Thursday, 2 January 2014

13 Apostles (Bagian 1)

Murid-murid pertama dipanggil menurut Yohanes adalah Andreas, seorang murid Yohanes Pembaptis yang tidak disebutkan namanya (Yohanes anak Zebedeus?), Simon Petrus, Filipus, dan Natanael. Sedangkan tiga penulis yang lain menyebutkan Simon Petrus, Andreas, dan dua anak Zebedeus merupakan para murid yang pertama, yang dipanggil saat bekerja menangkap ikan.
Berikut daftar 12 murid Yesus menurut masing-masing penulis Injil:
Matius
(Mat 10:2-3)
Markus
(Mrk 3:16-19)
Lukas
(Luk 6:14-16)
Yohanes*
Simon Petrus
Simon Petrus
Simon Petrus
Andreas
Andreas, saudara Simon
Yakobus anak Zebedeus
Andreas, saudara Simon
Simon Petrus
Yakobus anak Zebedeus
Yohanes anak Zebedeus
Yakobus
Filipus
Yohanes anak Zebedeus
Andreas
Yohanes
Natanael
Filipus
Filipus
Filipus
Tomas Didimus
Bartolomeus
Bartolomeus
Bartolomeus
Yudas Iskariot
Tomas**
Matius
Matius
Yohanes**
Matius, pemungut cukai
Tomas
Tomas
Yakobus**
Yakobus anak Alfeus
Yakobus anak Alfeus
Yakobus anak Alfeus

Tadeus
Tadeus
Simon orang Zelot

Simon orang Zelot
Simon orang Zelot
Yudas anak Yakobus

Yudas Iskariot
Yudas Iskariot
Yudas Iskariot

*) Yohanes tidak pernah memberikan daftar lengkap 12 murid Yesus. Dalam daftar ini hanya nama yang pernah disebut dalam Injil ditulisnya. Nama tersebut ada dalam ayat yang berbeda.
**) Yohanes tidak menyebutkan nama tetapi hanya anak-anak Zebedeus (Yoh 21:2)

Simon Petrus

Simon adalah saudara Andreas, anak Yohanes (Yoh 1:42) atau Yunus (Mat 16:17). Yesus memberikan nama Kefas (Petrus) kepadanya (Yoh 1:42). Kedua bersaudara ini berasal dari Betsaida (Yoh 1:44). Simon Petrus disebutkan memiliki mertua yang tinggal di Kapernaum (Mat 8:14-15; Mrk 1:29-31; Luk 4:38-39). Istri Simon Petrus disebutkan ikut aktif dalam perjalanan pelayanan suaminya (1 Kor 9:8). Klemen dari Aleksandria mencatat bahwa istri Simon Petrus juga menjadi martir di saat yang hampir bersamaan dengan suaminya. Simon Petrus disebutkan sempat menguatkan hati istrinya yang akan menghadapi kematiannya. Klemen juga memiliki catatan bahwa Simon Petrus memiliki anak. Kemungkinan figur istri yang baik, yang disebutkan Simon Petrus dalam suratnya didasarkan pada figur istrinya sendiri (1 Ptr 3:1-12).
Paulus menyebutkan Simon Petrus memiliki rumah di Yerusalem. Paulus pernah menginap di situ selama 15 hari sekembalinya ke Yerusalem, setelah tiga tahun berada di tanah Arab dan Damsyik pasca pertobatannya (Gal 1:18).
Simon Petrus dipanggil saat bekerja menangkap ikan bersama Andreas, saudaranya, di Danau Galilea. Yesus memanggil mereka berdua untuk menjadi penjala manusia (Mat 4:18; Mrk 1:16-18; Luk 5:1-11). Tetapi menurut Yohanes, Andreas yang mengenalkan Simon Petrus kepada Yesus (Yoh 1:40-42). Lukas menuliskan bahwa saat itu Yesus naik ke perahu Simon Petrus dan mengajar orang banyak dari atas perahu tersebut. Selanjutnya Yesus meminta Simon Petrus untuk melempar jala. Simon Petrus semula mengeluh karena sebelumnya mereka tidak mendapatkan apa-apa hari itu, tetapi akhirnya dilakukannya juga. Hasilnya, sejumlah besar ikan pun terjaring sehingga jala mereka hampir koyak dan perahu nyaris tenggelam. Simon Petrus ketakutan dan meminta Yesus menjauhinya karena merasa sebagai orang yang berdosa. Tetapi Yesus menenangkan dan justru mengajaknya menjadi muridNya. (Luk 5:1-11)
Saat banyak pengikut yang mundur karena kecewa, Petrus yang bertahan bersama 11 murid lainnya membuat pengakuan bahwa Yesus adalah Yang Kudus dari Allah (Yoh 6:67-69). Matius dan Markus mencatat peristiwa ini terjadi di Kaisarea Filipi. Menurut Matius, Markus, dan Lukas, Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat 16:13-20; Mrk 8:29; Luk 9:20).
Simon Petrus bersama Yakobus dan Yohanes sering tercatat mendapatkan kesempatan khusus bersama Yesus dibandingkan dengan murid-muridNya yang lain, misalnya menyaksikan Yesus membangkitkan anak Yairus (Mrk 5:37) dan dipermuliakan di atas sebuah gunung (Mat 17:1-13; Mrk 9:2-13; Luk 9:28-36), dan mereka menemani Yesus lebih jauh masuk ke Taman Getsemani (Mat 26:37-46).
Ketika Yesus menyatakan bahwa diriNya harus ke Yerusalem untuk menanggung banyak penderitaan, Simon Petrus menarikNya dan berkata bahwa sekali-sekali hal itu tidak akan terjadi. Yesus memarahi Simon Petrus dengan kata-kata keras. (Mat 16:21-23; Mrk 8:31-33)
Simon Petrus tercatat jelas dua kali mengajukan pertanyaan kepada Yesus, antara lain mengenai pengampunan (Mat 18:21) dan upah mengikut Yesus (Mat 19:27; Mrk 10:28-31; Luk 18:28-30).
Dalam peristiwa Yesus berjalan di atas air, Matius mencatat bahwa Simon sempat memberanikan diri turun dan berjalan di atas air meskipun pada akhirnya terjatuh tenggelam akibat rasa takutnya sendiri (Mat 14:22-32).
Yesus meminta Simon Petrus untuk memancing ikan untuk mendapatkan uang empat dirham di dalamnya. Kemudian uang itu digunakan untuk membayar bea Bait Allah, masing-masing dua dirham untuk Yesus dan Simon Petrus sendiri. (Mat 17:24-27)
Markus mencatat Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes bertanya kepada Yesus mengenai akhir jaman. Saat itu mereka sedang berada di atas Bukit Zaitun, berhadapan dengan Bait Allah (Mrk 13:3).
Yesus menyuruh dua muridnya, yaitu Simon Petrus dan Yohanes, untuk mencari tempat dan mempersiapkan perjamuan Paskah (Luk 22:7-13; Mrk 14:12-16).
Saat peristiwa Yesus membasuh kaki murid-muridNya, Petrus semula menolak untuk dibasuh kakinya oleh Yesus, tetapi kemudian justru meminta dibasuh kepala dan tangannya. Permintaan Petrus ditolak oleh Yesus. Yesus hanya membasuh kaki. (Yoh 13:6-11)
Yesus menyatakan bahwa Petrus akan menyangkalNya tiga kali sebelum ayam berkokok (Yoh 13:38). Yohanes dan Lukas mencatat pernyataan Yesus tersebut diucapkan saat perjamuan (Luk 22:31-34), sedangkan Matius dan Markus mencatat pernyataan tersebut dilontarkan saat Yesus berjalan bersama para muridnya menuju Bukit Zaitun, setelah perjamuan selesai (Mat 26:30-35; Mrk 14:26-31). Setibanya di Taman Getsemani, Yesus hanya mengajak Simon Petrus, Yakobus, dan Yohanes untuk masuk lebih dalam ke taman (Mat 26:37; Mrk 14:33).
Saat peristiwa penangkap Yesus, Simon Petrus sempat memotong telinga kanan Malkhus, seorang hamba Imam Besar, saat peristiwa penangkapan Yesus di taman Getsemani (Yoh 18:10-11)
Setelah penangkapan Yesus, Simon Petrus bersama dengan seorang murid (Yohanes?) mengikuti hingga istana Imam Besar. Murid yang mengenal Imam Besar masuk hingga halaman istana, tetapi Simon Petrus hanya menunggu di luar dekat pintu. Di sini Simon Petrus menyangkal peryataan seorang hamba perempuan penjaga pintu yang mengenalinya bersama Yesus. Dalam cuaca yang dingin, Simon Petrus ikut berdiang dekat api bersama hamba dan penjaga Bait Allah. Orang-orang itu mengenali Simon Petrus sebagai salah satu murid Yesus. Simon Petrus menyangkal pernyataan itu. Seorang yang merupakan keluarga Malkhus menyatakan melihat Simon Petrus bersama Yesus di taman Getsemani. Simon Petrus juga menyangkal pernyataan ini dan ketika itu ayam jantan pun berkokok (Yoh 18:12-27). Berdasarkan tradisi, lokasi imam besar Kayafas, tempat Yesus dipenjara setelah penangkapanNya, saat ini menjadi Gereja Santo Petrus Galikantu (Latin: Gallicantu, artinya ayam berkokok).
Saat dini hari kebangkitan Yesus, Yohanes mencatat bahwa dia berlari bersama Simon Petrus ke makam setelah mendengar berita makam tersebut telah kosong dari Maria Magdalena. Simon Petrus datang lebih lambat dari Yohanes, tetapi dia yang masuk ke makam terlebih (Yoh 20:1-10). Lukas memberikan catatan yang sedikit berbeda mengenai hal ini. Lukas menuliskan hanya Simon Petrus yang bergegas pergi ke makam setelah mendengar berita kebangkitan dari para perempuan yang  kembali setelah makam (Luk 24:12). Di tempat yang dipercaya menjadi makam dan lokasi penyaliban Yesus saat ini berdiri Gereja Makam Suci.
Pada kisah penampakan Yesus yang ketiga, Simon Petrus bersama dengan Tomas, Natanael, Yakobus, Yohanes, dan dua murid lainnya, berusaha menangkap ikan danau Tiberias. Semula mereka tidak dapat menangkap apa pun hingga seseorang di pinggir pantai memberikan arahan supaya melempar jala ke sebelah kanan perahu. Hasilnya, mereka mendapatkan tangkapan yang sangat luar biasa sehingga harus bersusah payah menarik jala hingga ke darat. Yohanes menuliskan bahwa dirinya orang pertama yang mengenali Yesus saat itu. Mendengar hal itu, Simon Petrus segera mengenakan pakaiannya dan terjun berenang ke arah Yesus. (Yoh 21:1-14)
Setelah sarapan ikan dan roti di tepi danau Tiberias tersebut, terjadi perbincangan antara Yesus dan Simon Petrus. Yesus mengajukan tiga pertanyaan yang sama mengenai besar kasih Simon Petrus kepada diriNya. Tiga kali pula Simon Petrus menjawab, meskipun sempat merasa frustrasi karena merasa Yesus meragukan dirinya hingga mengajukan pertanyaan yang sama secara berulang. Yesus pun berpesan supaya Simon Petrus menggembalakan domba-dombaNya. Pada waktu itu juga Yesus bernubuat mengenai bagaimana Simon Petrus mati, yaitu dengan tangan direntangkan dan dibawa ke tempat yang tidak dikehendakinya. (Yoh 21:15-19)
Simon Petrus disebutkan bersama dengan para rasul yang lain saat menyaksikan Yesus terangkat ke surga di Bukit Zaitun (Kis 1:12-13). Di lokasi kenaikan Yesus ini adalah didirikan Kapel Kenaikan. Saat ini kapel tersebut di bawah kepemilikan kaum Muslim. Di lantai kapel terdapat sebuat batu yang dipercaya merupakan bekas telapak kaki kanan Yesus. Bagian dengan bekas telapak kaki kiri telah dipindahkan ke dalam Masjid Al-Aqsa pada abad pertengahan.
Saat masa penantian, pasca kenaikan Yesus, Petrus mengusulkan penggantian posisi Yudas Iskariot untuk menggenapkan jumlah 12 rasul (Kis 1:18-22). Saat Pentakosta, Petrus memberikan penjelasan dan kesaksian kepada orang-orang Yahudi yang heran melihat apa yang terjadi (2:1-40). Petrus, ditemani Yohanes, selanjutnya berbicara di Serambi Salomo, Bait Allah (3:11-26), di hadapan Mahkamah Agama (4:5-20). Bersama Yohanes, Petrus memberikan baptisan Roh Kudus kepada orang-orang percaya di Samaria (8:14-25).
Lukas mencatat beberapa mujizat yang khusus dilakukan Petrus seperti menyembuhkan orang lumpuh di Gerbang Indah, Bait Allah (3:1-10), menghukum Ananias dan Safira karena ketidakjujurannya (5:1-10), menyembuhkan banyak orang dengan bayangannya (5:15), menyembuhkan Eneas yang telah lumpuh selama delapan tahun di Lida (9:32-34), membangkitkan Tabita Dorkas di Yope (9:36-41).
Saat di Yope, Petrus mendapat visi untuk menjangkau seluruh bangsa. Setelah itu Petrus mengajar dan membaptis Kornelius, seorang perwira Romawi, beserta seisi rumahnya di Kaisarea (10). Petrus selanjutnya memberikan penjelasan mengenai pertobatan untuk bangsa di luar Yahudi ini  di Yerusalem, khususnya kepada golongan bersunat (11:1-18).
Setelah membunuh Yakobus, saudara Yohanes, Raja Herodes Agripa I melihat bahwa banyak warga Yahudi yang senang dengan tindakannya tersebut. Dia pun melanjutkan aksinya dengan menangkap Petrus. Petrus dijaga ekstra ketat. Meskipun demikian, dengan bantuan malaikat, Petrus dapat melepaskan diri (12:1-17). Setelah malaikat Tuhan meninggalkannya di jalan, Simon Petrus memutuskan untuk pergi ke rumah Maria ibu Yohanes Markus di Yerusalem. Saat itu banyak orang sedang berkumpul di situ untuk mendoakan keselamatan Simon Petrus. Dia mengetuk pintu gerbang rumah Maria. Pelayan rumah yang bernama Rode mendengar suara Simon Petrus, tetapi tidak segera membuka pintu gerbang. Karena terlalu senang, Rode justru berlari masuk memberitahukan kedatangan Simon Petrus kepada orang-orang yang sedang berkumpul itu. Mereka semua menganggap Rode mengigau. Tetapi karena Simon Petrus terus menerus mengetuk pintu gerbang, mereka pun bersama-sama keluar, membuka pintu gerbang, dan tercengang melihatnya. Simon Petrus menceritakan pengalamannya terlepas dari penjara dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu, kemungkinan keluar dari Yerusalem. Dia berpesan untuk menyampaikan cerita pembebasannya ini ke Yakobus dan yang lainnya (Kis 12:3-17).
Paulus menyebutkan Simon Petrus melayani di Antiokhia (sekarang Antakya, Turki) (Gal 2:11) dan sebagai salah satu dari tiga pilar jemaat Tuhan (Gal 2:9). Berdasarkan tradisi, jemaat di Antiokhia dibangun Simon Petrus pada tahun 34. Di sini dapat ditemukan sebuah gereja dalam gua, yang dipercaya dibangun oleh Simon Petrus. Gereja tersebut terletak dekat Gunung Habibi Neccar, dengan ketinggian ruang 7 meter dan kedalaman 13 meter.
Paulus dan Barnabas menyusul melayani di sini dan sempat terjadi konflik di dalam jemaat Simon Petrus dan Paulus terkait masalah sunat untuk anggota jemaat pria yang bukan berasal dari Yahudi. Konflik ini akhirnya diselesaikan dalam Sidang Yerusalem yang dipimpin dengan bijaksana oleh Yakobus.
Setelah berada di Antiokhia selama tujuh tahun, akhirnya Simon Petrus pergi ke Roma. Jemaat di Antiokhia diserahkan kepada Euodius.
Berdasarkan kitab apokrif Kisah Petrus, Simon Petrus melarikan diri keluar dari Roma untuk menghindari eksekusi. Tetapi di luar kota, dia bertemu Yesus yang berjalan mengarah ke Roma. Di sinilah berasal kalimat yang sangat terkenal “Quo vadis, Domine?” atau “Mau ke mana, Tuhan?”. Yesus menjawab diriNya akan ke Roma untuk disalibkan kembali. Mendengar ini Simon Petrus pun memutuskan kembali ke kota untuk menyongsong kematiannya sebagai martir.
Berdasarkan tradisi, Peter dikabarkan meninggal karena disalibkan di Roma atas perintah Kaisar Nero, antara tahun 64-67. Margherita Guarducci, pemimpin penelitian penemuan kembali makam Simon Petrus di Basilika Santo Petrus, Roma, pada 1963-1968, menduga kuat Simon Petrus meninggal pada 13 Oktober 64, saat perayaan sepuluh tahun pengangkatan Nero menjadi kaisar Romawi. Waktu itu sekitar tiga bulan setelah kebakaran besar di Roma, yang pelakunya dituduhkan pada komunitas Kristen. Origenus menuliskan bahwa penyaliban Simon Petrus dilakukan dengan posisi kepala di bawah atas permintaannya sendiri karena merasa tidak layak disalibkan dalam posisi yang sama dengan Yesus. Tradisi Katolik menyebutkan titik penyaliban Simon Petrus tersebut ada di Kapel Klementinus dalam Basilika Santo Petrus.
Jenasah Simon Petrus kemudian dimakamkan di sekitar Jalan Kornelia, di kaki Bukit Vatikan. Pada awal masa penganiayaan Kaisar Valerianus sekitar tahun 258, reliknya sempat dipindahkan ke Jalan Appia dan disemayamkan bersama relik Paulus, di tempat yang sekarang menjadi Gereja Santo Sebastianus, Roma. Relik Simon Petrus kemudian dikembalikan ke tempat pemakamannya semula. Kaisar Konstantinus Agung membangun sebuah basilika megah di atas pemakaman tersebut.   
Pada 24 November 2013, Paus Fransiskus menunjukkan kepada publik relik yang diduga milik Simon Petrus. Relik tersebut terdiri dari delapan fragmen tulang, masing-masing sepanjang 2-3 cm, yang selanjutnya disimpan dalam kotak perunggu. Relik tersebut ditemukan saat penggalian area pemakaman di bawah altar utama Basilika Santo Petrus, Roma, pada sekitar 1939. Saat itu ditemukan sebuah nisan dan peti dengan ukiran huruf Grika “Petros eni” atau “Petrus di sini”. Menurut Margherita Guarducci, salah seorang pekerja ekskavasi memasukkan tulang yang ditemukan dalam peti tersebut ke dalam sebuah kotak. Pada tahun 1968, Paus Paulus VI menyatakan bahwa tulang tersebut adalah milik Simon Petrus, berdasarkan proses identifikasi yang dapat dipertimbangkan kebenarannya.
Reruntuhan rumah Petrus di Kapernaum
house2.jpg
Pemandangan udara reruntuhan rumah Petrus (kiri atas) dan sinagoga (kanan bawah)
Bagian utama Gereja Rumah Santo Petrus, Kapernaum, dengan jendela lantai dari kaca di atas reruntuhan rumah Petrus
Reruntuhan sinagoga di Kapernaum pada era Yesus (Mrk 1:21)
Danau Galilea dan Kapernaum
Pemandangan kota tua Yerusalem dari Bukit Zaitun (Mrk 13:3)
Bukit Zaitun
Rumah yang dipercaya lantai atasnya menjadi tempat perjamuan Paskah Yesus beserta para muridNya
Pohon zaitun tua dalam Taman Getsemani
Gereja Santo Petrus Galikantu, Yerusalem
Jalan Sengsara (Via Dolorosa), Yerusalem
Gereja Makam Suci, Yerusalem
Kapel Kenaikan, Yerusalem
Batu Kenaikan di dalam Kapel Kenaikan, Yerusalem
Gereja Gua Santo Petrus, Antakya, Turki
Basilika Santo Petrus, Vatikan
Kapel Klementinus, Basilika Santo Petrus, Vatikan
Gereja Santo Sebastianus, Roma
Paus Fransiskus dan relikui tembaga yang berisi fragmen tulang yang dipercaya milik Simon Petrus, 24 November 2013

Referensi

Glatz C (2013) Pope Venerates Apostle’s Relics, Urges People Focus on Christ. Diambil dari: http://www.catholicregister.org/faith/item/17251-pope-venerates-apostles-relics-urges-people-focus-on-christ
Hayes H (2009) Cave Church of St. Peter, Antioch. Diambil dari: http://www.sacred-destinations.com/turkey/antioch-cave-church-of-peter
Hayes H (2010) Chapel of the Ascension, Jerusalem. Diambil dari: http://www.sacred-destinations.com/israel/jerusalem-chapel-of-ascension
Holy Land Sites Review – Biblewalks.com http://www.biblewalks.com
Smith Jr HB (2007) Three Woes!. Diambil dari: http://www.biblearchaeology.org/post/2007/08/Three-Woes!.aspx
Thavis J (2007) US Writer Follows Varied Path Around Globe to Tombs of Apostles. Diambil dari: http://www.catholicnews.com/data/stories/cns/0702569.htm
The Patriarchate of Antioch: Founded by Saints Peter and Paul. Diambil dari: http://www.antiochian.org/patofant
Winfield N (2013) Pope Puts St. Peter’s Relics on Display, Reviving Scientific Debate. Retrieving from: http://www.nbcnews.com/science/pope-puts-st-peters-relics-display-reviving-scientific-debate-2D11650786
Artikel terkait
13 Apostles (Bagian 2)
13 Apostles (Bagian 3)
13 Apostles (Bagian 4)
13 Apostles (Bagian 5)
Riwayat revisi
160212: Perbaikan isi tabel; penambahan gambar reruntuhan rumah Petrus dari Associates for Biblical Research