Wednesday, 14 May 2014

Pemakaian Antibiotika dan Peningkatan Resiko Gangguan Kardiovaskuler

Pemakaian antibiotika, khususnya yang kelas berat seperti azithromycin dan levofloxacin, saat ini harus semakin diperhitungkan untung ruginya bagi pasien. Dari penelitian yang dilakukan oleh tim pimpinan Dr Gowtham Rao, dibandingkan amoxicillin, azithromycin secara statistik menunjukkan peningkatan resiko aritmia dan mortalitas pada hari pertama hingga kelima, tetapi tidak pada hari keenam hingga kesepuluh. Sedangkan levofloxacin menghasilkan peningkatan resiko sepanjang periode 10 hari. (Rao et al, 2014).
Pada Maret 2013, US FDA telah mengeluarkan peringatan publik mengenai perubahan abnormal pada aktivitas kelistrikan jantung yang disebabkan azithromycin, sehingga ritme denyut jantung tidak beraturan dan berpotensi fatal. Pasien yang beresiko tinggi mengalami hal ini adalah yang mengalami pemanjangan interval QT, kadar magnesium atau kalium rendah dalam darah,  denyut jantung di bawah normal, atau penggunaan obat-obat tertentu untuk menangani ritme jantung abnormal atau aritmia. Pasien berusia lanjut dan yang memiliki resiko tinggi penyakit kardiovaskuler juga termasuk dalam kelompok pasien yang rentan terhadap bahaya azithromycin.
Sebelumnya, pada Mei 2012, FDA merilis hasil penelitian yang dipublikasikan New England Journal of Medicine mengenai perbandingan resiko kematian akibat gangguan kardiovaskuler pada pasien yang mendapatkan obat antibakteri azithromycin, amoxicillin, ciprofloxacin, dan levofloxacin, atau tanpa obat antibakteri. Laporan penelitian menyebutkan adanya peningkatan kematian akibat gangguan kardiovaskuler pada pasien yang diberi azithromycin hingga 5 hari, dibandingkan pasien yang mendapatkan amoxicillin, ciprofloxacin, atau tanpa obat. Resiko yang terjadi pada pemakaian levofloxacin sama dengan pemakaian levofloxacin. (Ray et al, 2012)
Antibiotika makrolida yang lain, seperti erythromycin dan clarithromycin, juga menunjukkan peningkatan resiko pemanjangan interval QT, torsades de pointes, dan takikardia ventrikel polimorfik. (O’Riordan, 2014)
Referensi
FDA Drug Safety CommunicationL Azithromycin (Zithromax or Zmax) and the risk of potentially fatal heart rhythms. www.fda.gov/drugs/drugsafety/ucm341822.htm
O’Riordan M (2014) Another Reason to Limit Antibiotic Prescribing: Cardiac Risks. http://www.medscape.org/viewarticle/821426
Rao GA, Mann JR, Shoaibi A, Bennett CL, Nahhas G, Sutton SS, Jacob S, Strayer SM (2014) Azithromycin and levofloxacin use and increased risk of cardiac arrhythmia and death. Ann. Fam. Med. 12 (2):121-127
Ray WA, Murray KT, Hall K, Arbogast PG, Stein MC (2012) Azithromycin and the risk of cardiovascular death. N. Engl. J. Med. 366 (20): 1881-1890

Sunday, 11 May 2014

Mike Si Ayam Tanpa Kepala

Pada 16-17 Mei di Fruita, Colorado, setiap tahunnya diadakan festival untuk mengenal seekor ayam tanpa kepala yang pernah hidup di kota itu antara 1945-1947.
10 September 1945, Llyoid Olsen, seorang petani di Fruita, Colorado, terkejut melihat ayam dipenggalnya tetap hidup. Setelah menunggu beberapa waktu ayam tersebut masih terus bertahan sehingga sang petani pun memutuskan untuk tetap memelihara ayam yang kemudian dipanggilnya Mike. Karena tidak memiliki mulut lagi, Mike diberi makan dengan biji-bijian dan air melalui penetes mata pada lubang kerongkongannya.
Seminggu kemudian, Olsen membawa Mike ke Universitas Utah, di kota Salt Lake. Para peneliti pun segera meneliti kemampuan Mike untuk bertahan hidup meskipun tanpa kepala. Mereka menemukan bahwa kapak tidak mengenai dari vena jugularis dan sebuah sumbatan menutupnya sehingga menghindarkan Mike dari pendarahan yang dapat menyebabkan kematian. Meskipun sebagian besar kepalanya sudah berada dalam toples, tetapi sebagian besar batang otak dan satu telinga tertinggal di tubuhnya. Aksi refleks ayam umumnya dikendalikan batang otak. Karena itulah Mike mampu bertahan hidup tanpa kepala.
Mike mampu bertahan hingga 18 minggu. Pada Maret 1947, di sebuah motel di Phoenix, Mike mengalami gangguan pernapasan. Lendir biasa menumpuk di saluran pernapasan Mike sehingga Olsen harus membersihkannya dengan syringe. Namun saat itu,  Olsen gagal menemukan syringe sehingga Mike tidak tertolong lagi.

Referensi


Katak Kayu Alaska - Hidup Kembali Setelah Mati Beku

Katak kayu Alaska (Rana sylvatica) memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dalam lingkungan yang bisa mencapai suhu -30°C di musim dingin selama berminggu-minggu. Katak pohon ini sanggup bertahan hidup meskipun dua per tiga cairan tubuhnya telah membeku. Hebatnya lagi, katak pohon berada dalam kondisi seperti mati, sistem pernapasan dan denyut jantung berhenti.  
Mekanisme fisiologis dan kimiawi utama yang terlibat dalam proses pertahanan diri ini adalah peningkatan kadar dua osmolit kryoprotektan, yaitu urea, yang terakumulasi selama musim gugur dan awal musim dingin, dan glukosa, yang segera terbentuk dari cadangan glikogen hepatik sebagai respon langsung terhadap kondisi beku. Keduanya mampu menurunkan titik beku cairan tubuh serta menjaga integritas membran dan makromolekul.
Lebih jauh lagi, katak pohon Alaska memiliki kemampuan antibeku yang lebih tinggi daripada saudaranya dari Ohio. Katak pohon Ohio hanya mampu menoleransi kondisi beku antara -3 hingga -6°C. Kemampuan katak pohon Alaska dalam mencegah pembekuan total pada suhu yang lebih dingin daripada katak pohon Ohio ini diteliti lebih lanjut oleh Jon Costanzo yang dipublikasikan dalam The Journal of Experimental Biology pada 2013.
Tim peneliti menemukan bahwa katak pohon Alaska memiliki hati yang lebih besar, sekitar 22% dari massa tubuh total, dibandingkan katak pohon Ohio yang hanya 8%. Massa hati yang besar ini tentu memberikan kapasitas cadangan glikogen hepatik yang besar juga.
Tim juga menemukan bahwa kadar urea hingga 10 kali lebih tinggi. Secara teoritis, glukosa dan urea yang ada dapat meningkatkan osmolalitas plasma menjadi 100 mOsm.kg-1. Tetapi pada kenyataannya, osmolalitas plasma total terukur mencapai 173 mOsm.kg-1. Hingga saat ini belum diketahui senyawa apa yang sanggup meningkatkan osmolalitas plasma ini, senyawa yang tidak ditemukan pada populasi Ohio.
Penelitian terhadap kemampuan membekukan dan ‘mencairkan’ kembali organ tanpa menyebabkan kerusakan jaringan ini diharapkan di masa mendatang dapat diterapkan pada dunia medis, seperti transplantasi organ. Sejauh ini masih belum tampak keberhasilan pembekuan organ. Hal ini kemungkinan disebabkan ukuran relatif dan kompleksitas seluler yang lebih tinggi.


Referensi
Costanzo JP, do Amaral MCF, Rosendale AJ, Lee Jr RE (2013) Hibernation physiology, freezing adaptation and extreme freeze tolerance in a northern population of the wood forg. J Exp Biol 216: 3461-3473
Sirucek S (2013) How arctic frogs survive being frozen alive. National Geographic. http://newswatch.nationalgeographic.com/2013/08/21/how-the-alaska-wood-frog-survives-being-frozen/ Diakses: 10 Mei 2014
Stead N (2013) Alaskan wood frogs stock up on solutes to survive. J Exp Biol 216: i