Saturday, 30 December 2017

Aru, Perahu Surga Keragaman Hayati

Oleh AHMAD ARIF
Sore itu, hutan hujan adat Desa Loran, Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, masih menampakkan wajah purbanya. Pepohonan tumbuh menjulang dan merapat. Kulit batangnya dilapisi lumut dan berbagai jenis epifit. Sebagian lagi dibelit tanaman rambat, yang menjulur tinggi mencari cahaya. Cendawan tumbuh subur di batang yang melapuk karena usia.
Fransjat Ganobal dari Desa Loran, Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, tengah berburu ke hutan di Kepulauan Aru dengan senjata busur dan panah, Senin (4/12). Selain kaya ragam hayati, hutan juga menjadi penopang hidup masyarakat Aru yang memiliki budaya khas, yaitu perpaduan dari tradisi berburu dan meramu dengan bercocok tanam. (Kompas/Ahmad Arif)
Gelap datang lebih cepat. Semakin melangkah ke jantung hutan, suasana kian temaram. Jeritan burung bersahutan dengan raungan serangga. Sesekali terdengar kepak sayap seiring jatuhnya dedaunan dan buah-buahan.
Fransjat Ganobal (41), warga Desa Loran, berjalan tanpa alas kaki menyusuri hutan. Sebilah parang tergantung di pinggang, busur dan anak panah di genggaman tangan. Sesekali kepalanya mendongak, menelisik jenis burung yang ribut.
”Itu sejenis kakatua. Sayang sekarang tak musim kawin cenderawasih. Biasanya, sore begini kita lihat tarian mereka,” kata Fransjat. Selain bertani dan mencari kepiting, Fransjat sehari-hari berburu babi hutan. Hutan ini sumber hidupnya.
Adiknya, Mika Ganobal (39), mengikuti dari belakang. Lebih dari sekadar memberi satwa buruan, hutan juga menjaga ketersediaan air bagi warga. ”Tanah di Aru rata-rata pegunungan kapur. Jika hutan rusak, hancur lingkungan kami,” tutur Mika.
Ikatan masyarakat lokal dengan lingkungannya membuat hutan Aru selamat dari kehancuran. ”Ini pohon roka,” kata Mika, menunjuk pohon berwarna hitam legam menjulang. Di pasaran, pohon ini biasa disebut eboni, bahan baku mebel mewah. ”Kalau yang warna merah, pohon oray atau kayu besi (Eugenia rumphii). Itu semua pohon kelas satu.”
Hutan Aru juga dikenal kaya dengan pohon merbau (Intsia bijuga), kenari (Canarium amboinense), dan tanaman lain yang jenisnya sekitar 2.000 spesies. Tepi pantainya ditumbuhi hutan bakau lebat. Bagian selatan Kepulauan Aru memiliki vegetasi sabana yang jadi rumah bagi kanguru dan mamalia lain.
Mika bekerja sebagai pegawai negeri sipil pada Dinas Pariwisata Kabupaten Aru. Namun, sebagai tokoh adat Loran, Mika menolak rencana Pemerintah Kabupaten Aru membuka hutan kepulauan ini. Ia jadi Koordinator SaveAru.
Pada 2012, Pemkab Aru mengeluarkan izin prinsip dan rekomendasi pelepasan hutan 480.000 hektar atau 62 persen dari daratan kepulauan ini. Izin bagi 28 perusahaan itu akan merelokasi 90 dari 112 desa. Setelah ditentang masyarakat adat yang ikut gerakan SaveAru, rencana ini dibatalkan pemerintah pusat pada 2014. Namun, upaya mengonversi hutan Aru terus dilakukan. ”Kini dicanangkan rencana pengembangan ternak sapi di Aru Selatan. Menteri Pertanian baru-baru ini datang dan berpidato, yang menolak program ini akan dipindahkan ke pulau lain,” kata Mika sambil menunjukkan rekaman video.
Mamado, tokoh adat Marfenfen, Kecamatan Aru Selatan, juga menolak proyek peternakan sapi yang dikhawatirkan merusak keseimbangan alam dan tradisi berburu di sabana. ”Bagi warga Aru, kesejahteraan tak bisa didapat dengan perusakan hutan dan pengambilan tanah adat. Orang Aru tak bisa dipisahkan dari hutan, budaya kami tumbuh bersama hutan,” ujarnya.
Pembukaan hutan di Aru tak hanya ancaman bagi masyarakat adat setempat, tapi juga bagi kekayaan hayati. Selain burung cenderawasih, hutan Aru juga jadi rumah bagi aneka satwa liar terancam punah, seperti burung kakatua jambul kuning, kakatua raja, kanguru, dan kasuari. Semua hewan ini memiliki kemiripan dengan Australia dan Papua.
Menyatu dengan Papua
Kemiripan fauna Aru dengan Papua awalnya diamati naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace. Pada 8 Januari 1857, Wallace tiba di Dobo, ibu kota Aru, setelah 30 jam berperahu dari Kepulauan Kei. Sejak itu, dia terpesona pada kekayaan hayati kepulauan ini.
”Dalam sehari itu saya mendapat 30 spesies kupu-kupu, melebihi yang saya dapat sehari di tepi Sungai Amazon,” sebut Wallace. Salah satu yang ditemukan ialah kupu-kupu bersayap burung (Ornithoptera poseidon). ”Sayapnya hitam beludru dan hijau mengkilap sepanjang 7 inci (17,7 sentimeter) .... Saya pernah melihat serangga sejenis di lemari koleksi, tapi rasanya beda saat menangkapnya sendiri.”
Untuk pertama kali, ia menjumpai burung cenderawasih raja (Paradisea regia) di habitatnya. ”Emosi sebagai naturalis bergejolak, yang lama menginginkan sesuatu (burung cenderawasih) yang dilihat lewat gambar bermutu rendah...,” sebut Wallace.
Pada 2 Juli 1857, Wallace meninggalkan Kepulauan Aru dengan 9.000 spesimen biologi, terutama kupu-kupu, serangga, dan burung. Ia menyadari kemiripan fauna di Aru dengan fauna di Papua. Dalam bukunya, The Malay Archipellago (1869), dengan tepat Wallace mengelompokkan sebaran satwa di Aru satu rumpun dengan Papua.
Pengelompokan ini jadi dasar bagi Garis Wallace dan inspirasi lahirnya teori biogeografi, yakni kaitan jenis fauna dengan posisi geografisnya. Ia juga menyadari kaitan variasi manusia dan lokasi geografis. ”... Apabila garis ditarik di antara pulau-pulau, Kepulauan Nusantara terbagi dua, yakni Asia dan Australia. Bagian pertama disebut Indo-Melayu dan bagian kedua disebut Austro-Melayu,” tulis Wallace.
Belakangan, para arkeolog dan geolog menyadari, persebaran ini dipengaruhi sejarah geologi. Hingga 45.000 tahun lalu, saat migrasi awal manusia modern (Homo sapiens) dari Afrika, Aru jadi bagian daratan Papua-Australia, dikenal sebagai Paparan Sahul. Posisi penting Aru pada migrasi purba diteliti arkeolog Australian National University, Sue O’Connor. Pada 2005, ia menemukan fosil manusia di lapisan usia 23.000 tahun lalu di Goa Lemdubu, Aru Tengah. Ini adalah fosil tertua di Maluku.
Sekitar 12.000 tahun lalu, suhu bumi memanas dan melelehkan es. Permukaan laut perlahan naik sampai 150 meter lebih tinggi, 8.000 tahun lalu. Area sekitar Kepulauan Aru sampai Selat Torres dan utara lepas pantai Australia yang dulu dataran rendah menjelma laut dangkal. Aru terpisah dari Papua dan Australia. Relung-relung sempit antarperbukitan berubah jadi selat yang di Aru disebut sungai.
Pemisahan di Paparan Sahul ini bersamaan terpecahnya Paparan Sunda jadi Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan beberapa pulau kecil lain.
Seperti perahu raksasa, perbukitan di Aru menyelamatkan flora dan fauna serta kemungkinan manusia migran awal dari tenggelam saat banjir besar. Sekitar 5.000 tahun lalu, rombongan penutur Austronesia yang mahir berperahu dan bercocok tanam mencapai Aru. Pembauran membuat warga Aru punya ciri fisik dan budaya paduan berburu-meramu serta bertani.
Dengan dinamika geologi di lintasan migrasi manusia ribuan tahun, hutan hujan Aru masih menampilkan wajah aslinya. Hutan ini jadi benteng terakhir aneka satwa langka, selain tempat manusia Aru mengembangkan budaya sehingga mesti dijaga....
Kompas, Minggu, 31 Desember 2017

Saturday, 16 December 2017

Kerentanan Jawa Terhadap Gempa

Dalam peta gempa termutakhir diidentifikasi sumber gempa baru di Jawa. Jika pada peta gempa nasional 2010 jumlah sesar di Jawa hanya 4, kini jadi 34. Sesar baru antara lain sesar Kendeng memanjang di kawasan utara Jawa Timur sampai Jateng. Di Jabar, dipastikan keaktifan sesar Lembang dan Baribis. “Kami paling khawatir gempa dari zona subduksi di Samudra Hindia selatan Jawa berkekuatan bisa lebih dari M 8,7. Ini berpotensi tsunami,” kata Irwan Meilano, ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Irwan adalah Ketua Kelompok Kerja Geodesi Tim Revisi Peta Gempa Bumi Nasional 2017.

Komuni(s)

Oleh SAMSUDIN BERLIAN
Pada peralihan abad, di suatu desa di Maluku yang telah ditinggalkan penghuninya akibat perang-saudara agam, graffito tebal hitam mencemong tembok rumah setengah runtuh: Yesus PKI. Penulisnya mungkin sekali tidak menyadari betapa dekat ia pada kebenaran walaupun bukan seperti yang ia harapkan. Bahkan Yesus bisa dianggap tokoh proto-komunis bukanlah hal baru, sudah lama dan biasa dibahas dan direnungi para pelajar teologi Kristen segala mazhab. Justru itulah satu daya tarik besar Komunitas Yesus 2.000 tahun berselang yang kemudian berkembang menjadi gereja Kristen.

Saturday, 23 September 2017

Saatnya Gunung Agung Memberi Jeda

Oleh AHMAD ARIF
Letusan Gunung Agung di Bali tahun 1963 merupakan yang paling mematikan pada era setelah Indonesia merdeka. Letusan gunung api ini juga dikenal sebagai salah satu yang terkuat di abad ke-20. Namun, yang membuat letusan Gunung Agung dikenal secara global terutama karena dampaknya telah memicu pendinginan Bumi.

Tuesday, 19 September 2017

Interaksi Filter dengan Aliran Cairan Produk

Filter untuk sterilisasi seringkali digunakan dalam tahap manufaktur terakhir dari rangkaian proses pembuatan produk farmasi. Karena itu, efek filter terhadap produk akhir harus dievaluasi. Area pemeriksaan mencakup partikel, extractables dan leachables, kompatibilitas kimia, serta adsorpsi. Pengujian umumnya dilakukan dengan menggunakan cairan produk dan, dalam pengujian tertentu, menggunakan cairan pengganti.

Wednesday, 13 September 2017

Tipe dan Bahan Filter untuk Sterilisasi

Ada dua tipe filter, yakni tipe depth dan tipe membran (Levy dan Jornitz, 2006). Filter tipe depth tersusun dari bahan serabut tidak teranyam (non-woven), yang ditumpuk secara acak ke dalam matriks dan diikat satu sama lain dengan penekanan, pemanasan, pengeleman, atau cara pengikatan yang lain. Serabut tersebut bisa berbahan dasar polipropilena, poliamida, ester selulosa, gelas, dan logam. Pori terbentuk dari celah-celah antarserabut.

Monday, 11 September 2017

Indonesian Airways Bantu Perjuangan Burma

Oleh IWAN SANTOSA
Hubungan baik Republik Indonesia-Burma (kini Myanmar) sudah berakar panjang, terutama di masa-masa awal kemerdekaan kedua negara tahun 1949 dengan keberadaan maskapai Indonesian Airways di Burma. Cikal bakal maskapai Garuda Indonesia, yang di antaranya pernah membantu Pemerintah Union of Burma saat mengatasi berbagai pemberontakan waktu itu, menandai sejarah kedua negara tersebut.