Saturday, 3 February 2018

Gempa Lebak Berasal dari Sumber Baru

Gempa berkekuatan M 6,1 di selatan Lebak, Banten, Selasa (23/1), bersumber pada patahan Palabuhanratu. Ini membawa konsekuensi ada sumber gempa pembangkit tsunami yang lebih dekat ke pesisir Banten-Jawa Barat.
Infografik: Adinda; Sumber: Pusgen, 2018
JAKARTA, KOMPAS — Para pakar gempa yang terhimpun di Pusat Studi Gempa Nasional menyimpulkan, gempa berkekuatan M 6,1 yang terjadi di selatan Lebak, Banten, dan dirasakan hingga Jakarta pada Selasa (23/1) berasal dari sumber yang belum diidentifikasi sebelumnya. Sumber tersebut berada di busur belakang zona subduksi yang kemudian diberi nama patahan Palabuhanratu.
”Kesimpulan ini kami dapatkan setelah pertemuan para pakar pada Senin lalu untuk membahas kejadian-kejadian gempa di selatan Jawa,” kata Rahma Hanifa, peneliti gempa bumi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga anggota Kelompok Kerja Seismologi Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) yang dihubungi pada Jumat (2/2).
Setelah dilakukan penghitungan lebih akurat, lokasi pusat gempa diketahui berada di koordinat 105.9539 Bujur Timur dan 7.3242 Lintang Selatan, serta kedalaman sekitar 46,5 kilometer. Adapun hasil pengamatan terhadap pola gempa susulan hingga 25 Januari oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, serta Earth Observatory of Singapore menyimpulkan bahwa mekanisme gempa berupa sesar naik-mengiri.
”Posisi gempa ini terjadi pada terusan sesar Cimandiri ke arah laut yang kemudian dinamakan sesar Palabuhanratu,” katanya.
Zona sesar ini diklasifikasikan sebagai fore-arc backthrust, yaitu sesar naik yang mempunyai bidang miring berlawanan arah dengan bidang zona subduksi atau megathrust. ”Gempa Lebak yang lalu dan beberapa gempa selatan Jawa lainnya menambah pengetahuan tentang sumber gempa di Pulau Jawa yang sebelumnya tidak diketahui, yaitu keberadaan dari jalur backthrust di sepanjang selatan Pulau Jawa,” katanya.
Jalur backthrust ini di barat Sumatera sudah diidentifikasi sebagai sesar Mentawai. Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017, Tim Pusgen juga sudah memperkenalkan keberadaan jalur sesar busur belakang Baribis-Kendeng yang memanjang dari Surabaya-Semarang-Cirebon dan kemungkinan sampai ke Jakarta.
Jalur gempa patahan busur belakang juga ditemukan di utara Bali dan Nusa Tenggara, dengan salah satu segmennya menjadi sumber gempa Flores 1992 yang memicu tsunami besar dan memakan banyak korban. Dengan temuan ini, gempa Lebak disimpulkan memiliki sumber yang sama dengan gempa Tasikmalaya 2009. Meski demikian, gempa ini berbeda dengan gempa Tasikmalaya 2017 yang terjadi pada sesar di kedalaman 107 kilometer, yaitu di intraslab atau lengan dalam lempeng Australia yang menunjam di bawah Jawa.
Lebih dekat
Penemuan sumber gempa baru juga terjadi saat gempa Pidie, Aceh, pada akhir 2016. Fenomena ini menunjukkan masih banyak sumber gempa yang belum diidentifikasi di Indonesia.
Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengapresiasi langkah Pusgen untuk mengkaji dan memberikan kesimpulan tentang gempa Lebak. ”Ini kemajuan bagi riset kegempaan di Tanah Air,” katanya.
Temuan ini, kata Daryono, membawa konsekuensi adanya sumber gempa pembangkit tsunami yang lebih dekat ke pesisir Banten-Jawa Barat. Dalam Peta Sumber Gempa Nasional 2017, keberadaan zona sesar belakang ini belum disebutkan.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dampak gempa selatan Lebak menyebabkan kerusakan bangunan di 73 kecamatan pada 9 kabupaten/kota di Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta.
”Total terdapat 7.707 rumah rusak, dengan rincian 986 rusak berat, 2.162 rusak sedang, dan 4.559 rusak ringan. Kerusakan rumah banyak ditemukan di Kabupaten Lebak dan Kabupaten Sukabumi,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.
Kompas, Sabtu, 3 Februari 2018

Karang Makin Sekarat

Oleh ICHWAN SUSANTO
Tekanan lingkungan pada ekosistem terumbu karang kian berat. Mulai dari kekurangan oksigen, penipisan rangka, pemutihan, hingga penyakit akibat sampah plastik.
Hewan karang yang diperkirakan hidup sejak zaman purba kondisinya kian memprihatinkan. Mulai dari perubahan iklim akibat ulah manusia yang membawa penghangatan global hingga ketidakberadaban manusia yang tak bisa mengelola sampah ”modern”-nya semakin menekan kehidupan ekosistem karang.
Sebulan terakhir, bermunculan berbagai riset yang membawa kepada kesimpulan tersebut. Perubahan iklim akibat kerakusan manusia membakar sumber energi fosil membuat laut kian kekurangan oksigen, meningkatkan suhu, dan meningkatkan keasaman. Karang yang berasosiasi dengan zooxanthellae (alga bersel satu) menjadi stres, memutih, dan kerangkanya kian rapuh. Perubahan iklim pula yang mempersempit waktu dan kesempatan karang untuk memulihkan diri dari pemutihan itu.
Dan, riset yang relatif baru membuktikan keberadaan sampah laut berkorelasi terhadap kerentanan karang akan penyakit. Di perairan Indonesia, mulai dari sungai hingga muara dan pantai serta laut pun tak terkecuali tercemar sampah.
Jurnal Science, 26 Januari 2018, menerbitkan laporan Plastic Waste Associated with Disease on Coral Reefs. Dalam artikel ilmiah itu, Joleah B Lamb (Department of Ecology and Evolutionary Biology, Cornell University, Amerika Serikat) beserta 10 peneliti lain menyurvei 159 lokasi terumbu karang di Indonesia (Sulawesi Selatan, Bali, Papua Barat), Myanmar, Thailand, dan Australia. Pengamatan pada 124.000 karang di kedua benua ini menunjukkan risiko terinfeksi penyakit saat bersentuhan dengan sampah plastik pada kisaran 4-89 persen.
Disebutkan dalam laporan itu, jumlah sampah plastik di laut Indonesia menempati posisi tertinggi, yaitu 25,6 buah per 100 meter2 (lebih kurang 12 meter2). Terendah di perairan Australia, ditemukan 0,4 buah sampah per 100 meter2 (lebih kurang 0,3 meter2).
Sebagai perbandingan, pengalaman Divers Clean Action, komunitas anak muda penyelam yang fokus di isu sampah bahari di Indonesia, menjumpai hal serupa. Mereka mengangkat sedikitnya 16 kilogram sampah saat mengitari 100 meter dasar perairan laut dan 18 kg sampah pada 100 meter pantai di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta, pada 2016 (Kompas ,23 April 2017).
Februari 2015, studi Jenna R Jambeck dari Universitas Georgia menempatkan Indonesia sebagai penghasil sampah terbesar kedua setelah China. Komposisi terbesar tentu saja didominasi berbagai bentuk sampah plastik yang sulit terurai di laut yang gelap dan dingin.
Temuan ini mengerucutkan studi yang dilakukan Program Lingkungan PBB (UNEP) dan para mitra pada 2014 yang memperkirakan, dari 280 juta ton plastik diproduksi secara global tiap tahun, sebagian menjadi sampah di laut.
Namun, dampak sampah plastik bagi kehidupan ekosistem terumbu karang baru dibuka Joleah B Lamb dan kawan-kawan. Penelitian sebelumnya melihat dampak plastik pada lautan dari sisi fragmentasi plastik menjadi mikroplastik (kurang dari 5 mm) antara lain riset bersama Universitas Hasanuddin Makassar dan University of California Davis (2014 dan 2015), ditemukan potongan kecil sampah plastik di saluran pencernaan ikan dan kerang di Makassar dan California, AS (Kompas, 7 April 2017).
Reaksi kimia plastik dalam tubuh makhluk hidup membuat organisme rentan mengalami berbagai penyakit dan kelainan. Namun, dampaknya pada karang baru jelas tergambar dalam penelitian terbaru itu.
Menyebabkan luka
Dalam hipotesis yang pernah mengemuka, di antaranya sampah plastik menghalangi sinar matahari. Zooxanthellae, alga yang bersimbiosis dengan karang, membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis.
Sinar matahari yang terhalang itu menciptakan lingkungan mikro yang menyebabkan kondisi tanpa oksigen. Kondisi ini membentuk formasi banyak mikroba yang menjadi penyebab penyakit black band, penyakit menular pada karang yang ditandai dengan bercak hitam seluas 0,6-5 sentimeter persegi pada permukaan tubuhnya.
Plastik yang bersifat sulit terurai—apalagi berada di kedalaman laut yang relatif dingin—keberadaannya memberi dampak yang sangat lama pada karang. Meski dalam laporan itu disebutkan mekanisme penyakit karang dan plastik masih harus ditelusuri lebih lanjut, laporan ini telah menunjukkan korelasi langsungnya. Misalnya, sampah plastik menyebabkan luka fisik dan goresan pada jaringan karang sehingga memfasilitasi invasi mikroba patogen. Penyakit itu juga bisa disebabkan serangan pada sistem kekebalan tubuh saat proses penyembuhan luka.
Percobaan yang pernah dilakukan dalam riset lain menunjukkan luka pada karang diikuti penempelan protozoa Halofolliculina corallasia, agen penyebab penyakit pengikisan skeleton (kerangka) karang. Kerangka karang pun menjadi rapuh.
”Penelitian ini secara jelas menunjukkan sampah plastik berkontribusi besar dalam kemunculan penyakit meski kita masih belum paham 100 persen mekanismenya,” ujar Jamaluddin Jompa, Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, satu dari 11 penulis laporan ini yang juga Ketua Center for Marine Resilience & Sustainable Development atau Marsave, saat dihubungi beberapa waktu lalu berada di Australia.
Semakin beratnya tekanan hidup pada terumbu karang ini seharusnya bisa dikurangi apabila sampah dikelola dengan baik. Komitmen Presiden yang disampaikan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan saat menghadiri Konferensi Laut di New York, AS, Juni 2017, ditunggu realisasinya.
Saat itu, Indonesia menegaskan lagi janjinya akan pengurangan 75 persen sampahnya pada 2025. Sebuah komitmen ambisius mengingat Indonesia masih kedodoran mengelola sampah meski selama 10 tahun memiliki UU Sampah dan 13 tahun memperingati 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.
Di sisi lain, janji itu perlu segera direalisasikan—bahkan lebih ambisius lagi—apabila Indonesia tak ingin kehilangan masa depan pangan, medis, dan pariwisata di laut. Kehidupan lebih dari 140 juta warga pesisir dipertaruhkan.
Kompas, Sabtu, 3 Februari 2018

Saturday, 27 January 2018

Mitigasi Antisipasi Gempa Besar

Meski kejadian gempa belum bisa diprediksi, potensi gempa besar di selatan Jawa harus diantisipasi. Bangunan dan infrastruktur harus diperkuat, dan pembangunan ke depan harus berdasarkan risiko gempa.
JAKARTA, KOMPAS — Gempa susulan terus terjadi di Samudra Hindia sebelah barat daya Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Sekalipun frekuensi dan intensitas gempa menurun, aktivitas tektonik di selatan Jawa ini harus menjadi pelajaran untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Apalagi, gempa berkekuatan M 6,1 pada Selasa (23/1) telah merusak sekitar 2.700 bangunan.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga Jumat (26/1) malam, tercatat 55 kali gempa susulan. ”Pada Jumat terekam dua gempa cukup kuat, yaitu M 5,1 pada pukul 11.48 dan M 5 pada pukul 17.12,” kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Mochammad Riyadi.
Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono menambahkan, kecil kemungkinan terjadi gempa lebih besar lagi di zona kegempaan yang sama di Lebak. ”Gempa bumi hari ini (Jumat) diklasifikasikan sebagai aftershock (gempa susulan) dari gempa utama berkekuatan M 6,1 pada Selasa lalu,” katanya.
Peneliti gempa bumi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Rahma Hanifa mengatakan, gempa di Lebak perlu dilihat kaitannya dengan rangkaian gempa di selatan Jawa sejak gempa berkekuatan M 7,8 di Pangandaran yang disusul tsunami pada tahun 2006.
”Setelah gempa Pangandaran, terjadi dua gempa di Tasikmalaya, yaitu tahun 2009 dan 2017. Sekarang terjadi di selatan Lebak. Kami duga gempa ini masih dalam satu rangkaian yang belum diketahui ujungnya,” katanya.
Di luar kelaziman
Kajian Endra Gunawan bersama Rahma dan tim dari ITB menemukan tren peningkatan aktivitas kegempaan di selatan Jawa setelah gempa Pangandaran 2006.
”Setiap ada gempa besar memang akan ada gempa susulan untuk menyeimbangkan menuju ke titik stabil. Namun, riset kami, rentetan gempa di kawasan ini berbeda dengan lazimnya. Biasanya gempa di zona megathrust dengan kekuatan M 7,8 perlu sekitar 5 tahun untuk menyeimbangkan diri. Namun, Pangandaran ternyata jauh lebih lama,” katanya.
Rahma mengatakan, sejauh ini kapan terjadinya gempa lebih besar belum bisa diprediksi. Meski demikian, dia menyarankan perlunya meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi kondisi terburuk. Apalagi, dari kejadian gempa Lebak Selasa lalu yang kekuatannya tergolong menengah, dampaknya cukup besar. ”Ini menandai masih lemahnya tingkat kesiapan kita,” katanya.
Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, gempa Lebak pada Selasa lalu berdampak terhadap 73 kecamatan di 9 kabupaten/kota di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta. Satu orang meninggal akibat gempa dan 11 orang terluka.
Sebanyak 2.760 rumah rusak, meliputi 291 rumah rusak berat, 575 rumah rusak sedang, dan 1.894 rumah rusak ringan. Dari jumlah itu, terbanyak di Kabupaten Lebak dan Sukabumi.
Akibatnya, sejumlah warga mengungsi. Setelah gempa susulan kemarin, jumlah pengungsi yang semula 200 keluarga bertambah menjadi 300 keluarga. Mereka mengungsi di tenda dan posko yang didirikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi.
Gempa susulan Jumat membuat warga cemas. ”Warga yang rumahnya retak-retak akibat gempa pada Selasa lalu memilih mengungsi,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sukabumi Maman Suherman.
Di Lebak dan Pandeglang, Banten, warga lebih tenang menghadapi gempa susulan kemarin. Endan Hudri (52), warga Kecamatan Bayah, Lebak, mengatakan, saat gempa kemarin, warga tidak panik lagi.
Hal yang sama dikatakan Momo (68), warga Kecamatan Saketi, Pandeglang. ”Sudah lebih terbiasa. Kalau gempa sebelumnya, saya panik,” katanya.
Selain rumah, kata Sutopo, gempa pada Selasa lalu juga merusak paling tidak 85 bangunan publik, mulai dari fasilitas peribadatan, kesehatan, pendidikan, kantor/gedung pemerintahan, hingga fasilitas umum.
Potensi energi besar
Riyadi mengatakan, belajar dari gempa Lebak kali ini, kewaspadaan terhadap potensi gempa besar di selatan Jawa perlu ditingkatkan. Riyadi mengatakan, zona gempa di selatan Jawa cenderung aktif dan menyimpan potensi energi besar. Sesuai Peta Sumber dan Bahaya Gempa Bumi Nasional tahun 2017, potensi gempa dari zona megathrust atau patahan raksasa di selatan Jawa bisa mencapai kekuatan M 8,7.
”Pelajaran pentingnya dari gempa Lebak saat ini, masyarakat Jakarta jadi merasakan bahwa daerah mereka bisa terdampak,” kata Riyadi.
Selain dari zona megathrust di selatan Jawa, potensi ancaman untuk Jakarta bisa berasal dari Selat Sunda. Pada 1903 di segmen ini terjadi gempa berkekuatan M 8,1.
Kerentanan Jakarta terhadap gempa sangat tinggi. Selain banyaknya gedung bertingkat, kedalaman batuan keras di Jakarta sangat dalam. Akibatnya, jika ada gempa, hal itu bisa memperkuat dampak guncangannya. ”Dampaknya kemungkinan bisa lebih merusak jika memang ada sumber sesar darat di dekat Jakarta,” katanya.
Dalam diskusi di BMKG, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengingatkan pentingnya menghitung risiko bencana sejak awal pembangunan infrastruktur. ”Kami sudah punya peta baru sumber gempa bumi. Walaupun meningkatkan biaya pembangunan, peta ini harus menjadi dasar pembangunan semua infrastruktur,” katanya.
(AIK/BAY/BKY)
Kompas, Sabtu, 27 Januari 2018

Saturday, 30 December 2017

Aru, Perahu Surga Keragaman Hayati

Oleh AHMAD ARIF
Sore itu, hutan hujan adat Desa Loran, Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, masih menampakkan wajah purbanya. Pepohonan tumbuh menjulang dan merapat. Kulit batangnya dilapisi lumut dan berbagai jenis epifit. Sebagian lagi dibelit tanaman rambat, yang menjulur tinggi mencari cahaya. Cendawan tumbuh subur di batang yang melapuk karena usia.
Fransjat Ganobal dari Desa Loran, Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, tengah berburu ke hutan di Kepulauan Aru dengan senjata busur dan panah, Senin (4/12). Selain kaya ragam hayati, hutan juga menjadi penopang hidup masyarakat Aru yang memiliki budaya khas, yaitu perpaduan dari tradisi berburu dan meramu dengan bercocok tanam. (Kompas/Ahmad Arif)
Gelap datang lebih cepat. Semakin melangkah ke jantung hutan, suasana kian temaram. Jeritan burung bersahutan dengan raungan serangga. Sesekali terdengar kepak sayap seiring jatuhnya dedaunan dan buah-buahan.
Fransjat Ganobal (41), warga Desa Loran, berjalan tanpa alas kaki menyusuri hutan. Sebilah parang tergantung di pinggang, busur dan anak panah di genggaman tangan. Sesekali kepalanya mendongak, menelisik jenis burung yang ribut.
”Itu sejenis kakatua. Sayang sekarang tak musim kawin cenderawasih. Biasanya, sore begini kita lihat tarian mereka,” kata Fransjat. Selain bertani dan mencari kepiting, Fransjat sehari-hari berburu babi hutan. Hutan ini sumber hidupnya.
Adiknya, Mika Ganobal (39), mengikuti dari belakang. Lebih dari sekadar memberi satwa buruan, hutan juga menjaga ketersediaan air bagi warga. ”Tanah di Aru rata-rata pegunungan kapur. Jika hutan rusak, hancur lingkungan kami,” tutur Mika.
Ikatan masyarakat lokal dengan lingkungannya membuat hutan Aru selamat dari kehancuran. ”Ini pohon roka,” kata Mika, menunjuk pohon berwarna hitam legam menjulang. Di pasaran, pohon ini biasa disebut eboni, bahan baku mebel mewah. ”Kalau yang warna merah, pohon oray atau kayu besi (Eugenia rumphii). Itu semua pohon kelas satu.”
Hutan Aru juga dikenal kaya dengan pohon merbau (Intsia bijuga), kenari (Canarium amboinense), dan tanaman lain yang jenisnya sekitar 2.000 spesies. Tepi pantainya ditumbuhi hutan bakau lebat. Bagian selatan Kepulauan Aru memiliki vegetasi sabana yang jadi rumah bagi kanguru dan mamalia lain.
Mika bekerja sebagai pegawai negeri sipil pada Dinas Pariwisata Kabupaten Aru. Namun, sebagai tokoh adat Loran, Mika menolak rencana Pemerintah Kabupaten Aru membuka hutan kepulauan ini. Ia jadi Koordinator SaveAru.
Pada 2012, Pemkab Aru mengeluarkan izin prinsip dan rekomendasi pelepasan hutan 480.000 hektar atau 62 persen dari daratan kepulauan ini. Izin bagi 28 perusahaan itu akan merelokasi 90 dari 112 desa. Setelah ditentang masyarakat adat yang ikut gerakan SaveAru, rencana ini dibatalkan pemerintah pusat pada 2014. Namun, upaya mengonversi hutan Aru terus dilakukan. ”Kini dicanangkan rencana pengembangan ternak sapi di Aru Selatan. Menteri Pertanian baru-baru ini datang dan berpidato, yang menolak program ini akan dipindahkan ke pulau lain,” kata Mika sambil menunjukkan rekaman video.
Mamado, tokoh adat Marfenfen, Kecamatan Aru Selatan, juga menolak proyek peternakan sapi yang dikhawatirkan merusak keseimbangan alam dan tradisi berburu di sabana. ”Bagi warga Aru, kesejahteraan tak bisa didapat dengan perusakan hutan dan pengambilan tanah adat. Orang Aru tak bisa dipisahkan dari hutan, budaya kami tumbuh bersama hutan,” ujarnya.
Pembukaan hutan di Aru tak hanya ancaman bagi masyarakat adat setempat, tapi juga bagi kekayaan hayati. Selain burung cenderawasih, hutan Aru juga jadi rumah bagi aneka satwa liar terancam punah, seperti burung kakatua jambul kuning, kakatua raja, kanguru, dan kasuari. Semua hewan ini memiliki kemiripan dengan Australia dan Papua.
Menyatu dengan Papua
Kemiripan fauna Aru dengan Papua awalnya diamati naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace. Pada 8 Januari 1857, Wallace tiba di Dobo, ibu kota Aru, setelah 30 jam berperahu dari Kepulauan Kei. Sejak itu, dia terpesona pada kekayaan hayati kepulauan ini.
”Dalam sehari itu saya mendapat 30 spesies kupu-kupu, melebihi yang saya dapat sehari di tepi Sungai Amazon,” sebut Wallace. Salah satu yang ditemukan ialah kupu-kupu bersayap burung (Ornithoptera poseidon). ”Sayapnya hitam beludru dan hijau mengkilap sepanjang 7 inci (17,7 sentimeter) .... Saya pernah melihat serangga sejenis di lemari koleksi, tapi rasanya beda saat menangkapnya sendiri.”
Untuk pertama kali, ia menjumpai burung cenderawasih raja (Paradisea regia) di habitatnya. ”Emosi sebagai naturalis bergejolak, yang lama menginginkan sesuatu (burung cenderawasih) yang dilihat lewat gambar bermutu rendah...,” sebut Wallace.
Pada 2 Juli 1857, Wallace meninggalkan Kepulauan Aru dengan 9.000 spesimen biologi, terutama kupu-kupu, serangga, dan burung. Ia menyadari kemiripan fauna di Aru dengan fauna di Papua. Dalam bukunya, The Malay Archipellago (1869), dengan tepat Wallace mengelompokkan sebaran satwa di Aru satu rumpun dengan Papua.
Pengelompokan ini jadi dasar bagi Garis Wallace dan inspirasi lahirnya teori biogeografi, yakni kaitan jenis fauna dengan posisi geografisnya. Ia juga menyadari kaitan variasi manusia dan lokasi geografis. ”... Apabila garis ditarik di antara pulau-pulau, Kepulauan Nusantara terbagi dua, yakni Asia dan Australia. Bagian pertama disebut Indo-Melayu dan bagian kedua disebut Austro-Melayu,” tulis Wallace.
Belakangan, para arkeolog dan geolog menyadari, persebaran ini dipengaruhi sejarah geologi. Hingga 45.000 tahun lalu, saat migrasi awal manusia modern (Homo sapiens) dari Afrika, Aru jadi bagian daratan Papua-Australia, dikenal sebagai Paparan Sahul. Posisi penting Aru pada migrasi purba diteliti arkeolog Australian National University, Sue O’Connor. Pada 2005, ia menemukan fosil manusia di lapisan usia 23.000 tahun lalu di Goa Lemdubu, Aru Tengah. Ini adalah fosil tertua di Maluku.
Sekitar 12.000 tahun lalu, suhu bumi memanas dan melelehkan es. Permukaan laut perlahan naik sampai 150 meter lebih tinggi, 8.000 tahun lalu. Area sekitar Kepulauan Aru sampai Selat Torres dan utara lepas pantai Australia yang dulu dataran rendah menjelma laut dangkal. Aru terpisah dari Papua dan Australia. Relung-relung sempit antarperbukitan berubah jadi selat yang di Aru disebut sungai.
Pemisahan di Paparan Sahul ini bersamaan terpecahnya Paparan Sunda jadi Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan beberapa pulau kecil lain.
Seperti perahu raksasa, perbukitan di Aru menyelamatkan flora dan fauna serta kemungkinan manusia migran awal dari tenggelam saat banjir besar. Sekitar 5.000 tahun lalu, rombongan penutur Austronesia yang mahir berperahu dan bercocok tanam mencapai Aru. Pembauran membuat warga Aru punya ciri fisik dan budaya paduan berburu-meramu serta bertani.
Dengan dinamika geologi di lintasan migrasi manusia ribuan tahun, hutan hujan Aru masih menampilkan wajah aslinya. Hutan ini jadi benteng terakhir aneka satwa langka, selain tempat manusia Aru mengembangkan budaya sehingga mesti dijaga....
Kompas, Minggu, 31 Desember 2017

Saturday, 16 December 2017

Kerentanan Jawa Terhadap Gempa

Dalam peta gempa termutakhir diidentifikasi sumber gempa baru di Jawa. Jika pada peta gempa nasional 2010 jumlah sesar di Jawa hanya 4, kini jadi 34. Sesar baru antara lain sesar Kendeng memanjang di kawasan utara Jawa Timur sampai Jateng. Di Jabar, dipastikan keaktifan sesar Lembang dan Baribis. “Kami paling khawatir gempa dari zona subduksi di Samudra Hindia selatan Jawa berkekuatan bisa lebih dari M 8,7. Ini berpotensi tsunami,” kata Irwan Meilano, ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Irwan adalah Ketua Kelompok Kerja Geodesi Tim Revisi Peta Gempa Bumi Nasional 2017.

Komuni(s)

Oleh SAMSUDIN BERLIAN
Pada peralihan abad, di suatu desa di Maluku yang telah ditinggalkan penghuninya akibat perang-saudara agam, graffito tebal hitam mencemong tembok rumah setengah runtuh: Yesus PKI. Penulisnya mungkin sekali tidak menyadari betapa dekat ia pada kebenaran walaupun bukan seperti yang ia harapkan. Bahkan Yesus bisa dianggap tokoh proto-komunis bukanlah hal baru, sudah lama dan biasa dibahas dan direnungi para pelajar teologi Kristen segala mazhab. Justru itulah satu daya tarik besar Komunitas Yesus 2.000 tahun berselang yang kemudian berkembang menjadi gereja Kristen.

Saturday, 23 September 2017

Saatnya Gunung Agung Memberi Jeda

Oleh AHMAD ARIF
Letusan Gunung Agung di Bali tahun 1963 merupakan yang paling mematikan pada era setelah Indonesia merdeka. Letusan gunung api ini juga dikenal sebagai salah satu yang terkuat di abad ke-20. Namun, yang membuat letusan Gunung Agung dikenal secara global terutama karena dampaknya telah memicu pendinginan Bumi.