Monday, 31 August 2015

Anak-anak Penantang Maut

Beberapa hewan dibesarkan di lingkungan yang sangat ekstrim, bahkan mengancam nyawa. Bebek Harlequin (Histrionicus histrionicus) bersarang di dekat sungai berarus deras. Satu atau dua hari setelah menetas, anak bebek akan dibimbing induknya masuk ke sungai.
Bebek Harlequin (Sumber: Wikipedia)
Kambing gunung (Oreamnos americanus) dilahirkan di pegunungan berbatu dengan kemiringan nyaris vertical. Sejak kecil, kambing ini harus memiliki keberanian menapak di tebing bersama induknya. Resiko kematian tentu saja tinggi, meski sang induk selalu berusaha melindungi anaknya dengan menjadi ‘pagar’ di sepanjang perjalanan anaknya.


Yang paling gila mungkin adalah orangtua angsa teritip (Branta leucopsis). Angsa bersarang di atas tebing batu dengan tujuan menghindari pemangsa.Sebagaimana angsa lainnya, induk tidak memberi makan anaknya, tetapi membimbing anak untuk mencari makan. Mau tidak mau, anak angsa yang baru berumur dua-tiga hari dipaksa untuk melompat dari tebing batu. Bulu yang tebal dan tubuh yang ringan mungkin bisa membantu, tetapi tidak dapat sepenuhnya menyelamatkan semua anak bebek yang terjun menghantam bebatuan di bawah tebing.
  

… dan ternyata manusia tidak mau kalah.
(Sumber: Suara Surabaya)


Monday, 17 August 2015

HR Mohamad Mangoendiprodjo

Jalan HR Mohamad Mangoendiprodjo, Sidoarjo, merupakan salah satu jalan utama yang menghubungkan Surabaya dengan Sidoarjo dan kota-kota lainnya di selatan Sidoarjo. Namun, profil tokoh yang dijadikan nama jalan ini sepertinya kurang terdengar dibandingkan dengan pemimpin perang lainnya, misalnya Mayjen Sungkono dan Jendral Urip Sumoharjo. Berikut adalah cerita singkat mengenai profil HR Mohamad Mangundiprojo (ejaan baru).
Haji Raden Mohamad Mangundiprojo lahir di Sragen, Jawa Tengah, pada 5 Januari 1905. Beliau adalah cicit Setyodiwiryo atau Kiai Ngali Muntoha, salah seorang keturunan Sultan Demak. Setyodiwiryo sendiri merupakan teman seperjuangan Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda.
Mohamad, panggilan akrab HR Mohamad Mangundiprojo, saat kecilnya sudah mengenyam pendidikan yang diwarnai adat sopan santun mengingat suasana lingkungan keluarga masih diwarnai tradisi jawa. Menyadari masa depan seorang anak banyak ditentukan oleh pendidikan dan faktor keturunan, pada tahun 1913, Sastromarjono, ayah Mohamad, terdorong untuk menyekolahkan anaknya di Eurpese Lager School (ELS) di Solo. Namun, pada tahun 1915, Mohamad dipindahkan ke ELS di Sragen, dengan pertimbangan pendidikan agamanya. Di Sragen, Mohamad bisa dititipkan di rumah kakak ayahnya, yang seorang ulama.
Pada tahun 1921, Mohamad lulus dari ELS dan melanjutkan ke Sekolah Teknik di Yogyakarta. Namun, Mohamad tidak sampai lulus di sekolah ini karena tidak berbakat di bidang teknik. Mohamad melanjutkan sekolahnya di Opleiding School Voor Inlandse Ambtenaren (OSVIA) di Madiun dan lulus pada tahun 1927.
Karirnya sebagai pamong praja dimulai sebagai pelayan wedana Gorang Gareng di Madiun, Mantri Polisi Lapangan di Lamongan, Wakil Kepala Jaksa Kalisosok Surabaya, dan pada tahun 1934 menjadi Asisten Wedana Diwek di Jombang.
Pada masa pendudukan Jepang, Mohamad terpanggil untuk mengikuti pendidikan PETA dan diangkat menjadi daidancho (komandan batalyon) di Daidan III Sidoarjo.
Pada 4 September 1945, Mohamad turut membentuk BKR di Jawa Timur, yang terbagi menjadi tiga eselon, yakni BKR Jawa Timur, BKR Karesidenan Surabaya, dan BKR Kota Surabaya. BKR Jawa Timur diketuai oleh Mustopo, sementara Mohamad menjadi bendahara dan Kepala Urusan Angkatan Darat.
BKR Karesidenan Surabaya diketuai oleh Abdul Wahab. Saat penyerangan Markas Kempetai 1-2 Oktober 1945, Abdul Wahab tertembak pahanya sehingga tidak bisa melanjutkan perjuangan. Posisi Abdul Wahab setelah itu digantikan oleh wakilnya, RM Yonosewoyo. Sedangkan BKR Kota Surabaya dipimpin oleh Sungkono.
Selain menjadi salah satu pemimpin di BKR, Mohamad juga menjadi wakil ketua Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) yang diketuai Dul Arnowo.
Peristiwa 10 November 1945
Bagaimana keterlibatan Mohamad Mangundiprojo dalam perang besar 10 November 1945? Berikut kronologis menjelang hingga pasca perang besar 10 November 1945:
24 Oktober 1945: Armada laut Inggris tiba di perairan Surabaya, beberapa di antaranya bahkan langsung mendarat di Tanjung Perak. Pasukan Inggris itu dipimpin oleh Brigadir Jendral AWS Mallaby, yang bertugas mengangkut keluar para tawanan perang asing dari Surabaya, baik orang asing yang ditawan oleh Jepang maupun tentara Jepang yang sudah takluk. Dengan diantar dr Sugiri, Mallaby mendatangi Kantor Gubernur. Di pusat pemerintahan Surabaya itu Mallaby bertemu dengan Mustopo, M Yasin, dan Sutomo (Bung Tomo). Sebagai Ketua BKR, Mustopo kurang nyaman dengan hadirnya pasukan asing di tanah Surabaya. Karena itu, saat merundingkan bagaimana cara pasukan Mallaby bisa menunaikan tugasnya dalam menjemput tawanan, Mustopo mengusulkan pasukan Indonesia yang akan mengantar para tawanan ke pelabuhan. Mallaby menolak usulan tersebut dan bersikeras memasukkan pasukannya ke dalam kota.
drg Mustopo, Dul Arnowo, dan Sutomo (Bung Tomo)
Mohamad Yasin
Beberapa kali perundingan di hari berikutnya gagal mendapatkan titik temu. Mallaby membawa pasukannya masuk kota dan menduduki tempat-tempat strategis. Rakyat Surabaya pun marah dengan kehadiran pasukan asing itu. Mustopo mengatur siasat perang kombinasi himitsu senso sen (perang rahasia) dan senga sen (perang kota). Sebagai akibatnya, pasukan Inggris terisolasi di lokasi-lokasi tertentu akibat blokade rakyat Surabaya.
28 Oktober 1945: Melihat pasukannya dalam bahaya, Mallaby meminta bantuan untuk mendatangan tokoh kuat di luar Surabaya untuk bisa merundingkan gencatan senjata. Maka dari pusat didatangkan Sukarno, Hatta, dan Amir Syarifuddin dengan pesawat terbang.  Setibanya di Lapangan Udara Morokrembangan, Surabaya, ketiganya segera dilarikan ke rumah Residen Sudirman di Van Sandicctstraat (sekarang Jalan Residen Sudirman).
29 Oktober 1945: Ketiga petinggi negara datang ke rumah dinas Gubernur (Grahadi). Sebelum Mallaby datang, ketiganya dipertemukan dengan Mustopo, yang dianggap sebagai pemicu pertempuran dengan pasukan Inggris di Surabaya. Karena dinilai bersalah, Mustopo dipecat dari jabatannya oleh Presiden Sukarno dan dipindahkan ke Jakarta menjadi penasihat Presiden. Jabatan Panglima TKR Jawa Timur secara otomatis digantikan oleh Urusan Angkatan Darat (dan Keuangan), yakni Mohamad Mangudiprojo.
[Belakangan, pengangkatan otomatis mendapatkan perlawanan dari Ketua BKR Karesidenan Surabaya, RM Yonosewoyo, yang merasa lebih cocok menggantikan posisi Mustopo sebagai Ketua BKR Jatim.]
Selanjutnya dilakukan perundingan dengan Mallaby yang intinya percepatan dilakukannya gencatan senjata. Seruan gencatan senjata disiarkan melalui Radio Pemberontakan Rakyat Surabaya di Jalan Mawar 10.
30 Oktober 1945: Perundingan lebih lanjut membahas pengangkutan tawanan dilakukan di  Kantor Gubernur. Dalam perundingan itu hadir pula Mayor Jendral DC Hawthorn yang datang dari Jakarta hari itu juga. Sebagai hasilnya, pasukan Mallaby diperbolehkan mengangkut tawanan dari setiap titik tempat tawanan dengan mobil-mobil pasukan Inggris. Untuk mengawasi pelaksanaan pengangkutan itu dibentuklah kontak biro yang beranggotakan petinggi pasukan Inggris dan pemerintah Kota Surabaya. Mohamad Mangundiprojo termasuk kontak biro tersebut, bersama Residen Sudirman, Dul Arnowo, Atmaji, Sungkono, Suyono, Kusnandar, Ruslan Abdulgani, dan TD Kundan.
Setelah kesepakatan ditandatangani oleh Hawthorn dan Sukarno, maka Hawthorn dan rombongan Presiden Sukarno pun meninggalkan Surabaya siang itu juga, kembali ke Jakarta. Kontak biro mulai bekerja untuk mengamankan situasi dengan mendatangi area yang masih menjadi ajang baku tembak senja hari itu. Dengan beberapa mobil dari gedung Gubernur mereka menuju ke Jembatan Merah. Di Societeitstraat (sekarang Jalan Veteran), rombongan beberapa kali terhadang pemuda-pemuda Surabaya. Dul Arnowo dan Residen Sudirman memberikan penerangan kepada para pemuda itu.
Gedung Internatio di sebelah barat lapangan Jembatan Merah diduduki tentara Inggris, yang dikurung oleh rakyat Surabaya. Namun, pasukan Gurkha itu masih terus memberikan perlawanan. Dari kontak biro diutus Kapten Shaw, Mohamad, dan TD Kundan (warga Surabaya keturunan India) untuk masuk ke gedung dan bernegosiasi. Belum ada 15 menit, TD Kundan tiba-tiba lari keluar dan berteriak menyuruh semua orang di lapangan berlindung. Teriakan Kundan segera diikuti dengan rentetan tembakan dari dalam gedung. Baku tembak pun terjadi. Anggota kontak biro pun lari menyelamatkan diri. Mohamad disekap di dalam gedung.
Gedung Internatio
Jembatan Merah
31 Oktober 1945: Mobil Mallaby ditemukan hangus terbakar. Sang jendral ditemukan tewas di dalamnya. Mohamad dilepaskan dari penyekapan. (Brata, 2012)
Brigadir Jendral AWS Mallaby
Kondisi mobil yang ditumpangi Mallaby, setelah terbakar
9 November 1945: Mayor Jendral EC Mansergh, pengganti Mallaby, mengultimatum rakyat Surabaya untuk menyerahkan senjata tanpa syarat. Ultimatum ini ditolak mentah-mentah oleh rakyat Surabaya.
Mayor Jendral EC Mansergh
10 November 1945: Inggris membombardir Surabaya dari darat, laut, dan udara. Semula Inggris mengira perang tidak akan berkepanjangan, tetapi ternyata perang tersebut berlangsung selama 22 hari. Pada akhir November 1945, para pejuang Indonesia baru terdesak keluar dari Gunungsari dan Waru. Pada Desember 1945, masih ada beberapa perlawanan di Gedangan dan Krian. Selama pertempuran itu,  6.315 pejuang Indonesia tewas. Mohamad sendiri terluka pada bagian pelipis akibat pecahan mortir, namun tetap memimpin pertempuran melawan sekutu.
Karena perannya tersebut, Mohamad diangkat menjadi Kepala Komandemen III TKR Jawa Timur dengan pangkat Jenderal Mayor, berdasarkan Surat Keputusan Kepala Markas Tertinggi TKR No. 44/M.T tanggal 19 Desember 19451.
Mayor Sabarudin
Mohamad disebutkan memiliki andil besar dalam pengambilalihan aset pribadi orang-orang Belanda yang tersimpan di Bank Escompto senilai 100 juta gulden, yang kemudian digunakan untuk dana perjuangan. Informasi keberadaan uang tersebut diperoleh dari dr Samsi Sastrawidagda. Karena hubungan dr Samsi yang dekat dengan pemimpin pemerintahan Jepang di Surabaya, ia berhasil membujuk mereka untuk menyerahkan uang tersebut pada pemerintah Republik Indonesia. Maka disusunlah rencana pengambilan dana tersebut oleh BKR dengan “kekerasan”. Operasi “penggedoran” berjalan lancar. Berpeti-peti uang gulden dalam waktu singkat dipindahkan dari bank ke Markas BKR di gedung HVA (sekarang gedung PTP Jalan Merak). Menjelang pendaratan tentara Inggris di Surabaya, Mohamad memindahkan uang tersebut keluar kota, dititipkan pada seorang haji di Porong, Sidoarjo, kenalan baik Mohamad.
Dengan dana sebesar itu, posisi Mohamad memiliki pengaruh besar di kalangan organisasi bersenjata di Surabaya. Sebab, melalui Mohamad, tiap pasukan di Surabaya bisa memperoleh bantuan keuangan.
Mohamad pernah mengalami konflik dengan Mayor Zainal Sabarudin Nasution. Nama mayor ini cukup ditakuti di Karesidenan Surabaya pada masa perang kemerdekaan dan dijuluki Macan Sidoarjo karena sifatnya yang kejam dan bengis. Saat masih di Daidan III Buduran Sidoarjo, sebenarnya Sabarudin shodancho (komandan peleton)  bawahan Mohamad.
Sabarudin paling sering mendatangi Markas BKR Jawa Timur untuk meminta dana perjuangan. Mohamad sebagai bendahara BKR menolak permintaan itu sebelum Sabarudin dapat mempertanggungjawabkan uang yang telah diterima sebelumnya. Kesal karena permintaannya ditolak, Sabarudin pun menyebar fitnah yang menyebut Mohamad korupsi dan mata-mata Belanda. Mohamad pada awalnya diam saja. Namun, begitu mendengar Bupati Sidoarjo dan Mojokerto ditawan Sabarudin, kesabarannya habis. Sebagai Ketua Dewan Pertahanan Rakyat Indonesia (DPRI), Mohamad membuat surat perintah penangkapan Sabarudin. Sabarudin melaporkan masalah surat itu ke Urip Sumoharjo di MBT Yogyakarta. Urip kemudian menelepon Mohamad untuk meminta pencabutan surat perintah. Mohamad menjawab bahwa sebagai tentara, dia wajib menaati perintah Urip, tetapi sebagai ketua DPRI yang bertanggung jawab atas kondisi pertahanan dan keamanan di Surabaya, dia terpaksa menolak perintah tersebut. Urip kemudian meminta Mohamad segera datang ke MBT Yogyakarta untuk menjelaskan dan mempertanggungjawabkan tindakannya. Pada 29 Januari 1946, Mohamad menyanggupi untuk datang.
Ternyata, informasi kedatangan Mohamad ke MBT diketahui oleh Sabarudin. Pasukan Sabarudin berusaha mendahului Mohamad ke MBT. Pagi hari, sebelum Mohamad datang, pasukan Sabarudin sudah melumpuhkan pasukan kawal MBT. Sabarudin memang memiliki pasukan yang kuat. Batalyon PTKR Sabarudin bukan saja memiliki persenjataan yang lengkap untuk ukuran masa itu, tetapi juga memiliki anggota pasukan yang kompak. Mohamad yang merasa dirinya sudah terkepung tetap membulatkan tekad untuk menghadap para pemimpin TKR. Mohamad harus menunggu di ruang tunggu, karena saat itu Jenderal Sudirman dan Letjen Urip Sumoharjo sedang memimpin rapat staf. Di ruang tunggu tersebut, Mohamad didatangi tiga perwira yang merupakan anak buah Sabarudin. Terjadilah pergumulan tiga lawan satu. Melihat ketiga perwira tadi kewalahan menghadapi Mohamad, datang tiga orang anak buah Sabarudin lainnya untuk melumpuhkannya. Beberapa kali tembakan sempat dilepaskan, tetapi tidak berhasil merobohkan Mohamad. Mohamad baru jatuh tersungkur setelah sebuah hantaman popor senjata mengenai tengkuknya. Tubuh Mohamad diseret ke halaman MBT, dianiaya dengan tendangan, dan kemudian dilempar ke atas truk.
Ajudan Mohamad, Kapten Susilo, dan supir Kurdi yang menyertai Mohamad saat itu juga sudah dilucuti dan diangkut ke atas truk yang sama, dan kemudian dilarikan ke Jawa Timur.
Aksi pasukan Sabarudin di MBT, mulai dari melumpuhkan pasukan kawal hingga ke penculikan Mohamad, dilakukan dengan cepat dan rapi, sehingga para perwira yang sedang rapat tidak mengetahui. Mereka baru tahu setelah mendengar bunyi letusan senjata beberapa kali. Setelah situasi reda, baru para perwira itu meninggalkan ruang rapat untuk melihat situasi di luar. Tetapi, saat mereka keluar, pasukan Sabarudin sudah kabur membawa Mohamad.
Kabar keributan dan penculikan itu terdengar oleh Presiden, yang lantas memerintahkan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Divisi VI yang dipimpin Kolonel Sudiro untuk menyelamatkan Mohamad. Sudiro kemudian memerintahkan Resimen Madiun, yang dipimpin Letkol Sumantri, dan Resimen Kediri, yang dipimpin Letkol Surachmad, untuk melakukan pencegatan terhadap konvoi Sabarudin tersebut.
Konvoi Sabarudin berhasil lolos dari pencegatan di Madiun. Akhirnya,  pasukan Surachmad, yakni kompi Polisi Tentara yang dipimpin Heri Harsono berhasil mencegat konvoi tersebut di jembatan Kertosono. Mangundiprojo pun dibebaskan dan pasukan Sabarudin dibiarkan kembali ke markasnya di Pacet, Mojokerto. Mohamad kemudian dibawa ke Kediri untuk diobati. (Baiquni, 2013)  
MBT, dan DPRI (Dewan Pertahanan Rakyat Indonesia) yang bermarkas di Mojokerto tidak tinggal diam melihat Mohamad, selaku ketua DPRI diperlakukan seperti itu. Dua hari setelah penculikan, DPRI mengirimkan pasukan gabungan yang terdiri atas Pasukan Perjuangan Polisi, Pasukan Pesindo, Hizbullah, dan Laskar Minyak, untuk menyerang markas Sabarudin di Pacet (Rahardja, 2015).
Pasukan Sabarudin menyerah tanpa perlawanan berarti terhadap sergapan pasukan gabungan tersebut. Sedangkan Sabarudin dan salah seorang tangan kanannya, Ali Umar, yang sempat melarikan diri, dapat ditangkap di simpang empat Mojosari, antara Mojokerto dan Porong. Kapten Susilo dan Kopral Kurdi yang ditawan saat penculikan di MBT dapat dibebaskan dalam penyergapan itu (Brata, 2008).
[Versi yang lain mengaitkan dengan perseteruan antara Mohamad dan RM Yonosewoyo, yang adalah pemimpin Sabarudin di jajaran TKR Karesidenan Surabaya. Yonosewoyo pernah memerintahkan penangkapan dan pembunuhan Mustopo di akhir September 1945, dengan alasan Mustopo, selaku pemimpin TKR Jawa Timur mentalnya sudah tidak sehat lagi sehingga menyulitkan bawahan dalam melaksanakan tugasnya. Namun, Sabarudin tidak sampai membunuh Mustopo karena merasa berhutang budi. Saat Sabarudin akan dikirim ke Bogor untuk dihukum mati oleh Jepang, Mustopo pernah menolong dan membebaskannya. Sabarudin kemudian membawa Mustopo ke hadapan tiga pemimpin bangsa yang datang ke Surabaya untuk mengatur gencatan senjata (Brata, 2008).
Pengangkatan otomatis Mohamad sebagai Kepala TKR Jawa Timur ditentang oleh Yonosewoyo. Menurutnya, masalah pengganti Mustopo harus dicari melalui jalur pemilihan yang demokratis. Perseteruan ini yang kemudian ikut melatarbelakangi aksi penculikan oleh Sabarudin. Yonosewoyo mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut sehingga Mahkamah Tentara Agung, melalui Surat Keputusan No. 1/1947 tanggal 16 Mei 1947, menjatuhkan hukuman penjara 18 bulan  dan memberhentikan Yonosewoyo dari jabatan dan pangkat militernya.]
Pasca militer
Setelah mengakhiri karir militer, Mohamad ditugaskan menjadi Bupati Ponorogo dengan masa bakti 1950-1955. Salah satu misinya adalah mengamankan daerah Madiun pasca pemberontakan PKI 1948 (Nur Jannah, 2015). Mohamad selanjutnya menjadi Residen (Gubernur) Lampung pada 1955 hingga pensiun pada 1962. Sejak 1971, Mohamad terpilih menjadi Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai utusan daerah Lampung hingga 1992.  
Mohamad Mangundiprojo tutup usia pada 13 Desember 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bandar Lampung.
Pada 14 Agustus 1986, Mohamad dianugerahi Bintang Mahaputra dari Presiden Soeharto di Istana Negara, Jakarta, sebagai penghargaan tertinggi atas jasa-jasanya pada bangsa dan negara Republik Indonesia. Presiden Joko Widodo menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Mohamad di Istana Negara, Jakarta, pada 7 November 2014. Pemberian gelar pahlawan nasional itu didasarkan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2014 tanggal 6 November 2014 (Setneg, 2014).
Sebuah monumen didirikan di daerah Buduran, Sidoarjo, tepatnya di sebelah utara jalan layang Buduran, untuk mengenang jasa Mohamad. Monumen yang dibangun dengan biaya Rp 50 juta dari APBD II 1994/1995 ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur HM Basofi Sudirman, pada 31 Januari 1995, bertepatan dengan peringatan hari jadi ke-136 Kabupaten Sidoarjo. (Pusaka Jawatimuran, 2012)
Monumen HR Mohamad Mangundiprojo di Buduran, Sidoarjo
Indroyono Soesilo, Menko Kemaritiman di masa awal pemerintahan Presiden Joko Widodo, sebelum akhirnya diganti oleh Rizal Ramli, merupakan cucu dari Mohamad Mangundiprojo.
Referensi
Baiquni A (17 Agustus 2013) Mayor Sabarudin dan noda hitam perjuangan kemerdekaan. http://www.merdeka.com/peristiwa/mayor-sabarudin-dan-noda-hitam-perjuangan-kemerdekaan.html Diakses: 16 Agustus 2015
Brata S (26 Oktober 2008) Petualangan Sabarudin. http://supartobrata.com/wp-content/download/PetualanganSabarudi1.pdf Diakses: 16 Agustus 2015
Brata S (13 November 2010) Kronologis Peristiwa di Surabaya Agustus-Desember 1945.
http://supartobrata.com/?p=692 Diakses: 16 Agustus 2015
Brata S (1  Agustus 2012) Erata Kronologis Peristiwa di Surabaya Agustus-Desember 1945.
http://supartobrata.com/?p=932  Diakses: 16 Agustus 2015
Fathurrohman MN (2014) Biografi HR Muhammad Mangundiprojo – Pimpinan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). http://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2014/11/biografi-hr-muhammad-mangundiprojo-pimpinan-tentara-keamanan-rakyat-TKR.html Diakses: 15 Agustus 2015
Moehkardi (1993) R. Mohamad dalam Revolusi 1945 Surabaya: Sebuah Biografi. Jakarta: Lima Sekawan
Nur Jannah (20 Februari 2015) Mohammad Mangundiprojo Dapat Gelar Pahlawan Nasional. Lampost.co. http://lampost.co/berita/mohammad-mangundiprojo-dapat-gelar-pahlawan-nasional Diakses: 15 Agustus 2015
Pusaka Jawatimuran (8 Juli 2012) Monumen H.R. Mangoendiprodjo, Kabupaten Sidoarjo. https://jawatimuran.wordpress.com/2012/07/08/monumen-h-r-mangoendiprojo-kabupaten-sidoarjo Diakses: 16 Agustus 2015
Rahardja B (6 Februari 2015) Kisah Mayor Sabarudin, Sosok Kelam Pejuang Kemerdekaan. http://budyrahardja.blogspot.com/2015/02/kisah-mayor-sabarudin-sosok-kelam.html Diakses: 17 Agustus 2015
Setneg RI (10 November 2014) Presiden Jokowi Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional, Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia.
TNI (17 November 2014) Pangdam V/Brawijaya Terima Duplikat Piagam Gelar Pahlawan Nasional HR Mohamad Mangoendiprodjo. http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=8310 Diakses: 16 Agustus 2015
Catatan tambahan
[1] Dalam daftar pimpinan Kodam V Brawijaya, disebutkan nama Jenderal Mayor HR Muchamad Mangoen Mihardjo, Kepala Komandemen III Jawa Timur tahun 1945, di urutan pertama. Apakah ini  orang yang sama? http://www.kodam5-brawijaya.mil.id/static/13/sejarah-kodam-vbrawijaya.html
Detik.com juga menggunakan nama HR Muhammad Mangoen Mihardjo dalam beritanya:

Sunday, 16 August 2015

Bertandang ke Rumah Sejarah yang Sepi

Oleh MOHAMMAD HILMI FAIQ dan ARYO WISANGGENI
Pada 70 tahun silam, 16 Agustus 1945, mobil Skoda yang ditumpangi Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo dan Soediro melaju menuju Rengasdengklok. Keduanya mencari-cari Soekarno dan Hatta yang diculik “golongan muda”. Jejak sejarah itu kini sepi sendiri…
0521252rumahh-djiaw780x390.jpg
Rumah Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok,Karawang, Jawa Barat (Kompas/Jonathan Adrian)
Ahmad Subardjo dan Soediro
Sukarni dan kawan-kawan mudanya jengkel melihat “golongan tua” yang dianggap terlalu menunggu restu Jepang untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sementara golongan tua tidak mau salah langkah, yang bisa-bisa justru melenyapkan kesempatan Indonesia untuk merdeka.
Siang itu, Subardjo dan Soediro mencoba menemukan Soekarno dan Hatta yang dikabarkan “ditawan” di Rengasdengklok. Sukarni Kartowirjo Kartodiwiryo, dan kawan-kawan mudanya, didukung pasukan Pembela Tanah Air (Peta), paramiliter pribumi bentukan Jepang, rapi jail menyembunyikan Soekarno dan Hatta. Alih-alih “menawan” Soekarno dan Hatta di markas Peta di Rengasdengklok, golongan muda menyembunyikan Soekarno dan Hatta di rumah warga biasa yang sulit dicari.
Sukarni, Chairul Saleh, dan Wikana
Hari ini pun sulit mencari di manakah rumah Djiauw Kie Siong, tempat Soekarno dan Hatta ditawan. Beberapa warna di sekitar Pasar Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, tak mengetahui bahwa ada rumah Siong. “Rumahnya, sih, tidak tahu. Setahu saya yang ada tugu,” kata Aji, pengojek di pertigaan Pasar Rengasdengklok.
72eda713b5084a8caaecf39f7e417273.jpg
0519114monumen-21780x390.jpg
Monumen Kebulatan Tekad di Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. (Kompas/Lucky Pransiska, Jonathan Adrian)
Tugu yang dimaksud Aji adalah Tugu Kebulatan Tekad yang dibangun di atas lahan bekas markas tentara Peta. Tugu setinggi 3 meter itu dipuncaki patung tangan kiri mengepal di atas bola bertuliskan “17 Agustus 1945”. Di belakang tugu terdapat dinding relief yang menggambarkan peristiwa Rengasdengklok dengan taman yang pada Kamis (6/8) lalu sepi pengunjung.
Lokasi rumah asli Djiauw Kie Siong yang berjarak 100 meter dari Tugu Kebulatan Tekad justru luput dari ingatan kebanyakan warga Rengasdengklok. Gara-gara abrasi, hari ini, lokasi tempat menawan Soekarno dan Hatta sudah menjadi bagian dari aliran Sungai Citarum.
[Rumah Siong itu dulu terletak di Dusun Bojong yang hanya sekitar 75 meter dari Sungai Citarum. Belakangan, Citarum sering meluap dan daerah di sekitarnya mengalami abrasi. Siong memperkirakan rumahnya akan tenggelam jika tidak segera pindah. Maka pada 1957, ia memindahkan rumahnya ke Dusun Kalijaya I, Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, Karawang.
Keputusan itu benar karena setahun kemudian, terjadi banjir besar hingga membelokkan aliran sungai. Kini, tapak bekas rumah Siong itu persis berada di tengah-tengah aliran Sungai Citarum.
Iin bersyukur kakeknya memindahkan rumah itu. Jika tidak, tentu artefak sejarah kemerdekaan Indonesia itu akan lenyap. Lebih dari itu, ia tak punya tempat tinggal seperti sekarang. Bagian ruang tamu hingga teras rumah itu masih asli. Namun, sebagian mulai lapuk dimakan usia. “Sesekali ada bantuan untuk perbaikan. Namun, saya tak tahu sampai kapan bisa bertahan,” kata Iin.]
Cucu Djiauw Kie Siong, Djiauw Kwin Moy atau Iin (62), kini menempati rumah di Dusun Kalijaya I yang dibangun pada 1957. Di rumah yang berjarak sekitar 150 meter dari rumah kakeknya dulu, Djiauw Kwin dan suaminya, Thung Gie Hiang (63), masih menyimpan beberapa perabot yang pernah dipakai Soekarno dan Hatta saat ditawan. Alih-alih dikunjungi mereka yang ingin mengenang peristiwa Rengasdengklok, rumah ini justru disinggahi bau tumpukan sampah yang menyengat.
[Rumah ini berdiri di atas lahan 1.008 meter persegi. Berdinding papan kayu jati yang dicat hijau. Beratap genteng tanah dan berplafon anyaman bambo. Di bagian depan terdapat gapura besi yang berjarak sekitar lima meter dari teras rumah. Di teras rumah berdiri dipan bambu tempat Hiang rehat. Halaman rumah dibiarkan berupa tanah dan kerikil, sementara teras rumah berlantai ubin gerabah coklat kemerahan serupa warna genteng.
43BC35C5-B86B-D6FB-D1521A9D08CB41D0.jpg
4d122e6f655a437bb5f5818f4f397b31.jpg
Kediaman Djiauw Kie Siong, tempat Soekarno tinggal selama penculikan oleh Pemuda Peta di Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (6/8/2015). (Kompas/Lucky Pransiska)
43BEC25C-ABD8-5975-945C64A343573CBA.jpg
Cucu Djiauw Kie Siong, pemilik rumah. (Kompas/Lucky Pransiska)
70cd48535af04d32a018a5640c3a2531.jpg
Kamar tidur yang pernah digunakan Soekarno dan putranya, Guntur, selama diculik. (Kompas/Lucky Pransiska)
Ubin ini juga dipasang di ruang tamu. Sebagian ubin itu tak lagi datar melainkan cekung karena tergerus kaki-kaki yang melintasinya selama puluhan tahun. “Ubin ini asli sejak pertama rumah ini dibangun. Belum pernah kami ganti karena kami menjaga keasliannya,” kata Iin.
Sesuai pesan kakeknya, Iin juga menjaga keaslian barang-barang di ruang tamu seperti dua meja jati sepanjang 3 dan 2 meter dengan tinggi berbeda yang ditata secara berundak berdekatan dengan dinding papan jati. Di dinding itu dipasang foto Siong, sementara di atas meja terdapat mangkuk berbahan kuningan tempat batang-batang dupa diletakkan. Juga dua tempat lilin berbahan sama. “Ini tempat kami sembahyang dan mendoakan leluhur,” kata Iin.
Dulu, ornamen ruang tengah hanya sesederhana itu. Kini, tampak lebih ramai dengan dipasangnya belasan foto Soekarno dan Hatta, serta beberapa foto kunjungan keluarga Soekarno. Ruang tengah berukuran sekitar 42 meter persegi itu diapit dua kamar tidur yang masing-masing berukuran 3 meter x 6 meter. Di dalam kamar itu terdapat ranjang kayu jati berhias kelambu, sementara kasurnya diselimuti seprei. Rapi.
Djiauw Kie Siong
Kamar itulah tempat Bung Hatta dan Bung Karno diinapkan sebelum esok paginya dibawa ke Jakarta untuk membacakan teks proklamasi. Hatta seorang diri di salah satu kamar. Adapun Bung Karno ditemani istrinya, Fatmawati, dan anaknya, Guntur, yang kala itu masih berusia sembilan bulan. Iin membiarkan dua kamar itu tetap kosong. Ia dan suaminya memilih tidur di salah satu kamar di bagian dalam rumah. Begitu juga dengan anaknya, Martin (28), sebelum akhirnya dia memilih tinggal di luar rumah setelah bekerja dan mandiri.
Iin tinggal di rumah itu karena dua hal. Pertama untuk menunaikan pesan kakeknya agar menjaga tempat bersejarah itu. Kedua, sampai saat ini Iin belum punya cukup tabungan untuk membangun rumah baru. Iin dan suaminya pernah mempunyai tabungan dari usaha berdagang tembakau di Pasar Rengasdengklok. Ketika terjadi kerusuhan 1998, tokonya terbakar.
Oleh kakak kandungnya, Djiauw Chiang Lim, iin diminta bertahan di rumah Siong. “Saya lalu membuka kios untuk bertahan hidup,” kata Iin sembari menunjuk kios kecil di bawah pohon mangga di depan rumah. Kios ini menyediakan makanan dan minuman bagi para pengunjung.
Pada hari-hari biasa, tak kurang dari 30 orang mampir ke kiosnya. Mereka bukan hanya pengunjung rumah Siong, melainkan juga warga sekitar. Pada hari-hari khusus seperti Lebaran atau agustusan, pengunjung membeludak hingga ratusan. Iin menilai itu sebagai berkah dari jasa kakeknya membantu pejuang menginapkan Bung Karno dan Bung Hatta.
Kadang datang pengunjung bukan untuk melihat sejarah, melainkan menjalankan kegiatan seperti bersemadi. “Kadang mengambil air dari sumur di sana. Biasanya setiap malam Jumat Kliwon,” ungkap Iin. Bagi Iin, hal itu adalah risiko tinggal di rumah bersejarah. Dia tidak terganggu selama mereka tidak mengusiknya. Yang mengganggu justeru kalau datang tamu sampai ratusan orang. Di antara mereka sering ada yang iseng mencuri foto-foto koleksi Iin.]
Yang tua dan muda
“Atas jaminan bahwa saya boleh ditembak mati apabila proklamasi di Jakarta tidak terjadi, Mayor Subeno, Komandan Peta di Rengasdengklok, mengizinkan kami membawa kedua pemimpin itu di Jakarta. Tatkala Admiral Maeda melihat kami datang membawa Soekarno dan Hatta pukul 11.00 malam, dia kelihatan terharu.” Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo menulis kenangan tentang alotnya perundingan pembebasan Soekarno dan Hatta dalam tulisan obituari “In Memoriam Laksamana Tadashi Maeda” yang dimuat Kompas edisi 19 Desember 1977.
Dengan taruhan nyawa itu, Subardjo boleh membawa Soekarno dan Hatta meninggalkan rumah lama Djiauw Kie Siong balik ke Jakarta. Tiba larut malam, Subardjo langsung membawa Soekarno dan Hatta ke rumah Laksamana Maeda, perwira penghubung Angkatan Laut Jepang, yang tinggal di Jalan Myakodoori. Maeda dikenal mendukung kemerdekaan Indonesia dan rumah perwira tinggi Jepang itu dianggap aman dari intaian militer Jepang lain. Ke rumah itu pula Soekarno (harusnya Soekarni?) dan golongan muda menyusul, memastikan Soekarno dan Hatta tak menanti restu Jepang.
Bekas rumah Laksamana Maeda itu kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta Pusat. Meski tak memiliki barang-barang asli milik Maeda, bangunan rumah masih asli dipadu dengan penataan ruang yang serupa dengan situasi rumah Maeda tahun 1945. Kursi-kursi di ruang tamu, misalnya, menyerupai kursi-kursi dalam foto keluarga Maeda.
“Semua benda di dalam museum ini bukan benda asli dari peristiwa bersejarah itu. Kami mencoba mengumpulkan benda serupa untuk memberi gambaran yang mendekati peristiwa penyusunan naskah proklamasi,” tutur Jaka Perbawa, kurator Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
Di meja makan bekas ruang makan keluarga Maeda terdapat patung lilin Hatta dan Subardjo duduk mengapit Soekarno yang sedang menuliskan rancangan naskah proklamasi dengan tulisan tangan. Di dindingnya terdapat perbesaran naskah proklamasi tulisan tangan Soekarno.
Rumah Laksamana Maeda
Sayuti Melik dan BM Diah
Teks proklamasi
Di sebelah ruang tamu ada ruang kecil berisi patung lilin Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi tulisan tangan Soekarno bersama BM Diah yang berdiri di samping kanan Sayuti. Di depan ruang kecil terdapat piano yang serupa dengan piano yang dahulu menjadi tempat Soekarno dan Hatta menandatangani naskah proklamasi, disaksikan puluhan orang dari generasi tua dan generasi muda yang berhasil “memaksa” Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan tanpa restu Jepang.
Di lantai dua museum yang menjadi saksi kolaborasi darah muda dan kebijaksanaan golongan tua itu terdapat koleksi peninggalan para tokoh yang menunggui perumusan naskah proklamasi oleh Soekarno, Hatta, dan Subardjo. Di dinding seluruh ruangan juga terpampang linimasa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Museum itu dilengkapi film documenter pendek yang merinci apa yang terjadi pada ketegangan pada 16-17 Agustus 1945.
Tak menjejak
Namun, museum yang informatif dan terawat baik itu tak juga menggairahkan minat publik berkunjung. Satu-satunya rombongan pelajar yang mampir ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi pada Sabtu (8/8) lalu adalah para siswa kelas VIIID SMP 74 Jakarta. Farah (13), Tasya (13), dan teman-teman sekelasnya ditugaskan membuat foto dan video museum itu.
Pengunjung lain, dan itu pun tak banyak, adalah keluarga yang mampir karena minat pribadi salah satu anggotanya. Prima Gumilang (27), misalnya, mengajak keluarganya yang akan berkunjung ke Monumen Nasional untuk mampir ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi. “Daripada hanya berbelanja di Monas, lebih baik saya ajak mampir dulu. Sudah jauh-jauh dari Kediri, Jawa Timur, sayang jika tidak mampir ke museum bersejarah ini,” kata Prima.
Menurut Jaka Prabawa (yang benar yang mana, Perbawa atau Prabawa?), pada bulan proklamasi, yang paling banyak berkunjung ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi justru wartawan atau komunitas pecinta sejarah. Merujuk buku tamu museum itu, kunjungan tugas sekolah baru marak mulai dair Januari hingga Maret, sesuai dengan silabus bahan ajar mata pelajaran Sejarah. “Kalau ada tugas sekolah pada Agustus, itu inisiatif guru Sejarah memanfaatkan momentum peringatan Proklamasi,” kata Jaka.
Jejak-jejak sejarah itu mengajak kita melihat peran bapak-bapak bangsa yang bertindak jauh melampaui kepentingan pribadi demi mimpi besar tentang kemerdekaan rakyat.
Kompas, Minggu, 16 Agustus 2015.
Dengan tambahan:
Faiq HM (16 Agustus 2015) Bersandar di Bilik Sejarah Proklamasi. Kompas