Wednesday, 30 December 2015

Anak Binatang Pembunuh Anggota Keluarga, Bahkan Sebelum Dilahirkan

Demi mempertahankan hidup, beberapa binatang, meskipun masih dalam usia dini sudah melakukan pembunuhan terhadap keluarganya, seperti induk atau saudaranya. Berikut ini adalah contoh para pelaku kriminal cilik beserta korbannya.
Beberapa jenis laba-laba, seperti Diaea ergandros, Amaurobius ferox, dan Stegodyphus lineatus melakukan praktek matrifagia atau memakan induknya (Kim dan Horel, 1998; Engelhaupt, 2014; Lubin, 2015; Salomon et al, 2015). Pada awalnya, sang induk memberikan anak-anaknya telur yang tidak dibuahi sebagai makanan. Hingga suatu saat, sang induk ini pun menjadi mangsa anak-anaknya. Ibu yang sayang anak atau anak yang tidak berbakti? Tapi inilah cara mereka mempertahankan keturunannya, terutama saat kondisi yang tidak bersahabat.
Praktek matrifagia ini juga ditemukan pada beberapa spesies serangga (misalnya, Anechura harmandi), kalajengking (misalnya, Paratemnoides nidificator), dan cacing nematoda (Suzuki et al, 2005; Tizo-Pedroso dan Del-Claro, 2005; Engelhaupt, 2014; Barrington, 2015).

Beberapa amfibi, seperti salamander Hynobius nebulosus, Ambystoma tigrinum, dan A, macrodactylum memiliki dua macam bentuk larva, yakni tipe normal dan tipe kanibal. Tipe yang terakhir ini umumnya berukuran lebih besar, ukuran kepala lebih lebar dengan mulut yang lebar pula, dengan rahang bawah yang menonjol keluar. Dalam kondisi alam yang kurang baik, misalnya kolam yang mulai mengering, larva tipe kanibal akan mulai memakan saudara-saudaranya yang bertipe normal untuk bertahan hidup (Kusano et al, 1985; Pfennig et al, 1994; Pfennig et al, 1999).  Salamander jenis lain, seperti A. annulatum menunjukkan sifat kanibalisme tanpa memiliki perbedaan morfologi seperti itu (Jefferson et al, 2014).
cbr_ph_050.jpg
Kanibalisme larva salamander Ezo (Hynobius retardatus) (Sumber: Course of Forest Conservation)
Adik kecil seringkali menjadi korban bullying kakaknya. Hal ini terjadi dalam keluarga burung Nazca booby (Sula granti) di Galapagos (Humphries et al, 2006). Induk yang mengetahui hal ini pun tidak melakukan apa-apa untuk mencegah kekerasan dalam rumah tangga tersebut. Pada puncaknya, sang adik pun terusir dari sarang dan mati karena kelaparan. Kekerasan berujung kematian terhadap saudara  disebut siblisida. Pembunuhan dengan alasan kompetisi mendapatkan makanan ini banyak terjadi pada keluarga burung.  

Praktek siblisida juga diterapkan oleh hewan dalam tingkatan yang lebih tinggi, mamalia. Pelakunya adalah anak dubuk tutul (Crocuta crocuta), terutama terhadap saudara yang berjenis kelamin sama (Smale et al, 1999). Dalam film fiksi sains, Jurassic World, makhluk hasil rekayasa genetika, Indominus rex (namanya mirip merek mi instan) disebutkan memakan saudaranya.
Burung Cuckoo (Cuculus canorus) bisa dikatakan sebagai anak tiri yang durhaka. Induk burung ini malas membuat sarang dan lebih sering menempatkan telurnya di sarang burung lain, biasanya Reed Warbler (Acrocephalus scirpaceus). Setelah menetas, si anak tiri ini membuang semua telur penghuni asli keluar sarang. Dengan demikian, induk burung Reed Warbler hanya mengurus makanan satu anak saja, yang ukurannya bisa lebih besar dari dirinya (Wyllie, 1975).
Reed_warbler_cuckoo.jpg
Burung Reed Warbler memberi makan anak tirinya, burung Cuckoo (Per Harald Olsen/Wikipedia)

Yang paling kebangetan, bayi beberapa jenis hiu, misalnya hiu harimau pasir (Carcharias taurus), sudah melakukan tindak kejahatan pembunuhan terhadap saudaranya saat berada di dalam kandungan induknya. Praktek kejahatan terhadap saudara dalam kandungan ini disebut embriofagia, atau jika lebih spesifik kepada saudara jantannya disebut adelfofagia. Bentuk kanibalisme intrauterin yang lebih umum dan tidak terlalu sadis adalah oofagia atau ovifagia, yakni memakan telur, terutama yang tidak dibuahi. Contoh spesies hiu yang melakukan oofagia adalah hiu porbeagle (Lamna nasus) (Martin, 2003; Ghose, 2013).

Ke mana para bapak sehingga tidak ada laporan mengenai pembunuhan oleh anak-anaknya? Para betina dari kebanyakan laba-laba dan beberapa spesies serangga, misalnya Mantis religiosa, lebih dulu memakan pasangan hidupnya selama atau segera setelah perkawinan. Cinta yang mematikan bagi para penjantan.  
Referensi:
Barrington R (11 Mei 2015) Tiny arachnid makes the ultimate sacrifice. BBC Earth. http://www.bbc.com/earth/story/20150511-tiny-arachnids-grisly-sacrifice Diakses: 30 Desember 2015
Engelhaupt E (6 Februari 2014) Some animals eat their moms, and other cannibalism facts. ScienceNews. http://www.sciencenews.org/blog/gory-details/some-animals-eat-their-moms-and-other-cannibalism-facts Diakses: 30 Desember 2015
Ghose T (1 Mei 2013) Why Shark Embryos Eat Each Other Up in Utero. Discovery News. http://news.discovery.com/animals/sharks/why-shark-embryos-eat-each-other-130501.htm
Humphries CA, Arevalo VD, Fischer KN, Anderson DJ (2006) Contributions of marginal offspring to reproductive success of Nazca booby (Sula granti) parents: tests of multiple hypotheses. Oecologia 147(2): 379-390
Jefferson DM, Ferrari MCO, Mathis A, Hobson KA, Britzke ER, Crane AL, Blaustein AR, Chivers DP (2014) Shifty salamanders: transient trophic polymorphism and cannibalism within natural populations of larval ambystomatid salamanders. Frontiers in Zoology 11: 76 http://www.frontiersinzoology.com/content/11/1/76
Kim KW, Horel A (1998) Matriphagy in the spider Amaurobius ferox (Araneidae: Amaurobiidae): an example of mother-offspring interactions. Ethology 104: 1021-1037
Kusano T, Kusano H, Miyashita K (1985) Size-related cannibalism among larval Hynobius nebulosus. Copeia. 2: 472-476
Lubin Y (27 Maret 2015) Arachnid Matriphagy: These Spider Mothers Literally Die for Their Young. Entomology Today. http://entomologytoday.org/2015/03/27/arachnid-matriphagy-these-spider-mothers-literally-die -for-their-young/ Diakses: 30 Desember 2015
Martin RA (2003) Intrauterine Cannibalism in Sharks. Biology of Sharks and Rays. http://www.elasmo-research.org/education/topics/lh_intrauterine_cannibalism.htm Diakses: 30 Desember 2015
Pfennig DW, Sherman PW, Collins JP (1994) Kin recognition and cannibalism in polyphonic salamanders. Behav. Ecol. 5: 225-232
Pfennig DW, Collins JP, Ziemba RE (1999) A test of alternative hypotheses for kin recognition in cannibalistic tiger salamanders. Behav. Ecol. 10: 436-443
Salomon M, Aflalo ED, Coll M, Lubin Y (2015) Dramatic histological changes preceding suicidal maternal care in the subsocial spider Stegodyphus lineatus (Araneae: Eresidae). J. Arachnol. 43: 77-85
Smale L, Holekamp KE, White PA (1999) Siblicide revisited in the spotted hyaena: does it conform to obligate or facultative models? Anim. Behav. 58(1): 545-551
Suzuki S, Kitamura M, Matsubayashi K (2005) Matriphagy in the hump earwig, Anechura harmandi (Dermaptera: Forficulidae), increases the survival rates of the offspring. J. Ethol.23: 211-213
Tizo-Pedroso E, Del-Claro K (2005) Matriphagy in the neotropical pseudoscorpion Paratemnoides nidificator (Balzan 1888) (Atemnidae). J. Arachnol. 33(3): 873-877
Wyllie I (1975) Study of Cuckoos and Reed Warblers. Brit. Birds 68: 369-378

Penegakan Hukum Lemah

Lolosnya Bumi Mekar Hijau dari Gugatan Jadi Preseden Buruk
PALEMBANG, KOMPAS — Majelis Hakim Pengadilan Negeri Palembang, Rabu (30/12), menolak gugatan pemerintah Rp 7,9 triliun atas PT Bumi Mekar Hijau terkait kebakaran lahan seluas 20.000 hektar pada 2014. Alasannya, tergugat tidak melanggar hukum meski di persidangan diakui ada kebakaran di konsesi perkebunan akasia itu.
Aksi teatrikal yang digelar sejumlah aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan di depan Pengadilan Negeri Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (30/12). Aksi itu menggambarkan kesengsaraan rakyat saat bencana kebakaran hutan dan lahan terjadi.
Aksi teatrikal yang digelar sejumlah aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan di depan Pengadilan Negeri Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (30/12). Aksi itu menggambarkan kesengsaraan rakyat saat bencana kebakaran hutan dan lahan terjadi. (Kompas/Rhama Purna Jati)
"Menimbang bahwa karena tergugat tak terbukti melakukan perbuatan melawan hukum, penggugat (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) berada di pihak yang kalah," kata Parlas Nababan, ketua majelis hakim, saat memimpin sidang yang disesaki para aktivis, jurnalis, rombongan penggugat, dan penggugat. Sejumlah aktivis Walhi Sumsel menggelar aksi teatrikal di depan PN Palembang.
Parlas menyatakan, gugatan penggugat ditolak seluruhnya. Atas putusan itu, kuasa hukum Kementerian LHK, Nasrullah Abdullah, menyatakan banding.
parlas.jpg
Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Palembang Parlas Nababan.(Antara/Nova Wahyudi)
Dalam gugatan, pemerintah menyatakan BMH tak punya sarana pencegahan dan pemadaman api memadai sehingga lahan terbakar 20.000 hektar. Bahkan, menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, luas kebakaran lebih dari 60.000 hektar.
Fakta kebakaran dan minimnya kelengkapan persyaratan dibuktikan saat hakim menggelar sidang pemeriksaan lapangan, 1-2 Desember 2015, di konsesi BMH, Distrik Simpang Tiga dan Distrik Sungai Beyuku, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Hakim menjumpai lokasi kebakaran ditumbuhi akasia untuk bahan baku pulp.
Percaya dengan saksi ahli dari BMH, majelis hakim yakin kebakaran itu tak merusak tanah. Itu karena tanah bisa ditumbuhi akasia. Keasaman sifat tanah gambut ternetralkan oleh abu bakaran.
Para hakim yang tak bersertifikat lingkungan menilai alasan Kementerian LHK, yaitu kebakaran membunuh mikroorganisme atau genetika yang hidup di tanah atau rawa gambut, tak punya cukup dasar dan bukti. Demikian pula penilaian hakim atas pelepasan karbon akibat kebakaran tersebut.
"Karena tergugat tak melakukan perbuatan yang didalilkan penggugat, tak perlu menilai ganti rugi perkara a quo," kata Parlas, didampingi anggotanya, Eliwarti dan Kartijo. Pemerintah diganjar biaya perkara Rp 10.251.000.
Kuasa hukum BMH, Maurice JR, menyatakan puas atas putusan. Ia menilai majelis hakim obyektif dan dalil dari Kementerian LHK tak berdasar. Gugatan perusahaan sengaja membuka lahan dengan membakar tak disertai kesaksian dan alat bukti kuat.
Mengabaikan dampak
Menteri LHK Siti Nurbaya, dalam siaran pers, menghormati putusan pengadilan serta menghargai pertimbangan para hakim dan pihak yang terlibat dalam pencarian keadilan. "Namun, penegakan hukum lingkungan hidup dan kehutanan, khususnya terkait pembakaran lahan dan hutan, terus dilakukan," ujarnya.
Setelah sidang, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementerian LHK Rasio Ridho Sani menyatakan, hakim tak mempertimbangkan akibat kebakaran hutan dan lahan bagi warga. "Saat sidang lapangan, hakim melihat kebakaran di konsesi BMH pada 2015. Jadi, perusahaan lalai karena tak punya alat pencegahan dan pemadaman kebakaran memadai," ujarnya.
Pihaknya akan melanjutkan proses hukum lain kepada BMH, selain banding perdata dan pembekuan izin lingkungan BMH. Ia tak menjelaskan proses hukum yang dimaksud. Pihaknya akan mempelajari putusan hakim sebagai bahan banding. "Kami melindungi hak konstitusi warga atas lingkungan sehat," ujarnya.
Rasio menyayangkan hakim tak pertimbangkan yurisprudensi kasus serupa di area perkebunan sawit PT Kallista Alam di Aceh. Mahkamah Agung mengabulkan gugatan pemerintah Rp 366 miliar atas Kallista Alam.
Direktur Walhi Sumatera Selatan Hadi Jatmiko mengatakan putusan PN Palembang atas BMH jadi preseden buruk bagi penegakan hukum lingkungan. Sementara Penghubung Komisi Yudisial di Sumatera Selatan, Zaimah Husin, mendorong agar sidang lingkungan dipimpin hakim bersertifikat lingkungan.
Pihak BMH punya izin Hutan Tanaman Industri 250.370 hektar di Ogan Komering Ilir. Pemasok bahan baku pulp bagi grup APP Sinar Mas itu digugat ganti rugi Rp 2,7 triliun dan biaya pemulihan lingkungan Rp 5,2 triliun.(ICH/RAM)
Kompas, Kamis, 31 Desember 2015


(www.memecomic.id)

10 Kasus Gurauan Bom

JAKARTA, KOMPAS — Pengelola bandar udara terus memperketat keamanan bandara. Para penumpang diminta menaati aturan, termasuk tidak bergurau mengenai bom atau bahan peledak lain. Maskapai mengancam penumpang yang melakukan hal itu dimasukkan ke daftar hitam sehingga tidak diperkenankan naik pesawat selamanya.
Penumpang tidak boleh bergurau soal bom karena akan dianggap menyampaikan informasi palsu sehingga bisa dikenai hukuman pidana sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.
Kementerian Perhubungan juga menegaskan akan mengambil tindakan serius terhadap siapa saja yang melakukan tindakan membahayakan penerbangan, termasuk yang memberikan informasi palsu itu. Setidaknya dalam tahun ini sudah ada 10 penumpang yang memberikan informasi palsu berkait bom. Enam orang sudah diproses penyidik pegawai negeri sipil Kementerian Perhubungan. Kejadian terakhir terjadi di Bandara El Tari, Kupang, dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.
”Penyidik Kementerian Perhubungan akan menyidik calon penumpang yang bercanda dengan mengaku membawa bom saat pemeriksaan di bandara ataupun di pesawat udara,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan JA Barata di Jakarta, Selasa (29/12).
Menurut Barata, sanksi sesuai dengan Pasal 437 UU Penerbangan adalah hukuman penjara 1-15 tahun bagi setiap orang yang menyampaikan informasi palsu yang membahayakan keselamatan penerbangan.
Di tempat terpisah, AirportSecurity Group Head PT Angkasa Pura I (Persero) Doni Subardono menyampaikan, 13 bandara komersial di bawah pengelolaan Angkasa Pura I telah dipasangi spanduk peringatan larangan membawa barang berbahaya hingga gurauan soal bahan peledak.
”Saat ini, kami akui sedang marak pengunjung ataupun penumpang membawa mainan menyerupai bahan peledak. Laporan tentang keberadaan barang peledak, seperti bom atau granat, sering masuk kepada petugas bandara, tetapi hanya sebatas gurauan. Hal itu sudah cukup meresahkan,” tutur Doni.
Menurut dia, jumlah penumpang di 13 bandara yang dikelola PT Angkasa Pura I meningkat sekitar 15 persen. Antisipasi pengamanan bandara terus dilakukan. Sosialisasi peringatan larangan membawa barang berbahaya juga ditingkatkan.
Keselamatan penumpang
Direktur Arista Indonesian Aviation Center Arista Atmadji mengatakan, sosialisasi ketentuan itu seharusnya turut digeliatkan oleh para pelaku industri, seperti agen perjalanan dan Asosiasi Perusahaan Penerbangan Sipil Nasional Indonesia. Substansinya memang terkesan sederhana, tetapi penting sekali, apalagi ini menyangkut keselamatan penumpang.
Ketua Masyarakat Hukum Udara Indonesia Andre Rahadian menyampaikan, berulangnya kejadian penumpang pesawat mengaku membawa bom, walaupun dengan maksud bergurau, harus disikapi secara serius.
”Maskapai bisa memasukkan nama penumpang ke daftar hitam dan penumpang lain bisa menuntut pelaku dengan pasal perbuatan melawan hukum, Pasal 1365 UU Perdata,” kata Andre.
Head of Corporate Communication Air Asia Indonesia Audrey Progastama Petriny memastikan, penumpang yang memberikan informasi palsu akan dimasukkan ke daftar hitam. ”Dia tidak boleh masuk dalam penerbangan Air Asia lagi selamanya,” kata Audrey.
Sementara itu, Senior General Manager PT Angkasa Pura II (Persero) Kantor Cabang Utama Bandara Internasional Soekarno-Hatta Zulfahmi mengatakan, pihaknya berkomitmen terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan.(MED/ARN)
Kompas, Rabu, 30 Desember 2015

Bangsa Nir-Ilmu Pengetahuan


Oleh AHMAD ARIF
Tahun ini hadiah Nobel Kedokteran jatuh kepada Tu Youyou (84), ilmuwan Tiongkok yang menemukan obat malaria, artemisinin. Selain gigih bereksperimen dan menelisik naskah kuno, kesuksesan Tu tak akan terwujud tanpa imajinasi pengetahuan pemimpin Tiongkok saat itu, Mao Tse Tung.
tuyouyou.jpg
Tu Youyou, penerima hadiah Nobel di bidang kedokteran (Jin Liwang/AP)
Pada 21 Januari 1969, Mao Tse Tung memberi tugas kepada Tu Youyu memimpin "Proyek 523". Unit militer rahasia itu punya satu misi: mencari obat malaria. Perintah Mao dilatari permintaan bantuan sekutu mereka, Vietnam Utara, yang melawan Amerika Serikat, untuk mengatasi malaria. Banyak prajurit Vietkong yang bergerilya tewas oleh malaria-hal serupa dialami serdadu AS di Vietnam.
Tu kala itu berusia 39 tahun dan bekerja bagi Academy of Traditional Chinese Medicine di Beijing. Ia dipilih karena dinilai cocok dengan semangat "Revolusi Kebudayaan" yang digagas Mao. Ia mendalami teknik pengobatan tradisional Tiongkok dan mendapat didikan cara Barat dari Departemen Farmakologi Peking University School of Medicine.
Kemudian, Tu segera melakukan observasi ke Pulau Hainan, di selatan Tiongkok, yang dilanda wabah. "Saya melihat banyak anak kena malaria akut. Mereka meninggal cepat," sebut Tu, pada New Scientist, 2011.
Sekembali di Beijing, Tu minta timnya mengumpulkan resep obat-obatan kuno Tiongkok. Tu mengunjungi banyak tabib di negeri itu, wawancaranya ditulis di buku catatan, Koleksi Praktik dan Resep untuk Anti-Malaria.
Sekitar 2.000 resep obat tradisional Tiongkok dikumpulkan, 640 di antaranya punya prospek melawan malaria. Tu menguji coba sekitar 380 resep, salah satunya ekstraksi daun qinghao atau sweet wormwood (Artemisia annua L). Namun, ekstrak qinghao yang didapat dengan merebusnya di suhu tinggi tak stabil.
Tu lalu membuka kembali manuskrip dan menemukan tulisan Ge Hong dari abad ke-4 yang menyebut teknik mengolah qinghao. Disebutkan, daunqinghao direndam dengan sedikit air dingin, diremas agar keluar intisarinya, lalu ditelan habis.
Ini momen "eureka" bagi Tu. Merebus daun qinghao pada suhu tinggi merusak khasiatnya. Ia mencoba mengekstraksinya di cairan yang dipanaskan kurang dari 35 derajat celsius. Saat ekstraksi dicobakan ke tikus dan monyet yang ditulari parasit malaria, hasilnya 100 persen efektif.
Tu mencoba ke tubuhnya sendiri, dan aman. Ia mencoba menyembuhkan pasien malaria dengan ekstraksi Artemisia annua L, disebut artemisinin atauqinghaousu.
Obat tradisional yang ditemukan kembali oleh Tu, diisolasi dan dikombinasikan unsur lain itu, menjadi harapan baru perang melawan malaria. Penyakit purba itu menyebar di lebih dari 107 negara dengan angka kesakitan 300 juta-500 juta orang dan kematian 1,5 juta orang per tahun.
Parasit malaria dikenal digdaya dan cepat resistan pada obat. Artemisinin terbukti mematikan parasit malaria. Laporan resistansi artemisinin muncul dari populasi di daerah aliran Sungai Mekong. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan artemisinin combination therapies (ACT) sebagai obat malaria.
Dedikasi Tu mencari obat malaria tak disangsikan. Ia pantas mendapat Nobel. Hal menarik ialah keyakinan Tu pada akar budaya dengan menelisik resep tradisional Tiongkok. Faktor penting lain ialah Mao Tse Tung.
"Tanpa visi dan imajinasi mencari solusi dengan ilmu pengetahuan, Mao tak akan membentuk Proyek 523. Tanpa Proyek 523, obat artemisinin tak ditemukan. Visi ini tak dimiliki para pemimpin kita," kata Sangkot Marzuki, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI).
Krisis pengetahuan
Minimnya imajinasi ilmu pengetahuan tampak dari rendahnya publikasi ilmiah dari Indonesia yang diakui dunia. Menurut Pusat Penelitian Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 2014, Indonesia baru punya 5.000 terbitan ilmiah di pengindeks internasional dan 1.130 paten.
Sementara Thailand, dengan produk domestik bruto (PDB) hampir sama, punya 11.313 terbitan ilmiah dan 7.740 paten. Publikasi ilmiah dari Indonesia kalah jauh daripada Malaysia, Filipina, dan negara lain yang berpendapatan lebih rendah.
Hal itu seiring kecilnya investasi pemerintah bidang riset. Anggaran riset dan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia 0,09 persen dari PDB, lebih rendah daripada Thailand (0,85 persen PDB) dan Malaysia (di atas 1 persen PDB).
Situasi lebih memprihatinkan pada riset dasar. "Pada 2007 pendanaan riset dasar hampir berimbang dengan riset terapan, kini persentasenya turun. Mestinya riset dasar dan terapan sejalan," kata Sangkot.
Riset dasar berdasarkan rasa ingin tahu demi menjawab soal. "Kalau menemukan jawaban, ada pertanyaan baru. Produk riset dasar ialah ilmu pengetahuan," ujarnya.
Adapun ukuran kesuksesan ilmu terapan ialah tercipta produk berdaya guna dan diterima pasar. Hilangnya imajinasi pengetahuan dan rendahnya dukungan pada riset dasar memicu krisis ilmu pengetahuan.
Hal itu memicu hilangnya tradisi ilmu pengetahuan sebagai dasar berpikir. Jika budaya ilmu pengetahuan hilang, bonus demografi jadi beban masa depan. Kita jadi bangsa konsumtif, kehilangan daya saing, tak punya daya mengatasi masalah.
Sebagai contoh, kebakaran hutan berulang, tapi minim solusi komprehensif. Saat hutan-hutan terbakar, Presiden Joko Widodo menginstruksikan kanalisasi lahan gambut. Ilmuwan LIPI, Eko Yulianto, mengatakan, "Saya bingung apa yang mesti dilakukan. Solusi pemerintah aneh. Banyak studi menunjukkan itu konyol."
Sejak kebakaran gambut di Kalimantan pada 1997, LIPI bekerja sama dengan Badan Iptek Jepang (JST) mempelajarinya. Dalam 10 tahun, hal itu meluluskan sekitar 80 doktor bidang gambut dari Indonesia, termasuk Eko. Namun, hasil riset dari mereka tidak dilirik pembuat kebijakan.
wallace-eijkman.jpg
Alfred Russel Wallace (1823-1913) dan Christiaan Eijkman (1858-1930)
Pada masa kolonial, negeri ini melahirkan sejumlah ilmuwan besar, di antaranya Alfred Russel Wallace dan Christiaan Eijkman. Wallace meneliti keragaman hayati terkait bentang alam Nusantara, lalu dikenal sebagai penemu teori evolusi bersama Charles Darwin. Eijkman diganjar Nobel Kedokteran pada 1929 karena menemukan konsep defisiensi vitamin, seusai meneliti wabah beri-beri di Batavia.
Ironisnya, 70 tahun merdeka, negeri ini melahirkan banyak birokrat korup dan politisi mahir bersiasat. Kebijakan penentu nasib bangsa kebanyakan hanya dilandasi kepentingan politik dan ekonomi sesaat.
Kompas, Kamis, 31 Desember 2015

Saturday, 26 December 2015

Hati Kudus di Serambi Mekkah

Oleh ADRIAN FAJRIANSYAH
Sejak dahulu, Aceh dikenal sebagai daerah perniagaan, tempat bertemunya pedagang dari sejumlah negara dan daerah di Nusantara. Kehadiran Gereja Katolik Hati Kudus di Kota Banda Aceh merupakan peninggalan sejarah yang menunjukkan keterbukaan kesultanan Aceh di masa lampau terhadap perbedaan agama dan juga suku.
Suasana Gereja Katolik Hati Kudus di Banda Aceh, Provinsi Aceh, Jumat (11/12). Gereja tersebut berdiri sejak tahun 1926, dan ini membuktikan umat Nasrani sudah ada di Aceh jauh sebelum kemerdekaan RI. Kehadiran gereja itu pun menjadi bukti bahwa Aceh terbuka terhadap perbedaan suku, budaya, dan agama. (Kompas/Adrian Fajriansyah)
Gereja Katolik Hati Kudus merupakan saksi bisu sejarah panjang kehadiran Nasrani, terutama Katolik, di bumi Serambi Mekkah. Pastor di Gereja Katolik Hati Kudus, Efran Sinaga, menceritakan, gereja itu diresmikan untuk ibadah oleh Pastor Kepala Augustinus Huijbregets pada 26 September 1926. Tanggal peresmian gereja itu menunjukkan kehadiran Katolik sudah cukup lama di Aceh. Gereja itu pun berarsitektur paduan antara tropis dan gaya kolonial Eropa.
Namun, kehadiran Katolik di Tanah Rencong jauh lebih lama daripada keberadaan gereja tersebut. Efran mengungkapkan, misionaris Katolik pertama kali datang ke Aceh pada awal abad ke-16. Gereja Katolik Roma dari Ordo Karmel (Ordo Fratrum Ordinis Beatissimae Maria Virginis de Monte Carmelo) mengadakan kontak awal dengan Indonesia pada 1511. Mereka mengirim dua anggotanya, Dionisius dan Redemptus, yang ikut serta dalam kelompok dagang Portugis dengan mengunjungi Aceh dari Malaka.
Penguasa Aceh masa itu menerima kedua utusan dari Roma itu. Mereka diberikan tempat tinggal sekaligus tempat ibadah di kawasan Ulee Lheue, Banda Aceh, berada di pinggiran laut yang sekarang menjadi kawasan Pelabuhan Ulee Lheue, yang melayani penyeberangan Banda Aceh-Sabang. Namun, kedua orang itu kemudian dibunuh.
Dihasut Belanda
Menurut Efran, kedua orang itu diduga dibunuh penduduk lokal. Diduga pembunuhan terjadi karena hasutan dari VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), perusahaan dagang Belanda, yang berupaya memecah hubungan baik antara Portugis dan Aceh saat itu. VOC merasa kepentingan politik mereka akan terganggu oleh kehadiran perwakilan Portugis di Aceh.
Berdasarkan buku Umat Kristen di Asia Jilid II, Dari Abad Ke-16 hingga Sekarang, karya Adolf Heuken SJ, sebelumnya negara-negara Asia Tenggara bisa menerima kehadiran agama impor dari luar kawasan itu, seperti Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam. Namun, kondisi itu berubah sejak kehadiran Belanda di Tanah Air. Pewartaan agama dihambat oleh Belanda, seperti VOC yang melarang misi Katolik dan mengontrol serta mengekang gereja reformasi sampai awal abad ke-19.
Sementara menurut buku Sejarah Agama-Agama di Indonesia, Mengungkap Proses Masuk dan Perkembangannya karya Djenar Respati, penguasa VOC akan menjatuhkan hukuman mati kepada imam Katolik yang ketahuan berkarya di wilayah kekuasaannya.
Keterbukaan
Efran menuturkan, pasca VOC bubar pada abad ke-18, Belanda menjadi lebih lunak terhadap misi Katolik di Aceh. Pastor Tentara Kolonel Hendrikus Veerback dikirim ke Aceh pada 1870. Veerback menjadi penasihat rohani bagi tentara Belanda yang memeluk Katolik. Veerback mendirikan Gereja Katolik Stasi Santa Maria Pulau Weh pada 1890. Gereja itu menjadi gereja Katolik tertua di Aceh dan masih berdiri hingga kini. Terakhir, dia mendirikan Gereja Hati Kudus di Banda Aceh.
Menurut Efran, keberadaan gereja-gereja Katolik di Aceh menunjukkan Aceh terbuka terhadap agama apa pun.
Kehadiran Kristen di Aceh juga sudah berlangsung lama. Pendeta Gereja Methodist Indonesia (GMI), Martina, mengisahkan, Kristen sudah lama di Aceh, seiring dengan datangnya warga Tionghoa untuk berdagang. Namun, kisah itu tak tercatat baik.
Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Syahrizal Abbas mengutarakan, Aceh sesungguhnya bukan daerah eksklusif untuk umat Islam. Aceh terbuka untuk umat non-Islam.
"Umat Islam maupun non-Islam memiliki hak dan kesempatan hidup yang sama di Aceh, terutama dalam menjalankan ritual ibadah agamanya. Kendati demikian, mereka harus menjalankannya sesuai aturan yang berlaku," tuturnya.
Kompas, Minggu, 27 Desember 2015