Sunday, 17 August 2014

Zombi Binatang

Zombi umumnya dikenal sebagai mayat yang mampu bergerak kembali karena suatu pengaruh sihir atau, dalam cerita fiksi, biasanya karena infeksi pada otak. Intinya, tubuh bergerak bukan karena diperintah oleh diri sendiri, tetapi oleh pengaruh dari luar. Dalam dunia binatang, ternyata zombi bukan hal fiksi. Beberapa binatang menjadi tidak dapat mengendalikan diri, melakukan aktivitas di luar kebiasaannya karena pengaruh organisme lain.  Berikut contoh beberapa satwa bisa menjadi zombi:
Semut
Semut dapat menjadi zombi karena pengaruh sejenis jamur, cacing pipih, dan lalat.
Spesies jamur dari marga Ophiocardyceps mampu mengubah kebiasaan semut. Di Thailand, O. unilateralis dapat menginfeksi semut Polyrhachis armata dan Camponotus leonardi.
Spora jamur menginfeksi semut dan selanjutnya akan mengontrol pergerakan semut untuk mencari tempat dengan kelembaban dan suhu ideal untuk tumbuh. Begitu mendapatkan lokasi yang baik, biasanya sekitar 25 cm di atas permukaan tanah, semut akan menancapkan capitnya dalam-dalam ke tulang daun abaksial di bawah daun dan kemudian benar-benar mati. Sedangkan jamur akan tumbuh untuk kemudian siap melepaskan hujan spora ke para semut yang bekerja di dekatnya.


Sementara dua saudaranya di hutan Brazil, O. camponoti-rufipedis dan O. camponoti-balzani masing-masing menyerang C. rufipes dan C. balzani.
[Beberapa jenis semut, terutama Formica fusca, menjadi inang perantara kedua cacing pipih Dicrocoelium dendriticum. Semut terinfeksi setelah memakan bola lendir berisi serkaria, yang dikeluarkan siput seperti Zebrina spp atau Cionella spp. Serkaria yang berubah menjadi metaserkaria dalam tubuh semut mulai mempengaruhi perilaku semut. Semut tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, terutama pada waktu matahari masih bersinar. Semut yang terpengaruh berjalan menuju daun rumput tertinggi dan kemudian terdiam menunggu. Setelah matahari tenggelam, semut tersebut kembali ke koloni seakan tidak terjadi apa-apa. Pagi harinya, kembali semut terinfeksi melakukan ritual aneh tersebut, hingga akhirnya sapi datang dan melahap rumput beserta semutnya (Lafontaine et al, 2014).]
Dicrocoelium_LifeCycle.png
Daur hidup cacing pipih Dicrocoelium dendriticum (Sumber: CDC)
image006_0027.jpg

Cacing Dicrocoelium dendriticum dewasa (Sumber: Para-Site)

Semut api merah, disebut sebagai makhluk yang meresahkan karena sangat invasif dan menimbulkan kerusakan biodiversitas. Namun, semut ini memiliki musuh alami, yaitu lalat Pseudacteon obtusus. Lalat mungil ini akan berputar-putar di calon inang anaknya, menanti saat yang tepat untuk menyuntikkan satu telurnya. Setelah telur menetas, larva lalat akan mencari jalur ke otak. Demi keamanannya, larva akan mengendalikan semut menjauh dari koloninya, kemudian mulai menghabiskan otaknya sampai semut mati dan kepalanya terpenggal untuk membuka jalan lalat muda keluar dari tubuh inangnya.

Referensi
Evans HC, Elliot SL, Hughes DP (2011) Ophiocordyceps unilateralis: A keystone species for unraveling ecosystem functioning and biodiversity of fungi in tropical forests? Commun. Integr. Biol. 4(5): 598-602
Evans HC, Elliot SL, Hughes DP (2011) Hidden diversity behind the zombie-ant fungus Ophiocordyceps unilateralis: Four new species described from carpenter ants in Minas Gerain, Brazil. PLoS ONE 6(3):e17024. doi:10.1371/journal.pone.0017024
Folgarait PJ, Chirino MG, Patrock RJW, Gilbert LE (2005) Development of Pseudacteon obtusus (Diptera: Phoridae) on Solenopsis invicta and Solenopsis richteri Fire Ants (Hymenoptera: Formicidae). Environ. Entomol. 34(2):308-316
Hughes DP, Andersen SB, Hywel-Jones NL, Himaman W, et al (2011) Behavioral mehanisms and morphological symptons of zombie ants dying from fungal infection. BMC Ecology 11:13
Lafontaine S, Gallagher K, Bombard J, Anina D, Zhang D (2014) Microbiology: Zombie Ants with Dicrocoelium dendriticum. http://towers.wpi.edu/read/4279/microbiology-zombie-ants-with-dicrocoelium-dendriticum Diakses: 16 Februari 2016
Plowes RM, LeBrun EG, Gilbert LE (2011) Introduction of the fire ant decapitating fly Pseudacteon obtusus in the United States: factors influencing establishment in Texas. Bio. Control. 56:295-304
Simon M (13 September 2013) Absurd Creature of the Week: The Zombie Ant and the Fungus That Controls Its Mind. http://www.wired.com/2013/09/absurd-creature-of-the-week-zombie-ant-fungus  Diakses: 8 Agustus 2014
Williams DF, Banks WA (1987) Pseudacteon obtusus (Diptera: Phoridae) attacking Solenopsis invicta (Hymenoptera: Formicidae) in Brasil. Psyche 94:9-13
Laba-laba
Tawon asal Kostarika, Hymenoepimecis argyraphaga, adalah tuan bagi laba-laba Plesiometa argyra. Dengan racunnya, tawon ini bisa menjadikan laba-laba budak sekaligus makanannya.
Tawon betina dewasa awalnya membius laba-laba untuk kemudian menempatkan telurnya di perut korbannya. Setelah 10-15 menit kemudian laba-laba siuman dari pingsannya, dia akan bergerak dan bekerja menenun jarring indahnya seperti biasa. Telur menetas 7-14 hari kemudian. Larva terus menempel pada perut laba-laba dan hidup dengan cara mengisap cairan darah laba-laba (hemolymph) dari lubang kecil yang dibuatnya. Selama beberapa minggu ini laba-laba masih tetap beraktivitas normal.
Sampai suatu ketika, larva siap untuk berubah lebih lanjut dalam siklus hidupnya. Dia butuh tempat perlindungan. Sarang laba-laba merupakan tempat yang terlalu terbuka dan lemah untuk digantungi kepompongnya berat.
Solusinya, larva menyuntikkan senjata kimianya sehingga si laba-laba mau membuat sarang khusus sesuai  kebutuhan larva, yang dapat menunjang kepompongnya. Setelah sarang selesai, laba-laba akan duduk manis di tengah jaring dan larva pun membunuh budaknya itu, mengisap nutrisi yang tersisa dan membuang sepahnya. Kemudian, larva pun membuat kepompong pada sarang barunya.
Larva tawon yang lain, Zatypota percontatoria, melakukan hal yang sama pada laba-laba Neottiura bimaculata dan Theridion varians,  segera sebelum membentuk kepompong. N. bimaculata yang terinfeksi akan membentuk jaring yang lebih rapat (A), mirip dengan jaring untuk melindungi kantung telur mereka dalam kondisi normal. Sedangkan T. varians terinfeksi membuat bentukan kubah (C), seperti yang biasa dibuat oleh laba-laba normal untuk perlindungan selama musim dingin.
Sementara di Jepang, tawon Reclinervellus nielseni melakukan hal yang sama terhadap laba-laba Cyclosa argenteoalba (Palermo, 2015; Takasuka et al, 2015).



Referensi
Eberhard WG (2001) Under the influence: Webs and building behavior of Plesiometa argyra (Araneae, Tetragnathidae) when parasitized by Hymenoepimecis argyraphaga (Hymenoptera, Ichneumonidae). J. Arachnol. 29: 354-366
Korenko S, Pekár S (2011) A Parasitoid Wasp Induces Overwintering Behaviour in Its Spider Host. PLoS ONE 6(9): e24628. doi:10.1371/journal.pone.0024628
Palermo E (5 Agustus 2015) Walking Dead: How Wasp Overlords Control Spider Zombies. http://www.livescience.com/51764-wasp-spider-zombies.html Diakses 7 Agustus 2015
Takasuka K, Yasui T, Ishigami T, Nakata K, Matsumoto R, Ikeda K, Maeto K (2015) Host manipulation by an ichneumonid spider ectoparasitoid that takes advantage of preprogrammed web-building behaviour for its cocoon protection. J. Exp. Biol.218: 2326-2332. doi: 10.1242/jeb.122739
Siput
Succinea putris adalah nama sejenis siput darat. Siput ini merupakan inang sementara bagi cacing Leucochloridium paradoxum di Eropa dan Amerika Utara. Sebagai usaha untuk mendapatkan inang utamanya, yaitu burung, sporokista cacing akan memasuki tentakel mata siput. Selanjutnya sporokista ini mengubah kebiasaan siput. Jika umumnya, siput normal berusaha bersembunyi pada saat siang hari, siput yang terinfeksi justru berjalan menuju tempat terang, tinggi, dan mudah terlihat. Sporokista juga menggerakkan tentakel sehingga sangat menarik perhatian pemangsa.  


Referensi
Wesołowska W, Wesołowski T (2014) Do Leucochloridium sporocysts manipulate the behavior pf their snail hosts? J. Zool. 292 (3): 151-155  
Lebah
Lebah zombi adalah lebah madu dan bumblebee yang menjadi korban parasit lalat Apocephalus borealis. Gangguan yang disebut “ZomBees” ini menjadi momok peternak madu di Amerika Utara.  Lebah yang mengidap parasite ini akan terbang meninggalkan sarangnya pada malam hari, bergerak tidak beraturan, tertarik pada cahaya, kemudian jatuh dan berjalan linglung tidak tentu arah seperti zombi.
Referensi
Core A, Runckel C, Ivers J, Quock C, Siapno T, et al. (2012) A new threat to honey bees, the parasitic phorid fly Apocephalus borealis. PLoS ONE 7(1):e29639. doi:10.1371/journal.pone.0029639
Ikan
Cacing pita burung, Schistocephalus solidus, memiliki siklus hidup yang rumit. Sesuai namanya, si cacing menginfeksi burung, khususnya burung air. Di dalam usus burung, cacing bertelur dan kemudian telurnya dikeluarkan bersama kotoran burung ke perairan. Di sini telur menetas dan larvanya menginfeksi krustasea kecil yang disebut kopepoda. Makhluk mungil ini adalah makanan ikan. Jadilah akhirnya larva masuk dalam tubuh ikan.
Cacing yang tumbuh dalam perut ikan semakin besar dan besar, bahkan bisa menyebabkan perut ikan terlihat membuncit. Hingga pada waktunya, si cacing merasa perlu kembali ke angkasa untuk melengkapi siklus hidupnya. Mulailah dia memanipulasi perilaku ikan inangnya. Ikan berenang lamban, sendirian, dan di dekat permukaan sehingga sangat mudah terlihat dan ditangkap burung predator.
Cacing yang lain, kali ini termasuk Trematoda, Diplostomum spathaceum juga mengubah perilaku ikan yang merupakan inang sementaranya. Caranya dengan memasuki mata ikan sehingga membentuk katarak. Sebagai akibatnya, ikan jadi cenderung berenang ke arah permukaan yang lebih terang dan mengalami kesulitan melihat predatornya, yaitu burung yang juga merupakan inang berikutnya bagi si cacing.
Referensi
Yong E (17 November 2011) Some like it hot (if they’re riddled with parasites).  http://blogs.discovermagazine.com/notrocketscience/2011/11/17/tapeworm-stickleback-parasite-heat/  Diakses: 12 Agustus 2014
Seppälä O, Karvonen A,  Valtonen ET (2004) Parasite-induced change in host behaviour and susceptibility to predation in an eye fluke–fish interaction. Anim. Behav. 68(2):257-263
Lalat
Di alam, prevalensi infeksi Leishmania dalam populasi lalat pasir sangat kecil, di bawah 0,1%, meskipun di area endemik dan penularan tinggi. Parasit berupa protozoa ini diduga kuat telah melakukan manipulasi perilaku makan lalat inangnya sehingga meningkatkan efisiensi penularan penyakti. Infeksi Leishmania membuat lalat lebih rakus, mampu makan tanpa henti, bahkan pada berbagai jenis menu inang.
Referensi
Rogers ME, Bates PA (2007) Leishmania Manipulation of Sand Fly Feeding Behavior Results in Enhanced Transmission. PLoS Pathog. 3(6): e91. doi:  10.1371/journal.ppat.0030091
Jangkrik
Virus IIV-6/CrIV membuat jangkrik menjadi maniak seks, meskipun virus tersebut membuatnya mandul. Pengubahan perilaku oleh iridovirus ini bertujuan untuk penyebaran melalui kontak seksual, terutama oleh para pejantan, yang tidak bisa berhenti kawin sampai mati.
Referensi
Adamo SA, Kovalko I, Easy RH, Stoltz D (2014) A viral aphrodisiac in the cricket Gryllus texensis. J Exp Biol. 217(Pt 11):1970-1976. doi: 10.1242/jeb.103408
Ngengat
Tawon dari keluarga Braconidae, Glyptapanteles sp. membuat inang ulat ngengat Thyrinteina leucocerae menjadi penjaga kepompongnya. Setelah larva keluar dari inang untuk membentuk kepompong, inang berhenti makan, tetap berada dekat dengan kepompong, dan memukul KO predator dengan hentakan liar kepalanya (film atas). Ulat kemudian mati tanpa sempat menjadi ngengat. Tindakan berani ini tidak akan pernah ditunjukkan ulat yang tidak terinfeksi (film bawah).




Sementara di Tibet dan Himalaya, jamur parasit Ophiocordyceps sinensis membuat ulat ngengat Thitarodes sp mengubur diri dengan kepala mengarah ke permukaan tanah. Saat musim dingin, jamur tumbuh dengan mencerna ulat dari dalam tubuhnya. Saat musim semi, tubuh jamur akan tumbuh melalui kepala ulat hingga di atas permukaan tanah.
Ulat ngengat gipsi di hutan Eropa umumnya mencari tempat bersembunyi di antara ceruk batang atau mengubur diri dalam tanah. Namun infeksi baculovirus menyebabkan ulat berlaku sebaliknya. Alih-alih bersembunyi, ulat yang terinfeksi justru mencari daun tertinggi. Pada puncak pohon, tubuh ulat seperti melumer, melepaskan jutaan virus ke udara dan ke dedaunan di bawahnya. Penyakit ini disebut wipfelkrankheit – “penyakit puncak pohon” dalam bahasa Jerman.
Referensi
Grosman AH, Janssen A, de Brito EF, Cordeiro EG, Colares F, et al. (2008) Parasitoid Increases Survival of Its Pupae by Inducing Hosts to Fight Predators. PLoS ONE 3(6): e2276. doi:10.1371/journal.pone.0002276
Hoover K, Grove M, Gardner M, Hughes DP, McNeil J, et al. (2011) A Gene for an Extended Phenotype. Science 333(6048): 1401. doi: 10.1126/science.1209199
Silverman L (9 Oktober 2011) Caterpillar Fungus: The Viagra of the Himalayas.  http://www.npr.org/2011/10/09/141164173/caterpillar-fungus-the-viagra-of-the-himalayas Diakses: 13 Agustus 2014
Yong E (8 September 2011) Liquefying virus uses one gene to make caterpillars climb. http://phenomena.nationalgeographic.com/2011/09/08/liquefying-virus-uses-one-gene-to-make-caterpillars-climb-to-their-doom Diakses: 15 Agustus 2014
Tikus
Toxoplasma gondii memberikan keberanian mematikan buat tikus yang menjadi inang sementaranya.  Seperti Jerry yang berani mempermainkan Tom, tikus yang terinfeksi akan berlari mendekati kucing. Tujuan si parasit adalah untuk mendapatkan inang sejatinya, tempat perkembangbiakan yang disukai, yaitu usus kucing.
Referensi
Ingram, Goodrich, Robey & Eisen. 2013. Low-virulence Strains of Toxoplasma gondii Result in Permanent Loss of Innate Fear of Cats in Mice, Even after Parasite Clearance. arXiv:1304.0479
Kecoa
Tawon parasite, Ampulex compressa, mengubah perilaku kecoa untuk dijadikan calon pengasuh sekaligus bahan makanan segar untuk anaknya. Tawon memberikan dua kali tusukan racunnya, langsung pada sistem saraf pusatnya. Suntikan pertama dilakukan pada bagian dada, menyebabkan kelumpuhan kaki sementara selama beberapa menit. Setelah itu disusul suntikan kedua pada bagian kepala. Suntikan ini membuat kecoa menjadi penurut. Bukannya melarikan diri, kecoa malah seperti anjing yang dituntun majikannya saat si tawon menarik antenanya.
Kecoa benar-benar tidak mampu bergerak sendiri. Bahkan saat ditinggal tawon dan larva mulai memakannya, kecoa tetap diam pasrah tanpa mencoba kabur.


Referensi
Libersat F (2003) Wasp uses venom cocktail to manipulate the behavior of its cockroach prey. J. Comp. Physiol. A 189:497-508. doi: 10.1007/s00359-003-0432-0
Ladybug
Ladybug (Coleomegilla maculata) selama ini merupakan serangga yang sangat disukai para petani, karena perannya sebagai predator hama serangga seperti afid.
Serangga yang tergolong kumbang ini memiliki sistem pertahanan yang baik. Warnanya yang mudah dikenali, merah bertotol hitam, merupakan tanda peringatan bagi pemangsanya. Jika ada burung atau binatang lain mencoba memakannya, ladybug dapat mengeluarkan cairan beracun dari area persendian kakinya. Rasa pahit yang ditimbulkan umumnya dapat menyebabkan sang predator memuntahkan kumbang ini kembali.
Pertahanan yang bagus ini dimanfaatkan tawon Dinocampus coccinellae dengan menjadikan ladybug sebagai penjaga anak. Tawon betina yang siap bertelur akan mencari seekor ladybug, mendekatinya perlahan dan kemudian menyuntikkan telur beserta sejumlah cairan ke dalam tubuh ladybug. Cairan ini menjadikan ladybug kehilangan kesadaran dan menjadi penjaga, sekaligus mangsa, yang efektif untuk larva tawon.
Hasil penelitian terbaru, yang dipublikasikan pada Februari 2015, menunjukkan bahwa cairan yang disuntikkan tersebut mengandung virus paralisis yang kemudian disebut dengan singkatan DcPV. Virus pada awalnya berkembang dalam tubuh larva tawon. Larva keluar dari tubuh ladybug saat siap menjadi kepompong. Sebelumnya, virus dilepas dan menyerang otak ladybug sehingga menyebabkan kelumpuhan, namun masih mampu menggerakkan kaki dan menakuti predator untuk mengamankan kepompong di bawah tubuhnya. Pelayanan keamanan ini berakhir setelah tawon dewasa keluar dari kepompongnya.
Tawon Dinocampus coccinellae siap menyerang ladybug (Sumber: National Geographic)
Referensi
Dheilly NM, Maure F, Ravallec M, Galinier R, Doyon J (2015) Who is the puppet master? Replication of a parasitic wasp-associated virus correlates with host behaviour manipulation. Proceedings B. doi: 10.1098/rspb.2014.2773
Owen J (10 Februari 2015) Wasp Zombifies Ladybugs Using Virus as Bio-Weapon - a First. http://news.nationalgeographic.com/news/2015/02/150210-zombies-ladybugs-wasps-parasites-animals-science Diakses: 12 Februari 2015
van der Krieke K (2 Agustus 2011) Pictures: Wasps Turn Ladybugs into Flailing "Zombies". http://news.nationalgeographic.com/news/2011/08/pictures/110802-zombie-ladybugs-parisitic-wasps-insects Diakses: 12 Februari 2015
Zimmer C (November 2014) Mindsucker: Meet Nature's Nightmare. http://ngm.nationalgeographic.com/2014/11/mindsuckers/zimmer-text Diakses: 12 Februari 2015
Riwayat revisi
Revisi 150213: Penambahan ladybug
Revisi 150807: Penambahan Reclinervellus nielseni dengan inang laba-laba Cyclosa argenteoalba
Revisi 160216: Penambahan Dicrocoelium dendriticum dengan inang semut Formica fusca

Sistem Noken dan “Bigman”

Oleh TITO PANGGABEAN
Hari-hari ini sedang ramai dibahas isu pemungutan suara sistem noken di Papua.
Ini adalah cara pemungutan suara yang sudah lama diakui Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai kearifan lokal, tetapi kembali menjadi berita karena pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor 1 menggugat Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pemohon menganggap sistem itu tidak sah.
1057303-jos--pilkada-gubernur-papua--780x390.JPG
Seorang petugas KPPS tengah menunjukkan surat suara dalam penghitungan suara seusai pemungutan suara, Selasa (29/1/2013) di TPS Kampung Wiligatnem, Jayawijaya. Warga di kampung itu menggunakan sistem noken sebagai sarana pemilihan. (Kompas/B Josie Susilo Hardianto)
Ada dua pola sistem noken yang biasa digunakan masyarakat di Pegunungan Tengah Papua. Pertama, pola bigman, di mana pemberian suara diserahkan atau diwakilkan kepada ketua adat.
Kedua, pola noken gantung, di mana masyarakat dapat melihat suara masuk ke kantong partai yang sebelumnya telah disepakati. Pola kedua ini dipakai dalam Pemilihan Umum Legislatif 2014.
Dalam kedua jenis sistem noken, prinsip bebas dan rahasia tidak berlaku. Dalam pola bigman, warga sepenuhnya percaya menyerahkan pilihan kepada pemimpin sebagai ekspresi ketaatan. Pasangan capres-cawapres nomor 1, yang kalah suara di kawasan yang menerapkan sistem bigman, menggugat cara itu.
Terkait pemimpin
Sistem noken berkaitan langsung dengan para pemimpin tradisional. Dalam rangka penelitian antropologi, saya pernah beberapa kali berkunjung ke Pegunungan Tengah Papua. Fakta ini perlu diungkapkan karena beberapa saksi capres-cawapres nomor 1 yang tampil di sidang MK berulang kali menyebut pertentangn di Pegunungan Tengah.
Tipe pemimpin pada masyarakat Pegunungan Tengah adalah yang dalam antropologi disebut tipe bigman, dalam bahasa lokal menagawan, artinya lebih kurang ‘orang berwibawa’. Orang berwibaya meraih status sebagai pemimpin bukan karena warisan. Ini adalah pencapaian status, yang diraih atas dasar perilaku, tindakan, dan usaha memenangkan persaingan dengan orang-orang  lain atau lawan yang menjadi pesaing.
Karena status orang berwibawa ditentukan oleh perilakunya, usaha untuk memenangi persaingan membuat posisinya penuh risiko. Ia harus pandai merangkul bigman lain, membagi wewenang dengan mereka, dan menyumbangkan harta, waktu, dan energinya untuk kepentingan orang banyak.
Seorang bigman yang acap dianggap pemimpin perang dinilai hebat bilamana ia menyejahterakan rakyatnya, bukan terus-menerus mengobarkan perang.
Adalah keliru mengatakan seorang bigman yang baik yang sering mengobarkan perang. Justru sebaliknya, bigman yang baik adalah yang memiliki kemampuan mengubah musuh menjadi sekutu. Bigman adalah orang bijak dan karena itu jadi panutan dan ditaati komunitasnya.
Di Papua, seorang pemimpin di sebuah kampung belum tentu dianggap pemimpin di kampung lain. Seorang pemimpin lintas kampung adalah pemimpin yang mampu berdiplomasi dengan pemimpin kampung lain dan menjalin persekutuan, menghormati wewenang, dan pantang mempermalukan pemimpin lain. Kepiawaian diplomasi serta membina persekutuan menjadikan seorang bigman disegani oleh beberapa bigman lain.
Perolehan suara
Dalam kunjungan terakhir ke Papua, 2013, saya berkesempatan menyaksikan langsung proses pemilihan Bupati Timika di sebuah kampung di daerah Pegunungan Tengah. Seorang bigman  yang paling disegani didatangi bigman dari kampung lain.
Pada kesempatan berbeda, ia juga menemui pemimpin kampung lain itu. Meski bukan agenda khusus, isu pemilihan bupati dibicarakan. Mereka saling bertukar informasi tentang pasangan-pasangan calon itu.
Dalam pertemuan itu dibahas siapa kira-kira yang akan mereka pilih: Apakah mereka akan memberikan semua suara warga untuk satu pasangan saja; membagi rata suara pada semua pasangan; atau untuk pasangan terbaik, yakni pasangan yang dianggap paling membela rakyat, baik hati, dan tidak mengumbar janji.
Dalam salah satu pertemuan para pemimpin adat itu, bigman yang paling disegani mengatakan, pilihan paling aman bagi warga kampung-kampung di Pegunungan Tengah adalah membagi suara secara sama rata. Alasannya, semua calon dianggap tidak memihak kepada rakyat di pegunungan, tak satu pun pernah membuat program pembangunan di Pegunungan Tengah.
Alasan kedua, ada 10 calon bupati dan wakil bupati yang berasal dari kampung mereka di pegunungan. Mereka tidak bisa menentukan mana yang akan diberi suara lebih banyak atau lebih sedikit. Hal ini karena semua calon itu adalah para kerabat mereka sendiri.
Karena takmenginginkan perpecahan di kalangan warga, pemimpin yang paling disegani itu memutuskan membagi rata suara di kampungnya. Keputusan itu disetujui oleh pemimpin-pemimpin yang lain.
Pemilihan bupati putaran kedua menghasilkan tiga calon bupati dan calon wakil, termasuk satu yang berasal dari Pegunungan Tengah. Hal ini memudahkan para pemimpin adat memilih. Hasilnya, 100 persen warga kampung di Pegunungan Tengah memilih calon bupati asal daerah mereka. Semua pemimpin menyetujui keputusan bigman paling senior itu.
Sumber informasi
Dari mana para pemimpin adat mendapat informasi? Seringkali dikatakan, akses informasi kampung-kampung di Pegunungan Tengah sangat terbatas. Namun, para pemimpin itu bukan orang yang tidak pernah keluar kampung. Sebagian besar mereka menjadi aparat pemerintah; kepala desa, atau aparat desa yang diundang untuk rapat koordinasi di kantor kecamatan. Dengan demikian, banyak informasi yang dapat diserap, termasuk yang terkait dengan pemilihan.
Salah satu calon bupati adalah seseorang yang dianggap terpelajar dan anak dari kepala suku masa lalu. Namun, ia tak dianggap sebagai pemimpin. Para pemimpin tradisional Papua ini juga berusaha menggali informasi dari sejumlah pihak di luar, termasuk dari saya, tentang para calon bupati dan wakilnya.
Ketika itu, saya sempat balik bertanya, kenapa tidak dibebaskan saja setiap orang memilih dan mencoblos sendiri. Para pemimpin itu mengatakan, rakyat tidak mengenal para calon bupati, cara memilih pun mereka tak tahu. Jadi, warga menyerahkan kepada para pemimpin siapa yang akan dipilih. Orang Papua di Pegunungan Tengah meyakini, pemimpin tidak mungkin menyengsarakan rakyatnya. Apa yang menurut pemimpin baik, baik pula bagi rakyat.
Meski saat Pilpres 9 Juli lalu saya tidak berada di Papua, saya dapat membayangkan proses pemilihan di kampung-kampung Pegunungan Tengah berjalan seperti halnya proses pemilihan bupati dan wakil bupati 2013.
Pilpres kali ini hanya menampilkan dua pasangan, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa sebagai pasangan nomor 1 dan Jokowi-JK sebagai pasangan nomor 2. Para bigman melihat Jokowi populer di daerah Pegunungan Tengah.
Saat saya terakhir ke Papua, Desember 2013, jauh sebelum Jokowi maju sebagai calon presiden, seorang bigman di Pegunungan Tengah mengatakan, “Jokowi bagus, ya, menjadi Gubernur Jakarta, sukses juga menjadi Wali Kota Solo. Kami (para pemimpin) sepakat memilih Jokowi kalau dia mencalonkan diri menjadi presiden.”
Sebaliknya, Prabowo dinilai sebagai tokoh lama, sama seperti Megawati, Jusuf Kalla, dan tokoh lain yang dinilai tidak membawa kemajuan bagi orang Papua.
Di daerah-daerah lain di Papua, penilaian atas Jokowo dan Prabowo mungkin saja berbeda. Seperti diakui KPU, di beberapa daerah lain popularitas Prabowo justru melebihi Jokowi. Pasti karena para bigman di daerah-daerah itu berpendapat, Prabowo lebih baik daripada Jokowi. Hanya kebetulan saja di Pegunungan Tengah pada bigman lebih menyukai Jokowi.
Sistem noken membuat hasil pemilihan presiden di Pegunungan Tengah Papua sangat bergantung pada hasil perang diplomasi antar-bigman. Dicapainya kemenangan mutlak 100 persen oleh salah satu pihak menunjukkan adanya bigman yang amat disegani di sana.
Jika hasilnya fifty-fifty, itu mengindikasikan tengah terjadi persaingan kepemimpinan yang ketat di antara kedua bigman yang paling berpengaruh.
Maka, besar-kecilnya perolehan suara di Pegunungan Tengah Papua, sesungguhnya refleksi pertarungan pengaruh di antara para bigman.
TITO PANGGABEAN
Antropolog; Peneliti Kebudayaan Masyarakat Pegunungan Tengah Papua
Kompas, Sabtu, 16 Agustus 2014