Wednesday, 25 June 2014

Para Pendukung

Rhoma Irama
Saat jelang pilgub DKI Jakarta, Rhoma Irama sempat berceramah tarawih di Masjid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat. Salah satu isi ceramahnya menyebutkan meski Jokowi beragama Islam, tetapi orang tuanya nonmuslim. (Aziza, 2012; Ramadhan, 2012)
1845099Soneta780x390.jpg
Rhoma Irama bersama Soneta Grup saat kampanye untuk Prabowo-Hatta di Pamekasan, Kamis (19/6/2014). (Kompas/Taufiqurrahman)
Saat kampanye Presiden 2014, Rhoma Irama menjadi jurkam Prabowo Subianto. Sesuai dengan pernyataan Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo, ibu mereka, yaitu Dora Marie Sigar, adalah seorang Kristen Protestan hingga akhir hayatnya (Tombeg, 2014). Hasyim sendiri juga seorang Nasrani (Kompas, Minggu, 22 Juni 2014).
Amien Rais
Amien Rais dikenal sebagai tokoh yang paling vokal menghujat Soeharto pada 1998 dan setelahnya. Probosoetedjo dalam bukunya Habis Manis Sepah Dibuang menyebutkan bahwa sebelumnya Amien Rais dekat dengan Cendana. Contoh kedekatannya antara lain Soeharto ikut andil membantu dan mendukung Amien Rais menjadi Ketua Umum Muhammadiyah dalam Muktamar Muhammadiyah di Aceh pada 1995. (Nugrahanto, 2014)
17170220000000081780x390.jpg
Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai Amanat Nasional Amien Rais (memegang mikrofon) menyampaikan sambutan dalam deklarasi Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sebagai calon presiden dan wakil presiden di Rumah Polonia, Jalan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Senin (19/5/2014). (Kompas/Fathur Rochman)
Dalam kampanye capres, Amien Rais dan partainya menjadi pendukung Prabowo. Dalam acara rapat pimpinan nasional Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI-Polri, Selasa, 3 Juni 2014, Prabowo menjanjikan pengangkatan Soeharto menjadi Pahlawan Nasional (Purnomo, 2014).
2038377000-banjir212780x390.JPG
Spanduk bergambar mantan Presiden Soeharto terpasang di posko Djoko Santoso Center 328 di Jakarta Pusat, saat deklarasi mendukung capres-cawapres Prabowo-Hatta Rajasa di Jakarta Pusat, Senin (2/6/2014). (Tribunnews/Herudin)
Keluarga Cendana yang diwakili Probosutedjo dan Titiek Suharto tegas menyebutkan keberpihakannya pada pasangan Prabowo-Hatta (Pratomo, 2014). Belum ada komentar dari Amien Rais mengenai hal ini.
Kasus kedua, Amien Rais disebutkan pernah meminta Prabowo diajukan ke mahkamah militer terkait kasus penculikan 1998. Bukannya mengklarifikasi, Amien Rais justru menantang pembuktian pernyataan itu, bahkan dengan janji akan melakukan jalan kaki Yogyakarta-Jakarta pergi pulang jika ada bukti kliping koran, rekaman video atau televisi yang memuat dirinya pernah memojokkan Prabowo (Zakaria, 2014). Apesnya, ternyata bukti ditemukan. Bukti pertama dari harian Republika 24 Juni 1998 dengan kepala berita "Amien Rais: Prabowo harus Dimahmilkan". Bukti kedua diperoleh dari harian Kompas 4 Agustus 1998 yang di dalamnya mengutip pernyataan Amien Rais yang menuduh Prabowo sebagai salah satu yang bertanggung jawab dalam kasus penculikan 1998 (Laisila, 2014). Kecaman pun semakin gencar...
Jusuf Kalla
Jusuf Kalla pernah meremehkan pasangannya saat ini, Jokowi. JK menyebutkan negeri ini bisa kacau jika Jokowi jadi presiden karena kurangnya pengalaman. Waktu itu memang Jokowi baru menjabat gubernur DKI 2-3 bulan, namun sudah ada wacana untuk mengusungnya menjadi capres (Ikhbal, 2014).
200417002-fot0o71780x390.JPG
Jusuf Kalla. (Tribunnews/Herudin)
Uniknya saat ini justru JK dijadikan Jokowi menjadi pendampingnya. Mungkin karena Jokowi sangat memerlukan dukungan JK yang sudah sangat berpengalaman memimpin negeri.
Ruhut Sitompul
Pengacara dan politisi Partai Demokrat ini selalu saja memiliki cara untuk mencaci maki lawan politiknya. Jokowi termasuk salah satu yang sering diserangnya, baik saat menjadi Gubernur DKI hingga masa-masa awal pencapresan. Merdeka.com menyebutkan setidaknya ada lima caci maki yang pernah dilontarkan Ruhut kepada Jokowi, antara lain Jakarta makin semrawut, hanya pencitraan, bakal teler urus Jakarta, tidak pantas jadi gubernur, dan tidak level jadi capres (Syafirdi, 2013). Bahkan Ruhut pernah menantang Jokowi debat terbuka saat menyikapi tingginya elektabilitas Jokowi dalam berbagai hasil survey (Akuntono, 2013).
212132720140623-192944780x390.JPG
Ruhut Sitompul. (Kompas/Sabrina Asril)
Namun tiba-tiba, pada 23 Juni 2014 Ruhut mendeklarasikan dukungannya kepada pasangan Jokowi-JK. Alasan Ruhut karena pasangan nomor 2 ini tidak melecehkan pemerintahan SBY sebagaimana dilakukan oleh Prabowo-Hatta. Dia juga menyebutkan bahwa tindakannya ini atas persetujuan SBY, meski kemudian SBY mengaku tidak pernah memberikan persetujuan tersebut. Bahkan pada akhirnya Partai Demokrat menyatakan dukungan pada Prabowo-Hatta.
Tanggapan Jokowi? "Artinya pasti ada sesuatu kenapa beliau itu dulu sering nyerang. Kemudian berbalik. Tanyakan ke sana. Ooo, ternyata Jokowi memang... Hehehe saya nggak ngerti," jelas Jokowi.
Orang ini apa tidak bikin kisruh antarpendukung capres nih?
Referensi
Aziza KS. Fitnah Ibu Jokowi, Rhoma Irama Terancam Pidana. Rabu, 8 Agustus 2012. http://megapolitan.kompas.com/read/2012/08/08/19461385/Fitnah.Ibu.Jokowi..Rhoma.Irama.Terancam.Pidana
Laisila A. Kapan Amien Rais Tepati Janji Jalan Kami Jogya-Jakarta PP? 27 Juni 2014. http://suara.com/news/2014/06/27/163803/kapan-amien-rais-tepati-janji-jalan-kaki-jogja-jakarta-pp
Pratomo AY. Keluarga Cendana Makin Mantap Dukung Prabowo-Hatta. Selasa, 1 Juli 2014. http://www.merdeka.com/politik/keluarga-cendana-makin-mantap-dukung-prabowo-hatta.html
Ramadhan S. Ini Dia Isi Sebagian Ceramah Rhoma Irama yang Dianggap Bermuatan SARA. Minggu, 12 Agustus 2012. http://www.suara-islam.com/read/index/5126/Ini-Dia-Isi-Sebagian-Ceramah-Rhoma-Irama-yang-Dianggap-Bermuatan-SARA
Tombeg L. Ibunda Prabowo Kristen Protestan. Senin, 12 Mei 2014. http://manado.tribunnews.com/2014/05/12/ibunda-prabowo-kristen-protestan
Zakaria A. Amien Rais Akan Jalan Kaki Yogya-Jakarta PP. Jumat, 6 Juni 2014. http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/06/06/269583073/Amien-Rais-Akan-Jalan-Kaki-Yogya-Jakarta-PP
Nugrahanto ADH. Sejarah Jumpalitan Politik Amien Rais. Sabtu, 19 April 2014. http://politik.kompasiana.com/2014/04/19/sejarah-jumpalitan-politik-amien-rais--650174.html
Purnomo WA. Prabowo Janjikan Soeharto Jadi Pahlawan Nasional. Rabu, 4 Juni 2014. http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/06/04/269582516/Prabowo-Janjikan-Soeharto-Jadi-Pahlawan-Nasional
Akuntono I. Ruhut Tantang Jokowi Debat Terbuka. Selasa, 26 November 2013. http://nasional.kompas.com/read/2013/11/26/1814001/Ruhut.Tantang.Jokowi.Debat.Terbuka
Syafirdi D. 5 Caci maki Ruhut untuk Jokowi. Senin, 20 Mei 2013. http://www.merdeka.com/jakarta/5-caci-maki-ruhut-untuk-jokowi.html

Tuesday, 10 June 2014

Gunung Kelud 2014

Menjelang penghujung malam 13 Februari 2014, Gunung Kelud meletus. Cendawan erupsi (eruption plume) pertama kali terdeteksi satelit pada pukul 23.09. Berdasarkan analisis citra satelit, awan abu memiliki ketinggian hampir 20 km, dengan lebar cendawan mendekati 30 km. Sebagian abu bahkan mencapai ketinggian 26 km. Berdasarkan citra satelit, abu terbawa angin ke arah barat-barat daya dan jatuh ke Samudra Hindia.
Gambar MTSAT-1R 10.8 μm IR yang menunjukkan ekspansi cepat payung awan volkanik dari erupsi Gunung Kelud 13 Februari 2014, dalam interval 10 menit (dengan beberapa gap). Sinyal awal berupa awan volkanik berbentuk bentukan kecil dimulai pada jam 23.09.
Citra satelit Suomi NPP menggunakan Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) pada jam 00:30, 14 Februari 2014, yang menunjukkan puncak cendawan erupsi (plume) (atas). Pengukuran ketinggian awan abu dengan CALIOP dari satelit Cloud-Aerosol Lidar and Infrared Pathfinder Satellite Observation (CALIPSO) pada jam 1:10, 14 Februari 2014, yang menunjukkan awan abu memiliki ketinggian hingga hampir 20 km, dengan beberapa bagian mencapai hampir 30 km (bawah).
Citra satelit sebaran abu volkanik Gunung Kelud ke arah barat Jawa dan mencapai Samudera Hindia

Letusan dengan awan abu berhias petir
2143330GunungKeludMeletus051780x390.jpg

Warga memotret erupsi Gunung Kelud dari Kota Kediri, Jawa Timur, 14 Februari 2014. (AFP Photo/Juni Kriswanto)
0904597Kelud011780x390.jpg
Kondisi perkampungan yang tertimbun abu vulkanik Gunung Kelud di Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Sabtu (15/2/2014). (Surya/Hayu Yudha Prabowo)
1656193keludd780x390.jpg
Beberapa wisatawan, Selasa (11/3/2014), melihat kawasan sekitar kawah Gunung Kelud dari jarak sekitar 4 kilometer di jalan utama menuju kawah di Desa Sugihwaras, Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. (Kompas/Defri Werdiono)
080032402-foto28780x390.JPG
Abu vulkanik yang berasal dari letusan Gunung Kelud menyelimuti kawasan Perempatan Tugu, Yogyakarta, Jumat (14/2/2014) pagi. (Kompas/Ferganata Indra Riatmoko)
0922183IMG-20140214-084650780x390.jpg
Landasan Bandara Adi Sucipto tertutup abu vulkanik Gunung Kelud penerbangan ditutup. (Kompas/Wijaya Kusuma)
Letusan kali ini menunjukkan bahwa Gunung Kelud telah kembali ke pola letusan eksplosif. Pada November 2007 pola letusan Gunung Kelud sempat beralih efusif, dengan memunculkan kubah lava di tengah lokasi danau kawahnya.  Danau menjadi kolam kecil berisi air keruh berwarna kecoklatan di sisi selatan kubah lava. Peralihan sementara ini disebut mantan Kepala Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Surono, sebagai anomali, yang disebabkan karena adanya retakan di jalur lava sehingga terjadi ‘kebocoran’ daya dorong letusan. Akibatnya, daya letus gunung berkurang drastis.
Danau  kawah pasca erupsi 1901
Danau kawah Gunung Kelud, 1919
Danau kawah Gunung Kelud, 1980
Kawah dengan kubah lava Gunung Kelud, 2012
1308gunung-kelud.jpg
Kondisi puncak Gunung Kelud setelah mengalami erupsi. Kubah lava setinggi 300 meter telah berganti dengan kawah, Rabu (13/8/2014). (TribunNews.com)
Revolusi gunung api
Bentuk dan struktur Gunung Kelud menjulang secara teratur dari dataran Kediri di barat dan dari lembah Sungai Brantas di selatan. Ke timur dan utara terdapat gunung api Kawi, Laksono, dan Anjasmoro yang mengganggu pembentukan kaki gunung yang normal. Konfigurasi dari puncaknya menunjukkan bahwa kawahnya berpindah-pindah dari timur ke barat. Selain itu, sumbat lava lama seperti Sumbing serta Gajahmungkur dan puncaknya yang membentuk bagian dari pinggir kawah sekarang memberikan bentuk yang sangat tidak teratur. Gunung Umbo adalah kerucut parasite di lereng barat sampai barat daya.
Menurut geologis dari Museum Geologi Bandung, Indyo Pratomo, Gunung Kelud terbentuk dalam tiga tahap utama. Tahap pertama, pembentukan tubuh gunung strato dengan tiga kubah di lereng selatan-timur berupa Gunung Kramasan (944 mpdl), lereng barat berupa Gunung Pisang (855 mdpl), dan Gunung Umbuk (1.014 mdpl). Tahap kedua, terjadinya longsoran, dengan atau tanpa letusan, sehingga menyisakan kubah Gunung Kombang (1.574 mdpl) dan bagian dari sisi barat-selatan di tepi kiri Kawah Putih. Sulit menentukan kapan terbentuknya Gunung Kelud purba karena tubuh gunung ini hancur berkali-kali akibat kerapnya letusan. Tahap ketiga ditandai dengan pembentukan tapal kuda, yang jejaknya masih bisa dilihat dari bentukan Gunung Kelud saat ini. Tubuh Gunung Kelud saat ini dibatasi oleh struktur bukaan ke samping ke arah tenggara dan ditandai oleh morfologi khas “bukit-bukit” kecil yang tersebar pada ketinggian 600-700 meter di kawasan sekitar 5-6 km dari puncak gunung api. Kawah yang ada saat ini merupakan salah satu bentukan tahap ketiga, yang dulunya merupakan magma dangkal. Bisa jadi kawah Kelud saat ini merupakan dasar gunung lama yang bagian atasnya terbongkar saat meletus pada masa lampau. Menurut Indyo, danau kawah Kelud terbentuk sekitar 2.400 tahun lalu atau mungkin lebih tua.
“Kelud hanya memiliki dua tipe letusan, besar dan besar sekali, serta dalam sejarahnya pernah menghancurkan Kediri,” kata Surono. Letusan besar berarti melontarkan air panas dari danau kawah bercampur batuan panas dan kerikil, yang disebut sebagai lahar letusan. Jika selain lahar letusan juga mengeluarkan awan panas, sebutannya letusan besar sekali.
Keunikan letusan gunung api strato, dengan ketinggian 1.731 meter dpl ini adalah tidak diawali dengan letusan kecil. “Letusan Kelud biasanya langsung besar dan singkat,” kata Surono. Kondisi ini sangat berbahaya bagi masyarakat karena tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk menghindar.
Tipe letusannya disebut sprint karena erupsi hanya berlangsung selama dua hari dengan material letusan bisa mencapai 200 juta kubik. Pada 10 Februari 1990, setidaknya 200 juta ton meter kubik material padat terlontar dari kawah Gunung Kelud dalam waktu hanya 5 jam. Sebagai pembanding, letusan Gunung Merapi pada 2010 "hanya" melontarkan 150 juta meter kubik material padat, dalam jangka waktu satu bulan. Sementara volume lontaran Gunung Sinabung, Sumatera Utara, sejak September 2013 hingga awal Februari 2014 kurang dari 10 juta meter kubik.
“Kelud itu sangat irit gempa. Kita tidak bisa mendasarkan pengamatan Kelud hanya pada aktivitas gempanya,” kata Surono. Kondisi saat tenang menjelang meletus ini merupakan ciri khas hampir semua gunung api andesit, seperti Gunung Kelud. Gunung api andesit umumnya ditemukan pada lingkungan penunjaman tektonik dan sifatnya sangat mudah meledak serta tak terduga. Disebut gunung api andesit karena lava yang dikeluarkannya membentuk batuan andesit yang kaya silica.
Keberadaan sumbatan besar di kawah Gunung Kelud pada tahun 2007 sempat menimbulkan kegelisahan Surono. “Kalau Kelud meletus lagi, semoga saat itu saya tidak lagi menjadi Kepala PVMBG,” kata Surono di kawah Kelud, 4 November 2011. “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana letusan Kelud ke depan.” Pola ledakan Gunung Kelud menjadi sulit diprediksi. Energi letusan Kelud sangat kuat dan eksplosif. Sulit dibayangkan jika kubah lava tersebut terlontar seketika saat Kelud meletus. Jika sumbatan cukup kuat dan magma tidak mampu menjebolnya, bukan tidak mungkin Gunung Kelud meletus dari lereng di luar kawah. Bahaya sangat besar menanti karena area sekitar Gunung Kelud padat penduduk.
Daerah Terdampak
Pola letusan Gunung Kelud kali ini mirip dengan letusan tahun 1919 dan 1951. Perbedaannya, erupsi pada tahun 2014 ini merupakan erupsi kering. Kubah yang terbentuk di tahun 2007 telah mengeringkan 2,5 juta meter kubik air kawah. Sebagai akibatnya, debu terbawa angin hingga jauh ke barat, melapisi tanah dan bangunan di kawasan Kudus, Solo, Yogyakarta, bahkan hingga ke Bandung.
Suara letusan diberitakan terdengar hingga Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang berjarak sekitar 400 km dari Gunung Kelud. Warga setempat panik karena mengira Gurung Raung erupsi.
Secara administratif, Gunung Kelud berada di wilayah Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang. Kabupaten Malang menjadi salah satu wilayah yang terdampak serius dalam erupsi kali ini. Empat orang meninggal akibat sesak napas dan tertimpan runtuhan bangunan yang tidak kuat menahan beban material vulkanik. Sementara ratusan rumah rusak diterjang abu dan bebatuan. Keempat korban tersebut adalah warga Desa Pandansari, Ngantang, 8 km dari puncak Kelud. Total korban meninggal dalam letusan kali ini hanya empat orang. Rata-rata akibat terjatuh dari atap rumah saat membersihkan pasir material vulkanik atau kecelakaan saat mengungsi.
Letusan Gunung Kelud kali ini juga menyebabkan tujuh bandara ditutup. Ketujuh bandara tersebut adalah Bandara Adisutjipto (Yogyakarta), Bandara Adi Soemarmo (Solo), Bandara Juanda (Surabaya), Bandara Abdul Rahman Saleh (Malang), Bandara Ahmad Yani (Semarang), Bandara Tunggul Wulung (Cilacap), dan Bandara Husein Sastranegara (Bandung).
Delapan hari pasca erupsi Gunung Kelud, konsentrasi abu vulkanik di Daerah Istimewa Yogyakarga dan sekitarnya masih tinggi, yaitu mencapai 1.082 mikrogram per meter kubik atau hampir tiga kali lipat dari ambang batas baku mutu udara ambien. Tingginya kadar abu vulkanik yang bersifat higroskopis menyerap kelembaban sehingga udara menjadi kering.



Referensi
NASA Earth Observatory (14 Februari 2014) Indonesia’s Mount Kelut Erupts. Diakses 17 Februari 2014
NASA Earth Observatory (14 Februari 2014) Indonesia’s Mount Kelud Erupts. Diakses 17 Februari 2014
CIMSS Satelline Blog (14 Februari 2014) Eruption of the Kelut volcano in Java, Indonesia. Diakses 17 Februari 2014
Nicarnica Aviation (16 Februari 2014) Satellite Analyses of Kelut Ash and SO2. Diakses 17 Februari 2014
Nicarnica Aviation (14 Februari 2014) Volcanic Eruption in Java Closes Airports. Diakses 17 Februari 2014
Dongeng Geologi (14 Februari 2014) Letusan G Kelud 2014. Diakses 17 Februari 2014
Dongeng Geologi (19 Oktober 2007) Mengenal Gunung Kelud. Diakses 17 Februari 2014
European Space Agency (14 Februari 2014) Kelut Volcano Grounds Air Travel. Diakses 17 Februari 2014
Ekspedisi Cincin Api (30 Januari 2012) Kemelut Gunung Kelud. Diakses 17 Februari 2014
National Geographic Indonesia (14 Februari 2014) Erupsi Kelud: Sejarah Panjang dan Anomali Erupsi Kelud. Diakses 18 Februari 2014
Wikipedia (18 Februari 2014) Gunung Kelud. Diakses 18 Februari 2014
Kompas (12 Februari 2014) Magma Gunung Kelud Mendekati Puncak. Diakses 18 Februari 2014
Kompas (21 Januari 2012) Liputan Khusus Ekspedisi Cincin Api: Kelud, Revolusi Gunung Api
Kompas (15 Februari 2014) Gunung Raung Diduga Meletus.
Kompas (15 Februari 2014) Kelud Lumpuhkan 7 Bandara
Kompas (15 Februari 2004) Dampak Letusan: Waspadai Gangguan Kesehatan
Kompas (15 Februari 2004) Sejumlah Candi Ditutup – Mencegah Kerusakan akibat Erupsi Gunung Kelud
Kompas (15 Februari 2014) Selimut Abu hingga 700 Kilometer
Kompas (15 Februari 2014) Gunung Api: Antara Berkah dan Bencana
Kompas (16 Februari 2014) Belajar Membaca Kelud
Kompas (22 Februari 2014) Kadar Abu Masih Tinggi

Monday, 9 June 2014

Cemaran Timbal

Saya mengamati laporan pemeriksaan cemaran logam berat Pb dari suatu prototype produk jadi dan beberapa bahan bakunya menunjukkan hasil yang kurang lebih sama, dalam rentang antara 0,137 – 0,182 ppm. Suatu hasil yang aneh menurut saya. Hal ini mengingatkan pada pengalaman seorang ilmuwan pemerhati lingkungan, Clair Cameron Patterson (1922-1995). Pat, demikian para rekannya memanggil, pada mulanya melakukan pengukuran komposisi dan kadar isotop dalam sejumlah kecil timbal pada meteorit menggunakan teknik spektrometrik massa yang dimulai pada 1948. Pengukuran untuk menetapkan usia meteorit tersebut mendapatkan kesulitan karena lingkungan yang tidak memadai.
Clair Cameron Patterson
Akhirnya, setelah mendapatkan laboratorium yang lebih ‘bersih’ dan fasilitas dengan baku cemaran timbal lingkungan yang rendah, pada 1953 Pat berhasil menentukan usia bumi berdasarkan pengukuran komposisi isotop timbal primordial dari fase troilit (sulfide) meteorit besi Canyon Diablo.
Kemajuan kemampuan pengukuran timbal ini membuka jalan ke penetapan isotop timbal pada sampel geologi, seperti granit, basalt, dan sedimen. Pat juga mulai melakukan riset terkait cemaran timbal akibat manusia terhadap lingkungan. Pada 1962, Pat bersama Mitsunobu Tatsumoto mempublikasikan laporan yang menunjukkan bahwa air dari laut dalam mengandung timbal 3-10 kali lebih rendah dibandingkan air permukaan. Artinya, pada masa-masa itu terjadi peningkatan polutan timbal yang luar biasa dibandingkan dengan masa sebelumnya. Penyebab yang dituduh Pat paling utama adalah penggunaan timbal pada bahan bakar minyak, patri, cat, dan pestisida.
Pada 1970, Pat dan rekannya menyelesaikan pengujian terhadap lapisan salju dari Greenland dan Antartika yang dengan jelas menunjukkan adanya peningkatan timbal atmosfer dari masa dimulainya revolusi industri. Salju modern Greenland mengandung lebih dari 100 kali jumlah timbal dari salju masa praindustri, dengan peningkatan paling drastis terjadi pada 100 tahun terakhir. Sayangnya, hasil penelitian ini seperti tidak dihiraukan karena banyaknya serangan dari ilmuwan industri. Meskipun demikian, pada akhir 1973 EPA akhirnya mengeluarkan program penurunan kadar timbal dari bahan bakar minyak. Timbal pada bahan bakar minyak akhirnya dihilangkan sama sekali pada 1987 (bagaimana dengan di Indonesia?).
Pat meneruskan penelitiannya dengan mengukur kadar timbal dari tulang rangka manusia Peru yang berusia sekitar 1600 tahun. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa tulang manusia modern memiliki kadar timbal hingga 700-1200 kali lebih tinggi dibandingkan tulang rangka manusia Peru tersebut.
Pada akhir 1970an, Pat mengalihkan perhatian pada cemaran timbal dalam makanan. Dalam penelitian yang dipublikasikan pada 1980 bersama Dorothy M. Settle, Pat memberikan peringatan terkait jumlah timbal yang masuk ke rantai makanan karena patri timbal untuk menutup kaleng. Pat menemukan timbal sejumlah 0,3 nanogram per gram daging tuna segar dan 1400 nanogram per gram daging tuna kalengan. Baru pada 1993, patri timbal tidak diperbolehkan lagi digunakan pada wadah makanan di Amerika Serikat (bagaimana dengan di Indonesia?). Lebih lanjut, penggunakan timbal juga tidak diperkenankan untuk cat dan saluran air. Dari beberapa langkah perbaikan ini, pada 1991, peneliti melaporkan bahwa kadar timbal salju Greenland menurun dengan faktor 7,5 sejak 1971.
Dari ulasan ini, perlu dievaluasi kesesuaian laboratorium pengujian timbal apakah sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan Clair Patterson. Selain itu, separah apa lingkungan udara di Surabaya yang padat kendaraan bermotor sehingga cemaran timbal bahan bakar minyaknya kemungkinan dapat mempengaruhi hasil pengukuran. Yang terakhir ini patut dicermati karena timbal dapat menimbulkan efek serius terhadap kualitas hidup masyarakat.
Anak-anak usia enam tahun atau kurang sangat rentan pengaruh timbal terhadap kesehatan. Dalam kadar yang kecil dalam darah anak, timbal dapat menyebabkan masalah perilaku dan belajar, kecerdasan rendah, hiperaktivitas, perlambatan pertumbuhan, gangguan pendengaran, dan anemia. Pada kasus yang lebih rendah, paparan timbal dapat menyebabkan kejang. koma, bahkan kematian anak.
Dalam tubuh, timbal dapat terakumulasi dari waktu ke waktu di tulang. Saat kehamilan, timbal dapat dilepas bersama kalsium dari tulang ibu untuk pembentukan tulang janin, terutama pada ibu yang kurang mendapat asupan kalsium yang memadai. Sebagai akibatnya, janin dapat mengalami penurunan pertumbuhan dan peningkatan resiko kelahiran prematur. Pada orang dewasa, paparan timbal dapat menimbulkan masalah kardiovaskuler utamanya peningkatan tekanan darah, penurunan fungsi ginjal, dan masalah reproduksi.
Referensi
Tilton GR (1998) Clair Cameron Patterson: A Biographical Memoir. Washington: National Academies Press
United States Environmental Protection Agency: Lead http://www2.epa.gov/lead

Sunday, 1 June 2014

Kaitan Kamar Tidur Terang dan Obesitas pada Perempuan

Hasil penelitian Institut Riset Kanker (ICR) London, Inggris, menunjukkan adanya kaitan antara tingkat cahaya yang tinggi di area tempat tidur malam dan kecenderungan obesitas pada perempuan. Pengujian dilakukan terhadap 113.000 perempuan dari beragam usia, yang diberi pertanyaan mengenai tingkat cahaya di ruang tidur malam. Tingkat pencahayaan tersebut dibagi menjadi empat:
  • Cukup terang untuk membaca
  • Cukup terang untuk melihat keseluruhan area ruang tidur, tetapi tidak dapat untuk membaca
  • Cukup terang untuk melihat tangan di depan kita, tetapi tidak dapat melihat keseluruhan area ruang tidur
  • Terlalu gelap untuk melihat tangan atau menggunakan masker penutup mata
Jawaban kemudian dibandingkan dengan parameter obesitas seperti indeks massa tubuh, rasio pinggang-pinggul, dan lingkar pinggang. Hasil diperoleh bahwa perempuan dengan tingkat pencahayaan tinggi memiliki nilai yang lebih tinggi pada semua parameter obesitas tersebut.
Sejauh ini masih belum ada bukti bahwa tidur dalam kamar tidur gelap dapat menurunkan berat badan dan perlu dilakukan investigasi lebih lanjut. Meskipun demikian, dengan hasil penelitian ini, tidak ada salahnya mencoba tidur di ruang gelap.
Penjelasan yang paling mungkin mengenai hal ini adalah cahaya yang mengganggu jam biologis tubuh. Cahaya dapat mempengaruhi suasana hati, kekuatan fisik, dan pengolahan makanan dalam siklus 24 jam. Selain itu, cahaya juga menghambat produksi hormon tidur, melatonin.
Referensi
Gallagher J (2014) Light Bedrooms ‘Link to Obesity’. BBC News Health, 29 Mei 2014. http://www.bbc.com/news/health-27617615  Diakses 30 Mei 2014
McFadden E, Jones ME, Schoemaker MJ, Ashworth A, Swerdlow AJ (2014) The relationship between obesity and exposure to light at night: cross-sectional analyses of over 100,000 women in the breakthrough generation study. Am. J. Epidemiol. Doi: 10.1093/aje/kwu119. Dipublikasikan online pertama kali pada 28 Mei 2014

Terapi Belatung untuk Penyembuhan Luka Terbuka

Jika mendengar kata ‘lalat’ maka yang terbersit dalam pikiran adalah serangga menjijikkan penyebar penyakit. Meskipun lalat memang terbukti dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, baik secara langsung seperti miasis, maupun tidak langsung seperti penyebaran penyakit infeksi perut dan penyakit tidur tetapi lalat juga memiliki peran penting dalam kehidupan di bumi. Lalat merupakan pengurai bangkai yang sangat efektif. Beberapa jenis lalat hover berperan penting dalam dunia pertanian karena dapat membantu penyerbukan dan belatungnya memakan kutu tanaman.
Dalam dunia kesehatan, belatung lalat Lucilia sericata digunakan untuk membantu mengatasi gangren (jaringan mati), terutama pada penderita diabetes mellitus. Dengan perawatan belatung ini disebutkan bahwa penderita diabetes mellitus dapat terhindar dari ancaman amputasi 1.
Pengaruh belatung dalam penyembuhan luka telah teramati di saat perang. Pada tahun 1917, Dr William S. Baer, seorang dokter bedah ortopedik, mendapatkan dua pasien tentara yang terluka parah selama tujuh hari tanpa perawatan, makan, dan minum, di medan perang. Cedera yang dialami mencakup patah tulang paha terbuka, serta luka lebar pada perut dan skrotum. Pada saat itu, mortalitas akibat patah tulang paha terbuka mencapai 75-80 persen. Selain itu tidak ditemukan demam atau pun bukti septisemia pada kedua pasien tersebut. Setelah membuka pakaian, tim medis menemukan ribuan belatung hidup pada luka. Dengan segera mereka membersihkan luka tersebut. Alih-alih mendapatkan luka membusuk yang dipenuhi nanah, tim dokter ini justru menemukan jaringan granulasi merah muda, tidak terlihat tulang terbuka, bahkan struktur internal tulang yang patah telah terlapisi dengan baik oleh jaringan granulasi tersebut. Hasil kultur bakteri menunjukkan hanya sedikit ditemukan staphylococci dan streptococci yang jumlahnya tidak memungkinkan pembentukan nanah.
Berdasarkan observasi tersebut, Dr Baer selanjutnya mencoba menerapkan belatung pada pasien osteomyelitis kronis dan mendapati mereka dapat sembuh lebih cepat dalam waktu dua bulan. Hasil penerapan ini dilaporkan Dr Baer pada 1931 2. Setelah itu, terapi belatung mulai berkembang meskipun mengalami kendala utama ketersediaan belatung dan biaya.
Seiring dengan ditemukannya antibiotik dan perkembangan teknik pembedahan, pada era 1940an terapi belatung mulai meredup. Terapi belatung kembali dilirik setelah pada 1980an berkembang masalah resistensi antibiotik 3. Pada Januari 2014, US FDA menyetujui pemakaian terapi belatung di Amerika Serikat. Sebulan kemudian NHS Inggris juga mengijinkan peresepan terapi belatung.
Terapi belatung pada prinsipnya adalah myasis terapetik terkendali. Pengendalian mencakup pemilihan spesies dan strain yang efektif dan aman, disinfeksi secara kimia untuk mendapatkan belatung bebas kuman, penempatan belatung di dalam perban khusus yang mencegah belatung keluar dari area luka, dan pengendalian mutu sepanjang proses pembiakan dan produksi belatung. Spesies dan strain yang terpilih menjadi ‘juru bedah’ dalam terapi belatung adalah Lucilia (Paenicia) sericata strain LB-01.
Lucilia sericata secara umum disebut lalat botol hijau. Lalat yang mudah ditemui hampir di seluruh dunia ini memiliki ukuran panjang 10-14 mm, lebih besar dari lalat rumah biasa. Sesuai namanya, lalat ini  berwarna hijau metalik. Tahap perkembangan lalat memerlukan waktu antara 10-23 hari. Antara 8-12 jam, telur menetas menjadi larva. Setelah 4-8 hari, larva berkembang dan akhirnya jatuh ke tanah membentuk kepompong. Setelah 6-14 hari kemudian, kepompong mengeluarkan lalat dewasa.
Lalat betina meletakkan telurnya pada daging, ikan, bangkai binatang, luka terbuka pada manusia dan binatang, dan feses. Larva lalat botol hijau sangat jarang menginvasi jaringan hidup dan makanan. Beberapa laporan kasus myasis belatung Lucilia sericata lebih sering disebabkan ketidaksengajaan 4-9.
Terapi belatung dimulai dengan menempatkan lima hingga sepuluh belatung pada setiap satu sentimeter persegi luka dan kemudian ditutup perban. Selama 48-72 jam berikutnya, belatung melepas cairan pencerna yang melarutkan jaringan mati dan kemudian menghisap jaringan yang yang mencair dan bakteri yang ada. Selama melakukan tugasnya itu, belatung dapat tumbuh dari sekitar 2 mm hingga mencapai hampir 10 mm 10.
Mekanisme umum yang terjadi mencakup debridement, efek antibakteri, dan stimulasi penyembuhan luka. Debridement atau penghilangan jaringan mati di daerah luka berperan penting dalam penyembuhan luka. Selain menghilangkan jaringan yang rusak, debridement juga membantu menghilangkan biofilm, mengembalikan normal flora, memperbaiki faktor pertumbuhan dan aktivitas sel senesens. Lebih jauh, debridement membantu memperbaiki masalah pembentukan ulang protein matriks ekstraseluler dan mencegah kegagalan reepitelisasi.
Debridement dengan menggunakan belatung secara signifikan lebih cepat daripada penanganan konvensional, terutama pada satu minggu pertama 11. Mekanisme ini terjadi karena tiga kelas enzim proteolitik yang diidentifikasi dari eksreksi belatung. Aktivitas tertinggi ditunjukkan oleh kelas proteinase serin (pH optima 8-9) dari dua subkelas berbeda (seperti tripsin dan seperti kimotripsin), sedangkan aktivitas yang lebih lemah diberikan oleh proteinase aspartil (pH 5) dan metalloproteinase (pH 9) 12,13.
Ekskresi belatung disebutkan juga memiliki efek antibakteri, baik Gram positif maupun Gram negatif, termasuk Staphylococcus aureus, S. aureus resisten metisilin, Escherichia coli, dan Pseudomonas aeruginosa 14,15. Amonia yang dihasilkan belatung ikut berperan dalam menghambat pertumbuhan bakteri melalui pengaturan pH 16.
Ekstrak belatung menunjukkan adanya aktivitas stimulasi kultur jaringan fibroblast, meskipun hanya sekitar 12% dari stimulasi yang diberikan faktor pertumbuhan epidermal (EGF) 17.
Permasalahan yang dihadapi dalam terapi belatung utamanya adalah rasa tidak nyaman, masalah distribusi, dan pencegahan belatung terlepas. Sekitar 5-30 persen pasien yang menerima terapi belatung dilaporkan merasakan sakit, tetapi umumnya sebelumnya rasa sakit akibat luka sudah dialami oleh semua pasien tersebut. Rasa nyeri terjadi setelah 24 jam pertama terapi, dan diperkirakan terkait dengan peningkatan ukuran belatung. Pengendalian nyeri dapat dilakukan dengan analgesik atau, jika tidak memungkinkan, pelepasan perban dan pemindahan belatung.
Belatung muda sangat rentan, membutuhkan makanan, air, dan oksigen, serta sensitif suhu. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam distribusi. Lama distribusi tidak boleh lebih dari 24 jam sebelum aplikasi, dengan suhu yang terkendali, untuk menjaga larva tetap bertahan hidup. Sistem perekat perban yang baik dan bertahan lama hingga lebih dari 48 jam diperlukan untuk mencegah belatung keluar dari area luka.
Referensi
  1. Marineau ML, Herrington MR, Swenor KM, Eron LJ (2011) Maggot debridement therapy in the treatment of complex diabetic wounds. Hawaii Med. J.  70(6):121-124
  2. Baer WS (1931) The treatment of chronic osteomyelitis with the maggot (larva of the blowfly). J. Bone Joint Surg.13:438-475Opletalová K, Blaizot X, Mourgeon B, et al (2012) Maggot therapy for wound debridement: a randomized multicenter trial. Arch. Dermatol. 148(4): 432-438
  3. Sherman RA (2009) Maggot therapy takes us back to the future of wound care: new and improved maggot therapy for the 21st century. J. Diabetes Sci. Technol. 3(2): 336-344
  4. Kiliç K, Arslan MO, Kara M (2011) A postoperative wound myasis caused by Lucilia sericata (Diptera: Calliphoridae) in a woman in Kars. Turkiye Parazitol. Derg. 35(1): 43-46
  5. Jang M, Ryu SM, Kwon SC, et al (2013) A case of oral myasis caused by Lucilia sericata (Diptera: Calliphoridae) in Korea. Korean J. Parasitol.51(1): 119-123
  6. Hira PR, Assad RM, Okhasa G, et al (2004) Myasis in Kuwait: nosocomial infections caused by Lucilia sericata and Megalia scalaris. Am. J. Trop. Med. Hyg. 70(4): 386-389
  7. Kaczmarczyk D, Kopczyński J, Kwiecień J, et al (2011) The human aural myasis caused by Lucilia sericata. Wiad. Parazytol. 57(1):27-30
  8. Cho JH, Kim HB, Cho CS, et al (1999) An aural myasis case in a 54-year-old male farmer in Korea. Korean J. Parasitol. 37: 51-53
  9. Talari SA, Sadr F, Doroodgar A, et al (2004) Wound myasis caused by Lucilia sericata. Arch. Iranian Med. 7(2): 128-129
  10. Handwerk B (2003) Medical Maggots Treat as They Eat. National Geographic News, 24 Oktober 2013. Diakses 28 Mei 2014
  11. Opletalová K, Blaizot X, Mourgeon B, et al (2012) Maggot therapy for wound debridement: a randomized multicenter trial. Arch. Dermatol. 148(4): 432-438
  12. Schmidtchen A, Wolff H, Rydengård V, Hansson C (2003) Detection of serine proteases secreted by Lucilia sericata in vitro and during treatment of a chronic leg ulcer. Acta Derm. Venereol. 83(4): 310-311
  13. Chamber L, Woodrow S, Brown AP, et al (2003) Degradation of extracellular matrix components by defined proteinases from the greenbottle larva Lucilia sericata used for the clinical debridement of non-healing wounds. Br. J. Dermatol. 148(1): 14-23
  14. Nenoff P, Herrann A, Gerlach C, et al (2010) Biosurgical debridement using Lucilia sericata-maggots – an update. Wien Med Wochenschr. 160(21-22): 578-585
  15. van der Plas MJ, Jukema GN, Wai SW, et al (2008) Maggot excretions/secretions are differentially effective against biofilms of Staphylococcus aureus and Pseudomonas aeruginosa. J. Antimicrob. Chemother. 61(1): 117-122
  16. Robinson W (1940) Ammonium bicarbonate secreted by surgical maggots stimulates healing in purulent wounds. Am. J. Surg. 47:111-115
  17. Prete PE (1997) Growth effects of Phaenicia sericata larval extracts on fibroblasts: mechanism for wound healing by maggot therapy. Life Sci. 60(8): 505-510