jatuh tempo pita cukai. (ODY/ETA)


Kompas, Sabtu, 10 Oktober 2015

Monday, 21 September 2015

Sejumput Pasir, Sejuta Kenangan

Suvenir biasanya disimpan sebagai pengingat kenangan. Dibandingkan dengan menyimpan produk suvenir pabrikan, ada orang-orang yang sengaja memilih sejumput pasir sebagai penyambung ikatan alamiah dengan berbagai tempat di dunia.
Oleh MAWAR KUSUMA
Rumah Martin Widjaja dan Fransisca Maria Faats di Tanah Abang, Jakarta Pusat, dihiasi beragam suvenir, mulai dari pin, kerang, hingga gading purba mamut yang dibeli secara legal. Dari pin yang tertempel menyesaki peta dunia, terlihat bahwa pasangan suami istri ini telah mencicipi penjelajahan hampir ke semua negara di dunia.
Namun, harta sesungguhnya dari perjalanan yang ditempuh puluhan tahun ketika berlibur itu justru berupa koleksi pasir. Dari awalnya sekadar sebagai pengingat tempat, pasir kini telah menjadi tujuan utama dari sebuah perjalanan. Berbekal katalog International Sand Collectors, suami istri ini sengaja mengatur agenda wisata demi berburu pasir-pasir unik.
Martin Widjaja dan Francisca Maria Faats (Kompas/Riza Fathoni)
“Tadinya kelihatan sama, tetapi begitu diperhatikan, tidak ada pasir yang sama. Itu yang kasatmata, apalagi kalau dilihat pakai mikroskop. Luar biasa dan saya kaget. Banyak pasir seperti terlihat biasa, tetapi kalau diperhatikan: suatu karya seni yang abadi,” kata Martin.
Tepat di ruang tengah yang membatasi ruang tamu dan ruang keluarga, pasir-pasir dari 1.200 lokasi di dunia itu disimpan dalam beragam botol. Dua lemari penuh berisi koleksi pasir yang sarat cerita. “Kalau olahraga pagi, biasanya sambil ngelihat pasir. Ingat di mana dapat pasirnya. Ini upaya menyenangkan diri. Suatu cara membahagiakan diri,” lanjut Martin.
Di atas meja bar, Martin dan Fransisca meletakkan beberapa botol berisi pasir-pasir yang paling Indah. Beberapa botol menampakkan pasir dengan warna merah yang tak sama. Pasir merah itu berasal dari Wilpattu National Park, Srilanka; Red Beach Pulau Komodo; hingga pasir merah dari kota tua Petra di Jordania.
Fransisca kemudian menunjukkan butiran pasir bulat cantik mirip merica dengan aneka warna merah, hijau, putih, hitam, dan kuning dari Tg Laisumbu, Pantai Maritaing, Alor, NTT. Pantai Pfiffer di California menyajikan keelokan alam dengan pasir ungu bergradasi. Bongkahan pasir dengan ukuran yang lebih besar beragam warna juga bisa dijumpai dari Pulau Maui di Hawaii. Ada pula pasir berwarna kuning yang berasal dari Pantai Swanbourne di Australia.
Pasir-pasir laut yang mengandung besi dari Pasir Grajagan di Banyuwangi dan Pantai Wera, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tampil polos, tetapi sanggup menyajikan keindahan tekstur beragam dengan gradasi warna hitam yang berat. “Kalau kita mengunjungi tempat di dunia, sulit dapat cendera mata lokal. Bahkan, kalau ke Afrika, semua made in China. Enggak ada pasir yang made in China,” ujar Fransisca.
Tidak gratis
Sebagian besar dair koleksi pasir itu diperoleh dengan perjuangan yang tidak mudah. Suatu kali, Martin dan Fransisca bepergian dengan kapal pesiar dari Miami. Pasangan ini hanya boleh membawa koper kecil yang bemudian penuh dengan koleksi pasir. Begitu tiba di Bandara Miami, mereka tertahan berjam-jam di imigrasi karena koleksi pasir yang dibawa harus diperiksa.
“Ada 15 kantong plastik, dites satu per satu dikira obat. Kita lihatin saja, akhirnya lolos, dong. Enak saja, sudah mahal-mahal untuk cari pasirnya. Harus ngotot. Biasanya pasir saya masukkan ke bagasi atau kirim lewat kantor pos,” ujar Martin yang selalu membawa katalog pasir untuk bukti diri sebagai kolektor.
Beberapa sahabat keluarga ini yang berusaha membawa oleh-oleh pasir juga sempat menjumpai kendala serupa, bahkan pasir yang dikumpulkan akhirnya disita. “Di Pulau Karibia, mereka bilang, ‘Kalau seribu orang ambil satu gelas, sudah seribu gelas.’ Sayangnya mereka enggak bisa menunjukkan peraturan tertulisnya. Ada banyak pasir yang saya beli karena dilarang mengambil,” lanjut Martin.
Fransisca lantas membawa sebotol kecil pasir peridot warna hijau yang dibeli seharga 10 dollar Amerika Serikat dari Pantai Olivine di Hawaii. Pasir lainnya berbentuk unik mirip ketumbar berujung lancip dari Pantai North East Island dibeli di toko suvenir Cijin, Taiwan. Perhiasan kalung yang dipakai Fransisca juga berasal dari olahan lava gunung berapi di Islandia dan Canary Island di Spanyol.
Sadar akan keunikan dan keindahan pasirnya, beberapa obyek wisata di luar negeri memang sudah mengemas pasir menjadi suvenir cantik. Ketika mengunjungi Gunung St Helens, Amerika Serikat, mereka membeli pasir debu dari letusan gunung yang dibagi dalam kategori letusan 5 miles, 22 miles, dan 250 miles. Dari suvenir pasir itu tampak bahwa semakin jauh letusan, semakin halus pasirnya.
Selain Kepulauan Seribu yang punya aturan larangan pengambilan pasir pantai, pasir di Indonesia cenderung bebas diambil. Namun, kerusakan alam akibat pengambilan pasir cantik dari pantai untuk dijual sebagai hiasan akuarium sudah terjadi di beberapa pantai. Pasir mirip biji merica di Pantai Kuta, Lombok, misalnya, sudah habis dijual di Jakarta.
Padahal, pasir Pantai Kuta, Lombok, dengan perpaduan warna abu-abu, hijau, dan kuning itu yang pertama kali membuat Martin jatuh cinta sebelum akhirnya memutuskan menjadi kolektor pasir. Pada 1994, hamparan pasir biji merica ini dengan mudah bisa dijumpai ketika keluarga mereka berlibur. “Sekarang cari ini susah. Saya kembali ke sana mesti gali 1 meter. Yang di atas tinggal pasir biasa,” kata Martin dengan nada sedih.
(Kompas/Riza Fathoni)
Rekor dunia
Ketika ditemui di rumahnya, Martin dan Fransisca masih menunggu proses pengeringan pasir yang baru saja diambil dari Karimun Jawa. Pasir Pantai Karimun Jawa berwarna putih bersih, tapi gunung-gunungnya berwarna merah muda. Biasanya, pasir harus dicuci lalu dikeringkan selama tiga hari agar tidak amis sebelum masuk botol.
Demi pasir pula, Martin mengajak keluarganya berkendara menyusuri pantai utara Jawa selama tiga minggu. “Yang tercantik adalah pasir pink dari Pulau Komodo, mirip dengan pasir dari Bermuda. Mirip, warnanya, tetapi beda. Bermuda itu bukit-bukitnya memang merah. Kalau Pulau Komodo, pink karena bunga karang,” ujar Martin.
Untuk koleksi pasirnya yang luar biasa banyak, Martin dan Fransisca mendapat piagam penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai kolektor pasir terbanyak dari 1.000 lokasi di seluruh dunia pada 2011. Koleksinya terus bertambah dan diharapkan bisa mencapai lebih dari 1.864 lokasi untuk memecahkan The Guinness World Records.
Sebelumnya, suami istri ini juga tercatat di MURI sebagai kolektor tanduk kerbau terbesar dengan panjang sebelah kiri 1,4 meter dan panjang sebelah kanan 1,5 meter (2006); kunjungan gereja terbanyak 1.230 lokasi di 33 provinsi (2011); kolektor gading mamut berukir terbesar, panjang 2,7 meter dan berat 40 kilogram (2006); serta orang Indonesia yang mengunjungi Hard Rock Café terbanyak di seluruh dunia, 125 Hard Rock Café dari 158 lokasi. à kok bisa?
Selanjutnya, pasir akan tetap menjadi tujuan utama perburuan wisata mereka ke seluruh dunia. Bagi pecintanya, setiap botol pasir meluapkan kisah perjalanan dan nostalgia tentang manis dan pahitnya hidup. Kisah yang terlalu berharga jika hanya dilekatkan pada produk pabrikan.
Kompas, Minggu, 20 September 2015

Sunday, 20 September 2015

Mencintai Indonesia dari Luar dan Dalam

JAKARTA, KOMPAS – Gerakan Kebaikan Indonesia diluncurkan pada Jumat (18/9) malam. Harapannya, gerakan itu bisa menghubungkan orang-orang Indonesia yang berada di dalam dan luar negeri untuk sama-sama membangun bangsa dan negara.
Sekretaris Gerakan Kebaikan Indonesia Nugroho Dewanto menjelaskan, gerakan ini lahir dari kecintaan anak-anak Tanah Air untuk berkontribusi kepada masyarakat. Gerakan itu tak seperti organisasi masyarakat yang bersifat keanggotaan, tetapi serangkaian jaringan antarpenduduk Indonesia.
“Kami berjejaring antara lain dengan petani, perajin, dan pengusaha dari dalam negeri. Terkadang, mereka kebingungan mencari informasi tentang teknologi dan tren global terbaru,” kata Nugroho.
Di samping itu, terdapat orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri karena kuliah, bekerja, ataupun menikah dengan orang asing yang ingin membantu Indonesia, tetapi tidak memiliki akses. Hal itu misalnya ingin membuat klinik, perpustakaan, ataupun usaha kecil dan menengah untuk membantu masyarakat di daerah-daerah miskin.
“Gerakan Kebaikan Indonesia bertindak sebagai mediator yang menghubungkan orang-orang tersebut dengan pihak-pihak terkait, seperti pemerintah kabupaten/kota dan individu-individu yang bisa memungkinkan terwujudnya niat tersebut,” ujar Nugroho.
Surat
Sebagai salah satu bukti keinginan untuk membantu tersebut, Gerakan Kebaikan Indonesia menerbitkan buku Surat dari Rantau yang berisi surat-surat dari 26 orang Indonesia yang tinggal di luar negeri. Para penulis surat tersebut sukses di bidang masing-masing. Latar belakang mereka pun beragam, ada yang pengusaha, ilmuwan, pemain film, dan mantan tenaga kerja Indonesia. Mereka berbagi pengalaman dan saran dalam membantu bangsa. Surat-surat itu dibacakan pemain film Olga Lidya dan Sha Ine Febriyanti, sosiolog Universitas Indonesia Imam Prasodjo, serta Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri.
Paul Sumitro (Sumber: Linkedin)
Salah satunya adalah surat dari S. Paul Sumitro, insinyur sipil kelahiran Singkawang, Kalimantan Barat. Paul yang kini berkewarganegaraan Jepang dan tinggal di Amerika Serikat itu tetap merasa bahwa dirinya adalah putra Indonesia. Setiap tahun, ketika pulang ke Indonesia untuk mengunjungi sanak saudara, ia juga menyempatkan diri mengajar sebagai dosen tamu di beberapa perguruan tinggi.
Astrid Saraswati Vasile (Sumber: GV Constructions)
Juga ada surat dari Astrid Saraswati Vasile yang bekerja sebagai kontraktor bangunan di Australia. Ia menerangkan sistem pembangunan infrastruktur di Australia yang bisa diterapkan di Indonesia demi memperbaiki sistem agar berguna bagi semua lapisan masyarakat.
Anggota Dewan Pengawas Gerakan Kebaikan Indonesia, Bina Bektiati, mengatakan di dalam pidato sambutannya, diaspora Indonesia merupakan kekuatan yang patut dimanfaatkan. Jejaring itu bisa diakses lewat situs www.kabar-rantau.com dan www.salam-indonesia.com. (DNE)
Kompas, Sabtu, 19 September 2015

Sunday, 13 September 2015

Jejak Kerja Keras di Jalan Toko Tiga

Oleh MOHAMMAD HILMI FAIQ

(Sumber: 108jakarta.com)

Jalan itu tak lurus. Tak lebar. Bahkan terbilang pendek karena hanya membentang sekitar 500 meter. Namun, di jalan itu tersimpan cerita kegigihan, kedermawanan, keuletan, dan ketokohan Oey Thai Lo, pemilik Toko Tiga. Itulah Jalan Toko Tiga, Jakarta.

Nama Toko Tiga mengilhami munculnya Jalan Toko Tiga yang menghubungkan Jalan Tambora dan Jalan Pintu Kecil di Kelurahan Roa Malaka, Tambora, Jakarta Barat. Lebar jalan mencapai 5 meter tetapi mobil dan sepeda motor kesulitan melaju lantaran sebagian ruas jalan dialihfungsikan sebagai lahan parkir.

Siang itu, Rabu (9/9), puluhan mobil berjajar di tepi Jalan Toko Tiga, persis di bibir Kali Krukut. Sebagian orang meninggalkan mobil di sana. Sebagian lain sibuk membongkar atau memuat berbagai jenis barang ke dalam mobil boks atau truk yang datang silih berganti seakan tiada habis.

Di seberang mobil-mobil parkir itu berderet berbagai toko, mulai dari toko mesin jahit, kertas, sepatu, peralatan memancing, perlengkapan rumah tangga, mebel, tembakau, hingga apotek. Hingga malam, jalan ini masih sangat ramai. “Kalau tengah malam agak sepi. Pagi ramai lagi,” kata Rosyid (26), juru parkir.

Jalan Toko Tiga sudah terkenal ramai oleh perdagangan, paling tidak sejak 1819, kala Oey Thai Lo memenangi lelang pembelian Toko Tiga dan mengembangkan usaha tembakau di sana. Sayangnya, tapak bangunan Toko Tiga ini susah dilacak.

Ketika bertanya kepada warga, mereka menganjurkan pertanyaan tersebut diajukan kepada Lilik Marjono (56), warga Jawa Tengah, yang sudah sejak umur lima tahun tinggal di Roa Malaka. Lilik meyakini, Toko Tiga milik Thai Lo itu telah berubah menjadi beberapa toko. Itu bisa dilihat dari sisa bangunan yang kini menjadi Toko Lautan Mas di Jalan Toko Tiga Nomor 24. “Sejak saya kecil, toko itu yang paling besar di sini,” kata Lilik.

Di sepanjang Jalan Toko Tiga, tinggal satu bangunan tua berarsitektur Tiongkok yang beratap runcing. Bangunan itu sudah “dicacah-cacah” menjadi setidaknya enam toko, yaitu Embossindo Utama, Sinar Saudara, Sinar Saudara Baru, Lautan Mas, Bintang Mas, dan Universal. Hanya toko peralatan pancing Lautan Mas yang masih mempertahankan sebagian arsitektur luar bangunan asli.

“Dulu ini memang toko tembakau, tapi saya tidak tahu namanya. Setelah kerusuhan 1998 berubah menjadi toko peralatan pancing,” kata Jimmy Halim (38), petugas keamanan Lautan Mas.

Keluarga Thai Lo pun tidak mengetahui lagi letak tapak bangunan Toko Tiga yang sempat membesarkan nama Thai Lo itu. Oey Kwie Djien alias Robert R Widjaja (78) menjelaskan, dia tidak pernah tinggal di Toko Tiga. Namun, ayahnya, Oey Kim Tjiang, pernah tinggal di sana hingga tahun 1920-an. Kim Tjiang merupakan cicit dari Thai Lo.

Robert yang merupakan pendiri dan pemilik  PT Tigaraksa Satria juga tak ingin mencari lagi sisa-sisa bangunan Toko Tiga itu. “Sudah sangat sulit. Saya khawatir malah bangunannya sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Meski demikian, nama Toko Tiga kadung melekat, tidak hanya menjadi nama jalan, tetapi seolah menjadi penanda. Banyak toko di sepanjang jalan ini menggunakan label “Toko Tiga” pada papan namanya. Selain itu, keteladanan Thai Lo tetap hidup di keluarga Robert. Dia mendengar cerita tentang kegigihan, kedermawanan, keuletan, dan ketokohan Oey Thai Lo lewat ayah, ibu, dan kakeknya.

(Kompas/Lucky Pransiska)

Novel sejarah
Robert kemudian mencari rujukan dan bukti sejarah cerita-cerita tentang Toko Tiga sehingga muncul novel berbasis sejarah dalam Letnan Oey Thai Lo: Anak Tukang Cukur Miskin dari Fukien Menjadi Taipan di Betawi (2015). Buku itu melibatkan Remy Sylado sebagai editor. Dikisahkan, Oey Thai Lo yang bernama asli Oey Yi Bu adalah anak seorang tukang cukur di Jinjiang, Provinsi Fukien, Tiongkok selatan. Dia lalu merantau ke Jawa dan menjadi pengusaha tembakau di Brebes, Jawa Tengah.

Usahanya terbilang kecil karena masih berada di bawah tauke besar. Namun, nasib Thai Lo berubah setelah bertemu dengan seorang anak yang tengah bermain layang-layang. Robert menceritakan, Thai Lo melihat seorang anak bermain layang-layang bergambar angka 100. Saat itu sekitar tahun 1812. Dia menilai gambar itu aneh dan menduganya sebagai surat utang Belanda yang digunakan selama  membangun jalan Postweg yang membentang dari Anyer sampai Panarukan. Thai Lo tertarik dan menukarnya dengan sekeping tembaga.

Anak itu bersedia dan bercerita bahwa ayahnya menyimpan sepeti kertas serupa. Thai Lo lantas menukar seluruh kertas yang jumlahnya 354 lembar itu dengan sejumlah uang. Benar saja, kertas tersebut ternyata surat utang Gubernur Daendels yang ia keluarkan dengan jaminan tanah di Probolinggo, Besuki, dan Panarukan. Thai Lo menjadi orang kaya setelah menjualnya ke Batavia.

Dengan uang itu, dia mengembangkan usaha tembakau dan membantu menyejahterakan petani. Dengan hasil usahanya itu pulalah, Thai Lo berani ikut lelang Toko Tiga dan secara mengejutkan memenanginya, mengalahkan para taipan lain. Ketika yang lain menawar dengan kenaikan harga 200 gulden, Thai Lo yang namanya belum dikenal di Batavia berani menawar dengan kenaikan 500 gulden. Toko Tiga dia beli seharga 9.000 gulden.

Toko Tiga menjadi tonggak baru usaha penjualan tembakau Thai Lo. Disebut Toko Tiga karena bangunan tersebut terdiri atas tiga bangunan yang berfungsi sebagai toko dan rumah. “Sebelum dibeli Thai Lo, namanya sudah Toko Tiga,” kata Robert.

Berpusat di Toko Tiga, Thai Lo menjadi raja tembakau. Dia menguasai pasar tembakau di Batavia, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Keuntungannya mencapai 283.000 gulden. Waktu itu, harga ruko berukuran 140 meter persegi hanya sekitar 1.000 gulden.

Meski demikian, Thai Lo berpenampilan sederhana sehingga, di luar jaringan bisnisnya, tak banyak orang mengenal dia sebagai orang kaya. Dia juga sangat dermawan, tetapi perhitungan. Setiap kelenteng dia sumbang, tetapi disurvei dulu untuk mengukur kebutuhannya. Keluhuran budinya itu mendorong Kapiten Betawi Ko Tiang Tjong mengangkatnya menjadi Letnan Oey Thai Lo.

Banyak orang tidak pernah tahu atau lupa dengan Thai Lo. Namun, warga Jakarta lebih kenal dengan Jalan Toko Tiga. Jalan yang sekarang ini padat, bahkan cenderung semrawut dan dipenuhi para pekerja keras. Itulah salah satu semangat Thai Lo yang masih menjejak: kerja keras!

Dari kanan ke kiri: Robert B Widjaja, bersama istri, Ninik L Kariem dan Remy Sylado dalam acara peluncuran buku  Letnan Oey Thai Lo: Anak Tukang Cukur Miskin dari Fukien Menjadi Taipan di Betawi (Sumber: Jakarta Post)

Bangunan cagar budaya yang masih tersisa di Jalan Toko Tiga, Jakarta, Kamis (10/9). Kawasan ini merupakan pusat perniagaan yang menyisakan bangunan cagar budaya.
Bangunan cagar budaya yang masih tersisa di Jalan Toko Tiga, Jakarta, Kamis (10/9). Kawasan ini merupakan pusat perniagaan yang menyisakan bangunan cagar budaya. (Kompas/Lucky Pransiska)

KOMPAS, Minggu, 13 September 2015